Dialog Seri 16: 1
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghendaki manusia menjadi berilmu dan beriman kepada-Nya?”
Mudariszi: ”Ayat-ayat Al Qur’an (ayat-ayat-Nya) yang pertama-tama diturunkan kepada Rasulullah SAW di bukit Hira adalah sebagai berikut:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)
Kalam dalam firman-Nya di atas adalah ayat-ayat-Nya (ayat-ayat Al Qur’an), itu menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki manusia menjadi berilmu dengan membaca Al Qur’an yaitu mengetahui perkara-perkara yang tidak diketahuinya. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan dalam firman-Nya di atas menunjukkan, dengan manusia membaca Al Qur’an, mereka berarti mengikuti perintah Tuhan mereka atau mereka beriman kepada-Nya. Dengan demikian, Allah SWT menghendaki manusia menjadi berilmu dan beriman kepada-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia.”
Tilmidzi: ”Siapakah Tuhan Pencipta manusia itu dan apakah Tuhan tersebut turunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk manusia?”
Mudariszi: ”Tuhan Pencipta manusia atau Tuhan manusia itu dijelaskan sebagai berikut:
Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)
Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nahl 22)
Allah SWT Tuhan manusia turunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW itu adalah untuk manusia. Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)
Tilmidzi: ”Apakah Rasulullah SAW ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an tersebut kepada manusia?”
Mudariszi: ”Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)
Selain itu, Allah SWT menghendaki manusia mengetahui tentang agama-Nya dan syariat-Nya dengan membaca Al Qur’an, karena agama-Nya itu wajib diikuti oleh manusia ketika menjalani hidupnya di dunia agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)
(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Ibrahim 1)
Tilmidzi: ”Apakah Rasulullah SAW diajarkan oleh Allah SWT tentang Al Qur’an, Iman dan agama Islam?”
Mudariszi: ”Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Asy Syuura 52)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak mengetahui Allah SWT, Al Qur’an, Iman dan agama-Nya (agama Islam) sebelum beliau menerima Al Qur’an. Allah SWT lalu mengajarkan dan menunjuki Rasulullah SAW dengan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (Asy Syuura 52)
Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)
Pengajaran Allah SWT kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an itu lalu membuat beliau memahami (berilmu) Al Qur’an, sehingga beliau beriman kepada-Nya dan berilmu agama Islam. Semua itu kemudian disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada manusia melalui pengajaran (perkataan) dan perbuatan beliau hingga sempurna selama kurang lebih 22 (dua puluh dua) tahun. Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW berkhutbah pada hari Nahr, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Hari apakah ini?” Para sahabat menjawab: “Hari haram (suci).” Beliau bersabda: “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab: “Negeri haram (suci).” Beliau bersabda: “Bulan apakah ini?” Mereka menjawab: “Bulan haram (suci).” Beliau bersabda: “Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu adalah suci atasmu semua, sebagaimana kesucian hartamu ini, negerimu ini dan di bulanmu ini.” Kata-kata itu berulang-ulang diucapkan oleh beliau. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya telah aku sampaikan.” Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Sesungguhnya khutbah beliau itu adalah merupakan wasiat bagi seluruh umatnya.” Rasulullah SAW meneruskan: “Maka karena itu, hendaklah yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir. Dan janganlah kamu menjadi kafir kembali, sesudahku, dimana kamu berkelahi sesamamu.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengajarkan Rasulullah SAW dengan Al Qur’an tersebut?”
Mudarisdzi: “Allah SWT mengajarkan Rasulullah SAW dengan Al Qur’an itu melalui Jibril, yaitu ketika Jibril menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada beliau secara berangsur-angsur mengikuti kejadian-kejadian pada beliau ketika beliau menjalani hidupnya sehari-hari dan ketika menyampaikan Al Qur’an kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (Al Israa’ 106)
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 5-6)
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaahaa 114)
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dan mengajarkan Al Qur’an yang turun berangsur-angsur itu kepada manusia?”
Mudariszi: “Pengajaran Allah SWT kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an membuat beliau memahami Iman hingga beriman kepada-Nya, dan memahami agama-Nya hingga beliau menjalani hidupnya sehari-hari dengan mengikuti syariat agama-Nya. Perbuatan termasuk perkataan Rasulullah SAW yang mengikuti Al Qur’an dan agama-Nya (syariat agama-Nya) menjadikan perjalanan hidup beliau di jalan-Nya yang lurus. Ayat-ayat Al Qur’an yang penuh hikmah juga dipahami oleh beliau sehingga memudahkan beliau menjelaskan Al Qur’an dan agama-Nya kepada manusia yang berbeda keinginan dan perbuatan ketika mereka menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi di masa (zaman) kehidupan yang tidak sama hingga kiamat. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan. (Asy Syuura 52-53)
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)
Perintah-Nya kepada manusia dalam firman-Nya di atas bertujuan agar mereka mengikuti pengajaran Rasulullah SAW supaya mereka beriman dan berilmu sampai mereka dapat menjalani hidupnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yaitu berbuat (beramal) di jalan-Nya yang lurus dengan mengikuti Al Qur’an dan syariat agama-Nya. Selama mereka tetap beriman dan mengikuti agama-Nya, mereka akan tetap ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al Baqarah 150-152)
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Jika Allah SWT mengajarkan Al Qur’an (termasuk agama-Nya) kepada Rasulullah SAW melalui Jibril, maka Dia mengajarkan Al Qur’an (termasuk agama-Nya) kepada manusia melalui Rasulullah SAW, karena hanya Dia yang mengajarkan dan menunjuki manusia kepada agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An Nuur 54)
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al Qashash 56)
Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: ”Pekara apakah yang dijelaskan oleh Allah SWT melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW agar manusia berilmu dan beriman?”
Mudariszi: ”Allah SWT menjelaskan tentang Dia yang tidak terlihat (yang ghaib), sebagai berikut:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 103)
Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (An Naba’ 37)
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al Ikhlas 2-4)
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (Asy Syuura 11)
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (Thaahaa 5)
Al Qur’an yang berasal dari Allah SWT itu merupakan bukti nyata keberadaan Dia yang ghaib. Atau semua ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi merupakan bukti nyata keberadaan Dia yang ghaib. Allah SWT berfirman:
Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu. (Al Mu’min 62)
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (Qaaf 38)
Rasulullah SAW menjelaskan Allah SWT menciptakan semesta alam, yaitu semua apa yang ada di dalam kehidupan dunia dan di dalam kehidupan akhirat, sebagai berikut:
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah ada, sedang selain Dia belumlah ada. Arasy-Nya itu di atas air, dan Dia menuliskan (mentakdirkan) sesuatu pada Lauh Mahfuzh, dan Dia ciptakan langit dan bumi.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Allah telah menentukan suratan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi atau ketika Arasy-Nya masih di atas air.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, Ibu orang-orang mukmin, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan juga menciptakan neraka. Masing-masing Allah telah menciptakan penghuninya.” (HR Muslim)
Salah satu makhluk ciptaan Allah yang menjadi penghuni surga dan neraka itu adalah manusia dengan perbandingan sebagai berikut:
Dari Abu Said Al Khudriy, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai Adam!” Adam menyahut: “Aku siap menerima perintah–Mu dan kebaikan ada di tangan–Mu.” Allah berfirman: “Keluarkanlah orang yang dikirimkan ke neraka.” Adam bertanya: “Apakah orang yang dikirim ke neraka itu?” Allah berfirman: “Dari setiap seribu, keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang.” (HR Muslim)
Tilmidzi: ”Mengapa manusia lebih banyak menjadi penghuni neraka?”
Mudariszi: ”Karena kebanyakan manusia mengkhianati amanah dari Allah SWT, mereka melanggar syariat agama-Nya ketika menjalankan amanah dalam perjalanan hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. (Al Ahzab72-73)
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Semua makhluk ciptaan Allah menjalani hidupnya dengan mengikuti syariat agama-Nya. Karena itu langit, bumi dan gunung-gunung enggan untuk memikul amanah dari Allah SWT karena mereka takut mengkhianati amanah itu ketika mereka melaksanakannya di dunia.”
Tilmidzi: ”Apakah Allah SWT menjelaskan penciptaan langit dan bumi di dalam kehidupan dunia?”
Mudariszi: ”Allah SWT menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi tersebut sebagai berikut:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat 11)
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. (Asy Syuura 29)
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. (As Sajdah 4)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi dan semua apa yang ada di langit di bumi dari asap. Asap itu mengandung partikel-partikel yang banyak dengan turunan-turunannya. Allah SWT menciptakan dan menetapkan langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi itu menurut ukuran termasuk ukuran waktu hidup setiap makhluk dengan teliti. Allah SWT berfirman:
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. (Ar Ruum 8)
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Allah SWT menciptakan dan menetapkan langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi tersebut tanpa dibantu oleh siapapun. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) sebesar zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’ 22)
Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan. (Al Kahfi 26)
Langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi itu merupakan kehidupan dunia. Allah SWT memelihara dan mengurus semua ciptaan-Nya itu. Allah SWT menciptakan malaikat-malaikat sebagai makhluk yang ghaib yang bertugas mengurus semua urusan yang terkait dengan ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman:
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 3)
Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. (Al Baqarah 255)
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. (Al Hadiid 4)
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. (Faathir 1)
Tilmidzi: ”Apakah Allah SWT menjelaskan tentang manusia?”
Mudariszi: ”Manusia telah menerima amanah dari Allah SWT (seperti dijelaskan di atas), karena itu Dia lalu menciptakan manusia yang Dia tempatkan di bumi, sebagai berikut:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Allah SWT menjadikan sebagian makhluk hidup yang ada di bumi sebagai kebutuhan hidup manusia, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Karena Allah SWT telah menetapkan agama-Nya dan takdir-Nya bagi semua ciptaan-Nya (seperti dijelaskan di atas), maka telah ada ketetapan syariat agama-Nya dan takdir-Nya bagi manusia ketika mereka melaksanakan amanah dalam perjalanan hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). (Al Insaan 2)
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). (Al Anbiyaa’ 35)
Takdir keburukan yang diuji oleh Allah SWT kepada manusia yaitu takdir keburukan dari bencana dan dari musuh manusia yaitu syaitan yang ghaib. Takdir keburukan berakibat kepada pebuatan manusia ketika mereka menjalankan amanah (menjalani hidupnya) dan itu menjadi termasuk dalam perbuatan manusia yang diuji-Nya. Allah SWT berfirman:
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al Hadiid 22)
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). (Faathir 6)
Perbuatan manusia yang mengikuti (syariat) agama-Nya dan takdir-Nya ketika menjalankan amanah di dunia itu menjadi ujian baginya dan akan diminta pertanggungan jawabannya oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 7)
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al Mulk 2)
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al Qiyaamah 36)
Dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 44)
Tilmidzi: ”Siapakah syaitan musuh manusia tersebut?”
Mudariszi: ”Syaitan musuh manusia yaitu Iblis dan pengikutnya dari golongan jin dan manusia. Iblis itu dari golongan (makhluk) jin yang ghaib, Iblis mendurhakai perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam manusia pertama, sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)
Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam 44)
Allah SWT lalu mengutuk Iblis, dan Iblis meminta kepada-Nya agar menangguhkan kematiannya supaya dapat menyesatkan manusia hingga kiamat. Allah SWT berfirman:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis, dan Dia peringatkan manusia yang menjalankan amanah dalam kehidupan di dunia bahwa Iblis dan pengikutnya itu musuh manusia yang akan ditempatkan di neraka. Allah SWT berjanji kepada manusia akan menjaga orang-orang yang hanya mengikuti-Nya. Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan.” Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (Shaad 84-85)
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)
Tilmidzi: ”Apakah kiamat itu dan kapan terjadi kiamat tersebut?”
Mudariszi: ”Karena Allah SWT menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (seperti yang dijelaskan di atas), maka langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi akan binasa (mati), dan waktu kebinasaan itulah kiamat. Pada waktu itu segala sesuatu kembali kepada Allah SWT. Dan pengetahuan waktu kiamat itu hanya pada Allah SWT saja. Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Al Qashash 88)
Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. (Al Haaqqah 15)
Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al Maa-idah 18)
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman 34)
Kiamat menjadikan kehidupan dunia tidak ada lagi. Pada waktu yang Dia tetapkan, Dia menciptakan langit dan bumi untuk kali kedua dan Dia lalu membangkitkan (menghidupkan) semua yang telah binasa (mati) dari kuburnya. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (Al Anbiyaa’ 104)
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)
Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur. (Al Hajj 6-7)
Tilmidzi: ”Untuk apakah Allah SWT menciptakan kembali langit dan bumi yang baru dan membangkitkan (menghidupkan) semua yang mati?”
Mudariszi: ”Allah SWT menjadikan langit dan bumi yang baru sebagai bagian dari kehidupan akhirat. Semua dihidupkan kembali dan dikumpulkan di padang Mahsyar di bumi yang baru. Kekuasaan dalam kehidupan akhirat itu milik Allah karena dunia dan akhirat kepunyaan-Nya. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Ibrahim 48)
Dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun. (Al Kahfi 47)
Dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. (Al An’aam 73)
Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)
Manusia dikumpulkan di padang Mahsyar untuk dihisab (diadili) amal perbuatannya ketika di dunia dengan disaksikan oleh semua makhluk. Allah SWT berfirman:
Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Al Kahfi 48)
Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Huud 103)
Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. (Az Zumar 69)
Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (Al Fajr 22)
Allah SWT menghisab amal perbuatan manusia di dunia tersebut dengan menggunakan timbangan kebenaran (keadilan) dan membalasnya dengan balasan yang Dia janjikan dalam ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. (At Taghaabun 9)
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. (Al Qiyaamah 13)
Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (Al Mu’minuun 102-103)
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al Ahqaaf 13-14)
Tilmidzi: ”Jika demikian, apakah kehidupan dunia itu bukan kehidupan yang sebenarnya bagi manusia?”
Mudariszi: ”Ya! Dan Allah SWT telah menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)
Tilmidzi: “Apakah perkara-perkara yang tidak diketahui oleh manusia itu juga dijelaskan kepada semua umat manusia sebelum Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah menjelaskan kepada semua umat manusia (umat-umat Rasul) sebelum Rasulullah SAW agar mereka berilmu dan beriman pula, sebagai berikut:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Tapi kebanyakan umat-umat Rasul itu lalu mengikuti syaitan, dan hal tersebut dijelaskan firman ini:
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (An Nahl 63)
Wallahu a’lam.