Apakah Iblis Itu Syaitan Dan Merupakan Musuh Manusia?

Dialog Seri 4: 2

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah menetapkan keputusan-Nya bagi manusia dalam penciptaan langit dan bumi (semesta alam), yaitu keputusan semua apa yang ada di semesta alam ditundukkan-Nya untuk manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)

 

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)

 

Allah SWT lalu melaksanakan keputusan-Nya (dalam firman-Nya di atas) itu ketika menciptakan Nabi Adam (manusia) dengan memerintahkan malaikat dan jin (yang diwakili oleh Iblis) sebagai makhluk hidup yang ghaib untuk sujud kepada Nabi Adam sebagai tanda tunduk kepada manusia. Malaikat mengikuti perintah-Nya, tapi Iblis tidak mau mengikuti perintah-Nya untuk sujud (tunduk) kepada Nabi Adam dengan alasan api asal penciptaan jin (Iblis) lebih baik daripada tanah asal penciptaan manusia (Nabi Adam). Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. (Al A’raaf 12)

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis itu sombong?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shaad 75)

 

Pertanyaan Allah yang tidak dapat dijawab oleh Iblis itu menunjukkan bahwa Iblis memang sombong dan telah merendahkan Allah SWT dengan ciptaan-Nya, karena Dia menciptakan manusia (Nabi Adam) dari tanah.”

 

Tilmidzi: “Apakah itu berarti Iblis telah mendurhakai Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Dengan Iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam, maka Iblis berarti membangkang terhadap Allah SWT tidak mau mengikuti perintah-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan. (Al Baqarah 34)

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali Iblis. Ia membangkang. (Thaahaa 116)

 

Dengan Iblis membangkang atau tidak mau mengikuti perintah-Nya, maka Iblis berarti mendurhakai perintah-Nya atau mendurhakai Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)

 

Tilmidzi: “Apakah itu berarti Iblis telah menjadi kafir kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Dengan Iblis menyombongkan dirinya dan mendurhakai Allah SWT (mendurhakai perintah-Nya), maka Iblis menjadi kafir kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al Baqarah 34)

 

Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (Shaad 73-74)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan demikian Iblis menjadi syaitan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang syaitan sebagai berikut:

 

Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam 44)

 

Dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al Israa’ 27)

 

Berdasarkan firman-Nya di atas dan dengan Iblis mendurhakai Allah SWT, maka Iblis berarti menjadi syaitan. Dengan demikian, Iblis yang mendurhakai (mengingkari) Allah SWT karena mendurhakai (mengingkari) perintah-Nya, maka Iblis itu menjadi kafir dan syaitan.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghukum Iblis?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. (Al A’raaf 13)

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis meminta maaf atau bertaubat kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Hukuman Allah di atas itu tidak membuat Iblis bertaubat kepada-Nya, bahkan hukuman-Nya itu membuat Iblis bertambah sombong, karena Iblis bersumpah di hadapan-Nya ingin menyesatkan manusia hingga kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (Shaad 82-83)

 

Karena keinginannya itu, Iblis lalu meminta kepada Allah SWT agar menangguhkan kematiannya. Hal itu dijelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Berkata Iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. (Al Hijr 36)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis itu?”

 

Muadariszi: “Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis, tapi bukan seperti yang diinginkan (diminta) oleh Iblis. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. (Al Hijr 37-38)

 

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat). (Shaad 80-81)

 

Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis dengan menangguhkan kematiannya hingga ke waktu yang Dia tentukan sebelum kiamat. Allah SWT tidak mengabulkan permintaan Iblis agar kematiannya ditangguhkan hingga manusia dibangkitkan di hari kiamat. Jika permintaan Iblis itu dikabulkan-Nya, maka Iblis dimatikan ketika manusia dibangkitkan di hari kiamat untuk dihisab perbuatannya selama di dunia. Dengan matinya Iblis, maka perbuatannya selama di dunia tidak dapat dihisab-Nya, sehingga Iblis terbebas dari balasan-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT lalu menghukum Iblis karena ingin menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Karena Iblis telah mendurhakai (mengingkari) Allah SWT dan lalu ingin menyesatkan manusia hingga kiamat, maka Dia menghukum Iblis dengan mengutuknya hingga hari pembalasan. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. (Al Hijr 34-35)

 

Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan. (Shaad 77-78)

 

Kutukan Allah bagi Iblis seperti firman-Nya di atas itu merupakan kutukan-Nya yang berlaku hingga jin dan manusia menerima balasan dari-Nya setelah perbuatan mereka di dunia dihisab-Nya. Dengan demikian, kutukan-Nya bagi Iblis itu merupakan kutukan yang abadi.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan bagaimana Iblis akan menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Al Hijr 39-40)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al A’raaf 16-17)

 

Keinginan Iblis akan menyesatkan manusia hingga kiamat tersebut menjadikan manusia memiliki musuh ketika menjalani hidupnya di dunia. Keinginan Iblis itu menjadikan manusia mendapat rintangan ketika melaksanakan amanah sebagai khalifah di bumi yang memakmurkan bumi dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya atau mengikuti jalan-Nya yang lurus.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply