Bagaimana Kisah Nabi Daud Raja Dari Bani Israil?

Dialog Seri 10: 34

 

Tilmidzi: “Bagaimana keadaan Bani Israil setelah Nabi Musa wafat?”

 

Mudariszi: “Perubahan ayat-ayat Taurat telah membuat agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa menjadi berubah dan menimbulkan perselisihan di antara umat Nabi Musa khususnya di antara Bani Israil. Allah SWT lalu mengutus Nabi-Nabi dari Bani Israil kepada Bani Israil dengan diberikan ayat-ayat-Nya, guna dijelaskan kepada Bani Israi agar mereka berhenti berselisih dan kembali kepada agama-Nya yang benar. Allah SWT tidak menjelaskan semua Nabi-Nabi itu dalam Al Qur’an, dan di antara mereka ada yang hanya sedikit sekali penjelasannya, contoh kisah Nabi dalam firman-Nya ini:

 

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah.” (At Taubah 30)

 

Ada pula penjelasan kisah Nabi Bani Israil, tapi tidak dijelaskan-Nya nama Nabi itu. Contoh, Nabi dan kaumnya (Bani Israil) yang diusir dari kampung halamannya oleh penguasa negeri, hingga kaumnya meminta kepada Nabi mereka sebagai berikut:

 

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang Raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.(Al Baqarah 246)

 

Nabi lalu memperingatkan kaumnya (Bani Israil) itu sebagai berikut:

 

Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.(Al Baqarah 246)

 

Bani Israil kemudian menjawab Nabinya tersebut, sebagai berikut:

 

Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” (Al Baqarah 246)

 

Tilmidzi: “Apakah memerangi musuh yang mengusir orang beriman dari kampung halamannya itu termasuk berperang (berjihad) di jalan Allah (seperti firman-Nya di atas)?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.(Al Hajj 39-40)

 

Penguasa negeri itu bukan orang beriman, karena orang beriman tidak akan mengusir orang beriman. Bani Israil merupakan kaum yang beriman (karena mengikuti agama-Nya) sekalipun kebanyakan dari mereka tidak taat mengikuti syariat agama-Nya. Orang kafir selalunya mengusir, menganiaya hingga memerangi orang-orang beriman agar agama-Nya tidak diikuti lagi dan menjadi lenyap. Allah SWT menjelaskan orang-orang kafir itu sebagai berikut:

 

Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad 2)

 

Perbuatan orang kafir itu, cepat atau lambat akan menimbulkan kerusakan pada bumi dan penghuninya. Allah SWT tidak menghendaki hal itu terjadi, karena itu Dia mengizinkan orang-orang beriman untuk berjihad (berperang) di jalan-Nya memerangi orang-orang kafir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (Al Hajj 40)

 

Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (Al Baqarah 251)

 

Allah SWT menjelaskan orang-orang beriman yang membela (menolong) agama-Nya itu sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)

 

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hajj 40)

 

Dengan demikian, Bani Israil yang berperang (berjihad) di jalan-Nya untuk memerangi penguasa kafir yang mengusir mereka itu termasuk pula menjadi menolong agama-Nya tetap tegak sehingga akan dibantu-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Bani Israil itu mengangkat seorang Raja (pemimpin) yang diminta oleh Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengetahui keinginan Bani Israil itu, sehingga Dia lalu memerintahkan Nabi itu untuk menetapkan Rajanya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi Rajamu.(Al Baqarah 247)

 

Dengan demikian, Thalut merupakan Raja dari Bani Israil yang pertama yang ditetapkan oleh Allah SWT.”

 

Tilmidzi: “Apakah Bani Israil menerima Thalut sebagai Rajanya?”

 

Mudariszi: “Bani Israil tidak menyukai Thalut diangkat sebagai Raja mereka, karena alasan sebagai berikut:

 

Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Al Baqarah 247)

 

Keinginan Bani Israil (dalam firman-Nya di atas) itu menunjukkan mereka tidak berbeda dengan Bani Israil di masa Nabi Musa, yaitu mereka mau keinginannya dituruti, mereka ingin mengatur dan bukan diatur. Mereka merasa lebih pandai dan lebih mengetahui daripada Allah SWT dan Nabi. Karena itu Nabi mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

(Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi Rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 247)

 

Nabi lalu menjelaskan tanda-tanda Thalut menjadi Raja, sebagai berikut:

 

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman.” (Al Baqarah 248)

 

Nabi mereka menjelaskan (seperti dalam firman-Nya di atas) kepada Bani Israil dengan tujuan agar mereka mematuhi perintah Thalut sebagai Raja ketika memimpin mereka.”

 

Tilmidzi: “Apakah yang dimaksud tabut dalam firman-Nya di atas?”

 

Mudariszi: “Tabut (dalam firman-Nya di atas) yaitu tempat penyimpanan. Tabut itu besar kemungkinan berisikan sebagian ayat-ayat Taurat yang Dia turunkan kepada Nabi Musa dan sebagian sunnah Nabi Musa dan sunnah Nabi Harun. Semua itu dapat memberikan ketenangan bagi orang-orang yang membacanya. Taurat itu tidak berbeda dengan Al Qur’an, yaitu sama-sama berisikan ayat-ayat-Nya (keterangan-Nya) yang menjelaskan segala sesuatu kepada manusia hingga memberikannya ketenangan ketika mengingat-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. (Al An’aam 154)

 

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (Kitab-Kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf 111)

 

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. (Az Zumar 23)

 

Tilmidzi: “Apakah Thalut kemudian memerangi penguasa negeri yang telah mengusir Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Ya! Thalut kemudian membawa tentaranya (Bani Israil) untuk memerangi penguasa negeri yang telah mengusir mereka. Dalam perjalanan, Thalut memperingatkan tentaranya, sebagai berikut:

 

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.(Al Baqarah 249)

 

Tetapi karena kebanyakan Bani Israil selalu menuruti hawa nafsunya dan tidak sabar, maka mereka tidak mentaati peringatan Rajanya. Mereka meminum air sungai sehingga hilang keberanian mereka untuk memerangi musuh. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.(Al Baqarah 249)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan demikian Bani Israil itu tidak ikut berperang?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling kecuali beberapa orang saja di antara mereka. (Al Baqarah 246)

 

Dengan berpalingnya sebagian besar Bani Israil dari berperang di jalan-Nya, maka benar yang dikatakan oleh Nabi mereka sebelumnya, sebagai berikut:

 

Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.(Al Baqarah 246)

 

Itulah keburukan dari kebanyakan Bani Israil akibat dari mereka selalu menuruti hawa nafsunya, tidak sabar dan tidak taat kepada Allah SWT, Nabi-Nya dan ayat-ayat-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Thalut tetap berperang melawan musuhnya?”

 

Mudariszi: “Ya! Thalut tetap berperang melawan Jalut penguasa negeri yang mengusir mereka meskipun hanya didukung oleh sedikit tentaranya, yaitu Bani Israil yang tidak minum air sungai kecuali hanya seceduk mengikuti perintah Thalut. Mereka yakin dapat mengalahkan Jalut karena mereka berperang (berjihad) di jalan-Nya yang akan dibantu-Nya. Mereka mengatakan kepada Bani Israil yang berpaling dari perang, sebagai berikut:

 

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.(Al Baqarah 249)

 

Dan mereka lalu berdoa (meminta) kepada Allah SWT sebagai berikut:

 

Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdo’a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (Al Baqarah 250)

 

Tilmidzi: “Apakah Thalut dapat mengalahkan Jalut?”

 

Mudariszi: “Ya! Thalut berhasil mengalahkan Jalut dan tentaranya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah, dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut. (Al Baqarah 251)

 

Thalut dari Bani Israil kemudian menjadi Raja di negeri tersebut yang rakyatnya bukan hanya Bani Israil saja. Thalut memerintah negeri tersebut hingga wafatnya.”

 

Tilmidzi: “Siapakah pengganti Thalut sebagai Raja setelah Thalut wafat?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan jangka waktu Thalut menjadi Raja hingga beliau wafat. Setelah Thalut wafat, Allah SWT menetapkan Nabi Daud sebagai Raja dari Bani Israil yang memerintah negeri itu. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (kenabian dan kitab Zabur) sesudah kematian Thalut dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah 251)

 

Allah SWT menetapkan Thalut sebagai Raja dari Bani Israil ketika mereka diusir dari kampung halamannya. Kemudian Allah SWT menetapkan Nabi Daud dari Bani Israil menggantikan Thalut sebagai Raja di negeri itu. Allah SWT menjelaskan ketetapan-Nya itu sebagai berikut:

 

Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)

 

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. (Yusuf 40)

 

Nabi Daud menjadi Raja dari Bani Israil yang kedua yang ditetapkan oleh Allah SWT setelah Thalut.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memberikan kitab Zabur kepada Nabi Daud dan bukan kepada Thalut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT memberikan kitab Zabur kepada Nabi Daud, karena kehendak-Nya, dan hal itu dijelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian Nabi-Nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur (kepada) Daud. (Al Israa’ 55)

 

Allah SWT mengetahui usia Thalut yang tidak akan lama setelah beliau menjadi Raja, padahal Dia berkehendak menurunkan ayat-ayat-Nya (Zabur) yang menjelaskan tentang hukum-hukum bagi pemimpin atau Raja dalam memutuskan perkara di antara manusia atau di antara rakyat yang dipimpinnya yang terdiri dari berbagai kaum atau suku atau bangsa. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad 26)

 

Allah SWT menurunkan kitab Zabur kepada Nabi Daud (Raja) dari Bani Israil yang menjelaskan hukum-hukum memutuskan perkara di antara rakyatnya (manusia), karena Bani Israil telah menerima (mengetahui) Taurat yang untuk manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat agar mereka ingat. (Al Qashash 43)

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Daud itu juga seorang Rasul dari Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Daud merupakan anak cucu keturunan Nabi Ya’qub (Israil) atau Nabi dari Bani Israil. Nabi Daud menerima Zabur yang berisikan ayat-ayat-Nya atau wahyu-wahyu-Nya itu menunjukkan bahwa beliau adalah Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. (Al Anbiyaa’ 7)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Daud menjalani hidup sebagai hamba-Nya (bukan sebagai Raja)?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Di­ringankan kepada Dawud membaca Al-Quran (yakni Zabur). Ia meme­rintahkan pada tunggangannya, lalu diberi pelana, lalu ia membaca Al-Quran (Zabur) itu sebelum tunggangannya diberi pelana dan ia tidak makan selain dari pekerjaan tangan (hasil kerja)nya. (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Dawud, di mana dia berpuasa sehari dan berbuka sehari; dan shalat yang paling di­cintai oleh Allah adalah shalat Dawud, di mana dia tidur separuh malam, shalat malam sepertiga malam dan tidur seperenam malam.” (HR Bukhari)

 

Perbuatan Nabi Daud dalam sunnah Rasulullah di atas itu diketahui oleh rakyatnya, sehingga rakyatnya cenderung mengikuti beliau, yaitu taat mengikuti Allah SWT dan Rasul-Nya. Taatnya Nabi Daud kepada Allah SWT, menghendaki Dia menjadikan gunung dan burung bertasbih bersama beliau, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. (Shaad 18-19)

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud.(Saba’ 10)

 

Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kami-lah yang melakukannya. (Al Anbiyaa’ 79)

 

Dan bukan tidak mungkin Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) itu dibangun kembali oleh Nabi Daud agar umat Nabi Musa menjalankan kewajiban shalat menyembah-Nya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan kewajiban shalat bagi umat Nabi Musa dan Masjidil Aqsha berikut ini:

 

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 (dua belas) orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-Rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. (Al Maa-idah 12)

 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (Al Israa’ 1)

 

Dari Abu Dzar, dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasu­lullah, masjid apakah yang pertama diletakkan? Beliau bersabda: Masjidil Haram.” Aku bertanya: Kemudian masjid apakah? Beliau bersabda: Masjidil Aqsha. Aku bertanya: Berapakah masa antara keduanya? Beliau bersabda: Empat puluh tahun. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Daud menjalankan tugasnya sebagai Raja?”

 

Mudariszi: “Selain Allah SWT memberikan Zabur dan menundukkan gunung dan burung untuk Nabi Daud, Dia menundukkan pula besi untuk Nabi Daud dan mengajarkannya pengetahuan membuat baju besi guna mempertahankan dirinya dalam peperangan. Allah SWT berfirman:

 

Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). (Al Anbiyaa’ 80)

 

Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. (Saba’ 10-11)

 

Pengetahuan Nabi Daud tentang besi dan kegunaannya itu kemudian diajarkan kepada rakyatnya (manusia). Tujuannya agar mereka berperang membela agama-Nya dengan baju besi yang diajarkan oleh Nabi Daud. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-Rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hadiid 25)

 

Pengetahuan Nabi Daud dari pemberian-Nya yang berupa besi itu menjadikan kerajaan beliau memiliki tentara yang kuat. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). (Shaad 17)

 

Di samping itu, pengetahuan Nabi Daud dari pemberian-Nya yang berupa kitab Zabur itu menjadikan kerajaan beliau memiliki rakyat yang sejahtera karena beliau memerintah negeri dan rakyatnya dengan adil. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al Hadiid 25)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Daud memimpin rakyatnya dengan adil termasuk adil dalam memutuskan perselisihan di antara rakyatnya?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengajarkan dan membantu Nabi Daud dalam memutuskan perselisihan (perkara) yang timbul di antara rakyatnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (Shaad 20)

 

Contoh, seperti firman-Nya berikut ini:

 

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut, (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: “Serahkanlah kambing itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan. (Shaad 21-23)

 

Nabi Daud lalu memutuskan perkara tersebut di atas sebagai berikut:

 

Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikit mereka ini.(Shaad 24)

 

Tapi setelah itu, Nabi Daud mengetahui bahwa beliau sedang diuji-Nya, karena itu beliau lalu memohon ampunan kepada-Nya hingga dikabulkan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shaad 24-25)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan Nabi Daud terhadap kaumnya, Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al Maa-idah 78)

 

Bani Israil durhaka dan selalu melampaui batas (dalam firman-Nya di atas) menunjukkan bahwa kebanyakan Bani Israil itu tidak taat kepada keputusan Nabi Daud sebagai Raja dan sebagai Rasul. Dan itu dapat terjadi, karena mereka selalu menuruti hawa nafsunya dan tidak sabar.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply