Apakah Menghidupkan Bulan Puasa Ramadhan Dan I’tikaf Itu?

Dialog Seri 14: 3

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menghidupkan bulan Ramadhan?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan bulan Ramadhan: Barangsiapa yang mendirikan (malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka ia diampuni dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, di­mana ia berkata: Rasulullah SAW selalu memberi dorongan untuk menghidup-hidupkan bulan Ramadhan tanpa memerintahkan kepada mereka dengan suatu perintah yang tegas, dan beliau bersabda: Barangsiapa yang menghidup-hidupkan bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Tirmidzi)

 

Dengan demikian, Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk menghidupkan bulan Ramadhan dengan beramal shaleh agar mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya dan menghilangkan dosa-dosanya yang telah lampau.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk meramaikan bulan Ramadhan?”

 

Mudariszi: “Salah satu contohnya dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Apabila tiba (bulan) Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syetan-syetan.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit dibuka, pin­tu-pintu Jahannam ditutup dan syaitan-syaitan dirantai.” (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas untuk mendorong umat Islam supaya berpuasa dengan sungguh-sungguh mengikuti perintah dan larangan yang Allah SWT dan Rasulullah SAW tetapkan agar dilindungi-Nya dari syaitan yang senantiasa menggoda manusia. Contoh lain, Rasulullah SAW menyeru untuk memberikan makanan kepada orang-orang yang berbuka puasa, sebagai berikut:

 

Dari Zaid bin Khalid Al-Jahanni, dimana ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang memberi buka orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu dengan tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu. (HR Tirmidzi)

 

Sedangkan Rasulullah SAW sendiri beramal shaleh sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan sedermawan-dermawan beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau pada setiap malam dari bulan Ramadhan hingga habisnya bulan Ramadhan itu. Kepentingannya menemui Rasulullah SAW ialah untuk menyampaikan Al Quran. Apabila Jibril bertemu dengan beliau, maka keadaan­nya lebih bermurah dengan kebaikan dari pada angin yang diutus.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW melakukan amal shaleh tersebut di atas agar diikuti oleh umat Islam yaitu dengan membaca, menghafal atau mempelajari Al Qur’an selama di bulan Ramadhan karena Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (Al Baqarah 183-184)

 

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al Baqarah 185)

 

Di samping itu, Rasulullah SAW juga melakukan shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, bahwasanya Rasulullah SAW shalat tarawih dan demikian itu dilakukan dalam bulan Ramadhan. (HR Bukhari)

 

Dengan demikian, Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk menghidupkan bulan Ramadhan dengan beramal shaleh seperti membaca Al Qur’an, shalat sunnat tarawih, atau bersedekah, yang semua itu memberikan pahala kepada mereka dan syaitan sulit menggoda mereka karena dibelenggu-Nya (seperti dijelaskan sunnah Rasulullah di atas).”

 

Tilmidzi: “Bagaimana shalat sunnat malam (tarawih) Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjalankan shalat sunnat malam (tarawih) selama bulan Ramadhan dengan kadangkala shalat di rumah dan kadangkala di mesjid. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Dzarr, dimana ia berkata: Kami puasa bersama dengan Rasulullah SAW, maka beliau tidak shalat bersama kami sehingga ting­gal sisa tujuh hari dari bulan Ramadhan, kemudian beliau beribadah ber­sama kami sampai menghabiskan sepertiga malam. Kemudian beliau ti­dak beribadah bersama kami pada malam yang keenam, dan pada ma­lam kelima beliau bersama kami pada malam yang keenam, dan pada malam kelima beliau beribadah bersama kami sampai larut malam, kami lantas berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana bila engkau habiskan sisa malam ini untuk mengerjakan ibadah sunnat bersama kami? Beliau bersabda: Sesungguhnya barangsiapa yang beribadah bersama imam sehingga imam itu pergi, maka dicatat baginya ibadah satu malam penuh.” Kemudian beliau tidak shalat bersama kami sehingga tinggal sisa tiga malam dari bulan Ramadhan. Pada malam ketiga beliau shalat bersama kami serta mendoakan keluarga dan istri-istri beliau. Beliau beribadah bersama kami sampai-sampai kami khawatir tiba saat kebaha­giaan.” Saya bertanya kepadanya: Apakah saat kebahagiaan itu? Ia menjawab: Sahur. (HR Tirmidzi)

 

Rasulullah SAW tidak menjalankan shalat sunnat tarawih (berjamaah) setiap malam di mesjid karena alasan sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW keluar pada suatu malam, yaitu di saat tengah malam, lalu beliau shalat di masjid dan orang laki-laki shalat mengikuti shalat beliau. Ketika hari telah pagi, mereka mempercakapkan hal itu. Karena itu orang berkumpul lebih banyak daripada malam pertama dan mereka shalat bersama-sama dengan beliau. Pagi hari, mereka bercakap-cakap pula perihal shalat malam itu. Karena itu pada malam ketiga orang berkumpul di masjid lebih banyak. Rasulullah SAW keluar untuk shalat, lalu mereka shalat pula beserta beliau. Malam keempat orang tidak muat lagi dalam masjid hingga beliau keluar untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Shubuh, beliau menghadap kepada orang banyak, membaca kalimat syahadat, kemudian beliau bersabda: Adapun sesudah itu, sesungguh­nya tidak ada yang tersembunyi bagiku keadaanmu. Tetapi aku kha­watir akan diwajibkan atasmu dan kamu tidak sanggup melaksanakan­nya. Ketika Rasulullah SAW wafat, keadaan tetap berlaku seperti itu. (HR Bukhari)

 

Sedangkan shalat sunnat malam Rasulullah itu sendiri dilakukan oleh beliau sebagai berikut:

 

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah bagaimanakah keadaan shalat Rasulullah SAW dalam bulan Ramadhan, kemudian Aisyah berkata: Beliau tidak pernah menambah rakaat yang dikerjakannya, baik dalam bulan Ramadhan atau di dalam bulan selain Ramadhan lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan menanyakan bagusnya dan panjang­nya (yakni lamanya mengerjakan). Kemudian beliau mengerjakan shalat empat rakaat, maka jangan menanyakan bagusnya dan lamanya. Ke­mudian beliau mengerjakan shalat tiga rakaat. Lalu saya bertanya: Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum mengerjakan shalat witir? Beliau bersabda: Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidak tidur.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada dorongan amal shaleh yang lain dari Rasulullah SAW bagi umat Islam selain shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk mencari malam Qadar (malam Kemuliaan) di bulan Ramadhan, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka ia diampuni dosanya yang telah lampau. Dan barangsiapa yang mendirikan malam Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu itu diampuni.” (HR Bukhari)

 

Malam Qadar adalah malam dimana Al Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Jibril untuk manusia di bulan Ramadhan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al Qadr 1-5)

 

Selain malam Qadar lebih baik dari seribu bulan (dalam firman-Nya di atas), Allah SWT juga menjelaskan malam Qadar itu sebagai berikut:

 

Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu telah dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. (Ad Dukhaan 2-5)

 

Karena itu Rasulullah SAW mendorong umat Islam untuk mencari malam Qadar di bulan Ramadhan, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Carilah dia (lailatul qadar).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan jalan mencari malam Qadar di bulan Ramadhan tersebut?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan kepada sahabat setelah beliau beri’tikaf sepuluh hari yang kedua di mesjid, sebagai berikut:

 

Dari Abu Said Al Khudriy, ia berkata: Rasulullah SAW senantiasa beritikaf di masjid dalam bulan Ramadhan pada sepuluh harinya bulan Ramadhan yang jatuh di pertengahan bulan. Kemudian apabila telah tiba sore harinya malam ke dua puluh telah lewat dan men­jelang malam kedua puluh satunya, beliau pulang ke rumahnya dan pu­langlah orang yang beritikaf bersama beliau. Sebenarnya beliau beritikaf di tempat itikafnya itu. Kemudian beliau berkhutbah kepada orang-orang, lalu beliau memerintahkan kepada mereka sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau bersabda: Aku menger­jakan i’tikaf dalam bulan ini selama sepuluh hari, kemudian tampaklah padaku suatu perintah agar supaya aku beritikaf dalam sepuluh hari yang terakhir. Oleh sebab itu barangsiapa yang sudah mengerjakan itikaf denganku, hendaklah menetap di tempat itikafnya.” (HR Bukhari)

 

Karena itu Rasulullah SAW kemudian menyuruh sahabat agar mencari malam Qadar sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku pernah bermimpi melihat lailatul qadar, lalu aku bangunkan salah seorang isteriku, namun sayang aku lupa waktunya. Oleh karena itu, carilah ia pada sepuluh hari yang terakhir.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Carilah lailatul qadar itu pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan.” (HR Muslim)

 

Di antara sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka carilah di malam yang ganjil. Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Tetapilah malam qadar pada malam gasal dari sepuluh hari terakhir dari Ramadhan.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Cari­lah dia (lailatul qadar) pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan, lailatul qadar itu disembilan yang masih (tanggal dua puluh sembilan), tujuh yang masih (tanggal dua puluh tujuh) dan lima yang masing (tanggal dua puluh lima).” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Sa’id Al Khudriy, dia berkata: “Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW di depan para sahabat, beliau berpidato: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku sudah diberi penjelasan bahwa sebentar lagi lailatul qadar akan turun, yakni pada sepuluh hari yang terakhir. Sengaja aku beritahukan informasi ini, supaya kamu bersiap-siap. Gara-gara mengatasi dua orang yang sedang bersengketa, aku sampai lupa kapan persisnya lailatul qadar itu akan turun. Oleh karena itu, carilah ia pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Rama­dhan, yaitu pada hari kesembilan atau ketujuh atau kelima.” Ketika bilangan itu ditanyakan oleh Abu Nadhrah kepada Sa’id Al Khudriy, dia menjawab: “Apabila telah memasuki hari yang kedua puluh satu, maka itulah yang dimaksud dengan hari yang kesembilan. Apabila telah memasuki hari yang kedua puluh tiga, maka itulah yang dimaksud dengan hari yang ketujuh. Dan apabila telah memasuki hari yang kedua puluh lima, maka itulah yang dimaksud dengan hari yang kelima.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW beri’tikaf di mesjid pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW beri’tikaf di mesjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Sesungguhnya Rasu­lullah SAW bersungguh-sungguh pada sepuluh hari yang terakhir (di bulan Ramadhan), tidak seperti pada bulan-bulan lainnya.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah, ia berkata: Dahulu, setiap kali Rasulullah SAW mau melakukan itikaf, maka beliau akan mengerja­kan sembahyang Shubuh terlebih dahulu. Baru kemudian beliau masuk pada tempat itikafnya. Sesungguhnya beliau pernah dibuatkan sebuah tenda saat beliau mau beritikaf pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan. (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW beritikaf dalam setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Kemudian setelah datang tahun yang pada tahun itu beliau dicabut ruhnya (yakni wafat), beliau itikaf selama dua puluh hari.” (HR Bukhari)

 

Nafi mengatakan: Sesungguhnya aku pernah ditunjukkan oleh Abdullah ruangan atau tempat di dalam masjid yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW melakukan itikaf.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah ada larangan dari Allah SWT ketika melakukan i’tikaf?”

 

Mudariszi: “Larangan ketika melakukan i’tikaf di mesjid yaitu larangan suami isteri bercampur. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Allah Taala berfirman: Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa. (surat Al Baqarah ayat 187)

 

Karena dilarang bercampur dengan isteri ketika beri’tikaf, Rasulullah SAW memperlakukan dirinya terhadap isterinya, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, bahwasanya dia pernah menyisir rambut Rasulullah SAW padahal ia (Aisyah) sedang haidh dan beliau sedang itikaf di masjid dan ia berada dalam kamarnya dan beliau memiring­kan kepalanya dari dalam masjid. (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah menyentuh-nyentuh kulitku, padahal pada saat itu aku sedang haidh. Beliau me­ngeluarkan kepalanya dari masjid, sedangkan beliau dalam keadaan beritikaf, kemudian aku membasuh dan aku masih dalam keadaan haidh.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah tidak boleh keluar mesjid selama melakukan i’tikaf?”

 

MudariszI: “Jika ada keperluan di rumah, maka boleh meninggalkan mesjid ketika beri’tikaf, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, dia berkata: Sungguh Rasulullah SAW memasukkan kepala beliau kepadaku dimana beliau sedang beritikaf di masjid, lalu saya menyisirnya. Apabila beliau beritikaf beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena keperluan.” (HR Bukhari)

 

Dari Shafiyah isteri Rasulullah SAW, bahwasanya ia datang kepada Rasulullah SAW sebagai kunjungan dalam itikaf beliau di masjid pada sepuluh (malam) yang akhir dari bulan Ramadhan, ia bercakap-cakap kepada beliau. Sesaat kemudian ia berdiri dan pulang, maka Rasulullah SAW berdiri bersama untuk mengantarkan pulangnya. Sehingga ketika sam­pai di pintu masjid yaitu pintu Ummu Salamah, lewatlah dua orang An­shar, lalu orang itu memberi salam atas Rasulullah SAW . Maka beliau bersabda kepada keduanya: Atas kemudahanmu berdua, dia adalah Shafiyah binti Huyyai dan hal itu berat dirasa oleh kedua orang itu, maka beliau bersabda: Sesungguhnya syaitan itu mencapai ma­nusia pada apa yang dicapai oleh darah, dan aku khawatir bahwa syai­tan itu melemparkan sesuatu ke dalam hatimu berdua.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW mengajak isteri-isterinya untuk beri’tikaf di mesjid pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW, apabila masuk pada malam sepuluh (yaitu akhir) beliau menguatkan sarung beliau, menghidupkan malam dan membangunkan isteri beliau.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, ia berkata: Dahulu, sesungguhnya Rasulullah SAW jika saat sepuluh hari yang terakhir dari bulan Rama­dhan akan datang, beliau beribadah semalam suntuk dan membangun­kan isteri-isterinya. Beliau bersungguh-sungguh dan bersemangat se­kali.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW itu senantiasa beritikaf dalam setiap bulan Ramadhan. Apabila beliau telah selesai shalat Shubuh, beliau masuk dalam tempat yang biasa dipergunakan un­tuk beritikaf. Aisyah mohon izin kepada beliau untuk ikut itikaf, kemudian beliau mengizinkannya. Aisyah lalu membuat kemah di tem­pat yang hendak dipergunakan untuk itikaf itu. Apa yang dilakukan oleh Aisyah itu didengar oleh Hafshah, lalu Hafshah membuat kemah pula. Dan Zainab juga mendengar hal itu, lalu dia membuat kemah yang lain lagi. Setelah Rasulullah SAW selesai dari itikafnya dan akan kembali, beliau melihat ada empat buah kemah. Lalu beliau bertanya: Apa ini? Beliau lalu diberitahu tentang keadaan isteri-isterinya. Kemudian beliau bersabda: Apa yang mendorong mereka melakukan demikian? Adakah hal yang semacam ini dianggap sebagai kebaikan? Bongkarlah kemah-kemah itu supaya tidak terlihat olehku. Kemah-kemah itu lalu dibongkar.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah boleh beri’tikaf di mesjid selain di bulan Ramadhan?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW melakukan i’tikaf di mesjid di bulan Syawwal dan beliau menyuruh sahabat untuk beri’tikaf di Masjidil Haram yang bukan di bulan Ramadhan, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW mau beritikaf, ketika beliau menoleh ke tempat yang beliau ingin beritikaf padanya, tiba-tiba ada kain penutup Aisyah, kain penutup Hafshah, dan kain penutup Zai­nab. Beliau bersabda: Apakah kebaikan yang engkau sangkakan terhadap mereka? Kemudian beliau berpaling, dan tidak beritikaf se­hingga beritikaf sepuluh (malam hari) bulan Syawwal.” (HR Bukhari)

 

Dari Umar bin Khaththab, ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah nadzar pada waktu zaman Jahiliyah untuk beritikaf satu malam di Masjidil Haram? Maka Rasulullah SAW bersab­da: Penuhilah nadzarmu! Dan beritikaflah satu malam.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan tanda-tanda turunnya malam Qadar kepada seseorang?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya ada sekelompok orang dari sahabat Rasulullah bermimpi melihat lailatul qadar pada hari ketujuh yang terakhir. Ketika dilapori hal itu, Rasulullah SAW bersabda: “Menurutku bahwa mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ketujuh yang terakhir. Oleh karena itu barangsiapa yang ingin mencarinya, maka hendaklah dia cari pada hari ketujuh yang ter­akhir tersebut.” (HR Muslim)

 

Dari Zirra bin Hubaisy, ia berkata: “Aku ber­cerita kepada Ubai bin Ka’ab: “Sesungguhnya saudaramu yaitu Ib­nu Mas’ud mengatakan: “Barangsiapa melakukan ibadah pada waktu malam hari selama satu tahun, maka dia akan mendapatkan lailatul qadar.” Ubai bin Ka’ab berkata: “Semoga Allah merahmatinya. Dia ingin agar manusia tidak terpancang pada hal itu saja. Asal kamu tahu, sesungguhnya dia telah mengetahui bahwa lailatul qadar itu terdapat pada bulan Ramadhan, yakni pada kesepuluh hari yang terakhir, atau pada malam yang kedua puluh tujuh.” Kemudian Ubai bin Ka’ab ber­sumpah, bahwa lailatul qadar itu memang turun pada malam yang kedua puluh tujuh. Lantas aku tanyakan kepadanya: “Apa buktinya sam­pai kamu dapat berkeyakinan seperti itu?” Ubai menjawab: “Ada. Sesungguhnya aku pernah diberitahu oleh Rasulullah SAW bahwa pada pagi harinya ketika matahari telah terbit, sinarnya kelihatan suram.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Pernah kami saling memperingatkan tentang turunnya lailatul qadar di hadapan Ra­sulullah SAW. Beliau kemudian bersabda: “Malam itu turun ketika kami lihat bulan nampak suram, yakni ketika ia berwujud sebuah mangkok yang hanya separuh saja.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah ada sahabat yang pernah mendapatkan malam Qadar pada masa Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Tidak ada penjelasan tentang hal itu dari Rasulullah SAW. Tapi ketika Rasulullah SAW shalat Subuh bersama-sama dengan sahabat beliau, maka terjadi suatu kejadian pada diri beliau, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Sa’id Al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW senantiasa beri’tikaf di masjid dalam bulan Ramadhan pada sepuluh harinya bulan Ramadhan yang jatuh di pertengahan bulan. Kemudian apabila telah tiba sore harinya malam kedua puluh telah lewat dan men­jelang malam kedua puluh satunya, beliau pulang ke rumahnya dan pu­langlah orang yang beri’tikaf bersama beliau. Sebenarnya beliau beri’tikaf di tempat i’tikafnya itu. Kemudian beliau berkhutbah kepada orang-orang, lalu beliau memerintahkan kepada mereka sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau bersabda: “Aku menger­jakan i’tikaf dalam bulan ini selama sepuluh hari, kemudian tampaklah padaku suatu perintah agar supaya aku beri’tikaf dalam sepuluh hari yang terakhir. Oleh sebab itu barangsiapa yang sudah mengerjakan i’tikaf denganku, hendaklah menetap di tempat i’tikafnya. Dan betul-betul telah diperlihatkan padaku pada malam ini, lalu dilupakannya hal itu dari ingatanku. Oleh sebab itu, usahakanlah mencari lailatul qadar pada sepuluh hari yang terakhir pada setiap hitungan gasal. Pada saat itu aku betul-betul telah melihat sendiri bahwa aku sedang bersujud di atas air dan lumpur.” Kemudian langit tampak mendung mega lalu turunlah hujan. Maka masjid menjadi bocor dan airpun mengenai tempat shalat Rasulullah SAW, yaitu pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku membelalak tercengang ketika melihat keadaan Rasulullah SAW yang mulai berdiri hendak pulang ke rumah dari masjid setelah mengerjakan shalat Subuh, sedangkan wajah beliau penuh dengan lumpur dan air.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Salarnah bin Abdurrahman, ia berkata: Saya ber­tanya kepada Abu Said Al Khudriy: Apakah engkau pernah men­dengar Rasulullah SAW  mengenai lailatul qadar? Ia menjawab: Ya. Pada suatu saat kami beritikaf bersama Rasulullah SAW yaitu pada hari-hari pertengahan dari bulan Ramadhan. Ia (Said Al Khudriy) berkata: Kami keluar pada hari yang kedua puluh. Lalu Rasulullah SAW memberi khutbah kepada kami pada pagi hari kedua puluh, ke­mudian beliau bersabda: Sesungguhnya saya melihat datangnya lailatul qadar, namun saya lupa. Oleh karena itu carilah dia (lailtul qadar) pada malam sepuluh yang terakhir pada hitungan gasal. Pada saat itu saya melihat diriku bersujud di atas lumpur dan air. Barangsiapa yang me­ngerjakan itikaf bersama Rasulullah SAW, hendaklah ia kembali ke tem­pat dia beri’tikaf. Kemudian orang-orang sama kembali ke masjid dan di langit tidak ada awan. Kemudian Said Al Khudriy berkata: Tiba-tiba datanglah awan tebal, kemudian hujan turun dengan lebat. Pada waktu shalat diiqamati, maka Rasulullah SAW sujud di atas lumpur dan air, sehingga aku melihat lumpur itu melekat di dahi beliau.” (HR Bukhari)

 

Tidak ada penjelasan dari Rasulullah SAW apakah lumpur dan air yang ada pada wajah beliau setelah shalat Subuh yang sesuai dengan mimpi beliau tersebut adalah malam Qadar yang turun kepada beliau.”

 

Tilmidzi: “Apakah perintah Rasulullah menghidupkan malam Ramadhan dijalankan oleh para Khalifah dan umat Islam setelah beliau wafat?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, di­mana ia berkata: Rasulullah SAW selalu memberi dorongan untuk menghidup-hidupkan bulan Ramadhan tanpa memerintahkan kepada mereka dengan suatu perintah yang tegas, dan beliau bersabda: Barangsiapa yang menghidup-hidupkan bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” Kemudian Rasulullah SAW wafat sedangkan perintah itu tetap saja demikian. Demikian pula pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan dari masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, perintah itu tetap atas yang demikian itu. (HR Tirmidzi)

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, bahwa Rasulullah SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari yang akhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah me­wafatkan beliau, setelah itu para isteri beliau beritikaf yakni sepeninggal beliau. (HR Bukhari)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply