Dialog Seri 5: 6
Tilmidzi: “Bukankah Allah SWT menjadikan manusia dengan memakan makanan ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al Anbiyaa’ 8)
Dan Allah SWT telah menyediakan makanan manusia itu di bumi. Semua makanan termasuk minuman yang ada di bumi itu dapat diterima oleh tubuh manusia. Makanan itu berasal dari air, tumbuh-tumbuhan dan binatang, dimana ketiganya dari tanah dan tanah itu pula merupakan asal manusia. Sekalipun dapat diterima oleh tubuh manusia, sebagian makanan yang masuk ke dalam tubuhnya itu dapat merusak organ-organ dalam tubuh. Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia dengan firman-Nya ini:
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah 168)
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al A’raaf 31)
Tilmidzi: “Apakah yang terjadi dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Mu’minuun 12-14)
Dari firman-Nya di atas, diketahui tubuh manusia memiliki darah, pembuluh-pembuluh, urat-urat, syaraf-syaraf, sel-sel, organ-organ, tulang-tulang, otot-otot, daging-daging, dimana satu dengan lainnya saling terikat, saling terkait, saling bergantung, saling menguatkan. Allah SWT menjadikan tubuh manusia dan apa yang ada dalam tubuhnya sedemikian rupa dengan peraturan (sistem) yang Dia tetapkan. Semua yang ada dalam tubuh manusia itu mempunyai tugasnya masing-masing terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh. Semua yang ada dalam tubuh manusia itu merupakan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
Allah SWT menjadikan manusia dengan memiliki badan, kepala, kaki dan tangan. Badan bagian muka memiliki organ-organ untuk mencernakan makanan yang masuk ke dalam tubuh, badan bagian belakang memiliki organ, tulang untuk menyangga semua tulang yang terhubung dengan tulang di badan bagian muka, di kepala, di kaki, di tangan. Kepala memiliki organ-organ untuk bernafas, melihat, mendengar, berbicara, berfikir dan memutuskan. Kaki dan tangan masing-masing memiliki organ-organ untuk bergerak (bertindak atau berbuat) misalnya berjalan dan mengambil. Tangan, kaki, kepala, badan bergerak karena syaraf-syaraf yang terhubung dari organ di tulang belakang ke semua organ di tangan, di kaki, di kepala dan di badan.
Allah SWT menutup rapat organ-organ dalam tubuh tersebut dengan kulit yang berlapis-lapis dan memiliki lubang-lubang kecil (pori-pori) guna mengeluarkan cairan dari dalam tubuh. Allah SWT juga menjadikan lubang di organ telinga agar suara masuk hingga terdengar, di organ hidung dan organ mulut untuk menghirup dan mengeluarkan udara, di organ vital untuk mengeluarkan kotoran-kotoran dari dalam tubuh. Udara yang dihirup dan dikeluarkan itu terjadi karena tekanan organ dalam badan yang membuat manusia bernafas. Udara yang masuk ke dalam tubuh lalu menyatu dengan darah yang mengalir ke seluruh organ dalam tubuh. Darah mengalir karena adanya jantung yang berdetak (memompa). Darah terjadi dari makanan dan air yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan tangan, lalu dicerna oleh organ-organ dalam perut (badan bagian muka).
Dengan demikian, makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia itu berpengaruh kepada keadaan tubuh dan pertumbuhan (perkembangan) manusia dalam menjalani hidupnya.”
Tilmidzi: “Mengapa manusia dapat merasakan sakit?”
Mudariszi: “Kulit manusia yang memiliki pori-pori memungkinkan makhluk-makhluk kecil yang tidak terlihat oleh mata masuk ke dalam tubuh. Makhluk-makhluk kecil itu dapat pula masuk ke dalam tubuh melalui makanan (dan minuman) atau melalui udara yang terhirup ketika bernafas. Makhluk-makhluk kecil itu tidak diterima oleh sel-sel dalam tubuh. Di dalam tubuh, makhluk-makhluk itu ikut mengalir bersama darah ke organ-organ yang dilaluinya. Mereka dapat menetap di salah satu organ dan berkembang biak. Hal itu menimbulkan kerusakan pada sel-sel organ tersebut sehingga organ itu tidak bekerja dengan normal dan membuat manusia merasakan sakit. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. (Ash Shaaffaat 145)
Dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit). (Shaad 34)
Sakit dapat dirasakan oleh manusia karena kulit berfungsi untuk merasakan sakit. Allah SWT berfirman:
Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. (An Nisaa’ 56)
Makhluk-makhluk kecil penyebab sakit itu dapat dikalahkan (dimatikan) oleh makanan atau minuman yang ada di bumi. Karena Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Dari Jabir dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Setiap penyakit itu ada obatnya. Karena itu, apabila obat tepat mengena pada penyakit, maka penyakitpun sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR Muslim)
Karena itu manusia harus mencari obat penyembuh sakitnya dari binatang atau tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi, contohnya binatang atau tumbuh-tumbuhan berikut ini:
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. (An Nahl 69)
Dari Abu Hurairah, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat dari segala macam penyakit, kecuali kematian.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjadikan manusia dengan memiliki rasa lapar?”
Mudariszi: “Agar manusia memakan makanan, maka Allah SWT menjadikannya dengan memiliki rasa lapar. Allah SWT berfirman:
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar. (Quraisy 3-4)
Firman-Nya di atas menunjukkan manusia dijadikan-Nya dengan memiliki rasa lapar. Rasa lapar yang dirasakan oleh manusia itu tidak berbeda dengan rasa senang, rasa sedih, rasa takut. Semua rasa tersebut dijadikan oleh Allah dalam hati manusia. Contoh rasa-rasa tersebut dijelaskan firman-Nya ini:
Banyak muka pada hari itu berseri-seri merasa senang karena usahanya. (Al Ghaasyiyah 8-9)
Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An Naml 70)
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. (Ali ‘Imran 151)
Hati dalam tubuh manusia itu berada di dadanya. Allah SWT berfirman:
Ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 46)
Tilmidzi: “Apakah ada fungsi lain dari hati selain merasakan bagi dirinya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). (Al A’raaf 179)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa hati dijadikan-Nya bagi manusia untuk memahami suatu perkara yang tidak dipahaminya.”
Tilmidzi: “Bukankah memahami suatu perkara dilakukan oleh akal?”
Mudariszi: “Akal dijadikan oleh Allah SWT bagi manusia untuk memikirkan suatu perkara yang tidak dipahami oleh hati. Perkara yang tidak dipahami oleh hati itu sendiri terjadi karena adanya suatu perkara yang menarik atau merisaukan hatinya setelah dirasakan oleh hatinya atau dilihat oleh matanya atau didengar oleh telinganya. Akal yang terhubung dengan hati lalu memikirkannya. Setelah difikirkan oleh akal dan dipahami, perkara itu kembali ke hatinya. Perkara yang dipahami kembali ke hati menunjukkan bahwa hati itu untuk memahami suatu perkara, sedangkan akal untuk memikirkan perkara yang ingin dipahami oleh hati. Perkara yang dipahami itu lalu disimpan di hati atau dibiarkan tidak tersimpan. Allah SWT berfirman:
Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. (Al Ahzab 5)
Tilmidzi: “Apakah mata dan telinga berkaitan erat dengan hati dan akal?”
Mudariszi: “Ketika manusia menyukai atau tidak menyukai suatu perkara yang dilihatnya atau didengarnya, maka rasa suka atau tidak sukanya itu timbul dari hatinya. Rasa suka atau tidak suka itu terjadi setelah dipikirkannya dan dipahaminya. Akal memikirkannya dengan melibatkan mata, telinga, mulut, karena ketiga organ itu berfungsi sebagai berikut:
Atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar. (Al A’raaf 195)
Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. (At Taubah 30)
Supaya mereka mengerti perkataanku. (Thaahaa 28)
Setelah dipahaminya, lalu timbul rasa suka atau tidak suka dan kemudian disimpan di hati atau dibiarkan tidak tersimpan. Organ hati, akal, mata, telinga, mulut saling bekerja sama dengan sangat cepat, karena syaraf-syaraf yang terhubung antara satu organ dengan organ lainnya. Akal yang memimpin (memerintah) kerjasama organ-organ itu melalui syaraf. Karena itu akal, mata, telinga, mulut berdekatan letaknya di kepala.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah suatu perkara yang dilihat oleh mata atau didengar oleh telinga atau diucapkan oleh mulut akan langsung ke hati?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, apa yang dilihat oleh mata akan langsung ke hati hingga timbul, misalnya rasa sedih di hati. Allah SWT berfirman:
Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka. (Al Hijr 88)
Demikian pula dengan apa yang didengar oleh telinga, akan langsung ke hati hingga timbul, misalnya rasa sakit di hati. Allah SWT berfirman:
Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali ‘Imran 186)
Ucapan (perkataan) seseorang akan langsung ke hati pendengarnya hingga timbul, misalnya rasa sakit di hatinya. Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima). (Al Baqarah 264)
Perkara yang dilihat, didengar atau diucapkan langsung ke hati itu sebenarnya tetap melalui akal untuk dipikirkannya, tapi karena proses pemikiran demikian cepatnya, maka terasa perkara itu langsung ke hati.”
Tilmidzi: “Mengapa akal tidak terlihat oleh manusia seperti mata, telinga dan mulut yang terlihat?”
Mudariszi: “Akal dijadikan oleh Allah SWT tidak terlihat oleh manusia, tapi hanya dapat dirasakan di kepalanya yaitu ketika dia memikirkan suatu perkara. Akal tidak terlihat karena berkaitan langsung dengan hati yang juga tidak terlihat oleh manusia. Hati yang di dalam dada itu hanya dapat dirasakan oleh manusia yaitu dirasakannya di dadanya. Manusia tidak mengetahui keberadaan hatinya yang di dada karena dibatasi oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. (Al Anfaal 24)
Dengan Allah SWT membatasi manusia dan hatinya, maka manusia tidak mengetahui keberadaan hatinya dan akalnya, seperti dia mengetahui keberadaan mata, telinga dan mulut.”
Tilmidzi: “Apakah selain hati ada organ lain yang tidak terlihat oleh manusia?”
Mudariszi: “Penglihatan dan pendengaran juga tidak terlihat oleh manusia karena dibatasi oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An Nahl 78)
Manusia diberikan-Nya penglihatan dan pendengaran agar dia dapat melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya. Mata bukan penglihatan dan telinga bukan pendengaran. Patung memiliki mata dan telinga, tapi patung tidak dapat melihat dan mendengar karena tidak memiliki penglihatan dan pendengaran. Mata dan telinga hanya organ untuk manusia yang dapat dikuasainya. Misalnya, jika manusia tidak mau melihat atau mendengar suatu perkara, maka dia dapat menutup mata atau telinganya. Tapi manusia tidak dapat menguasai penglihatan, pendengaran dan hati karena tidak mengetahui keberadaan ketiga organ itu akibat dibatasi-Nya. Hati, penglihatan dan pendengaran itu dikuasai oleh Allah SWT.”
Tilmidzi: “Bagaimana dengan orang yang tidak dapat melihat, mendengar atau berbicara tapi dia mempunyai telinga, mata dan mulut?”
Mudariszi: “Orang yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berbicara itu karena ada kerusakan pada organ matanya atau telinganya atau mulutnya, dan bukan karena kerusakan pada penglihatannya atau pendengarannya atau suaranya. Kerusakan pada ketiga organ itu dapat disembuhkan, karena Allah SWT menciptakan segala sesuatu menurut aturan (ukuran). Contoh orang yang buta dari sejak lahir dapat disembuhkan, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 4)
Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya. (Ali ‘Imran 49)
Jika mata yang rusak dapat disembuhkan, maka telinga, mulut yang rusak juga dapat disembuhkan. Jika seseorang buta tapi tidak tuli dan dapat berbicara, maka hatinya dapat memahami suatu perkara. Jika seseorang tidak buta tapi tuli dan sulit berbicara, maka hatinya dapat memahami suatu perkara. Tapi jika seseorang buta, tuli, bisu, maka Allah SWT berfirman:
Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Al Baqarah 171)
Tilmidzi: “Bagaimana hati dapat tertarik atas suatu perkara karena dirasakannya dan bukan karena dilihatnya atau didengarnya?”
Mudariszi: “Hati manusia dapat tertarik atas suatu perkara yang bukan karena dilihatnya atau didengarnya. Ketertarikan hati itu terjadi karena hati dapat menerima bisikan-bisikan dari luar. Hati yang tidak dikuasai oleh manusia (karena dibatasi-Nya), membuat manusia tidak mengetahui sumber bisikan-bisikan tersebut. Bisikan-bisikan itu dapat terasa baik atau buruk oleh hati, sehingga tidak salah jika manusia lalu beranggapan bisikan yang dirasakannya baik itu dari pihak yang baik dan bisikan yang dirasakannya buruk dari pihak yang buruk. Bisikan-bisikan yang masuk ke hati manusia itu dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. (An Nisaa’ 114)
Dari Abu Sa’id al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang yang diangkat menjadi khalifah, tentu ia mempunyai dua orang pengiring. Seorang pengiring memerintahkan dan menganjurkan kebajikan kepadanya, dan seorang pengiring lagi memerintahkan dan menganjurkan kejahatan kepadanya.” (HR Bukhari)
Di antara bisikan-bisikan itu, ada bisikan (perkara) yang menarik hati manusia. Karena itu akalnya lalu memikirkan perkara tersebut agar dipahaminya. Setelah dipahaminya, perkara itu akan diingatnya, disimpannya di hatinya atau dibiarkan tidak tersimpan. Pemahaman atas perkara itu yang lalu menimbulkan rasa di hatinya, misalnya rasa benci, rasa tenang, iman (keimanan). Allah SWT berfirman:
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. (Ali ‘Imran 118)
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (Al Fath 4)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. (Al Mujaadilah 22)
Tilmidzi: “Apakah ketertarikan hati manusia atas suatu perkara karena bisikan atau karena dilihatnya atau didengarnya dapat menimbulkan keinginannya dan perbuatannya?”
Mudariszi: “Ketertarikan hati manusia atas suatu perkara karena bisikan yang masuk ke hatinya atau karena dilihatnya atau didengarnya itu akan dipikirkan oleh akalnya hingga dipahaminya. Setelah dipahaminya, perkara itu kembali ke hatinya dan dapat menimbulkan keinginan di hatinya yaitu keinginan untuk mencapai perkara tersebut, sehingga keinginannya itu disimpan di hatinya. Keinginan hati itu dapat menimbulkan pula nafsu, yaitu nafsu untuk mencapai keinginan tersebut. Sementara itu, manusia tidak dapat menahan nafsunya. Allah SWT berfirman:
Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. (Al Baqarah 187)
Karena itu, jika nafsunya telah timbul dan tidak dapat ditahannya, maka manusia akan mencapai keinginannya yang tersimpan di hatinya itu dengan perbuatannya. Allah SWT berfirman:
Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)
Proses ketertarikan hati atas suatu perkara hingga dipikirkan, dipahami dan ingin dicapainya itu dapat terjadi dalam waktu yang cepat atau lama. Untuk mencapai keinginan hatinya, manusia harus melakukannya dengan perbuatan, yaitu berbuat dengan menggunakan tangan dan kaki termasuk menggerakkan seluruh organ tubuhnya. Dengan demikian, ketertarikan hati manusia atas suatu perkara dapat menimbulkan keinginannya dan perbuatannya, atau keinginan dan perbuatan manusia itu bermula dari hatinya.”
Tilmidzi: “Apakah keinginan hati manusia berpengaruh kepada organ-organ tubuhnya?”
Mudariszi: “Perbuatan manusia untuk mencapai keinginan hatinya melibatkan seluruh organ tubuhnya. Keinginannya dapat dicapai dalam waktu yang singkat atau panjang. Karena itu, keinginan hati manusia berpengaruh kepada daya tahan tubuhnya. Manusia harus memperhatikan makanannya dan waktu istirahatnya agar darah tetap mengalir ke seluruh tubuhnya dengan teratur. Nafsu untuk mencapai keinginan hati berpengaruh kepada jantung dan aliran darah, sehingga berpengaruh pula kepada organ-organ tubuh. Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: “Aku mendengar (sambil memegang kedua telinganya) Rasulullah SAW bersabda: “Ingat! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging; apabila ia baik, baik pula seluruh tubuh; dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh; itulah hati.” (HR Muslim)
Dengan demikian, agar seluruh organ bekerja dengan teratur mengikuti aturan yang Dia tetapkan, maka hati dengan berbagai keinginannya itu harus dijaga. Salah satu penyembuh hati yang rusak adalah ayat-ayat-Nya (Al Qur’an). Allah SWT berfirman:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus 57)
Wallahu a’lam.