Dialog Seri 8: 3
Tilmidzi: “Bukankah syaitan itu ada yang dari golongan jin dan manusia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)
Tilmidzi: “Bukankah syaitan dari jin tidak terlihat oleh manusia?”
Mudariszi: “Makhluk jin dijadikan oleh Allah SWT tidak dapat dilihat oleh manusia, tapi jin dapat melihat manusia. Contohnya Rasulullah SAW ketika menjadi imam shalat bagi sekumpulan jin, dimana beliau tidak dapat melihat jin-jin tersebut tapi jin-jin dapat melihat beliau (manusia), seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. (Al Jin 19)
Rasulullah SAW mengetahui beliau mengimami jin-jin tersebut setelah menerima firman-Nya (wahyu-Nya) di atas yang disampaikan oleh Jibril.”
Tilmidzi: “Apakah di antara makhluk jin itu ada jin yang beriman dan yang kafir atau syaitan dari golongan jin?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al Jin 11)
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (Al Jin 14-15)
Makhluk jin dijadikan oleh Allah SWT tidak berbeda dengan makhluk manusia, yaitu sama-sama dijadikan untuk menyembah-Nya dan menjalani hidupnya di dunia dengan karunia-Nya di bumi dan dengan mengikuti agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)
Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al Jin 16-17)
Tilmidzi: “Lalu bagaimana dengan syaitan dari golongan manusia, bukankah manusia itu dapat dilihat oleh manusia (orang lain)?”
Mudariszi: “Manusia memang dapat melihat orang lain, sedangkan jin tidak terlihat oleh manusia. Syaitan dari golongan jin yang tidak terlihat oleh manusia itu bukan karena jin yang tidak terlihat oleh manusia, tapi karena bisikan jahat dari jin-jin yang jahat atau yang kafir. Jika jin terlihat oleh manusia, maka manusia tidak dapat langsung mengetahui jin-jin yang jahat atau yang kafir atau syaitan dari golongan jin. Sehingga maksud syaitan dari golongan manusia yang tidak terlihat itu adalah bisikan jahat dari orang-orang yang jahat atau yang kafir. Allah SWT berfirman:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)
Jin-jin dan orang-orang yang membisikkan kejahatan ke hati manusia itu adalah pelaku kejahatan yang dikatakan sebagai syaitan, karena mereka mengingkari larangan-Nya (ayat-ayat-Nya). Karena pelaku kejahatan itu berasal dari golongan jin dan golongan manusia, maka mereka dikatakan syaitan dari golongan jin dan syaitan dari golongan manusia.”
Tilmidzi: “Apakah pengiring manusia yang menganjurkan kepada kejahatan itu adalah syaitan dari golongan jin?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang pengiring manusia itu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang yang diangkat menjadi khalifah, tentu ia mempunyai dua orang pengiring. Seorang pengiring memerintahkan dan menganjurkan kebajikan kepadanya, dan seorang pengiring lagi memerintahkan dan menganjurkan kejahatan kepadanya.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa pada setiap orang ada dua pengiring yang selalu mengikuti manusia, yaitu pengiring yang menganjurkan kepada kebaikan dan pengiring yang menganjurkan kepada kejahatan. Pengiring yang menganjurkan kepada kebaikan tersebut dijelaskan firman-Nya ini:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar Ra’d 11)
Sedangkan pengiring yang menganjurkan kepada kejahatan itu adalah syaitan dari golongan jin. Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang di antara kalian pasti ada penyertanya berupa jin.” Para sahabat bertanya: “Engkau juga, Ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Aku juga. Hanya saja Allah menolongku, sehingga aku selamat (dari kejahatan dan gangguannya). Dia hanya menyuruhku berbuat kebaikan.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW ditolong oleh Allah SWT hingga selamat dari kejahatan jin atau syaitan dari golongan jin karena beliau dilindungi-Nya, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Sa’id al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Al Ma’shum adalah orang yang dilindungi Allah.” (HR Bukhari)
Syaitan dari golongan jin atau pengiring manusia yang menganjurkan manusia kepada kejahatan itulah para pengikut Iblis.”
Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui syaitan dari golongan manusia?”
Mudariszi: “Jika manusia dapat melihat jin, maka manusia juga tidak dapat mengetahui jin kafir atau syaitan dari golongan jin. Tetapi, dengan manusia tidak dapat melihat jin, manusia dapat mengetahui bahwa jin-jin beriman tidak mungkin akan membisikkan kejahatan kepada manusia, karena itu perbuatan syaitan (perbuatan berdosa). Dengan demikian, jin-jin yang membisikkan kejahatan ke hati manusia adalah jin-jin kafir atau syaitan-syaitan dari golongan jin. Demikian pula dengan manusia, yaitu orang-orang beriman tidak akan membisikkan kejahatan kepada orang lain (karena berdosa), tapi hanya membisikkan kebaikan. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An Nisaa’ 114)
Dengan demikian, syaitan-syaitan dari golongan manusia itu adalah orang-orang yang tidak beriman (orang-orang kafir) yang membisikkan kejahatan kepada orang lain.”
Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui orang yang membisikkan kejahatan?”
Mudariszi: “Seseorang yang berniat jahat kepada orang lain, misalnya ingin menipu, maka dia tidak akan mengatakan niat jahatnya tersebut. Orang itu justru akan berbicara baik-baik dengan kalimat (kata-kata) yang menyenangkan hati orang yang akan ditipunya, agar tujuan jahatnya tidak diketahui oleh orang tersebut. Contoh orang yang berniat jahat tersebut seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu. (Al Baqarah 204)
Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. (Ali ‘Imran 167)
Ucapan yang baik-baik dengan kalimat (kata-kata) yang menyenangkan hati itu merupakan bujuk rayu orang tersebut agar orang yang akan ditipunya mau menerimanya dan mempercayainya. Bujuk rayu orang tersebut dengan kata-kata yang menyenangkan hati pendengarnya (orang yang akan ditipunya) itu tidak berbeda dengan bujuk rayu syaitan dari golongan jin ketika syaitan itu membisikkan kejahatannya ke hati manusia dengan janji-janji indah (manis). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (Al Hasyr 16)
Perbedaan syaitan dari golongan jin (jin kafir) dengan orang munafik (dalam firman-Nya di atas), yaitu syaitan dari golongan jin membisikkan kejahatannya, sedangkan orang munafik mengucapkannya. Tapi keduanya tidak berbeda bagi pendengarnya (orang yang akan ditipunya), karena bisikan jin kafir dan ucapan orang munafik itu terasa bagus didengar dan dirasakan oleh pendengarnya sehingga disimpan di hati pendengarnya. Ucapan orang munafik yang tersimpan di hati pendengarnya itu lalu menjadi bisikan (janji-janji) yang indah karena selalu teringat dan dipikirkannya; ucapan orang munafik itu menjadi seperti bisikan (janji-janji) indah dari jin kafir atau syaitan dari golongan jin.”
Tilmidzi: “Apakah orang munafik itu syaitan dari golongan manusia?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik itu orang-orang yang mengikuti agama-Nya (agama Islam), tapi mereka tidak menyukai agama-Nya tersebut. Hal itu terbukti dari perbuatan mereka yang selalu mengingkari ayat-ayat-Nya (peraturan agama-Nya) ketika mereka menjalani hidupnya. Akibat perbuatannya yang terus menerus mengingkari ayat-ayat-Nya (peraturan agama-Nya), Allah SWT lalu melupakannya dengan tidak menunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, sehingga mereka menjadi munafik. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An Nisaa’ 142)
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
Karena selalu mengingkari ayat-ayat-Nya (agama-Nya), maka orang-orang munafik itu berarti telah mendurhakai Allah SWT dan telah menjadi kafir atau syaitan dari golongan manusia. Karena itulah ucapan atau bujuk rayu orang-orang munafik seperti bujukan (janji-janji) syaitan dari golongan jin seperti yang telah dijelaskan firman-Nya di atas. Rasulullah SAW menjelaskan ucapan (janji-janji) orang-orang munafik sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ada empat pekerti yang barangsiapa ketempatan empat pekerti itu, maka dia adalah orang munafik yang murni (sangat dekat sifatnya dengan orang munafik). Dan barangsiapa padanya terdapat salah satu tabiat di antara empat itu, berarti padanya ada satu tabiat di antara kemunafikan sampai dia mau meninggalkannya, yaitu: apabila berbicara, berbohong; apabila melakukan persetujuan, berkhianat; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila bertikai, menyimpang.” (HR Muslim)
Allah SWT pula menjelaskan orang-orang munafik itu pandai berbicara dan berdusta, melalui firman-Nya ini:
Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al Munaafiquun 1)
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Al Munaafiquun 4)
Allah SWT memperingatkan orang-orang beriman agar waspada terhadap orang-orang munafik (dalam firman-Nya di atas) karena di antara mereka ada yang seperti Iblis, yaitu yang menghalang-halangi manusia dari agama-Nya atau jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 1-2)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Tilmidizi: “Bagaimana dengan orang-orang kafir, apakah mereka juga syaitan dari golongan manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan orang-orang kafir, sebagai berikut:
Maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. (Al Baqarah 98)
Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. (Al ‘Ankabuut 47)
Di antara orang-orang kafir itu ada orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang tidak mengikuti agama-Nya tapi mengikuti agama atau jalan yang diada-adakan oleh syaitan yang menyembah tuhan selain Dia atau menyekutukan-Nya dengan tuhan lain. Dengan mereka tidak mau mengikuti agama-Nya, maka itu menunjukkan mereka mengingkari ayat-ayat-Nya atau mendurhakai-Nya. Allah SWT berfirman:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al Maa-idah 104)
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh Bapak-Bapakmu.” (Saba’ 43)
Di antara orang-orang kafir itu ada pula orang-orang yang mengikuti agama-Nya yang dibawa oleh Rasul-Rasul-Nya sebelum Rasulullah SAW, yaitu Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, karena sebagian ayat-ayat-Nya dirubah sehingga agama-Nya berubah. Dengan mereka mengikuti ayat-ayat-Nya (agama-Nya) yang berubah, maka mereka berarti mengingkari ayat-ayat-Nya atau mendurhakai-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak (pula yang) dibiarkannya. (Al Maa-idah 15)
Mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Dengan kedua golongan orang-orang kafir itu mendurhakai Allah SWT (ayat-ayat-Nya), maka mereka menjadi syaitan dari golongan manusia. Sehingga mereka tidak berbeda dengan orang-orang munafik, yaitu perlu diwaspadai oleh orang-orang beriman. Di antara orang-orang kafir dari kedua golongan (kaum musyrik dan Ahli Kitab) itu ada yang seperti Iblis, yaitu yang ingin menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 167)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok, padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)
Bahkan mereka ingin memadamkan kebenaran agama-Nya (Islam) melalui ucapan-ucapannya dengan tujuan agar agama-Nya itu tidak diikuti lagi oleh manusia. Allah SWT berfirman:
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Ash Shaff 8)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik dan orang-orang kafir yang menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya itu akan ditempatkan di neraka bersama-sama dengan Iblis?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Al Bayyinah 6)
Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (An Nisaa’ 140)
Bahkan Allah SWT melaknat mereka melalui firman-Nya ini:
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (At Taubah 68)
Dan Allah SWT akan menempatkan orang-orang munafik di neraka yang paling bawah, karena mereka mengikuti agama-Nya (Islam) dan mengetahui ayat-ayat-Nya tapi diingkarinya, dan juga mereka menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An Nisaa’ 145)
Tilmidzi: “Apakah Iblis dan syaitan dari golongan jin bekerja sama dengan syaitan dari golongan manusia dalam menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus agar tersesat?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al Jin 6)
Wallahu a’lam.