Dialog Seri 8: 4
Tilmidzi: “Apakah syaitan menggunakan kehidupan dunia dalam menyesatkan manusia?”
Mudariszi: “Ya! Iblis mengetahui bahwa manusia telah bersedia melaksanakan amanah dari Allah SWT sebagai khalifah di bumi (di dunia). Iblis mengetahui pula bahwa Allah SWT menjadikan pandangan manusia terhadap apa yang ada dalam kehidupan dunia sebagai berikut:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)
Semua yang disukai oleh manusia dari karunia-Nya di bumi (dalam firman-Nya di atas) itu merupakan kesenangan hidup bagi manusia ketika menjalani hidupnya atau melaksanakan amanah. Agar manusia gagal melaksanakan amanah hingga tersesat, syaitan (termasuk Iblis) lalu menggunakan kesenangan dunia yang disukai oleh manusia itu untuk menipu manusia ketika menjalani hidupnya.”
Tilmidzi: “Bagaimana kehidupan dunia tersebut sebenarnya bagi manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kehidupan dunia itu sebagai berikut:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)
Rasulullah SAW pula menjelaskan hal tersebut di atas sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia itu adalah seperti buah-buahan yang hijau dan manis. Sesungguhnya Allah menunjuk kalian untuk menjadi khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana yang kalian lakukan. Takutlah pada dunia.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kesenangan dunia dari karunia-Nya di bumi dan godaan syaitan itu menjadi ujian bagi manusia ketika menjalani hidupnya (melaksanakan amanah) dengan berbuat (beramal) di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 7)
Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al Mulk 2)
Perbuatan manusia yang diuji-Nya dengan karunia-Nya di bumi dan dengan godaan syaitan, yaitu perbuatan manusia ketika mengusahakan dan menggunakan karunia-Nya dengan mengikuti agama-Nya dan dengan godaan syaitan yang ingin menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus.”
Tilmidzi: “Apakah semua karunia-Nya di bumi itu untuk manusia?”
Mudariszi: “Ya! Dan sebagian dari karunia-Nya itu untuk keperluan hidup manusia. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Manusia dalam firman-Nya di atas yaitu semua orang, sehingga karunia-Nya di bumi itu untuk semua orang yang hidup di bumi (di dunia). Karena itu Allah SWT memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada orang-orang miskin dan lemah yang tidak ada kemampuan dalam mencari nafkah (harta) dari karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:
Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (Al Hasyr 7)
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang tidak mendapat bahagian. (Adz Dzaariyaat 19)
Di antara karunia-Nya di bumi itu, ada yang menjadi kebutuhan hidup makhluk-makhluk lain di bumi. Allah SWT melarang manusia merusak bumi dan memerintahkan manusia agar berlaku adil dengan tidak mengambil hak orang lain dan hak makhluk lain ketika menjalani hidup dengan karunia-Nya tersebut. Allah SWT melarang manusia menetapkan peraturannya sendiri dalam mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya, kecuali dengan mengikuti peraturan agama-Nya yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. (Az Zukhruf 32
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Asy Syu’araa’ 183)
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT membatasi manusia dalam mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya di bumi tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak membatasi manusia terhadap apa yang Dia telah karuniakan kepadanya; Dia hanya menghendaki manusia agar menggunakan karunia-Nya menurut hak dan kewajiban yang Dia telah tetapkan dalam syariat agama-Nya. Allah SWT menghendaki manusia agar menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya. Allah SWT tidak membatasi manusia terhadap karunia-Nya yang disukai oleh manusia. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (Al A’raaf 32)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. (Al Baqarah 168)
Hai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al A’raaf 31)
Allah SWT hanya mengharamkan manusia ketika dia mengusahakan karunia-Nya (di bumi) dan menggunakan hartanya yang diperoleh dari karunia-Nya itu dengan perbuatan sebagai berikut:
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia; berbuat baiklah terhadap kedua orang Ibu Bapak; dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi; dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (Al An’aam 151)
Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raaf 33)
Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT kehendaki terhadap manusia ketika menjalani hidupnya di dunia dengan karunia-Nya di bumi?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (ke bahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)
Seruan Allah kepada manusia yang mendahulukan bahagian (kenikmatan) akhirat daripada bahagian (kenikmatan) dunia dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Dia menghendaki manusia supaya mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya di bumi dengan mengikuti syariat agama-Nya agar manusia memperoleh kenikmatan di dunia dan di akhirat. Mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya dengan tidak mengikuti syariat agama-Nya boleh jadi membuat manusia memperoleh kenikmatan di dunia, tapi dia dapat menjadi rugi ketika di akhirat.”
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan menipu manusia dengan menggunakan kesenangan dunia tersebut?”
Mudariszi: “Syaitan melakukannya dengan membisikkan ke hati manusia janji-janji manis terhadap kesenangan yang ada di bumi (kehidupan dunia) agar janji-janji syaitan itu menjadi angan-angan manusia yang ingin dicapainya. Allah SWT berfirman:
Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)
Jika angan-angan itu berhasil dicapainya, syaitan membisikkannya kembali kesenangan itu atau kesenangan lainnya dengan janji-janji manis agar menjadi angan-angan yang ingin dicapainya. Jika angan-angan itu berhasil dicapainya, syaitan terus membisikkannya dengan janji-janji manis lainnya, sehingga orang itu menjadi lalai dan terbiasa dengan kesenangan dunia. Lalai dengan kesenangan dunia akan membuat orang itu melupakan Allah SWT dan ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:
Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.” (Shaad 32)
Selain itu, syaitan membisikkan pula ke hati manusia ketakutan-ketakutan dalam menjalani hidup jika tidak memiliki harta. SWT berfirman:
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)
Dengan adanya perasaan takut di hatinya, syaitan lalu membisikkan ke hati orang itu agar mencari harta dari karunia-Nya di bumi itu dengan jalan apapun termasuk jalan yang dilarang syariat agama-Nya. Jika orang itu telah berharta, dia dibisiki oleh syaitan agar tidak memberikan hartanya itu kepada siapapun karena pengalaman buruk sebelumnya. Kekikirannya bertambah, karena syaitan lalu membisikkan janji-janji manis agar dia berangan-angan dapat menambah hartanya dan menikmati kesenangan dunia dengan hartanya tersebut. Orang itu dibuat oleh syaitan hingga menjadi seperti firman-Nya ini:
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (Al Ma’aarij 20-21)
Tilmidzi: “Bagaimana manusia sampai melupakan Allah SWT dan ayat-ayat-Nya hanya karena kesenangan dunia?”
Mudariszi: “Karena syaitan dengan janji-janji manisnya membuat manusia menjadi sibuk dengan urusan duniawinya saja. Syaitan menghasut manusia dari sejak kecilnya dengan janji-janji manis yang tanpa henti-henti. Syaitan menyesuaikan janji-janji manisnya itu dengan pertumbuhan dan lingkungan orang tersebut. Syaitan membiasakan mereka (yang terhasut) dengan kesenangan dunia agar timbul nafsu keinginannya terhadap kesenangan dunia hingga hawa nafsunya itu tidak dapat ditahannya lagi. Tidak ada siapapun yang dapat menahan nafsu manusia jika hawa nafsunya timbul. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. (Al Baqarah 187)
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Al Furqaan 43)
Orang yang selalu bernafsu terhadap kesenangan dunia, dapat membuat hawa nafsunya menguasai dirinya. Dan karena hawa nafsunya itu terjadi akibat dari bisikan syaitan, itu berarti syaitan yang menguasai orang tersebut, sehingga syaitan terus membisikkan janji-janji manis agar dia terbiasa dengan kesenangan dunia walaupun dengan melakukan perbuatan keji dan jahat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 43)
Dengan syaitan menguasai orang itu hingga menyuruhnya berbuat jahat, itu berarti dia melupakan Allah SWT dan ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al Mujaadilah 19)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah syaitan menjadikan manusia berbuat jahat itu melalui bisikan (janji-janji) manisnya dan hawa nafsu manusia?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan melalui bisikan-bisikan jahatnya atau janji-janji manisnya membuat hawa nafsu orang itu timbul termasuk hawa nafsu berbuat keji dan jahat. Syaitan menggunakan hawa nafsunya karena manusia tidak dapat menahan hawa nafsunya jika telah timbul. Contoh, hawa nafsu yang terjadi pada anak Nabi Adam dan Samiri, seperti yang dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 30)
Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” (Thaahaa 95-96)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah syaitan dapat membuat manusia memandang benar (baik) perbuatannya yang jahat dengan menggunakan hawa nafsunya?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus 12)
Tilmidzi: “Bagaimana jika orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dunia itu diingatkan dengan ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Allah SWT menurunkan ayat-ayat-Nya untuk manusia, yaitu agar manusia selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjelaskan kedua kehidupan tersebut dalam ayat-ayat-Nya, dan penjelasan-Nya itu merupakan peringatan-Nya juga bagi manusia. Contohnya seperti peringatan-Nya (firman-Nya) ini:
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At Takaatsur 1-8)
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Tapi peringatan-Nya (ayat-ayat-Nya) di atas itu tidak membuat orang-orang yang menyukai kehidupan dunia tertarik, sekalipun dengan berbagai ancaman. Mereka tidak takut dengan api neraka, karena mereka telah menyukai kesenangan dalam kehidupan dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(–Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (Al A’raaf 146)
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (Al Baqarah 175)
Mereka menjadi kafir kepada Allah SWT dan ayat-ayat-Nya, sehingga mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirinya di hari kiamat atau dalam kehidupan akhirat. Tapi itupun tidak diperdulikan oleh mereka karena cintanya kepada kehidupan dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. (Al A’laa 16)
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar Ruum 7)
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insaan 27)
Tilmidzi: “Apakah mereka itu orang-orang yang tidak ditunjukkan oleh Allah SWT kepada jalan yang lurus?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al Baqarah 264)
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Baqarah 258)
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (Al Maa-idah 108)
Dengan demikian, orang-orang yang menyukai kesenangan dunia hingga membawanya kepada kekafiran atau kezaliman atau kefasikan dan mereka tidak juga mau bertaubat, maka mereka tidak akan diberikan-Nya petunjuk. Allah SWT tidak menunjuki mereka kepada jalan yang lurus, yaitu dengan Dia menutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka dari kebenaran, sehingga mereka tidak mengetahui yang benar dan yang salah. Mereka hanya mengetahui yang benar dan yang salah menurut hawa nafsunya (anggapannya). Mereka pasti tersesat karena selalu menuruti hawa nafsunya (syaitan) dengan berbuat keji dan jahat ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (An Nahl 106-109)
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
Tilmidzi: “Apakah dengan mereka tidak ditunjukkan oleh Allah SWT kepada jalan yang lurus itu yang diinginkan oleh syaitan, yaitu mereka pasti akan tersesat?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan dengan janji-janji manisnya yang dibisikkannya ke hati manusia bertujuan agar manusia menyukai kehidupan dunia hingga berbuat keji dan jahat supaya mereka tidak ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, sehingga mereka pasti akan tersesat ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). (Ar Ra’d 33)
Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (Al ‘Ankabuut 38)
Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)
Karena Allah SWT tidak menunjuki mereka, maka mereka menjalani hidupnya dengan mengikuti bisikan (janji-janji) syaitan, tapi mereka tidak mengetahuinya (menyadarinya) karena mereka telah dikuasai oleh syaitan. Syaitan telah menjadi pelindungnya dan petunjuk syaitan dianggapnya sebagai petunjuk tuhan. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)
Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 39)
Mereka menjadi syaitan dari golongan manusia karena dikuasai oleh syaitan, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. (Al Mujaadilah 19)
Tilmidzi: “Bagaimanakah sifat orang-orang kafir yang menyukai kehidupan (kesenangan) dunia tersebut?”
Mudariszi: “Karena orang-orang kafir itu sudah masuk ke dalam golongan syaitan (syaitan dari golongan manusia), maka mereka memiliki sifat-sifat buruk, yaitu sifat-sifat yang bertentangan dengan sifat-sifat baik yang ditetapkan (diperintahkan) oleh Allah SWT dalam agama-Nya bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Contoh sifat-sifat buruk orang-orang kafir itu sebagai berikut:
Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil. (Muhammad 3)
Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad 2)
Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk. (An Nahl 60)
Karena itu Allah SWT mengancam mereka dengan firman-Nya ini:
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al Hijr 3)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus 7-8)
Wallahu a’lam.