Apakah Allah SWT Tetapkan Kewajiban Puasa Bagi Manusia?

Dialog Seri 14: 1

 

Tilmidzi: “Apakah puasa itu?

 

Mudariszi: “Puasa adalah kewajiban ibadah yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk manusia (anak cucu Nabi Adam), yaitu ibadah tidak makan dan minum untuk jangka waktu tertentu di hari-hari yang Dia tetapkan dalam agama-Nya yang Dia berikan kepada Rasul-Rasul-Nya. Selain dilarang makan dan minum, orang yang berpuasa juga dilarang berbuat dosa (maksiat) kepada Allah SWT karena puasa manusia itu untuk Dia. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Sesungguh­nya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Setiap amalan anak cucu Adam itu adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.” Puasa itu merupakan tirai (perisai). Jika pada suatu hari seseorang di antara kamu sedang berpuasa, maka hendaknya dia jangan berbicara kotor dan jangan berteriak-teriak. Apabila ada salah seorang mencaci-maki atau mengutuknya, maka sebaiknya dia katakan saja: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR Muslim)

 

Maksud puasa manusia untuk Allah SWT, yaitu orang yang berpuasa tidak diketahui oleh orang lain kecuali diberitahukannya, sedangkan orang yang shalat atau memberikan zakat dapat diketahui oleh orang lain. Allah SWT menyukai orang yang beramal ibadah kepada-Nya dengan tanpa harus diketahui oleh orang lain.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT berikan pahala kepada orang yang puasa?”

 

Mudariszi: “Jika orang yang mengerjakan shalat dan zakat diberikan pahala oleh Allah SWT, maka orang yang mengerjakan puasa diberikan-Nya pahala yang lebih banyak daripada pahala mengerjakan shalat dan zakat. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Sesungguh­nya Rasulullah SAW bersabda: “Semua amalan anak cucu Adam itu pahalanya akan dilipat-gandakan. Satu kebajikan akan dilipat-gandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung telah berfirman: “Kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri lah yang akan membalasnya. Orang yang ber­puasa itu telah meninggalkan kesenangan dan makanannya karena Aku. Dan bagi orang yang berpuasa itu akan beroleh kegembiraan dua kali se­kaligus, gembira ketika dia hendak berbuka dan gembira ketika dia hen­dak bertemu dengan Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum aromanya di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.” (HR Muslim)

 

Selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah menyediakan pintu masuk ke surga yang tidak dapat dimasuki kecuali oleh orang-orang yang suka berpuasa, yaitu pintu Rayyan. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Dari Sahel bin Sa’ad, dia berkata: “Sesungguh­nya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di dalam surga itu ter­dapat pintu yang bernama “Rayyan”. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat kelak. Tidak boleh masuk bersama mereka seorang pun selain mereka saja. Kelak akan ada pengumuman: “Dimanakah orang-orang yang berpuasa itu?” Mereka lalu berduyun-duyun masuk lewat pintu tersebut. Kemudian ketika orang yang terakhir dari mereka sudah masuk, maka pintu tadi kemudian di­tutup kembali. Sehingga dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang masuk lewat pintu tadi.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah yang dimaksud dengan puasa itu tirai (perisai) dalam sunnah Rasulullah di atas?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang ibadah puasa tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Sesungguh­nya Rasulullah SAW telah bersabda: Puasa itu adalah tirai (perisai).” (HR Muslim)

 

Puasa itu tirai (perisai) dalam sunnah Rasulullah di atas dapat dimaknai sebagai perisai (penjaga) terhadap syaitan yang ingin menyesatkan manusia dari Allah SWT (dari agama-Nya dan jalan-Nya). Allah SWT tidak menghendaki manusia tersesat, karena itu Dia melindungi (menjaga) manusia, termasuk orang yang puasa untuk-Nya, dari kejahatan syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Orang yang berpuasa itu berarti dia mengikuti Allah SWT (mengikuti perintah-Nya atau jalan-Nya), karena itu dia lalu dilindungi-Nya. Dan hanya Allah SWT yang dapat melindungi manusia dari kejahatan syaitan agar tidak menjadi tersesat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu). (An Nisaa’ 83)

 

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nuur 21)

 

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). (An Nuur 20)

 

Orang-orang yang tersesat karena mengikuti syaitan (atau karena tidak mengikuti Allah SWT) ketika mereka menjalani hidupnya di dunia sebagai khalifah, maka mereka akan menjadi penghuni neraka pada waktu di akhirat bersama-sama dengan Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis.”

 

Tilmidzi: “Apakah syaitan menggoda orang yang sedang berpuasa?”

 

Mudariszi: “Iblis (syaitan) yang ingin menyesatkan manusia hingga kiamat, akan menggoda manusia dalam keadaan apapun dengan tujuan agar manusia berbuat ini:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis yang terdiri dari golongan jin dan golongan manusia itu melakukan kejahatannya dengan membisikkan janji-janji manis (indah) ke dalam hati manusia ketika manusia mempunyai keinginan. Allah SWT berfirman:

 

Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. (Al Hajj 52)

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)

 

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)

 

Janji-janji manis syaitan itu hanya tipu daya syaitan, tujuannya untuk membangkitkan angan-angan manusia guna (dalam) mencapai keinginannya. Allah SWT berfirman:

 

Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)

 

Manusia tidak mengetahui hatinya yang ada di dadanya karena dibatasi oleh Allah SWT. Manusia hanya dapat merasakan adanya bisikan manis dan indah di hatinya yang membuatnya lalu memimpikan dan memikirkan keinginannya tersebut. Syaitan dapat membisikkan janji-janji manis ke hati manusia karena syaitan dapat melihat manusia, tapi manusia tidak dapat melihat syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. (Al Anfaal 24)

 

Ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 46)

 

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

 

Syaitan terus menggoda manusia hingga nafsu (angan-angan) atas keinginannya itu bangkit, yaitu nafsu untuk mencapai keinginannya. Jika hawa nafsunya telah bangkit, maka dia akan berusaha untuk mencapai keinginannya itu walaupun dengan perbuatan yang dilarang-Nya. Syaitan melakukan hal itu karena syaitan mengetahui manusia tidak dapat menahan nafsunya. Sehingga, jika dia mencapai keinginannya dengan perbuatan yang dilarang-Nya (yang haram), maka dia menjadi berdosa. Allah SWT berfirman:

 

Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)

 

Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan-Nya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah ada contoh godaan syaitan yang membangkitkan nafsu orang yang sedang puasa yang dapat dirasakannya (diketahuinya)?”

 

Mudariszi: “Contoh suami isteri yang berpuasa tapi ingin bercampur. Keinginan itu contoh nafsu yang dapat dirasakan dan sulit ditahan oleh suami isteri. Keinginannya itulah hawa nafsu yang bangkit karena syaitan. Suami isteri itu tidak akan melanjutkan keinginannya karena perbuatan itu dilarang-Nya ketika berpuasa. Allah SWT berfirman:

 

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (Al Baqarah 187)

 

Orang-orang dewasa yang belum kawin juga digoda oleh syaitan dan mereka dapat merasakan hawa nafsunya bangkit ketika melihat lawan jenisnya. Karena itu Rasulullah SAW menyeru orang dewasa yang belum kawin sebagai berikut:

 

Dari Alqamah, ia berkata: Pada suatu ketika aku berjalan-jalan bersama Abdullah, lalu ia berkata: Aku pernah beserta Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: Barangsiapa di antara kamu yang mampu akan biaya nikah, maka kawinlah, karena kawin itu akan lebih memejamkan mata dan lebih memelihara kehormatan. Dan barangsiapa tidak mampu, maka hendaknya ia puasa, karena sesungguhnya puasa itu akan merupakan obat baginya (pencegah dari perbuatan keji). (HR Bukhari)

 

Orang yang merasakan godaan syaitan ketika berpuasa, kemudian membuatnya mengetahui adanya syaitan yang selalu menggoda manusia dalam keadaan apapun agar manusia berbuat dosa. Karena itu orang yang beriman dan bertakwa segera meminta kepada Allah SWT agar dilindungi dari kejahatan syaitan. Allah SWT menghilangkan godaan syaitan itu sebagai berikut:

 

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al Hajj 52)

 

Tapi orang-orang yang beriman tipis tidak mengetahui tentang syaitan dan tidak dapat merasakan godaan syaitan tersebut, sehingga hal itu membuat mereka tetap mengikuti hawa nafsunya yaitu ingin mencapai keinginannya (dengan perbuatan yang dilarang-Nya) meskipun dia sedang puasa. Allah SWT berfirman:

 

Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. (Al Hajj 53)

 

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (Al An’aam 113)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah syaitan menyesatkan manusia dengan menggunakan nafsunya?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT menjelaskan tentang nafsu manusia tersebut sebagai berikut:

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (Yusuf 53)

 

Nafsu manusia yang selalu menyuruh kepada kejahatan (dalam firman-Nya di atas) itu terjadi karena syaitan (dengan bisikannya) selalu menyuruh manusia berbuat ini:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Padahal Allah SWT menjadikan nafsu manusia yang tidak dapat ditahannya itu agar manusia bernafsu untuk berkeinginan dan berbuat atas perkara-perkara yang baik yaitu perkara yang dirahmati-Nya. Tapi syaitan memesongkan hawa nafsu manusia karena ingin menyesatkan manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)

 

Adapun contoh hawa nafsu yang dirahmati-Nya yaitu hawa nafsu orang-orang yang ingin berbuat seperti yang dijelaskan berikut ini:

 

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Tidak dengki kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam ke­benaran, dan seorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah dimana ia memutuskan dan mengajar dengannya. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah puasa itu memberikan pengetahuan adanya syaitan musuh manusia yang selalu menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi termasuk penghuni bumi, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (Al Baqarah 30)

 

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)

 

Sebagai khalifah yang juga pengganti atau pemimpin, manusia dijadikan oleh Allah SWT dengan tanggung jawab yang berbeda-beda ketika mereka menjalani hidupnya, yaitu ada yang menjadi pemimpin rakyat, pemimpin keluarga, pemimpin rumah tangga, pemimpin harta. Semua pemimpin (semua manusia) sama-sama menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi dan dengan agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

Perbuatan manusia ketika memimpin sebagai khalifah itu akan dimintakan pertanggungan jawabannya oleh Allah SWT pada waktu di akhirat. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (Al Muddatstsir 38)

 

Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggauta keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap mereka. Seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin bagi harta suruhannya, dan dia juga akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan ingat, setiap kamu adalah pemimpin. Setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang kamu pimpin.” (HR Muslim)

 

Syaitan yang ingin manusia di neraka bersama-sama dengan syaitan, lalu menjadi ujian bagi manusia ketika menjalani hidupnya. Ketetapan Allah yang mewajibkan manusia berpuasa, lalu membuat manusia mengetahui adanya syaitan yang merupakan musuh manusia yang tidak terlihat. Manusia mengetahui syaitan telah membuat puasanya tidak diterima oleh Allah SWT karena melanggar perintah-Nya ketika berpuasa. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan pengalam­annya, maka ia tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam hal ia meninggal­kan makannya dan minumnya.” (HR Bukhari)

 

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 6)

 

Seseorang yang melanggar perintah-Nya ketika berpuasa, berarti dia tidak mengikuti Allah SWT (atau tidak mengikuti syariat agama-Nya). Selain itu, kehidupan dunia dengan karunia-Nya di bumi yang untuk keperluan hidup manusia, digunakan pula oleh syaitan dalam menyesatkan manusia agar tidak mengikuti Allah SWT (tidak mengikuti syariat agama-Nya). Allah SWT dan Rasulullah SAW lalu memperingatkan manusia supaya berhati-hati dengan keinginannya dan perbuatannya atas karunia-Nya di bumi ketika mereka menjalani hidupnya di dunia, sebagai berikut:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)

 

Dari Abu Sa’id Al Khudriy dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Sesungguhnya dunia itu adalah seperti buah-buahan yang hi­jau dan manis. Sesungguhnya Allah menunjuk kalian untuk menjadi khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana yang kalian lakukan. Takutlah pada dunia.” (HR Muslim)

 

Allah SWT menghendaki manusia berhati-hati dengan keinginannya dan perbuatannya, Dia menghendaki manusia meninggalkan keinginannya yang harus dicapainya dengan perbuatan dosa. Jika keinginannya itu diragukan kehalalannya (atau kebenarannya) karena melibatkan perkara yang haram (berdosa), maka keinginannya yang menjadi tidak jelas (syubhat) kehalalannya itu dapat ditinggalkannya. Meninggalkan perkara yang syubhat tidak membuatnya berdosa karena dia tidak berbuat. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: “Aku men­dengar (sambil memegang kedua telinganya) Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itu pun jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat yang tidak diketahui oleh orang banyak. Oleh karena itu, barangsiapa men­jaga diri dari perkara syubhat, ia telah terbebas (dari kecaman) untuk agamanya dan kehormatannya. Dan orang yang terjerumus ke dalam syubhat, berarti terjerumus ke dalam perkara haram, seperti penggem­bala yang menggembala di sekitar cagar alam, maka kemungkinan besar gembalaannya akan merumput di cagar alam tadi. Ingat! Sesungguhnya setiap penguasa itu memiliki daerah terlarang. Ingat! Sesungguhnya daerah terlarang milik Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingat! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging; apabila ia baik, baik pula seluruh tubuh; dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh; itulah hati.” (HR Muslim)

 

Syubhat itu terjadi karena syaitan dengan bisikan (godaan) jahatnya. Orang beriman akan meninggalkan perkara yang syubhat. Tetapi orang yang beriman tipis cenderung akan menuruti perkara yang syubhat karena perkara itu dirasakan indah, bagus dan benar oleh hatinya. Jika dia selalu menuruti hatinya atas perkara yang syubhat, maka hatinya dan imannya akan menjadi rusak. Meskipun demikian, dia dapat bertaubat dengan mengambil ibadah puasa sebagai petunjuk (pelajaran) untuk mengetahui syaitan dengan kejahatannya, sehingga dia dapat mengetahui perkara yang lain yaitu yang halal, yang haram dan yang syubhat. Orang yang bertaubat dapat melakukan puasa sebagai ibadah awal (selain shalat dan bersedekah) ketika dia memperbaiki dirinya guna membersihkan hatinya dari dosa-dosanya dan guna meningkatkan imannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji kamu apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (Ali ‘Imran 154)

 

Sebenarnya Allah Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar. (Al Hujuraat 17)

 

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada). (Al Fath 4)

 

Karena itu ibadah puasa merupakan penjaga (perisai), seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebelumnya di awal, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersab­da: Puasa itu penjaga (perisai), maka janganlah ia berkata-kata buruk dan jangan berbuat kebodohan. Jika ia dimusuhi atau dicaci maki oleh seseorang, maka katakanlah: Sesungguhnya saya ini sedang berpuasa.” Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dan pada bau kasturi.” Allah SWT berfirman: Ia meninggalkan makannya, minumnya dan syahwat (nafsu sek)nya karena Aku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku membalasnya, sedang kebaikan itu (dibalas) dengan sepuluh kalinya. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada contoh orang-orang yang menjalani hidupnya di dunia ini dengan melanggar agama Allah karena tertipu oleh syaitan?”

 

Mudariszi: “Contoh, orang-orang musyrik yang tidak beragama dengan agama Allah atau beragama dengan menyembah tuhan-tuhan selain Allah SWT atau menyekutukan Allah SWT dengan tuhan-tuhan lain, padahal Dia telah menjelaskan agama-Nya kepada mereka melalui Rasul-Rasul-Nya, sebagai berikut:

 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu. (Al Baqarah 21)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu. (An Nahl 36)

 

Syaitan berhasil menyesatkan umat-umat Rasul itu sehingga mereka menyembah tuhan selain Allah SWT (atau menyekutukan-Nya), seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (An Nahl 63)

 

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Demikian pula dengan sebagian besar Ahli Kitab yang disesatkan oleh syaitan sehingga mereka tidak menjalankan kewajiban shalat, zakat, puasa dan tidak mengharamkan perbuatan yang Dia larang dalam syariat agama-Nya. Akibatnya mereka menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang dijelaskan (dibawa) oleh Rasul-Rasul-Nya kepada mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyinah 4-5)

 

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Dengan demikian, kewajiban shalat, zakat dan puasa merupakan pokok-pokok agama Allah bagi orang-orang yang memeluk agama-Nya yang dibawa oleh Rasul-Rasul-Nya, yang jika dijalankannya berpahala dan jika ditinggalkannya berdosa.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT tetapkan kewajiban puasa bagi umat Rasul-Rasul sebelum umat Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Baqarah 183)

 

Contoh umat Nabi Musa, Nabi Daud, Maryam yang berpuasa, dimana mereka semua dari Bani Israil, dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW sampai di Ma­dinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bersabda: Apakah ini? Mereka menjawab: Hari yang baik. Ini adalah hari yang mana Allah Maha Besar dan Maha Mulia menye­lamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu. Beliau bersabda: Aku lebih berhak dengan Musa dari padamu sekalian.” (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Rasulullah SAW ber­sabda: “Puasalah sehari dan berbukalah sehari. Yang demikian itu adalah seperti puasa Nabi Dawud dan itulah puasa yang utama.” (HR Bukhari)

 

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ”Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini. (Maryam 26)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa umat Nabi Musa juga melakukan puasa yang diperintahkan oleh Allah SWT pada jangka waktu dan hari-hari yang ditetapkan dalam syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa. Demikian pula dengan Nabi ‘Isa yang mewajibkan umatnya untuk berpuasa mengikuti perintah Allah dalam syariat agama-Nya yang dibawa (dijelaskan) oleh Nabi ‘Isa, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Zaid bin Sallam berkata: “Sesungguhnya Abu Sallam menceritakan kepadanya bahwa Haris Al Asy’ari menceritakannya, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah perintah kepada Yahya bin Zakaria lima ajaran supaya ia melaksanakannya. Allah (juga) perintah kepada Bani Israil untuk melaksanakan­nya, dan sesungguhnya ia hampir-hampir malas melaksanakannya. Nabi Isa bersabda: “Sesungguhnya Allah perintah kepadamu dengan lima ajaran supaya kamu melaksanakan dan supaya kamu perintah kepada Bani Israil untuk melaksanakannya. Adakalanya kamu yang perintah kepada mereka atau adakalanya saya perintah kepada mereka.” Nabi Isa bersabda: “Hai Yahya, jika engkau mendahuluiku dengannya, saya takut dimusnahkan atau disiksa.” (Setelah itu) orang-orang berkumpul di Baitul Maqdis memenuhi masjid dan duduk-duduk di serambinya, maka Nabi Yahya bersabda: “(Hai Bani Israil), sesungguhnya Allah perintah kepadaku lima ajaran supaya saya melaksanakan dan supaya saya perintah kepadamu untuk melaksanakan­nya. Pertama, yaitu supaya kamu menyembah Allah dan jangan menyeku­tukan-Nya barang sedikitpun. Perumpamaan orang yang menyekutukan Allah seperti seorang lelaki membeli hamba sahaya dari harta murninya dengan emas atau perak, dan ia berkata (kepada hambanya): “Ini rumahku, ini pekerjaanku, maka kerjakan dan laksanakan (semua itu) untukku”, akan tetapi ia mengerjakan dan melaksanakan (tugas) bukan pada tuannya. Maka siapakah yang rela apabila hambanya seperti itu? Kedua, Allah perintah kepadamu semua mengerjakan shalat. Apabila kamu semua melaksanakan shalat, maka janganlah kamu tengak-tengok karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada muka hamba-Nya di dalam shalat ham­ba-Nya selagi ia tidak tengak-tengok. Ketiga, Allah perintah kepadamu ber­puasa; adapun perumpamaannya seperti seorang lelaki dalam satu kelom­pok, ia membawa satu kantong minyak misik, maka sekelompok tadi dibuat terheran-heran atau merasa heran oleh baunya. (Begitu juga) sesungguhnya bau orang puasa di sisi Allah lebih harum dari minyak misik. Keempat, Allah perintah kepadamu bersedekah; adapun perumpamaannya adalah seperti seorang lelaki yang ditawan musuh, musuh tadi mengikatnya dari tangan sampai lehernya, kemudian mereka mengajukannya untuk di penggal lehernya, maka sedekah tadi berkata: “Saya penebusnya dari kamu semua baik sedikit atau banyak (dalam bersedekah)”, maka sedekah tadi menebus jiwanya dari mereka. Kelima, Allah perintah kepadamu untuk selalu dzikir (mengingat-ingat)-Nya; adapun perumpamaannya adalah seperti seorang lelaki yang dikejar musuh di belakangnya dengan cepat, sehingga tatkala lelaki tadi sudah sampai di benteng yang kokoh, ia melindungkan jiwanya dari musuh. Begitu juga hamba, ia tidak bisa menjaga jiwanya dari syaitan kecuali selalu dzikir kepada Allah.” (HR Tirmidzi)

 

Sedangkan umat Rasulullah (umat Islam) ditetapkan oleh Allah SWT dalam agama-Nya (agama Islam) untuk berpuasa satu bulan di bulan Ramadhan, sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikit­pun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata: “Hai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.” Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Rama­dhan dan beribadah haji di Baitullah jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” (HR Muslim)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply