Dialog Seri 10: 35
Tilmidzi: “Apakah Nabi Daud dikaruniakan anak oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Shaad 30)
Nabi Sulaiman tidak berbeda dengan Nabi Daud, yaitu sangat taat kepada Allah SWT ketika menjalani hidupnya. Nabi Sulaiman yang terlahir sebagai anak Raja dalam istana yang dilengkapi dengan peralatan yang indah-indah, menjadikan beliau menyukai keindahan, terutama kuda-kuda. Meskipun demikian, kesukaan Nabi Sulaiman itu tidak membuatnya lalai dari mentaati Allah SWT. Karena itu Allah SWT menjelaskan tentang Nabi Sulaiman melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shaad 40)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman sama sekali tidak pernah melupakan Allah SWT karena kesukaannya tersebut?”
Mudariszi: “Pada suatu waktu Nabi Sulaiman dilalaikan oleh kesukaannya sehingga beliau melupakan Allah SWT. Menyadari kesalahannya tersebut, Nabi Sulaiman lalu melakukan perbuatan sebagai berikut:
(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shaad 31-33)
Karena tidak ingin ketaatannya kepada Allah SWT menjadi lenyap akibat dari kesukaannya, Nabi Sulaiman kemudian memotong kaki dan leher semua kuda yang disukainya itu agar beliau tidak lagi menikmati kuda-kuda tersebut. Pada suatu waktu Nabi Sulaiman yang taat kepada Allah SWT itu diuji-Nya, yaitu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit). (Shaad 34)
Nabi Sulaiman yang mengetahui Allah SWT mengujinya karena kebiasaannya menyukai keindahan, lalu bertaubat kepada-Nya, sebagai berikut:
Kemudian ia bertaubat. Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi.” (Shaad 34-35)
Selain bertaubat kepada-Nya (dalam firman Allah di atas), Nabi Sulaiman juga meminta kepada Allah SWT agar beliau dianugerahkan-Nya kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun.”
Tilmidzi: “Apakah permintaan Nabi Sulaiman itu dikabulkan-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Sulaiman tersebut. Allah SWT menganugerahkan kerajaan dan kekuasaan kepada beliau dengan menetapkan beliau sebagai pengganti Nabi Daud sebagai Raja dari Bani Israil. Allah SWT berfirman:
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud. (An Naml 16)
Dengan demikian, Nabi Sulaiman menjadi Raja dari Bani Israil yang ketiga. Sebagai Raja, Nabi Sulaiman dianugerahkan oleh Allah SWT pemahaman tentang suara burung dan binatang-binatang. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan dia berkata: “Hai manusia, kami telah diberi peringatan tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.” (An Naml 16)
Di samping itu, Allah SWT menganugerahkan pula kepada Nabi Sulaiman, yaitu Dia tundukan jin-jin, cairan tembaga dan angin untuk beliau. Allah SWT berfirman:
Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan. (Shaad 37)
Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. (Saba’ 12)
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman. (Saba’ 12)
Tidak ada seorang hamba-Nya yang dianugerahkan kerajaan dan kekuasaan oleh Allah SWT seperti yang Dia anugerahkan kepada Nabi Sulaiman. Bahkan Allah SWT kemudian menjelaskan kepada Nabi Sulaiman bahwa anugerah-Nya itu tidak harus beliau pertanggung jawabkan kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. (Shaad 39)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman dianugerahkan-Nya hikmah dan ilmu hukum dan keadilan seperti yang Dia anugerahkan kepada Nabi Daud?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” (An Naml 15)
Bahkan Allah SWT memberikan hikmah dan ilmu tentang hukum dan keadilan yang lebih baik kepada Nabi Sulaiman daripada kepada Nabi Daud. Contoh, seperti dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW berikut ini:
Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. (Al Anbiyaa’ 78-79)
Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan orang-orang adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api, maka kupu-kupu dan binatang-binatang (serangga) ini masuk ke dalam api ini.” Dan beliau bersabda: “Ada dua orang wanita bersama dua anaknya. Datanglah serigala, lalu serigala itu membawa anak salah seorang wanita itu. Berkatalah temannya: “Serigala itu membawa anakmu”, dan yang lain berkata: “Serigala itu membawa anakmu.” Keduanya minta hukum kepada Dawud, lalu Dawud memutuskan anak itu untuk wanita yang besar. Lalu keduanya pergi kepada Sulaiman bin Dawud dan memberitakan kepadanya, lalu Sulaiman berkata: “Bawalah pisau kepadaku, hendak aku belah seorang anak ini di antara (untuk) keduanya.” Lalu wanita yang kecil berkata: “Janganlah kamu lakukan, semoga Allah menyayangi engkau. Anak itu adalah anaknya (perempuan yang besar), maka Sulaiman memutuskan anak itu bagi wanita yang kecil itu.” (HR Bukhari)
Dengan demikian, Nabi Sulaiman dianugerahkan oleh Allah SWT kerajaan dan kekuasan yang lebih kuat dan lebih adil daripada Nabi Daud. Dan itulah yang diinginkan oleh Nabi Sulaiman, yaitu kerajaan dari Allah SWT yang tidak dimiliki oleh siapapun. Karena itu Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba’ 13)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman itu adalah juga Rasul Allah?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Sulaiman merupakan anak cucu keturunan Nabi Ya’qub (Israil) atau Nabi dari Bani Israil yang menerima wahyu-wahyu-Nya. Dan Nabi yang menerima wahyu-Nya itu adalah Rasul-Nya, dan hal itu dijelaskan-Nya sebagai berikut:
Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. (Al Anbiyaa’ 7)
Dengan demikian, Nabi Sulaiman itu seperti Nabi Daud yaitu Rasul Allah.”
Wallahu a’lam.