Dialog Seri 13: 4
Tilmidzi: “Apakah berinfak itu mengeluarkan zakat dari harta?”
Mudariszi: “Zakat merupakan pengeluaran sebagian harta manusia yang diperoleh manusia dari karunia-Nya di bumi untuk diberikan kepada pihak (orang-orang) yang berhak menerimanya menurut syariat agama Islam. Di antara zakat itu ada zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim seperti zakat fitrah (zakat bulan Ramadhan) dan zakat harta. Selain itu, ada zakat yang tidak wajib dikeluarkan dari hartanya tetapi berpahala jika dikeluarkannya, yaitu sedekah dan infak yang dinafkahkan (dikeluarkan) di jalan Allah. Hal tu dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al Baqarah 267)
Dari Hammam bin Munabbih saudara Wahb bin Munabbih, ia berkata: “Berikut ini adalah hadis-hadis yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami bersumber dari Rasul Allah SAW.” Lalu Hammam menuturkan beberapa hadis di antaranya. Dan ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah berfirman kepadaku: “Berinfaqlah kamu, niscaya Aku memberikan ganti kepadamu.” Rasulullah SAW juga bersabda: “Anugerah Allah itu penuh, Dia tidak mengurangi kederasannya, baik malam maupun siang. Tahukah kalian apa yang telah Dia anugerahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, Allah tidak mengurangi sedikitpun apa yang ada dalam karunia-Nya.” Rasulullah SAW bersabda: “Arasy-Nya berada di atas air, sedangkan kematian ada di tangan-Nya yang lain. Dia mengangkat dan menurunkan (melapangkan dan menyempitkan rizki).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah ada perbedaan antara sedekah dengan infak?”
Mudariszi: “Perbedaan antara sedekah dengan infak yaitu sedekah dapat dilakukan tanpa mengeluarkan harta, misalnya berbuat kebaikan, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Melalui beberapa jalur, diriwayatkann dari Ibnu Abu Syaibah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (Artinya: Apapun yang mendatangkan ridha Allah, maka pahalanya seperti pahala sedekah). (HR Muslim)
Dari Sa’id bin Abi Burdah dari Ayahnya dari kakeknya dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Pada setiap muslim terdapat sedekah.” Ada ditanyakan: “Apa pendapatmu jika dia tidak menemukan (sesuatu untuk bersedekah)?” Rasulullah SAW bersabda: “Dia bekerja dengan kedua tangannya sehingga dia dapat memberi manfaat dirinya dan bersedekah.” Ditanyakan pula: “Apa pendapatmu jika dia tidak mampu?” Rasulullah SAW bersabda: “Dia bisa membantu orang yang membutuhkan pertolongan.” Ditanyakan lagi: “Apa pendapatmu bila dia tidak sanggup?” Rasulullah SAW bersabda: “Dia bisa memerintahkan kebaikan.” Masih ditanyakan: “Apa pendapatmu jika dia tidak melakukannya?” Rasulullah SAW bersabda: “Dia dapat menahan diri dari berbuat jelek. Itu adalah sedekah.” (HR Muslim)
Dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: “Ini adalah apa yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami bersumber dari Rasulullah SAW.” Lalu dia menuturkan beberapa hadis di antaranya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap persendian manusia, padanya terdapat sedekah setiap hari ketika terbit matahari.” Selanjutnya beliau bersabda: “Bertindak adil di antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang naik ke atas hewan tunggangannya atau memunggahkan barang-barangnya ke atas punggung hewan tunggangnya adalah sedekah.” Rasulullah SAW juga bersabda: “Kalimat thayyibah (perkataan yang baik) adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan sesuatu yang bisa membahayakan dari jalan adalah sedekah.” (HR Muslim)
Dengan demikian, orang yang menyedekahkan sebagian hartanya tersebut tidak berbeda dengan dia menginfakkan (menafkahkan) sebagian hartanya di jalan Allah. Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Dinar yang engkau nafkahkan bagi kepentingan perjuangan di jalan Allah, dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan bagi keperluan keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan bagi keperluan keluargamu.” (HR Muslim)
Dari Tsauban, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Dinar (uang) paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang ialah dinar yang dia belanjakan untuk keluarga yang menjadi tanggungannya, dinar yang dia belanjakan untuk hewan tunggangannya (yang dia persiapkan untuk berjuang di jalan Allah), dan dinar yang dia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya dalam perjuangan di jalan Allah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT beri balasan bagi orang yang berinfak?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba’ 39)
Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Baqarah 272)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menyeru manusia agar berinfak?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu. (Al Munaafiquun 10)
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan mengenal sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Al Baqarah 273)
Orang-orang fakir yang terikat oleh jihad di jalan Allah dalam firman-Nya di atas, yaitu orang-orang beriman yang menjalani hidupnya dengan berjihad di jalan-Nya. Mereka itu menyeru (mengajak) orang-orang untuk berbuat kebaikan dan menolak kejahatan (amar ma’ruf nahi munkar) dan ada pula yang membela agama Islam dengan berperang. Mereka semua itu menjalankannya dengan jiwa (nyawa) dan harta mereka yang ada. Sehingga, untuk mengatasi jika terjadi kekurangan dana pada mereka, Allah SWT lalu menyeru orang-orang yang berharta agar memberikan pinjaman yang baik kepada-Nya. Pinjaman itu akan diberikan langsung kepada mereka yang berjihad di jalan-Nya. Dengan memberikan pinjaman kepada-Nya, maka orang-orang yang berharta itu berarti ikut pula dalam berjihad di jalan-Nya. Allah SWT akan mengganti pinjaman itu dengan balasan yang banyak. Allah SWT berfirman:
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. (Al Muzzammil 20)
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (Al Baqarah 245)
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. (At Taghaabun 17)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menyeru orang-orang yang berharta untuk mau berinfak dengan cara Dia meminjam sebagian harta mereka?”
Mudariszi: “Seruan Allah itu untuk mengingatkan manusia bahwa mereka dijadikan-Nya sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi dan penghuni bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Karena manusia memakmurkan bumi, Allah SWT lalu menundukkan semua apa yang ada di langit dan di bumi untuk manusia sebagai karunia-Nya, dengan sebagian dari karunia-Nya di bumi untuk keperluan hidup manusia. Allah SWT berfirman:
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Selain itu, agar manusia tidak merusak bumi dan penghuni bumi (termasuk manusia), Allah SWT memberikan peraturan (syariat) agama-Nya yang berupa perintah dan larangan kepada manusia untuk diikutinya ketika menjalani hidupnya (sebagai khalifah) dengan karunia-Nya di bumi itu. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). (Al Insaan 2)
Tapi yang terjadi, di antara manusia ada yang melanggar peraturan-Nya itu ketika menjalani hidupnya, karena mereka tertipu (terpengaruh) oleh syaitan yang ingin menyesatkan manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Salah satu jalan syaitan dalam menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya, yaitu sebagai berikut:
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 268)
Syaitan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan itu akhirnya membuat mereka lalu menjadi kikir dan tidak mau menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah. Sehingga Allah SWT lalu menyeru mereka agar mau meminjamkan sebagian hartanya kepada-Nya yang pinjaman itu akan diganti-Nya dengan balasan yang banyak.”
Tilmidzi: “Mengapa manusia mudah terhasut oleh janji-janji syaitan?”
Mudariszi: “Karena syaitan mengetahui manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (Al Ma’aarij 19-21)
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan-Nya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu.” (HR Muslim)
Syaitan kemudian menggunakan kelemahan manusia tersebut di atas dalam menyesatkan manusia. Syaitan membisikkan janji-janji manis kepada manusia agar manusia menyukai karunia-Nya di bumi (atau kehidupan dunia). Syaitan tanpa henti-hentinya (terus menerus) mempengaruhi manusia sehingga manusia menjadi sebagai berikut:
Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (Al Qiyaamah 20-21)
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat. (An Nahl 107)
Takut miskin dan kecintaan manusia kepada kehidupan dunia itu yang membuat mereka lalu menjadi kikir, padahal mereka mengetahui bahwa hartanya dari Allah SWT, dari karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka. (Al ‘Aadiyaat 6-11)
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al Fajr 15-20)
Mereka tidak seharusnya menjadi kikir terhadap hartanya jika mereka mengikuti perintah-Nya yaitu membaca Al Qur’an, karena Allah SWT telah memperingatkan mereka dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT membantu orang yang bertaubat yang tidak mau lagi kikir dan ingin menafkahkan hartanya di jalan-Nya?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang pandangan manusia terhadap harta dari karunia-Nya di bumi itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hati orang tua itu menjadi muda karena mencintai dua hal: panjangnya hidup dan menyukai harta.” (HR Muslim)
Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Anak turun Adam menjadi semakin tua, tetapi ada dua hal daripadanya yang menjadi muda, yaitu: loba kepada harta dan loba kepada umur.” (HR Muslim)
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW duduk di atas mimbar, sedangkan kami duduk di sekitar beliau. Beliau bersabda: “Di antara apa yang aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku adalah keindahan dan perhiasan dunia yang dibukakan atas kalian.” Seseorang menyela: “Adakah kebaikan itu bisa mendatangkan keburukan, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW berdiam diri. Lalu ada yang menegur orang itu: “Apa sebenarnya maumu? Engkau berbicara kepada Rasulullah SAW, tapi beliau tidak mau meladenimu.” Kemudian kami melihat bahwa beliau sedang dituruni wahyu. Setelah sadar, beliau menyeka keringat seraya bersabda: “Sungguh pertanyaan yang bagus!” (Seolah-olah beliau memuji orang yang bertanya tadi). Lalu beliau melanjutkan: “Sungguh, kebaikan tidak bakal mendatangkan keburukan. Dan di antara apa yang ditumbuhkan oleh musim semi itu bisa membunuh atau nyaris membunuh, kecuali ternak yang makan dedaunan hijau. Ternak itu makan sampai ketika kedua lambungnya telah penuh, dia menghadap ke arah matahari untuk mengeluarkan kotoran encer dan kencing, kemudian merumput lagi. Sesungguhnya harta ini bagaikan dedaunan hijau lagi manis. Sebaik-baik teman muslim yaitu orang yang mau memberikan sebagian hartanya kepada orang miskin, anak yatim dan musafir (atau seperti itulah sabda Rasulullah SAW). Dan barangsiapa mengambil harta tanpa hak, maka dia seperti orang yang makan tapi tak pernah kenyang. Harta itu akan menjadi saksi yang memberatkannya nanti pada hari kiamat.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW lalu menjelaskan tentang manusia dengan hartanya tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kaya itu bukanlah lantaran banyak harta. Tetapi, kaya itu adalah kaya hati.” (Kaya yang terpuji adalah perasaan cukup dan puas dengan apa yang ada, bukan karena banyak harta tapi masih selalu ingin tambah. Sebab, orang yang masih selalu ingin tambah berarti merasa tidak cukup dengan apa yang dia miliki. Dan ini bukanlah kaya). (HR Muslim)
Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Andaikata anak turun Adam mempunyai dua lembah harta, tentu dia masih menginginkan yang ketiga. Padahal, yang memenuhi perut anak turun Adam hanyalah tanah (kuburnya). Dan Allah menerima taubat orang yang mau bertaubat.” (HR Muslim)
Adapun orang yang bertaubat karena telah memahami bahwa hartanya itu tidak membuatnya bahagia dalam kehidupannya, maka taubatnya akan diterima oleh Allah SWT. Allah SWT lalu akan menunjuki (mengajarkan) kepadanya jalan yang lurus agar dia terpelihara dari kekikiran dan mau menafkahkan hartanya di jalan-Nya. Allah SWT berfirman:
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At Taghaabun 16)
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (An Nuur 37)
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (Al Lail 5-10)
Rasulullah SAW menjelaskan kepada orang-orang yang bertaubat dan yang ingin menafkahkan hartanya di jalan Allah tersebut sebagai berikut:
Dari Asma binti Abu Bakar, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku: “Berinfaqlah (atau: memberilah) dan tidak usah menghitung-hitung, maka Allah akan memperhitungkannya atasmu.” (HR Muslim)
Dari Asma binti Abu Bakar, ia datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: “Wahai Nabi Allah! Aku tidak mempunyai apapun kecuali apa yang telah diberikan Az Zubair kepadaku. Apakah aku berdosa jika aku memberikan sedikit dari apa yang telah diberikan oleh Az Zubair kepadaku?” Rasulullah SAW bersabda: “Berikanlah semampumu (apa yang diridhai oleh Az Zubair). Dan jangan engkau mewadahi, maka Allah mewadahi atasmu (jangan kikir dengan menyimpan harta dalam wadah, sehingga Allahpun tidak mau memberikan tambahan kepadamu).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana menafkahkan harta atau berinfak di jalan-Nya itu?”
Mudariszi: “Menafkahkan harta di jalan Allah itu dengan bersedekah atau berinfak kepada orang-orang miskin dan fakir (yang dimulai dari keluarga dan kerabat), atau kepada orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar seperti menolong orang-orang yang terkena bencana, yang dalam perjalanan, yang belajar agama, yang berjihad membela dan menegakkan agama Islam dengan menjelaskan agama Islam kepada orang-orang yang membenci (memerangi) agama Islam dan kepada orang-orang yang merubah (menambah atau mengurangkan) agama Islam. Semua perbuatan itu merupakan perbuatan di jalan-Nya yang lurus. Allah SWT akan membalas orang-orang yang bertaubat itu dengan balasan surga. Allah SWT berfirman:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 71)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujuraat 15)
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Mu’minuun 1-11)
Tilmidzi: “Mengapa harus berinfak di jalan Allah dengan berjihad membela agama-Nya dengan harta dan jiwa?”
Mudariszi: “Karena syaitan selalu menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus, dan syaitan melakukan itu dengan memakai orang-orang kafir dan munafik, yaitu orang-orang yang telah disesatkan oleh syaitan yang kemudian menjadi pengikut syaitan dan berlindung kepada syaitan. Allah SWT berfirman:
Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Orang-orang kafir dan munafik itu menyesatkan manusia seperti syaitan menyesatkan manusia yaitu dengan menghalang-halangi manusia dari agama Allah (agama Islam) dan dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 1-2)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 167)
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)
Orang-orang kafir dan munafik itu menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus seperti yang dilakukan oleh syaitan, yaitu tanpa henti-hentinya. Akibat perbuatan mereka, agama Allah (Islam) terpecah menjadi beberapa golongan. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. (Al Anbiyaa 92-93)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-54)
Allah SWT menjelaskan mereka dalam kesesatan (dalam firman-Nya di atas) karena mereka menjadi beragama dengan mengikuti golongannya; mereka menjadi tidak beragama dengan agama Allah yang benar lagi. Perbuatan mereka dalam beragama itu menjadi perbuatan yang menyekutukan-Nya, yaitu menyekutukan Allah SWT dengan golongannya. Sehingga Allah SWT lalu menyeru mereka agar bertaubat kepada-Nya, sebagai berikut:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar Ruum 30-32)
Orang-orang kafir dan munafik itu menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan dari jalan-Nya yang lurus dengan menggunakan harta dari karunia-Nya di bumi yang banyak dikuasai oleh mereka. Orang-orang beriman juga berjihad di jalan-Nya menegakkan agama Islam dengan harta dan jiwanya. Kekurangan dana berjihad mereka lalu dibantu oleh orang-orang yang beriman dan yang bertaubat dengan menginfakkan hartanya. Mereka terus menjelaskan agama Islam atau memerangi orang-orang kafir dan munafik hingga kedua golongan itu memeluk agama Islam atau kembali beragama dengan agama-Nya yang benar yaitu agama Islam yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW.”
Tilmidzi: “Bagaimana dengan harta rampasan jika orang-orang beriman yang berjihad memenangi perang?”
Mudariszi: “Harta rampasan (ghanimah) itu ditetapkan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (Al Anfaal 1)
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Anfaal 41)
Dan apa saja harta rampasan (fa-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fa-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al Hasyr 6-7)
Hak Allah dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya melalui Rasulullah SAW. Selain itu, Rasulullah SAW adalah pemimpin umat Islam. Dengan demikian, setelah Rasulullah SAW wafat, harta rampasan dibagikan oleh pemimpin umat Islam kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan mengikuti syariat agama Islam.”
Wallahu a’lam.