Apakah Orang-Orang Munafik Menyukai Agama Islam?

Dialog Seri 16: 6

 

Tilmidzi: “Apakah semua umat Islam mengikuti Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam?”

 

Mudariszi: “Tidak semua umat Islam mengikuti atau membantu Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam. Umat Islam yang beriman tipis, yang hatinya berpenyakit atau orang-orang munafik, tidak suka mengikuti Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam. Contoh ketika kaum musyrik memerangi Rasulullah SAW dan beliau menyeru penduduk Madinah untuk ke Uhud, maka orang-orang munafik kembali ke Madinah karena takut, hingga orang-orang beriman marah dan berselisih. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mu’min pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. (Ali ’Imran 121-122)

 

Dari Zaid bin Tsabit, ia bekata: “Ketika Rasulullah SAW keluar menuju peperangan Uhud, maka kembalilah sebagian dari orang-orang (munafik) yang keluar bersama beliau. Dan sahabat-sahabat beliau ter­pecah menjadi dua kelompok. Yang satu kelompok berpendapat: “Kami harus memerangi mereka (orang-orang munafik).” Dan yang satu kelom­pok lagi berpendapat: “Kami tidak boleh memerangi mereka.” Maka turunlah ayat: “Maka mengapa kamu menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran disebabkan usaha mereka sendiri.” (surat An Nisaa’ ayat 88). Zaid bin Tsabit berkata: “Sesungguhnya (kampung) itu adalah Thaibah (kota Madinah) yang dapat meng­hilangkan perbuatan keji sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran pada perak.” (HR Bukhari)

 

Karena itu Allah SWT menjelaskan tentang umat Islam yang beriman yang berjihad menegakkan agama Islam di jalan-Nya dan umat Islam yang munafik, sebagai berikut:

 

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab 23-24)

 

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). (Ali ‘Imran 179)

 

Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. (Ali ’Imran 166-167)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan orang-orang munafik setelah mengetahui ada sebagian orang-orang beriman yang gugur dalam perang Uhud tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh. (Ali ‘Imran 168)

 

Tapi jika mereka bertemu dengan orang-orang beriman yang kembali (yang tidak mati), maka mereka mengatakan sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu.” (Ali ‘Imran 167)

 

Allah SWT lalu menjelaskan ucapan orang-orang munafik di atas itu dengan firman-Nya berikut ini:

 

Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Ali ‘Imran 167)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu tidak mau berperang karena mereka takut mati?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan orang-orang munafik ketika mereka mengetahui turun firman-Nya (perintah-Nya) untuk berperang, sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (Muhammad 20-21)

 

Orang-orang munafik tidak mengetahui bahwa kematian seseorang itu terjadi karena Allah SWT atau karena takdir yang Dia sudah tetapkan. Takdir Allah itu tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah SWT, sehingga tidak ada seorangpun yang mengetahui waktu ajalnya, tempat ajalnya dan bagaimana ajalnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (Faathir 11)

 

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (Luqman 34)

 

Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. (Ali ‘Imran 154)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik terhadap orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar?”

 

Mudariszi: “Orang-orang munafik itu tidak menyukai orang-orang Muhajirin. Allah SWT berfirman:

 

Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (Al Munaafiquun 7-8)

 

Padahal mereka tidak akan berani memerangi orang-orang beriman karena mereka tidak bersatu dan takut mati. Allah SWT berfirman:

 

Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al Hasyr 14)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik terhadap Ahli Kitab?”

 

Mudariszi: “Orang-orang munafik lebih dekat dengan Ahli Kitab daripada orang-orang beriman, yaitu Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:

 

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al Maa-idah 52)

 

(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Al Hasyr 15)

 

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad 26)

 

Tapi meskipun mereka bekerja sama, mereka tidak akan menepati janjinya kepada Ahli Kitab itu jika jiwa mereka terancam. Allah SWT berfirman:

 

Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kamipun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. (Al Hasyr 11-12)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik tetap tidak mau berperang ketika Rasulullah SAW diperangi kembali oleh kaum musyrik?”

 

Mudariszi: “Ya! Ketika orang-orang munafik mengetahui Rasulullah SAW mengajak penduduk Madinah ke Khandaq untuk membangun parit guna menahan pasukan kaum musyrik yang memerangi beliau, maka mereka mengatakan kepada Rasulullah SAW dan kepada sesama mereka, sebaga berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (Al Ahzab 13)

 

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami.Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (Al Ahzab 18)

 

Padahal mereka telah berjanji kepada Allah SWT tidak akan mundur. Karena itu orang-orang beriman mengatakan kepada orang-orang munafik sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 53)

 

Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur).Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Ahzab 15)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik itu setelah mengetahui pasukan Rasulullah memperoleh kemenangan di perang Khandaq dengan tanpa berperang?”

 

Mudariszi: “Pasukan kaum musyrik di perang Khandaq mengalami kekalahan karena dihalau oleh Allah SWT dengan angin topan. Mereka kembali ke Mekkah tanpa mendapat apa-apa. Orang-orang munafik tetap dalam ketakutan meskipun pasukan kaum musyrik telah kembali ke Mekkah. Allah SWT menjelaskan orang-orang munafik ketika perang Khandaq itu sebagai berikut:

 

Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang melainkan sebentar saja. (Al Ahzab 20)

 

Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya, dan mereka tidak akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. (Al Ahzab 14)

 

Orang-orang munafik bersedia lari atau murtad seperti dijelaskan firman-Nya di atas karena mereka takut mati. Tapi jika rasa takut matinya telah hilang setelah mengetahui perang berhenti, maka Allah SWT menjelaskan mereka akan berbuat sebagai berikut

 

Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al Ahzab 19)

 

Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama. Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.” Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).” (An Nisaa’ 71-73)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik itu jika turun perintah Allah untuk berperang menegakkan agama Islam di negeri lain?”

 

Mudariszi: “Jika turun perintah-Nya untuk berperang, maka orang-orang munafik akan meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk tidak ikut. Contoh ketika Allah SWT perintahkan umat Islam untuk membantu Rasulullah SAW berjihad (berperang) menegakkan agama Islam ke Tabuk, melalui firman-Nya berikut ini:

 

Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagian beriman dan berjihad). (At Taubah 86-87)

 

Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (At Taubah 49)

 

Mereka senang jika diizinkan oleh Rasulullah SAW untuk tidak ikut berjihad  (berperang) dan tidak ada rasa malu sedikitpun dengan orang-orang yang benar-benar uzur yang diizinkan oleh Rasulullah SAW untuk tidak ikut. Allah SWT berfirman:

 

Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan uzur, yaitu orang-orang Arab Badwi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih. (At Taubah 90)

 

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.(At Taubah 81)

 

Hingga Allah SWT lalu menegur Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (At Taubah 43)

 

Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka). (At Taubah 93)

 

Allah SWT lalu menjelaskan orang-orang munafik itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (At Taubah 45-48)

 

Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang)”, dan mereka berpaling dengan rasa gembira. (At Taubah 50)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu mengerjakan kewajiban shalat dan zakat dan menafkahkan hartanya di jalan Allah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan shalat orang-orang munafik itu adalah sebagai berikut:

 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An Nisaa’ 142)

 

Allah SWT menjelaskan pandangan orang-orang munafik atas zakat dan atas orang-orang beriman yang membayar zakat, sebagai berikut:

 

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (At Taubah 58)

 

(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu’min yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan untuk mereka azab yang pedih. (At Taubah 79)

 

Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang munafik tidak akan menafkahkan hartanya di jalan-Nya karena mereka itu sebagai berikut:

 

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). (At Taubah 67)

 

Akibat perbuatan orang-orang munafik itu, Allah SWT menghukum mereka sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik. (At Taubah 53)

 

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir. (At Taubah 54-55)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu menyukai harta dunia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang munafik tersebut sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. (At Taubah 74)

 

Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.(At Taubah 75)

 

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling; dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (At Taubah 76)

 

Perbuatan mereka itu menunjukkan mereka berbohong dan melanggar janji. Pelanggaran janji mereka itu berarti mereka menyukai harta dunia. Karena itu Allah SWT menghukum mereka sebagai berikut:

 

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (At Taubah 77)

 

Tilmidzi: “Bagaimana pandangan orang-orang munafik atas Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Orang-orang munafik tidak tertarik dengan Al Qur’an. Akibatnya Al Qur’an tidak berpengaruh bagi mereka sehingga iman mereka tipis. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” (At Taubah 124)

 

Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seseorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (At Taubah 127)

 

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (Muhammad 16)

 

Bahkan Al Qur’an dapat menambah kemunafikan mereka hingga dapat menjadi kafir. Allah SWT berfirman:

 

Dan adapun orang-orang yang ada di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (At Taubah 125)

 

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Muhammad 25)

 

Tilmidzi: “Bagaimana pandangan orang-orang munafik terhadap Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al Munaafiquun 1)

 

Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Huud 5)

 

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka, dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (Al Munaafiquun 5)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan orang-orang munafik tidak menyukai Rasulullah SAW. Mereka suka mengejek dan menyakiti Rasulullah SAW hingga Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah 61)

 

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At Taubah 65)

 

Jika orang-orang munafik mengetahui Allah SWT mengancam mereka, maka mereka lalu bersumpah kepada Rasulullah SAW dengan nama Allah. Sumpah mereka itu untuk mencari ridha Rasulullah SAW dan bukan ridha Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). (At Taubah 74)

 

Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka mencari keridhaannya, jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. (At Taubah 62)

 

Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (At Taubah 56)

 

Sesungguhnya kamu dalam hati mereka (orang-orang munafik) lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al Hasyr 13)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang munafik itu takut kepada manusia (Rasulullah SAW) daripada kepada Allah SWT. Itu berarti mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti atas sesuatu masalah. Allah SWT berfirman:

 

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al Hasyr 14)

 

Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (An Nisaa’ 78)

 

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munaafiquun 3)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik tidak menyukai agama Islam dan syariat agama Islam?”

 

Mudariszi: “Semua perbuatan orang-orang munafik seperti yang dijelaskan di atas menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti agama Islam dan peraturan (syariat) agama Islam. Mereka berpendapat syariat agama Islam hanya menghambat  nafsu keinginan mereka terhadap harta dunia, karena itu mereka tidak menyukainya. Allah SWT berfirman:

 

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya. (Al Anfaal 49)

 

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. (Al Ahzab 12)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik menghalang-halangi manusia dari agama Islam atau dari jalan-Nya yang lurus?”

 

Mudariszi: “Orang-orang munafik menginginkan agar manusia termasuk umat Islam seperti mereka, yaitu tidak mengetahui (mengikuti) syariat agama Islam supaya tidak ada lagi hambatan bagi mereka dalam mencapai keinginan mereka. Karena itu mereka menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan dari mengikuti syariat agama Islam atau dari jalan-Nya yang lurus. Mereka membuat peraturan sendiri sehingga mereka tidak berada di jalan-Nya yang lurus dan mereka tidak beragama dengan agama Islam yang benar. Mereka menjadi seperti Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:

 

Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 2)

 

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)

 

Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat.” Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung. (An Nisaa’ 81)

 

Perbuatan orang-orang munafik yang menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan jalan-Nya itu menghendaki Allah SWT murka kepadanya. Allah SWT berfirman:

 

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)

 

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (At Taubah 107)

 

Mereka menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan dari jalan-Nya yang lurus dengan mengada-adakan jalan mereka yang bengkok yaitu jalan syaitan. Karena itu Allah SWT murka dan mengutuk mereka. Allah SWT berfirman:

 

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. (Huud 18-19)

 

Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwa barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar. (At Taubah 63)

 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An Nisaa’ 145)

 

Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui orang-orang munafik tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tingkah laku orang-orang munafik tersebut sebagai berikut:

 

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (Muhammad 30)

 

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. (Al Munaafiquun 4)

 

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu. karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” Maka adalah kesudahan keduanya bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim. (Al Hasyr 16-17)

 

Rasulullah SAW menjelaskan orang-orang munafik itu sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: Ada empat pekerti yang barangsiapa ketempat­an empat pekerti itu, maka dia adalah orang munafik yang murni (sangat dekat sifatnya dengan orang munafik). Dan barangsiapa pada­nya terdapat salah satu tabiat di antara empat itu, berarti padanya ada satu tabiat di antara kemunafikan sampai dia mau meninggalkannya, yaitu: apabila berbicara, berbohong; apabila melakukan persetujuan, ber­khianat; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila bertikai, menyim­pang. (HR Muslim)

 

Allah SWT lalu memperingatkan orang-orang beriman sebagai berikut:

 

Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Al Munaafiquun 4)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply