Dialog Seri 16: 5
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW dan orang-orang beriman menjalani hidup mereka di Madinah?”
Mudariszi: “Orang-orang beriman Mekkah (Muhajirin) menjalani hidup di Madinah dengan tenang dan bahagia. Mereka dibantu oleh orang-orang beriman Madinah (Anshar), dan mereka dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskannya sebagai berikut:
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al Hasyr 9)
Rasulullah SAW lalu membangun mesjid pertama (Quba) yang didasari atas takwa dan membangun mesjid Rasulullah (Nabawi), sebagai berikut:
Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (At Taubah 108)
Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: “Selanjutnya beliau menunggang untanya berjalan bersama orang-orang itu, sampai untanya menderum di Masjidir Rasul SAW di Madinah. Disanalah orang-orang muslim menjalankan shalat pada saat itu. Dulu tempat (masjid) itu adalah tempat penjemuran kurma milik Suhail dan Sahl, yaitu dua anak yatim di bawah perwalian Sa’ad bin Zurarah. Pada saat untanya menderum, Rasulullah SAW bersabda: “Insya Allah, inilah rumah itu.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT kehendaki dari Rasulullah SAW setelah beliau hijrah ke Madinah?”
Mudariszi: “Allah SWT menghendaki agar Rasulullah SAW menegakkan agama-Nya (agama Islam) demi untuk kebaikan dan keselamatan manusia di dunia dan di akhirat, yaitu untuk orang-orang yang hidup di masa itu dan orang-orang yang lahir kemudian. Karena agama-Nya yang dijelaskan dalam Injil sudah tidak diikuti lagi seperti yang dijelaskan oleh Nabi ‘Isa. Rasulullah SAW telah menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada kaumnya di Mekkah yang kebanyakannya orang-orang musyrik selama sepuluh tahun lebih, tapi ditolak oleh mereka. Mereka bahkan ingin melenyapkan agama Islam dengan mereka menzalimi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. (Asy Syuura 13)
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? (Ash Shaff 7)
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)
Karena Allah SWT hendak menegakkan agama Islam, Dia lalu perintahkan Rasulullah SAW dan orang-orang beriman (Muhajirin dan Anshar) untuk memerangi kaum musyrik itu. Allah SWT berfirman:
Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (Al Anfaal 7-8)
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hajj 40)
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT jadikan Rasulullah SAW dan orang-orang beriman mau berperang?”
Mudariszi: “Pada awalnya sebagian orang-orang beriman kurang setuju untuk berperang karena merasakan kekuatan yang mereka miliki. Tapi Allah SWT pertemukan juga pasukan orang-orang beriman itu dengan pasukan kaum musyrik, karena Dia hendak melaksanakan urusan-Nya. Allah SWT berfirman:
(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak, tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu, dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Al Anfaal 42-44)
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali ’Imran 13)
Rasulullah SAW mengetahui jumlah pasukannya dan jumlah pasukan kaum musyrik, karena itu beliau meminta pertolongan kepada-Nya. Allah SWT mengabulkan dengan mengirim seribu malaikat yang tidak terlihat oleh manusia. Para malaikat membunuh pasukan kaum musyrik. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Umar bin Khattab, dia berkata: “Pada hari peristiwa pertempuran Badar, Rasulullah SAW memandangi kepada pasukan musyrik yang berjumlah seribu personil. Sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang. Rasulullah SAW lalu menghadap ke kiblat dan menengadahkan kedua tangannya seraya berdo’a memohon kepada Tuhannya: “Ya Allah, penuhilah apa yang pernah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, lakukan apa yang pernah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, kalau sampai Engkau kalahkan pasukan Islam ini, maka Engkau tidak akan disembah di atas bumi.” Lama sekali Rasulullah SAW memanjatkan do’a tersebut kepada Tuhannya sambil terus menghadap ke arah kiblat. Sampai-sampai kain sorban beliau jatuh dari pundaknya. Abu Bakar mengambil kain sorban tersebut, lalu dia letakkan kembali ke atas pundak beliau. Lalu Abu Bakar duduk di belakang beliau seraya berkata: “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonan yang Anda panjatkan kepada Tuhan Anda. Aku yakin sesungguhnya Allah pasti akan melaksanakan apa yang pernah Dia janjikan kepada Anda.” Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung lalu menurunkan firman–Nya (Al Anfaal ayat 9): “(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” Jadi Allah memberikan bala bantuan kepada Rasulullah SAW malaikat sebanyak seribu.” (HR Muslim)
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. (Al Anfaal 17-18)
Setan-setan atau jin-jin kafir yang melihat kedatangan para malaikat membantu pasukan Rasulullah, lalu meninggalkan kaum musyrik. Sehingga pasukan kaum musyrik menderita kekalahan. Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.” Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Al Anfaal 48)
(Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tidak memperoleh apa-apa. (Ali ‘Imran 127)
Setelah kekalahan di perang Badar, Allah SWT lalu memperingatkan orang-orang musyrik atau orang-orang kafir yang tidak menyukai agama Islam, sebagai berikut:
Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti, maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun dia banyak; dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman. (Al Anfaal 19)
Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik menuntut balas atas kekalahannya?”
Mudariszi: “Ya! Kaum musyrik lalu mengumpulkan pasukan dan menuju ke Madinah memerangi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menyeru penduduk Madinah untuk ikut berperang dengan pergi menuju ke bukit Uhud. Tapi di antara penduduk Madinah itu ada orang-orang yang beriman tipis atau orang-orang munafik yang tidak mau ikut berperang karena mereka takut mati. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mu’min pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. (Ali ’Imran 121-122)
Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal. Sungguh Allah telah menolong kamu dari peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ali ’Imran 122-123)
Di awal pasukan Rasulullah berhasil mengalahkan pasukan kaum musyrik hingga mereka lari meninggalkan peralatan perangnya. Hati sebagian pasukan Rasulullah tergoda; mereka melanggar perintah Rasulullah dengan meninggalkan tempatnya untuk mengambil harta rampasan. Ketika mereka sedang mengambil, pasukan kaum musyrik tiba-tiba kembali menyerang hingga banyak pasukan Rasulullah yang terbunuh. Para malaikat tidak membantu pasukan Rasulullah karena tidak ada perintah dari Allah SWT. Kekalahan itu dijelaskan dengan firman-Nya ini:
Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (Ali ’Imran 165)
Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. (Ali ‘Imran 152)
(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu. (Ali ‘Imran 153)
Kemenangan di perang Badar dan kekalahan di perang Uhud dijadikan oleh Allah SWT sebagai pelajaran bagi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman ketika berperang di jalan-Nya melawan musuhnya dalam menegakkan agama-Nya agama Islam. Allah SWT berfirman:
Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (Ali ’Imran 139-141)
Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. (Ali ’Imran 166-167)
Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji kamu apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (Ali ‘Imran 154)
Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik masih memerangi Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Kaum musyrik Mekkah lalu bersatu dengan kaum-kaum musyrik lain. Mereka mendatangi Madinah dengan jumlah tentara yang sangat besar memerangi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengetahui itu dan menahan pasukan kaum musyrik di luar kota Madinah dengan membuat parit yang dalam, lebar dan panjang, hingga dikatakan perang Khandaq (perang Ahzab). Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Jabir, ia berkata: “Sesungguhnya kami pada hari peperangan Khandaq menggali parit, lalu terhalang oleh tanah yang keras sekali. Maka mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Tanah keras ini melintang di parit.” Rasulullah SAW menjawab: “Aku turun.” (HR Bukhari)
Pasukan kaum musyrik tidak dapat meneruskan perjalanannya karena terhalang oleh parit yang dalam, lebar dan panjang. Jika mereka melompati parit, mereka akan jatuh ke dalam parit hingga memudahkan pasukan Rasulullah membunuh mereka. Berhari-hari kedua pasukan di tempatnya masing-masing. Rasulullah SAW lalu dikejutkan oleh berita kaum Yahudi membantu pasukan kaum musyrik. Itu berarti kaum Yahudi telah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah SAW. Pengkhianatan itu dapat membuat mereka bersekutu dengan kaum munafik untuk memerangi pasukan Rasulullah dari belakang. Hal itu merisaukan hati Rasulullah SAW dan orang-orang beriman. Hati mereka bergoncang dengan kuat karena telah berhari-hari mereka tidak dapat meninggalkan tempatnya. Karena itu Rasulullah SAW meminta bantuan kepada-Nya hingga dikabulkan-Nya. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokkan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (Al Ahzab 10-11)
Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al Ahzab 22)
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Al Ahzab 9)
Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Ahzab 25)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW terus memerangi kaum musyrik untuk menegakkan agama Islam?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menegakkan agama Islam bukan dengan memerangi kaum yang kafir, tapi beliau mengajak kaum kafir untuk memeluk agama Islam agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Rasulullah SAW melakukannya dengan mengutus utusannya kepada suatu kaum atau menjelaskan utusan dari suatu kaum, contoh sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Kami dilarang (tersebut dalam Al Qur’an) bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sesuatu. Karena itu kami merasa heran bila ada seorang desa yang cukup pintar mengajukan pertanyaan kepada beliau, sedangkan kami mendengar. Suatu hari datang seorang desa, lalu berkata: “Hai Muhammad! Utusanmu telah datang kepada kami. Dia mengatakan kepada kami bahwa engkau menyatakan Allah telah mengutusmu.” Rasulullah SAW bersabda: “Benar!”Orang itu bertanya: “Kalau begitu, siapakah yang menciptakan langit?” Rasulullah SAW menjawab: “Allah!” Orang itu bertanya: “Siapakah yang menciptakan bumi?” Rasulullah SAW menjawab: “Allah!”Orang itu bertanya: “”Siapakah yang menegakkan gunung-gunung ini dan menjadikan sebagaimana adanya?”Rasulullah SAW menjawab: “Allah!”Orang itu bertanya: “Demi Dzat yang telah menciptakan langit, menciptakan bumi dan menegakkan gunung-gunung ini, apakah Allah yang mengutusmu?”Rasulullah SAW menjawab: “Ya!”Orang itu berkata: “Utusanmu mengatakan bahwa kami berkewajiban mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari semalam.” Rasulullah SAW bersabda: “Benar!”Orang itu berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu?”Rasulullah SAW menjawab: “Ya!”Orang itu berkata: “Utusanmu mengatakan bahwa kami berkewajiban membayar zakat harta kami.”Rasulullah SAW bersabda: “Benar!”Orang itu bertanya: “Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu?”Rasulullah SAW menjawab: “Ya!”Orang itu berkata: “Utusanmu juga mengatakan bahwa kami diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan dalam setahun.” Rasulullah SAW bersabda: “Benar!”Orang itu bertanya: “Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu?”Rasulullah SAW menjawab: “Ya!”Orang itu berkata: “Utusanmu mengatakan pula bahwa kami diwajibkan haji di Baitullah kalau memang mampu menempuh jalannya.” Rasulullah SAW bersabda: “Benar!”Kemudian orang itu pergi seraya berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan menambahkan atau mengurangi semua apa yang telah engkau terangkan.” Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh, andaikata benar ucapannya, pasti dia akan masuk surga.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW memerangi kaum kafir dalam menegakkan agama Islam karena kaum kafir itu menolak ajakan kepada agama Islam dan menolak membayar jizyah kepada Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, dia berkata: “Ketika Rasulullah SAW mengangkat seorang komandan pasukan, secara khusus beliau menyampaikan pesan atau wasiat kepadanya supaya dia selalu bertakwa kepada Allah dan supaya dia selalu berbuat baik terhadap orang-orang Islam yang ikut bersamanya. Lebih lanjut Rasulullah SAW berpesan: “Berperang di jalan Allah dengan senantiasa menyebut nama-Nya. Perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah dan jangan berkhianat dalam urusan harta rampasan atau ghanimah. Janganlah mengkhianati janji. Janganlah membunuh dengan cara yang sadis. Dan janganlah membunuh anak-anak kecil. Apabila kamu bertemu dengan musuhmu dari orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga hal. Dan apabila mereka mau menerima salah satu daripadanya, maka terimalah mereka dan bertakwalah selalu untuk memeranginya. Ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Apabila mereka mau menerima ajakanmu tersebut, maka terimalah mereka dan bertakwalah selalu di dalam memeranginya. Lalu ajaklah mereka berpindah dari kampung halamannya ke kampung halamannya para sahabat Muhajirin. Apabila mereka mau memenuhi ajakan tersebut, maka beritahukanlah bahwa mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti sahabat-sahabat Muhajirin. Apabila mereka enggan berpindah dari kampung halamannya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka sama dengan orang-orang Arab lainnya yang tidak beroleh bagian sedikit pun dari harta rampasan perang, kecuali jika mereka ikut berjihad bersama orang Islam lainnya. Jika mereka menolak, maka mintalah upeti kepada mereka. Apabila ternyata mereka mau memberikan upeti tersebut, maka terimalah dan batalkanlah untuk memeranginya. Tetapi apabila mereka tidak mau memenuhinya, maka mohonlah pertolongan kepada Allah untuk memerangi mereka. Jika kamu mengepung sebuah benteng perlindungan, lalu orang-orang yang berada di dalam sama meminta keamanan atau jaminan Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kamu penuhi permintaannya itu. Tetapi buatlah keamanan untuk mereka, sebab resikonya lebih ringan jika kamu harus merusak keamananmu sendiri ketimbang merusak keamanan Allah dan Rasul-Nya. Apabila mereka menghendaki agar mereka ditempatkan pada hukum Allah, maka janganlah kamu lakukan. Lebih baik kamu berlakukan hukumanmu sendiri sebab kami tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya.” (HR Muslim)
Allah SWT tidak memaksa manusia untuk memeluk agama Islam. Hal itu dijelaskan melalui firman-Nya ini:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah 256)
Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Kahfi 29)
Allah SWT menjadikan manusia di bumi dengan diberikan karunia-Nya di bumi sebagai kebutuhan hidupnya. Allah SWT menetapkan peraturan (syariat) agama-Nya bagi manusia ketika menjalani hidupnya dengan karunia-Nya itu. Di antara manusia ada orang-orang beriman (mengikuti agama-Nya) dan orang-orang kafir (tidak mengikuti agama-Nya). Tapi kedua golongan manusia itu harus mengikuti peraturan agama-Nya yaitu sama-sama membayar zakat atas perolehan harta dari karunia-Nya di bumi. Zakat itu untuk diberikan kepada orang-orang miskin atau yang tidak mampu dalam mencari karunia-Nya di bumi. Zakat (jizyah) itu diberikan kepada pemimpin umat beriman untuk kemudian diteruskan kepada yang berhak. Allah SWT berfirman
Atau adakah kamu mempunyai sebuah Kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? (Al Qalam 37-38)
Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al An’aam 141)
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang tidak mendapat bahagian. (Adz Dzaariyaat 19)
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Asy Syu’araa’ 183)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada bangsa-bangsa atau negeri-negeri di luar Jazirah Arab?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berkirim surat kepada Raja-Raja Parsi, kepada Raja-Raja Rumawi, kepada Raja-Raja Ethiopia, dan kepada setiap penguasa diktator yang isinya mengajak mereka kepada Allah Yang Maha Tinggi, selain daripada seorang Raja Ethiopia yang ketika meninggal dunia beliau ikut menyembahyanginya secara ghaib. (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW selama itu tidak pernah memerangi kaum musyrik di Mekkah?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW sejak tinggal di Madinah tidak pernah memerangi kaum musyrik Mekkah karena tidak diperintahkan-Nya. Suatu waktu Rasulullah SAW berumrah ke Mekkah bersama orang-orang beriman, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Abu Qatadah, ia berkata: “Kami berangkat bersama Rasulullah SAW pada tahun peperangan Hudaibiyah. Lalu sahabat-sahabatnya berihram, sedang saya belum berihram.” (HR Bukhari)
Dari Barra bin Azib, ia berkata: “Sesungguhnya mereka bersama Rasulullah SAW pada hari perang Hudaibiyah adalah sebanyak seribu empat ratus orang atau lebih dari itu.” (HR Bukhari)
Tapi kaum musyrik menghalang-halangi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman memasuki Ka’bah (Baitullah). Allah SWT berfirman:
Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. (Al Fath 25)
Untuk berjaga-jaga dari serangan kaum musyrik Mekkah, Rasulullah SAW lalu menyeru orang-orang beriman untuk bersumpah setia kepada beliau di bawah pohon agar tidak lari. Allah SWT meridhai sumpah setia orang-orang beriman kepada Rasulullah SAW itu, dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Ma’qil bin Yasar, dia berkata: “Sesungguhnya aku dapati diriku ikut berada di dekat pohon ketika terjadi peristiwa Hudaibiyah. Pada saat Rasulullah SAW tengah membai’at orang-orang, aku angkat salah satu dahan pohon itu dari kepala supaya tidak mengenainya. Kami berjumlah seribu empat ratus orang. Kami semua berbai’at kepada beliau bukan untuk mati, melainkan kami berbai’at untuk tidak lari.” (HR Muslim)
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al Fath 10)
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. (Al Fath 18)
Kaum musyrik Mekkah menetapkan syarat melalui perjanjian jika orang-orang beriman ingin berumrah di Ka’bah. Perjanjian itu banyak merugikan orang-orang beriman, tapi Rasulullah SAW menyetujuinya. Kebanyakan orang-orang beriman tidak menyukai perjanjian itu dan Allah SWT mengetahuinya karena mereka tidak paham hakekatnya. Ketidak sukaan orang-orang beriman itu menjadikan Allah SWT meridhai mereka karena Dia mengetahui bahwa mereka membela Allah SWT dan agama-Nya dengan ketidak sukaannya itu, Dia mengetahui kebenaran iman mereka. Karena itu Allah SWT memberikan kemenangan kepada orang-orang beriman, dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Al Fath 27)
Dari Aslam, ia berkata: “Dan Umar datang kepada Rasulullah SAW, lalu mengucapkan salam kepadanya. Beliau bersabda: “Sungguh semalam telah diturunkan sebuah surah kepadaku, sungguh surah itu lebih aku sukai dari pada apa (bumi) yang disinari matahari.” Kemudian beliau membaca ayat: “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (surat Al Fath ayat 1). (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Kemenangan apakah yang dicapai oleh orang-orang beriman?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW melakukan umrah sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah bersama dengan sejumlah umat Islam, dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Urwah, ia berkata: “Kemudian datanglah satu pasukan, yaitu pasukan yang paling sedikit jumlahnya. Di antara mereka terdapat Rasulullah SAW dan para sahabatnya, sedangkan bendera Rasulullah SAW dibawa oleh Zubair bin Awwam. Ketika Rasulullah SAW melewati Abu Sufyan, ia bertanya: “Tidakkah engkau tahu apa yang dikatakan oleh Sa’ad bin Ubadah?” Beliau bertanya: “Apakah yang dikatakan oleh Sa’ad?” Ia menjawab: “Ia mengatakan demikian dan demikian.” Beliau bersabda: “Sa’ad berdusta, akan tetapi ini adalah hari Allah mengagungkan Ka’bah dan hari memasang kelambu (penutup) Ka’bah.” (HR Bukhari)
Hari Allah SWT mengagungkan Ka’bah dan hari memasang kelambu (penutup) Ka’bah dalam sunnah Rasulullah di atas yaitu penaklukan kota Mekkah dan penguasaan Ka’bah. Penaklukan kota Mekkah itu tanpa perlawanan dari kaum musyrik dan itu sesuai dengan mimpi Rasulullah ketika di Hudaibiyah. Itu kemenangan yang dicapai oleh orang-orang beriman yang telah bersumpah setia di bawah pohon di Hudaibiyah. Rasulullah SAW lalu menghancurkan semua patung yang ada di Ka’bah, sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Al Fath 27)
Dari Barra, ia berkata: “Kalian menghitung penaklukan itu sebagai penaklukan Makkah. Dan sungguh telah terjadi penaklukan Makkah, padahal kami menghitung penaklukan itu sebagai Bai’atir Ridhwan pada hari perang Hudaibiyah.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah bin Mughaffal, ia berkata: “Pada hari penaklukan Makkah, saya melihat Rasulullah SAW di atas untanya, beliau membaca surah Al Fath seraya mengulang-ulangnya.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah, dia berkata: “Ketika Rasulullah SAW memasuki Makkah, di sekitar Ka’bah terdapat patung berhala sebanyak tiga ratus enam puluh buah. Rasulullah SAW merobohkannya dengan menggunakan tongkat itu di tangannya seraya bersabda: “Telah datang kebenaran dan musnahlah kebatilan, karena sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti musnah. Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (surat Al Israa’ ayat 81). Ibnu Abu Umar menambahkan: “Peristiwa itu terjadi pada saat penaklukan kota Makkah.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW lalu memerangi kaum-kaum musyrik di luar kota Mekkah yang menolak membayar jizyah. Di awal, pasukan Rasulullah yang berjumlah sangat banyak menderita kekalahan karena sombong. Allah SWT lalu membantu mereka dengan bantuan yang tidak terlihat hingga mereka mencapai kemenangan. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taubah 25-27)
Tilmidzi: “Apakah dengan Mekkah ditaklukkan dan Ka’bah (Baitullah) dikuasai oleh Rasulullah SAW berarti kaum musyrik telah dikalahkan?”
Mudariszi: “Setelah penaklukkan kota Mekkah, kebanyakan kaum-kaum di negeri-negeri di Jazirah Arab memeluk agama Islam. Kaum musyrik dan agamanya telah dikalahkan. Kaum musyrik dikalahkan karena Allah SWT (karena pertolongan-Nya). Allah SWT mengalahkan kaum musyrik melalui Rasulullah SAW dan orang-orang beriman. Agama Islam telah tegak di Jazirah Arab. Allah SWT berfirman:
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 14-15)
Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak. (At Taubah 25)
Allah SWT lalu menjelaskan tentang Ka’bah (Baitullah), sebagai berikut:
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali ‘Imran 96)
Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia. (Al Maa-idah 97)
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. (Al Baqarah 125)
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran 97)
Allah SWT menetapkan peraturan-Nya atas Ka’bah sebagai berikut:
Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al Anfaal 34)
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At Taubah 17-18)
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 28)
Allah SWT juga menghendaki Ahli Kitab dikeluarkan dari Ka’bah atau Mekkah, karena mereka tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT berfirman:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At Taubah 29)
Tilmidzi: “Apakah dengan Rasulullah SAW berhasil menguasai Ka’bah berarti Rasulullah SAW telah menegakkan agama Islam dan menyampaikan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Rasulullah SAW menerima firman-Nya itu ketika beliau bersama umat Islam menjalankan haji Wada, dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Thariq bin Syihab, bahwasanya beberapa orang Yahudi berkata: “Seandainya ayat ini diturunkan untuk kami, niscaya kami menjadikan hari itu sebagai hari Raya.” Umar bertanya: “Ayat yang manakah itu?” Mereka menjawab: “Pada hari ini telah Ku–sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Lalu Umar berkata: “Sesungguhnya saya lebih tahu di tempat manakah ayat itu diturunkan, ayat itu diturunkan di saat Rasulullah SAW berwuquf di Arafah.” (HR Bukhari)
Dan di haji Wada itu Rasulullah SAW menjelaskan telah menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada umat manusia sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW berkhutbah pada hari Nahr, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Hari apakah ini?” Para sahabat menjawab: “Hari haram (suci).” Beliau bersabda: “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab: “Negeri haram (suci).” Beliau bersabda: “Bulan apakah ini?” Mereka menjawab: “Bulan haram (suci).” Beliau bersabda: “Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu adalah suci atasmu semua, sebagaimana kesucian hartamu ini, negerimu ini dan di bulanmu ini.” Kata-kata itu berulang-ulang diucapkan oleh beliau. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya telah aku sampaikan.” Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Sesungguhnya khutbah beliau itu adalah merupakan wasiat bagi seluruh umatnya.” Rasulullah SAW meneruskan: “Maka karena itu, hendaklah yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir. Dan janganlah kamu menjadi kafir kembali sesudahku, dimana kamu berkelahi sesamamu.” (HR Bukhari)
Para sahabat menyaksikan penyampaian Rasulullah SAW itu. Para sahabat telah menyaksikan dan membantu Rasulullah SAW dalam menyampaikan Al Qur’an dan dalam menegakkan agama Islam, hingga mereka menjadi orang-orang yang berilmu agama Islam dan mereka mengamalkannya dengan benar yaitu beramal (berbuat) di jalan-Nya yang lurus. Beberapa bulan setelah haji Wada, Rasulullah SAW wafat di Madinah. Allah SWT berfirman:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Fath 29)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 100)
Wallahu a’lam.