Dialog Seri 10: 39
Tilmidzi: “Apakah Maryam berasal dari keturunan Bani Israil?”
Mudariszi: “Maryam adalah puteri dari keluarga Imran yang Ibunya (sebelum melahirkan Maryam) ingin agar anaknya menjadi sebagai berikut:
(Ingatlah) ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (Ali ‘Imran 35-36)
Baitul Maqdis dalam firman-Nya di atas adalah tempat ibadah dan kiblat bagi umat Nabi Musa termasuk Bani Israil. Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka. (Al Baqarah 145)
Orang-orang Yahudi dalam firman-Nya di atas adalah umat Nabi Musa termasuk Bani Israil yang diberikan-Nya kitab Taurat. Sedangkan orang-orang Nasrani adalah umat Nabi ‘Isa yang diberikan-Nya kitab Injil. Tetapi kitab Injil belum diturunkan-Nya ketika Maryam dilahirkan. Selain itu, Allah SWT telah menetapkan Bani Israil sebagai pewaris Taurat, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)
Dengan isteri ‘Imran menginginkan anaknya dapat berkhidmat di Baitul Maqdis, itu menunjukkan keluarga ‘Imran berasal dari Bani Israil, dan Maryam juga dari Bani Israil.”
Tilmidzi: “Apakah nazar isteri ‘Imran itu tidak dikabulkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Allah SWT menerima nazar isteri ‘Imran, tetapi karena manusia tidak mengetahui takdir-Nya, maka isteri ‘Imran merasa nazarnya tidak dikabulkan-Nya karena dia melahirkan anak perempuan. Contoh Allah SWT mengabulkan permintaan atau nazar isteri ‘Imran, yaitu Dia melindungi Maryam dari syaitan ketika dilahirkan. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang bayipun dari bani Adam (manusia) kecuali dijamah setan ketiga ia lahir, maka ia menangis keras-keras oleh jamahan setan, selain (bayi) Maryam dan putranya (‘Isa).” (HR Bukhari)
Contoh lain, isteri ‘Imran meminta kepada Allah SWT agar anaknya dapat berkhidmat di Baitul Maqdis, maka Dia lalu menjadikan Nabi Zakariya, yaitu Rasul-Nya dari Bani Israil yang shaleh dan berilmu, sebagai pemelihara Maryam. Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, ‘Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (Al An’aam 84-85)
Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. (Ali ‘Imran 37)
Isteri Nabi Zakariya pula adalah saudara Maryam, seperti djelaskan oleh Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dari Malik bin Sha’sha’ah, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW memberitakan kepada para sahabat: “Yahya dan ‘Isa, yang keduanya adalah putra bibi (dari Ibu, yakni Ibunda ‘Isa, Maryam adalah saudara Ibunda Yahya, Isya’).” (HR Bukhari)
Sehingga Maryam memperoleh ilmu agama-Nya dari Nabi Zakariya dan suka beribadah di Baitul Maqdis.”
Tilmidzi: “Apakah Maryam itu shaleh dan taat kepada Allah SWT?”
Mudariszi: “Pengajaran Nabi Zakariya telah membuat Maryam menjadi wanita yang shaleh dan taat kepada Allah SWT. Maryam menghabiskan waktunya di Baitul Maqdis dengan beribadah kepada Allah SWT. Ketaatan Maryam kepada Allah SWT diketahui oleh Nabi Zakariya sebagai berikut:
Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Ali ‘Imran 37)
Nabi Zakaria mempercayai ucapan Maryam (dalam firman-Nya di atas), karena beliau mengetahui ketaatan Maryam kepada-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan Maryam sebagai berikut:
Dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata: “Bersabda Rasulullah SAW: “Banyak dari kaum laki-laki yang sempurna dan tidaklah sempurna dari kaum perempuan selain Maryam putri Imran dan Asiyah istri Fir’aun.” (HR Bukhari)
Dari Ali, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kaum perempuan (di masa)nya adalah Maryam putri Imran, dan sebaik-baik kaum perempuan (umat kini)nya adalah Khadijah.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT tetapkan sesuatu bagi Maryam karena Dia memberikan makanan kepadanya?”
Mudariszi: “Tidak ada siapapun yang mengetahui ketetapan Allah. Ketika itu tiada siapapun yang mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah SWT terhadap Maryam kecuali Dia saja. Pada suatu waktu Maryam meninggalkan keluarganya untuk menyendiri dengan beribadah di suatu tempat. Taatnya Maryam kepada Allah SWT membuat semua orang tidak mencurigai perbuatannya itu. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka. (Maryam 16-17)
Maryam terus beribadah kepada Allah SWT ketika menyendiri, hingga tiba-tiba Maryam didatangi oleh malaikat Jibril dalam bentuk manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (Maryam 17)
Maksud dari Kami mengutus roh Kami kepadanya dalam firman-Nya di atas, yaitu Allah SWT mengutus malaikat Jibril kepada Maryam. Tapi Maryam tidak mengetahui yang datang kepadanya itu adalah malaikat Jibril.”
Tilmidzi: “Apakah yang Maryam lakukan ketika mengetahui didatangi seseorang yang tidak dikenalnya?”
Mudariszi: “Maryam terkejut hingga mengatakan sebagai berikut:
Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah jika kamu seorang yang bertakwa.” (Maryam 18)
Firman-Nya di atas menunjukkan ketakwaan Maryam telah membuatnya langsung meminta perlindungan kepada Allah SWT karena kedatangan orang yang tidak dikenalnya. Jibril yang mengetahui ketakutan Maryam itu lalu menenangkannya sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang orang yang rukuk.” (Ali ‘Imran 42-43)
Tilmidzi: “Apakah tujuan Jibril mendatangi Maryam?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (Maryam 19)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Jibril mendatangi Maryam karena diutus oleh Allah SWT untuk mengabarkan kepada Maryam bahwa Maryam akan melahirkan putera.”
Tilmidzi: “Bagaimana Maryam setelah mendengar penjelasan Jibril itu?”
Mudariszi: “Maryam heran dengan penjelasan Jibril itu, sehingga beliau bertanya kepada Jibril sebagai berikut:
Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” (Ali ‘Imran 47)
Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (Maryam 20)
Tilmidzi: “Apakah yang dijelaskan oleh Jibril atas pertanyaan Maryam itu?”
Mudariszi: “Jibril lalu menjelaskan kepada Maryam sambil menyampaikan firman-Nya (kalimat-Nya), yaitu sebagai berikut:
Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.” Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (Ali ‘Imran 47)
Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.“ (Maryam 21)
Adapun putera yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada Maryam dengan kalimat-Nya yaitu “Jadilah”, adalah seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
(Ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.” (Ali ‘Imran 45-46)
Dengan demikian, sekalipun Maryam belum pernah disentuh oleh laki-laki, tapi Allah SWT dengan kalimat-Nya (kekuasaan-Nya) dapat menjadikan Maryam hamil dan melahirkan seorang manusia yaitu Nabi ‘Isa.”
Tilmidzi: “Bagaimana Maryam yang tidak melakukan perkawinan dengan laki-laki lalu beliau dapat hamil dan melahirkan Nabi ‘Isa hanya karena kalimat-Nya (kekuasaan-Nya) saja?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia melalui perkawinan laki-laki dan perempuan, yaitu melalui proses pembuahan air mani laki-laki hingga pembentukannya dalam rahim perempuan. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. (Al Insaan 2)
Bukankah Kami telah menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. (Al Mursalaat 20-23)
Karena Maryam tidak melakukan perkawinan, maka air mani laki-laki yang dibuahkan dalam rahim Maryam itu dijadikan-Nya dengan kalimat-Nya (seperti dijelaskan sebelumnya di atas). Menjadikan air mani laki-laki dalam rahim Maryam tidak sulit bagi Allah SWT, karena di tubuh manusia terdapat partikel (saripati) tanah yang dapat menjadi air mani. Malaikat Jibril yang cerdas dengan enam ratus sayapnya dan dapat merubah dirinya menjadi manusia (ketika bertemu dengan Maryam), dengan mudah dapat membuat saripati tanah dalam tubuh Maryam menjadi air mani. Air mani itu lalu dipindahkan oleh Jibril ke dalam rahim Maryam hingga terjadi pembuahan manusia, yaitu Nabi ‘Isa. Proses pembuatan air mani hingga pindah ke rahim Maryam itu sangat cepat, dan bukan tidak mungkin lebih cepat dari Jibril merubah bentuknya dari bentuk malaikat menjadi bentuk manusia yang sempurna. Setelah itu Allah SWT lalu membentuk Nabi ‘Isa dalam rahim Maryam (melalui malaikat utusan-Nya), layaknya pembentukan setiap manusia dalam rahim Ibu. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. (Al Mu’minuun 12-14)
Tilmidzi: “Bagaimanakah Jibril itu?”
Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang malaikat Jibril tersebut sebagai berikut:
Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 5-6)
Dari Zirr bin Hubaisy mendengar Abdullah bin Mas’ud yang membaca (surat An Najm ayat 18): “Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” Abdullah berkata: “Rasulullah SAW telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki enam ratus sayap.” (HR Muslim)
Kecerdasan akal yang Allah SWT anugerahkan kepada Jibril dari golongan malaikat jauh berbeda dengan kecerdasan akal yang Dia anugerahkan kepada hamba-Nya dari golongan manusia.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi ‘Isa dalam rahim Maryam?”
Mudariszi: “Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya (melalui malaikat utusan-Nya) ke setiap tubuh manusia dalam rahim Ibu ketika Dia membentuk dan menyempurnakan manusia dalam rahim. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya. (As Sajdah 7-9)
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud), dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang dari kamu penciptaannya dikumpulkan dalam perut Ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu empat puluh hari. Kemudian menjadi sepotong daging seperti itu empat puluh hari. Kemudian (sesudah membentuk), Allah mengutus malaikat dan diperintahkan dengan empat kalimat dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalnya, rezkinya, ajalnya dan celaka atau bahagia”, kemudian ditiupkan roh kepadanya.“ (HR Bukhari)
Maka, demikian pula dengan Nabi ‘Isa, yaitu Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi ‘Isa ketika dalam rahim Maryam dan Dia lalu membentuk tubuh beliau dan menyempurnakannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami. (At Tahriim 12)
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya roh dari Kami. (Al Anbiyaa’ 91)
Dengan adanya roh ciptaan-Nya di tubuh Nabi ‘Isa dalam rahim Maryam, maka tubuh Nabi ‘Isa membesar dan hal itu diketahui dengan hamilnya Maryam (membesarnya perut Maryam). Allah SWT berfirman:
Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (Maryam 22)
Jika wanita hamil melahirkan bayinya pada waktu yang Dia tetapkan, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi. (Al Hajj 5)
Maka demikian pula dengan Maryam yang melahirkan Nabi ‘Isa pada waktu yang Allah SWT tetapkan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma. (Maryam 23)
Demikian itulah Nabi ‘Isa yang diciptakan (dijadikan) oleh Allah SWT dalam rahim Maryam dengan kalimat-Nya hingga Maryam hamil dan melahirkan Nabi ‘Isa ke dunia sebagai manusia biasa yang berupa laki-laki.”
Tilmidzi: “Apakah penciptaan Nabi ‘Isa putera Maryam yang tanpa Bapak itu tidak berbeda dengan penciptaan Nabi Adam yang tanpa orang tua?”
Mudariszi: “Ya! Jika Allah SWT menciptakan Nabi ‘Isa dari saripati tanah dengan kalimat-Nya seperti yang dijelaskan sebelumnya, maka Nabi Adam juga diciptakan-Nya dari tanah yang mengandung banyak saripati dengan kalimat-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah ia. (Ali ‘Imran 59)
Jika Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi ‘Isa ketika dalam rahim Maryam seperti dijelaskan sebelumnya di atas, maka Dia juga meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi Adam, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku–sempurnakan kejadiaannya dan Ku–tiupkan kepadanya roh (ciptaan)–Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Shaad 71-72)
Karena itu Allah SWT menjelaskan penciptaan Nabi ‘Isa sebagai berikut:
Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putra Maryam itu adalah utusan (Rasul) Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An Nisaa’ 171)
Kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan tiupan roh dari-Nya dalam firman-Nya di atas itu dilakukan oleh Jibril, yaitu Jibril menyampaikan kalimat-Nya kepada Maryam dan meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi ‘Isa dalam rahim Maryam. Dengan demikian, Nabi ‘Isa yang diciptakan-Nya dengan kalimat-Nya dan tanpa Bapak itu dilaksanakan oleh Jibril. Perbedaan penciptaan Nabi ‘Isa dan Nabi Adam, yaitu Nabi ‘Isa diciptakan-Nya di dalam rahim Maryam, sedangkan Nabi Adam diciptakan-Nya di luar rahim, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan–Nya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan Maryam ketika melahirkan Nabi ‘Isa?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan keadaan Maryam ketika akan melahirkan Nabi ‘Isa, sebagai berikut:
Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.” (Maryam 23)
Maryam mengeluh dengan mengatakan seperti dalam firman-Nya di atas, karena Maryam merisaukan tuduhan keji dari orang-orang yang akan mengatakan beliau telah berzina. Sekalipun Maryam menjelaskan dengan sebenarnya, sulit bagi manusia untuk menerima kebenaran pernjelasannya, terlebih lagi tidak ada saksi. Jibril yang mengetahui kerisauan hati Maryam, lalu menenangkannya sebagai berikut:
Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (Maryam 24-26)
Ketika Maryam melahirkan Nabi ‘Isa, maka Rasulullah SAW menjelaskannya sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang bayipun dari bani Adam (manusia) kecuali dijamah setan ketiga ia lahir, maka ia menangis keras-keras oleh jamahan setan, selain (bayi) Maryam dan putranya (Isa).” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa permintaan isteri ‘Imran (Ibu Maryam) dikabulkan oleh Allah SWT, yaitu Dia bukan saja melindungi Maryam dari syaitan yang terkutuk, tapi juga anaknya yaitu Nabi ‘Isa. Selain itu, nazar isteri ‘Imran juga dikabulkan-Nya dengan Maryam melahirkan Nabi ‘Isa, karena beliau dijadikan-Nya sebagai Rasul Allah yang berkhidmat di Baitul Maqdis.”
Tilmidzi: “Apakah Maryam membawa Nabi ‘Isa kembali ke rumahnya?”
Mudariszi: “Maryam kemudian membawa Nabi ‘Isa dengan menggendongnya kembali ke rumahnya. Itu akan membuat Maryam bertemu dengan kaumnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. (Maryam 27)
Kaum Maryam (Bani Israil) yang melihat Maryam menggendong bayi, lalu menanyakan perihal bayi tersebut. Sehingga terjadilah tuduhan keji dan fitnah terhadap Maryam. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat munkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan Ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (Maryam 27-28)
Maryam tidak menjawab pertanyaan dan tuduhan kaumnya dan Maryam hanya berbuat mengikuti petunjuk dari Jibril, yaitu sebagai berikut:
Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ”Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (Maryam 26)
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. (Maryam 29)
Penjelasan Maryam dengan isyarat tangannya itu membuat kaumnya semakin ingin mengetahui, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (Maryam 29)
Tilmidzi: “Apakah yang Maryam lakukan dengan ucapan kaumnya itu?”
Mudariszi: “Mendengar ucapan kaumnya, Nabi ‘Isa yang masih bayi dan digendong itu tiba-tiba berbicara dan menjelaskan kepada kaumnya, sebagai berikut:
Berkata ‘Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada Ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam 30-33)
Dan Allah SWT lalu menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Itulah ‘Isa putera Maryam yang mengatakan perkataan yang benar yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (Maryam 34)
Allah SWT menjadikan Nabi ‘Isa dapat berbicara dari sejak dilahirkan (bayi) dan membiarkan beliau berbicara kepada kaumnya agar Bani Israil mengetahui bahwa kelahiran beliau yang tanpa Bapak itu karena Allah SWT atau karena kekuasaan-Nya. Penjelasan Nabi ‘Isa tersebut juga untuk menghilangkan tuduhan keji atas Maryam. Allah SWT berfirman:
Dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Al Anbiyaa’ 91)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT memelihara Nabi ‘Isa dan Maryam?”
Mudariszi: “Tuduhan dan fitnah dari kaumnya itu tidak memungkinkan Maryam dapat memelihara Nabi ‘Isa dengan baik. Allah SWT kemudian memelihara keduanya di tempat yang baik, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan telah Kami jadikan (‘Isa) putera Maryam beserta Ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Al Mu’minuun 50)
Al masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan Ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. (Al Maa-idah 75)
Kedua hamba-Nya yang terdiri dari Ibu dan anak itu menjalani hidupnya di suatu tempat seperti juga layaknya manusia biasa menjalani hidupnya.”
Wallahu a’lam.