Bagaimana Pemimpin Rumah Tangga Melaksanakan Amanah?

Dialog Seri 18: 4

 

Tilmidzi: “Siapakah pemimpin rumah tangga?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: Seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa isteri itu pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya. Sehingga, isteri bertanggung jawab atas kebaikan rumah tangganya termasuk atas harta suaminya dan kebaikan dan keselamatan keluarganya yang terdiri dari dirinya, suaminya dan anak-anaknya ketika menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti syariat agama Islam. Allah SWT akan minta pertanggungan jawaban dari isteri pada hari kiamat.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana terjadinya keluarga (suami, isteri dan anak) tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menetapkan bagi manusia (laki-laki dan wanita) untuk melakukan perkawinan (jika telah dewasa dan mampu) agar mendapatkan keturunan. Allah SWT berfirman:

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (An Nisaa’ 1)

 

Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah ia merasa ringan (beberapa waktu). (Al A’raaf 189)

 

Tilmidzi: “Bagaimana perkawinan laki-laki dan wanita menurunkan keturunan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menciptakan wanita dengan diberikan rahim dalam perutnya. Rahim dijadikan oleh Allah SWT sebagai tempat dalam penciptaan manusia yaitu setelah wanita dikawini oleh laki-laki. Allah SWT berfirman:

 

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. (Al Qiyaamah 37-39)

 

Maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi. (Al Hajj 5)

 

Allah SWT menciptakan manusia dan menyempurnakannya dalam rahim, lalu Dia melahirkannya sebagai bayi dan memeliharanya selama dua tahun melalui air susu Ibunya. Allah SWT berfirman:

 

Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al Ahqaaf 15)

 

Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. (Luqman 14)

 

Allah SWT memelihara bayi setelah lahir ke dunia dengan Dia mengadakan air susu pada Ibu untuk pertumbuhan bayi selama dua tahun. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi. (Al Hajj 5)

 

Para Ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al Baqarah 233)

 

Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. (Al Baqarah 233)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah wanita dikaruniakan kelebihan oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengaruniakan kelebihan kepada wanita dengan Dia menjadikan rahim di perutnya. Karena itu Allah SWT perintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya, lalu kepada Ibunya, kemudian terakhir kepada Bapaknya. Allah SWT berfirman:

 

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (Luqman 14)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang Ibu yang memelihara anak kecil termasuik memelihara anak yang lalu dimatikan-Nya di masa kecilnya, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Seorang perempuan dengan (membawa) dua orang anaknya datang kepadaku meminta-minta dan aku tidak menemukan sesuatu untuk aku berikan pada kecuali sebiji kurma. Kemudian aku berikan kurma itu padanya, lalu ia membaginya untuk kedua anaknya, kemudian ia berdiri dan pergi. Kemudian masuklah Rasulullah SAW lalu aku ceritakan kepadanya. Beliau bersabda: “Barangsiapa menguasai sesuatu dari anak ini, kemudian ia berbuat baik kepadanya, maka anak tadi menjadi penutup baginya dari api neraka.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda kepada kaum wanita Anshar: “Salah seorang kalian yang sam­pai ditinggal mati oleh tiga orang anaknya dan ia merasa kehilangan, maka ia akan masuk surga.” Salah seorang dari mereka bertanya: “Atau dua saja, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, atau dua saja.” (HR Muslim)

 

Karena itu Allah SWT perintahkan anak-anak untuk bersyukur kepada-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya (Ibu dan Bapak), sebagai berikut:

 

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang Ibu Bapak. (An Nisaa’ 36)

 

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Israa’ 23)

 

Dan jika kedua (Ibu-Bapak)nya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman 15)

 

Allah SWT perintahkan (dalam firman-Nya di atas) kepada anak-anak untuk berbuat baik kepada orang tuanya dengan mendahulukan Ibunya. Karena itu Rasulullah SAW lalu perintahkan anak-anak untuk berbuat baik kepada Ibunya lebih dahulu, sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Seorang lelaki ber­tanya pada Rasulullah SAW: “Bolehkah saya ikut perang?” Beliau bertanya: “Apakah kamu masih punya kedua orang tua?” Dia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka berperanglah (melawan syaitan) dalam (memperoleh ridha) kedua orang tuamu.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Seseorang berta­nya: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk diberla­kukan dengan baik?” Rasulullah SAW menjawab: “Ibumu. Kemudian Ibumu. Kemudian Ibumu. Kemudian Ibumu. Kemudian Bapakmu. Kemudian orang yang terdekat denganmu dan seterusnya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan orang tua atau salah satu daripadanya yang tidak dapat masuk surga sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh celaka, sungguh celaka, dan sungguh celaka.” Di­tanyakan: “Siapa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya, atau salah satunya ketika dia sudah tua, namun dia tidak bisa masuk surga.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: ”Apakah kelebihan rahim yang dijadikan oleh Allah SWT pada wanita?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan rahim pada wanita itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk. Ketika selesai sebagian mereka, maka tampillah kekerabatan (rahim) dan berkata: “Ini adalah tempat orang yang menjaga dari terputusnya hubungan kekeluargaan.” Allah berfirman: “Baiklah. Apakah kamu rela kalau Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan memutuskan orang yang memutuskanmu?” Ia berkata: “Tentu saja.” Allah berfirman: “Itulah milikmu.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah ayat berikut ini kalau kalian mau: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinganya dan dibutakan-Nya telinganya. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (surat Muhammad ayat 22-24). (HR Muslim)

 

Adapun silaturrahim itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Orang yang menyambung (sanak) itu bukan orang yang mem­balas (sambungan sanak), akan tetapi orang yang menyambung (sanak famili) ialah ketika diputus ia menyambungnya.” (HR Bukhari)

 

Dari Muhammad bin Jubair bin Mut’im, ia berkata: “Bahwa sesungguhnya Jubair bin Mut’im memberitahukan padanya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tiada masuk surga orang yang memutus hubungan kekeluargaan (hubungan sanak famili) atau silaturrahim.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat. Aku telah berusaha untuk menyambung tali kekeraban dengan mereka, namun mereka malah memutuskan aku. Aku telah berusaha berbuat baik kepada mereka, namun mereka malah berbuat buruk kepadaku. Dan aku telah berusaha berlaku santun kepada mereka, namun mereka malah berlaku jahat kepadaku.” Rasulullah SAW bersabda: “Apabila benar apa yang kamu katakan itu, maka seakan-akan kamu memberi mereka makan bara api. Dan Allah akan selalu bersamamu memberikan pertolongan atas mereka, sepanjang kamu bertahan dalam sikapmu itu.” (HR Muslim)

 

Kedua orang tua dan anak-anak harus mengetahui tentang rahim Ibu dan silaturrahim tersebut agar mereka mengamalkannya dengan benar ketika menjalani hidupnya di dunia.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan perkawinan laki-laki dengan wanita itu wajib mengikuti syariat agama Islam?”

 

Mudariszi: “Adanya rahim dalam perut wanita membuat laki-laki dan wanita yang kawin dapat melahirkan anak (keturunan). Allah SWT lalu menetapkan perkawinan antara laki-laki dan wanita itu wajib mengikuti syariat agama Islam. Perkawinan tanpa mengikuti syariat agama Islam merupakan perbuatan keji yang dilarang-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al Israa’ 32)

 

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur 32)

 

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. (An Nuur 33)

 

Agar terhindar dari perbuatan keji (zina) itu, maka Allah SWT peringatkan wanita-wanita dan laki-laki yang beriman melalui firman-Nya berikut ini:

 

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isiteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab 59)

 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya. (An Nuur 31)

 

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An Nuur 30)

 

Tilmidzi: “Bagaimana  isteri bertanggung jawab atas rumah tangganya dan atas kebaikan dan keselamatan keluarganya (suamiya dan anak-anaknya)?”

 

Mudariszi: “Suami mencari harta dari karunia-Nya di bumi di luar rumah, dan dia memberikan sebagian hartanya itu kepada isterinya, misalnya memberikan tempat tinggal, harta dan nafkah yang dibutuhkan (diperlukan) oleh isterinya guna memelihara rumah tangganya dan keluarganya. Allah SWT berfirman:

 

Dan kewajiban Ayah memberi makan dan pakaian kepada para Ibu dengan cara yang ma’ruf. (Al Baqarah 233)

 

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. (An Nisaa’ 34)

 

Dengan harta dan nafkah dari suaminya itu isteri memelihara keluarganya dengan mendidik anak-anaknya, melayani suaminya dan memelihara harta suaminya dengan mengikuti syariat agama Islam. Isteri memelihara suaminya yaitu merawat dan melayani suaminya ketika di rumah dan tidak mengkhianati suaminya ketika suami di luar rumah mencari harta. Allah SWT berfirman:

 

Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (An Nisaa’ 34)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghukum isteri yang mengkhianati suaminya?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menghukum isteri yang mengkhianati suaminya (yang tidak mentaati suaminya). Tidak mentaati suami berarti isteri itu melanggar syariat agama Islam, isteri itu berarti tidak mentaati Allah SWT, padahal suaminya telah menjalankan kewajibannya kepada isterinya. Contoh, isteri-isteri Nabi dihukum-Nya karena mengkhianati suaminya, Allah SWT berfirman:

 

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At Tahriim 10)

 

Rasulullah SAW menjelaskan pula hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ditam­pakkan padaku neraka, tiba-tiba kebanyakan penghuninya adalah orang-orang wanita yang ingkar.” Dikatakan: “Apakah mereka ingkar kepada Allah?” Beliau bersabda: “Mereka ingkar kepada suaminya dan mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah se­orang dari padanya setahun kemudian ia melihat sesuatu (yang tak menyenangkan) dari padamu, maka ia berkata: “Saya tidak pernah melihat kebaikan dari padamu.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Aku telah mengikuti shalat ‘Ied bersama Rasulullah SAW. Beliau mulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa adzan atau iqamat. Kemudian beliau ber­diri bersandar pada Bilal. Lalu beliau memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, mendorong untuk mentaati-Nya, menasehati kaum mus­limin dan memberi ingat mereka. Setelah itu beliau pergi mendatangi kaum wanita. Beliau menasehati dan memberi ingat mereka. Sabda beliau: “Bersedekahlah kalian! Kebanyakan di antara kalian (kaum wanita) menjadi bahan bakar neraka Jahannam.” Lalu di antara kaum wanita itu, berdirilah seorang perempuan yang memerah-padam kedua pipinya. Dia bertanya: “Kenapa, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda: ‘”Karena kalian banyak mengeluh dan meng­ingkari (kebaikan) keluarga (suami).” Merekapun segera menyedekahkan perhiasan mereka. Mereka melempar anting-anting dan cincin mereka ke pakaian Bilal.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah bahan bakar api neraka itu adalah manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At Tahriim 6)

 

Rasulullah SAW menjelaskan penghuni neraka yang terbanyak adalah wanita, sehingga wajar jika sebagian kaum wanita lalu menjadi bahan bakar api neraka, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Imran bin Hushain dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:Aku melihat surga, maka aku melihat sebagian besar penghuninya ada­lah orang-orang fakir; dan aku melihat neraka, maka aku melihat neraka maka aku lihat sebagian besar penghuninya adalah orang-orang wani­ta. ” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Mengapa kebanyakan penghuni neraka itu adalah wanita?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kalian dan per­banyaklah istighfar (memohon ampun). Karena, aku melihat kalian kaum wanitalah yang lebih banyak menjadi penghuni neraka.” Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya: “Ya Ra­sulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih banyak menjadi penghuni neraka?” Rasulullah SAW bersabda: “Kalian banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat kekurangan akal dan agama yang lebih me­nguasai pemilik akal daripada kalian.” Wanita itu bertanya lagi: “Ya Rasulullah, apakah kekurangan akal dan agama itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yang dimaksud kekurangan akal, yaitu persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang pria. Ini ada­lah kekurangan akal. Wanita melalui malam-malam tanpa mengerjakan shalat dan berbuka di bulan Ramadhan (karena haidh). Ini adalah kekurangan agama.” (HR Muslim)

 

Kekurangan agama pada wanita itu terjadi karena wanita mengalami haidh (kotoran) dalam beberapa hari di setiap bulan. Allah SWT berfirman:

 

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. (Al Baqarah 222)

 

Jika Allah SWT melarang suami mendekati isterinya di masa isterinya haidh (tidak suci), maka Dia melarang wanita yang tidak suci (haidh) mendekati-Nya yaitu melarang ibadah kepada-Nya seperti shalat dan puasa. Meskipun tidak beribadah, wanita yang haidh itu tidak berdosa, tapi ibadahnya dalam sebulan menjadi tidak sebanyak ibadah laik-laki. Itulah kekurangan agama pada wanita. Sedangkan kekurangan akal pada wanita yaitu persaksian dua wanita sama dengan persaksian satu laki-laki dalam sunnah Rasulullah di atas, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.(Al Baqarah 282)

 

Kekurangan akal pada wanita tersebut menjadikan mereka kurang pengetahuan agama Islam dan itu yang membuat mereka tidak memahami misalnya karunia-Nya berupa rahim dan harta dari suaminya, sehingga mereka kurang memelihara tugas dan kewajibannya ketika menjalani hidupnya di dunia.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana isteri dapat menjadi suka mengkhianati suaminya?”

 

Mudariszi: “Itu terjadi karena syaitan yang selalu ingin menyesatkan manusia (laki-laki dan wanita) ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Manusia (laki-laki dan wanita) pertama yang berhasil disesatkan oleh syaitan yaitu Nabi Adam dan isterinya hingga keduanya mendurhakai (mengkhianati) perintah-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga). (Al A’raaf 20)

 

Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al A’raaf 22)

 

Pengkhianatan kepada-Nya itu dijelaskan oleh  Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau ber­sabda: “Seandainya tidak ada Siti Hawa, niscaya selamanya wanita tidak akan berkhianat kepada suaminya.” (HR Muslim)

 

Penjelasan Rasulullah di atas menunjukkan bahwa syaitan menipu isteri Nabi Adam lebih dahulu hingga tergoda, lalu dia merayu suaminya (dengan mengikuti rayuan setan) agar mau merasakan buah dari pohon terlarang. Syaitan menipu isteri Nabi Adam lebih dulu karena mengetahui wanita kurang akalnya seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW di atas. Rayuan yang berupa janji-janji manis syaitan kepada mereka membuat mereka menjadi lupa terhadap perintah-Nya hingga dilanggar oleh mereka. Allah SWT berfirman:

 

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al Mujaadilah 19)

 

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Thaahaa 115)

 

Tilmidzi: “Apakah syaitan menipu manusia dengan kehidupan dunia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan pandangan manusia atas kehidupan dunia tersebut sebagai berikut:

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)

 

Fiman-Nya di atas menunjukkan bahwa terdapat banyak kesenangan dalam kehidupan dunia yang disukai oleh manusia (laki-laki dan wanita). Syaitan mengetahui itu, sehingga syaitan lalu menipu manusia agar mencintai kehidupan dunia. Syaitan juga menipu manusia tentang Allah SWT agar mereka melupakan-Nya dan syariat agama Islam. Syaitan melakukannya dengan memanfaatkan kesenangan dunia yang dicintai oleh manusia agar mereka selalu berbuat maksiat hingga melupakan-Nya dan agama-Nya. Karena itu Allah SWT peringatkan manusia sebagai berikut:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (An Nuur 21)

 

Kecintaan manusia terhadap apa yang diingininya dalam kesenangan (kehidupan) dunia itulah yang digunakan oleh syaitan dalam menipu wanita lebih dahulu daripada laki-laki sehingga isteri suka mengkhianati suaminya. Allah SWT menjelaskan dua wanita yang tidak dapat ditipu (disesatkan) oleh syaitan dengan kesenangan dunia sebagai pelajaran bagi para wanita. Yang pertama yaitu isteri Fir’aun, penguasa yang sangat zalim dan mengatakan dirinya tuhan. Sebagai isteri penguasa, isteri Fir’aun dikaruniakan-Nya kesenangan, harta dan kekuasan yang tidak terbatas dalam kehidupannya. Tapi semua itu tidak merubah imannya dan ketaatannya kepada Allah SWT Tuhannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim.” (At Tahriim 11)

 

Yang kedua yaitu Maryam, wanita beriman dan taat kepada Allah SWT serta memelihara kehormatannya. Takdir Allah yang tidak diketahui oleh Maryam menjadikanya harus mengandung seorang anak tanpa perkawinan dengan laki-laki. Maryam harus menghadapi tuduhan orang-orang yang mengatakan dia pezina. Tuduhan tersebut terus berlangsung hingga Maryam melahirkan bayinya. Maryam seorang diri merawat dan memelihara anaknya (Nabi ‘Isa) yang tanpa Bapak itu hingga dewasa. Maryam menghadapi semua itu dengan sabar tanpa mengurangkan ketaatannya kepada Allah SWT dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-Kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At Tahriim 12)

 

Tilmidzi: “Apakah tujuan syaitan yang lain dengan menyesatkan isteri lebih dulu?”

 

Mudariszi: “Isteri yang suka mengkhianati suaminya dapat membuat suaminya letih dengan perilakunya, dan akhirnya dapat diceraikan oleh suaminya. Perceraian itu berakibat kepada anak-anaknya yang masih membutuhkan pemeliharaan dan bimbingan kedua orang tuanya. Allah SWT berfirman:

 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An Nisaa’ 9)

 

Kurangnya bimbingan orang tua yang bercerai dapat membuat akhlak anaknya menjadi kurang baik. Baik buruknya akhlak anak dan keluarga akan berakibat kepada akhlak masyarakat. Syaitan menyukai akhlak buruk karena itu dapat menimbulkan banyak orang berbuat maksiat.. Rasulullah SAW menjelaskan syaitan yang berhasil menceraikan suami isteri tersebut, sebagai berikut:

 

Dari Jabir, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengerahkan pasukannya. Di antara mereka yang berkedudukan paling dekat dengannya adalah yang paling hebat fitnahnya. Satu di an­tara mereka datang melapor: “Aku telah berbuat begini dan begini.” Te­tapi Iblis menyahut: “Engkau tidak melakukan apapun!” Kemudian datang lagi yang lain dan berkata: “Aku tidak meninggalkan seseorang sebelum aku berhasil menceraikannya dengan isterinya.” Iblis mendekati setan itu seraya memuji: “Engkau sungguh hebat!” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah perceraian suami isteri itu terjadi karena perilaku (perbuatan) isteri?”

 

Mudariszi: “Perceraian tidak dapat dikatakan karena isteri. Suami juga dapat menjadi penyebab perceraian, misalnya suami tidak atau kurang memberikan nafkah kepada isterinya, atau bertindak sewenang-wenang terhadap isterinya, atau berbuat keji di luar rumah hingga diketahui oleh isterinya. Perbuatan suami itu kerap terjadi sehingga Isteri menuntut cerai. Suami berbuat demikian karena lemahnya ilmu agamanya. Suami yang berilmu agama akan sabar dalam menghadapi isterinya yang seringkali mengkhianatinya, dia justru akan membimbingnya dan berusaha untuk tidak menceraikannya karena mengikuti perintah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, apabila dia menyaksikan suatu perkara, maka dia harus berbicara dengan sebaik­-baiknya atau hanya diam saja. Wasiatilah wanita, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk ialah bagian bawahnya. Jika kamu berusaha hendak meluruskannya, maka kamu harus memecahkannya. Dan apabila kamu biarkan saja, maka ia tetap bengkok terus. Wasiatilah wanita dengan baik.” (HR Muslim)

 

Suami yang baik akan sabar dalam menasehati isterinya karena dia mengetahui ada kebaikan-kebaikan pada isterinya yang belum diketahuinya. Suami itu berfikir demikian karena mengikuti Allah SWT dan Rasulullah SAW yang menjelaskan sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (An Nisaa’ 19)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin laki-laki tidak akan membenci seorang mukmin perempuan. Seandainya saja dia membenci akhlaknya, maka dia akan menyukainya pada segi yang lainnya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah isteri dapat bekerja?”

 

Mudariszi: “Isteri atau wanita dibenarkan bekerja untuk mencari nafkah. Contoh, suami yang merasa hartanya kurang untuk memelihara keluarganya, maka dia mengizinkan isterinya untuk bekerja. Harta yang diperoleh isteri itu menjadi hartanya dan haknya untuk menafkahi keluarganya termasuk suaminya. Contoh, wanita yang tidak kawin atau janda yang tidak ingin kawin lagi, maka mereka harus memelihara dan memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya dengan bekerja (berusaha). Allah SWT menjelaskan Dia akan menunjuki wanita-wanita itu berharta selama mereka bekerja dengan taat mengikuti syariat agama Islam. Allah SWT berfirman:

 

Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 130)

 

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati(mu). (Al Maa-idah 7)

 

Wanita (isteri) yang bekerja itu membuat tanggung jawabnya bertambah dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin bagi rumah tangga. Tambahan tanggung jawab wanita itu akan menambah godaan syaitan baginya, sehingga wanita itu harus berhati-hati ketika dia bekerja (berusaha) dan memelihara keluarganya dalam perjalanan hidupnya di dunia.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply