Mengapa Allah SWT Menjadikan Kehidupan Dunia?

Dialog Seri 18: 1

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah menetapkan penciptaan langit dan bumi ketika Dia menciptakan semesta alam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah menetapkan tiap-tiap sesuatu yang Dia ciptakan di semesta alam. Semua ciptaan-Nya dan ketentuan-Nya di semesta alam itu dicatat dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh). Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)

 

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)

 

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yaasiin 12)

 

Allah SWT telah ada sebelum Dia menciptakan semesta alam. Setelah ketetapan-Nya menciptakan semesta alam, Allah SWT lalu menciptakan air, Arasy-Nya, Lauh Mahfuzh, pena untuk menulis takdir untuk setiap makhluk ciptaan-Nya. Kemudian Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dari Imran bin Hushain, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah ada, sedang selain Dia belumlah ada. Arasy-Nya itu di atas air, dan Dia menuliskan (mentakdirkan) sesuatu pada Lauh Mahfuzh, dan Dia cipta­kan langit dan bumi. (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Allah telah me­nentukan suratan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi atau ketika ArasyNya masih di atas air. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan langit dan bumi?”

 

Mudariszi: “Penciptaan langit dan bumi dijelaskan-Nya sebagai berikut:

 

Bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiyaa’ 30)

 

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat 11)

 

Tilmidzi: “Apakah setelah langit dan bumi tercipta, Allah SWT lalu menciptakan makhluk-makhluk di langit dan di bumi?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. (Asy Syuura 29)

 

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)

 

Pemisahan bumi dari langit (seperti dijelaskan dalam firman-Nya di atas) menjadikan bumi memiliki jarak dengan langit. Semua yang terlihat di atas bumi (dari belahan bumi manapun) adalah langit dengan makhluk-makhluk yang ada di langit, seperti bintang-bintang, matahari, bulan. Itu menunjukkan semua makhluk yang Dia sebarkan di langit itu berada di posisi antara bumi dan langit. Sehingga, bumi dengan semua makhluk di bumi dan semua makhluk di langit itu berada dalam ruangan (lingkaran) langit.”

 

Tilmidzi: “Apakah manusia termasuk dalam makhluk-makhluk yang disebarkan-Nya di langit dan di bumi?”

 

Mudariszi: “Manusia termasuk salah satu di antara makhluk-makhluk yang Dia sebarkan di bumi. Allah SWT berfirman:

 

Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)

 

Tilmidzi: “Jika segala sesuatu telah Dia tetapkan dan catat, apakah makhluk-makhluk di langit dan di bumi telah ada sebelum Dia ciptakan langit dan bumi?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi yaitu manusia, sebagai berikut:

 

Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? (Maryam 67)

 

Mengapa kamu kafir kepada Allah padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu. (Al Baqarah 28)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia telah ada sebelum langit dan bumi diciptakan-Nya. Dengan demikian, semua makhluk yang Dia sebarkan di langit dan di bumi juga telah diciptakan-Nya (telah ada) sebelum langit dan bumi diciptakan-Nya. Bahkan makhluk-makhluk tersebut telah ditentukan jumlahnya, yaitu sebagai berikuit:

 

Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (Maryam 94)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan tujuan dari penciptaan langit dan bumi dengan makhluk-makhluk penghuninya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikuit:

 

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq. (Ad Dukhaan 38-39)

 

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (Al Ahqaaf 3)

 

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)

 

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. (Shaad 27)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT ciptakan langit dan bumi beserta semua yang ada di langit dan di bumi itu menurut ukuran dan waktu yang Dia tentukan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menetapkan ukuran dan waktu bagi langit, bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi, menunjukkan langit, bumi dan setiap makhluk yang ada di langit dan di bumi memiliki jangka waktu hidupnya. Itu berarti mereka semua akan mati (binasa) pada waktu yang telah Dia tetapkan (tentukan). Allah SWT berfirman:

 

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (Ali ‘Imran 145)

 

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. (Ar Rahmaan 26)

 

Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al Waaqi’ah 4-6)

 

Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana. (Al Muzzammil 18)

 

Yang hidup kekal dan tidak mati hanya Allah SWT, seperti dijelaskan berikut ini:

 

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Qashash 88)

 

Dia-lah Yang hidup kekal. (Al Mu’min 65)

 

Tilmidzi: “Kapan waktu kehancuran langit, bumi dan semua makhluk itu?”

 

Mudariszi: “Kehancuran langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi itulah kiamat. Waktu kiamat diketahui hanya oleh Dia. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman 34)

 

Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya. (Al Hajj 7)

 

Tilmidzi: “Jika langit dan bumi hancur binasa, bukankah penciptaan langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi itu berakhir dan menjadi sia-sia?”

 

Mudariszi: “Setelah langit, bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi mati (hancur binasa), Allah SWT akan mengulang penciptaan langit dan bumi untuk kali yang kedua pada waktunya dan itu sudah merupakan ketetapan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (Al Anbiyaa’ 104)

 

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)

 

Setelah langit dan bumi tercipta untuk kali kedua, Allah SWT lalu menghidupkan kembali semua makhluk yang ada di langit dan di bumi pada hari kebangkitan.”

 

Tilmidzi: “Kapan hari kebangkitan dan bagaimana Allah SWT menghidupkan semua makhluk di langit dan di bumi yang telah mati tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan waktu hari kebangkitan sebagai berikut:

 

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah. (Al Ahzab 63)

 

Allah SWT menghidupkan kembali semua makhluk yang mati itu pada hari kebangkitan yang telah menjadi ketetapan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati). (An Najm 47)

 

Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali, sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit). (Yunus 4)

 

Katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali. (Yunus 34)

 

Menghidupkan yang mati merupakan perkara mudah bagi-Nya. Contoh, Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan Dia menghidupkan kembali manusia, sebagai berikut:

 

Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. (Ar Ruum 27)

 

Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Al A’raaf 25)

 

Dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). (At Takwiir 7)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: Waktu antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh. Mereka bertanya: Hai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari? Ia menjawab: Aku tidak mau memastikan. Mereka bertanya lagi: Empat puluh bulan? Jawabnya: Aku tidak mau memastikan. Mereka masih bertanya: Empat puluh tahun? Ia menjawab: Aku tidak mau memastikan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi: Lalu Allah menurunkan hujan, maka mayat-mayat­pun bangun seperti tumbuhnya tanam-tanaman. Tiada satupun bagian tubuh manusia yang utuh kecuali tulang ekornya, dan dari tulang itulah kelak di hari kiamat makhluk dibentuk lagi.” (HR Muslim)

 

Dari Numan bin Salim, ia berkata: Aku mendengar Yaqub bin Ashim bin Urwah bin Masud Ats Tsaqafi berkata: Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki, lalu berka­ta: Rasulullah SAW telah bersabda: Setelah itu Allah mengirim (atau, menurunkan) hujan yang seperti air susu, atau, hujan yang turun di permulaan musim hujan (Numan ragu), lalu tumbuhlah jasad-jasad manusia.” (HR Muslim)

 

Jika Allah SWT menghidupkan kembali manusia dengan mudah, maka tidak akan ada kesulitan bagi-Nya untuk menghidupkan semua makhluk yang lainnya pada hari kebangkitan.”

 

Tlmidzi: “Mengapa Allah SWT menghidupkan kembali semua makhluk di langit dan di bumi yang telah mati itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut

 

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Ibrahim 48)

 

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun. (Al Kahfi 47)

 

Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Huud 103)

 

Allah SWT mengumpulkan mereka di padang Mahsyar untuk menyaksikan Dia mengadili (menghisab) manusia atas perbuatannya ketika melaksanakan amanah di dunia sebelum matinya (kiamat) dan membalasnya dengan surga atau neraka seperti yang Dia janjikan, dan mereka akan hidup kekal di surga atau di neraka. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (An Nahl 93)

 

(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At Taghaabun 9-10)

 

Tilmidzi: “Jika manusia hidup kekal di surga atau di neraka, apakah kehidupan manusia dan makhluk lain di langit dan di bumi itu suatu kehidupan sementara?”

 

Mudariszi: “Karena langit, bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi masing-masing memiliki jangka waktu hidup yang telah Dia tentukan, maka kehidupan mereka itu hanya sementara. Kehidupan mereka yang sementara itulah kehidupan dunia. Ketika mereka semua dihidupkan kembali dengan surga dan neraka, kehidupan mereka menjadi kekal karena mereka tidak mati-mati lagi. Kehidupan mereka yang kekal itulah kehidupan akhirat, yaitu kehidupan yang sebenarnya. Allah SWT telah ciptakan semesta alam dengan dua kehidupan kepunyaan-Nya, yaitu kehidupan akhirat dan dunia. Allah SWT berfirman:

 

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)

 

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)

 

Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)

 

Tilmidzi: “Apakah surga dan neraka ketika itu telah ada, dan kapan Allah SWT menciptakan surga dan neraka?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan surga dan neraka, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersab­da: Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, maka mengutus malaikat Jibril ke surga, Dia berfirman: Lihatlah ke surga dan apa yang telah Aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya! Rasulullah SAW bersabda: Lalu malaikat Jibril berangkat ke surga dan melihatnya dan apa yang telah di persiapkan oleh Allah bagi penghuninya.” Rasulullah SAW bersabda: Lalu Jibril pulang menghadap Allah dan berkata: Demi keagunganMu, tidak seorang pun mendengarnya melainkan ia ingin memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan surga lalu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan Dia berfirman: Kembalilah ke surga lalu lihatlah ia dan apa yang telah aku persiapkan bagi penghuninya! Rasulullah SAW bersabda: Jibril kembali ke surga ternyata telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, lalu ia kembali kepadaNya, dan berkata:Demi keagunganMu sungguh aku khawatir tidak seorangpun memasukinya.” Allah berfirman:Pergilah ke neraka lalu lihatlah ia dan apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya.” Ternyata sebagiannya menaiki bagian yang lain, lalu ia kembali kepadaNya dan berkata:Demi keagunganMu, tidak seorangpun mendengarnya lalu ia memasukinya.” Kemudian Allah meme­rintahkan neraka, lalu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan dan Dia berfirman: Kembalilah ke neraka! Lalu ia kembali kepadanya, kemudian dia berkata:Demi keagunganMu, benar-benar aku kawatir tidak seorangpun selamat darinya melainkan ia memasukinya.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Aisyah, Ibu orang-orang mukmin, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan juga menciptakan neraka. Masing-masing Allah telah menciptakan penghuninya. (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum langit dan bumi diciptakan-Nya. Surga dan neraka itu belum berpenghuni, tapi penghuni-penghuninya telah Dia tetapkan yaitu dari makhluk jin dan makhluk manusia. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Huud 119)

 

Dari Abu Said Al Khudriy, dia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: Hai Adam! Adam menyahut: Aku siap menerima perintahMu dan kebaikan ada di tanganMu. Allah berfirman: Keluarkanlah orang yang dikirimkan ke neraka. Adam bertanya: Apakah orang yang dikirim ke neraka itu? Allah berfirman: Dari setiap seribu, keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Mengapa surga dan neraka itu dihuni oleh makhluk jin dan manusia?”

 

Mudariszi: “Sebelum Allah SWT menjadikan langit dan bumi, Dia bertanya kepada langit, bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi atas kesediaan mereka untuk memikul amanah dari-Nya ketika menjalani hidupnya di kehidupan dunia. Semua makhluk menolak memikul amanah itu karena menambah kewajiban mereka kepada-Nya sehingga mereka khawatir akan mengkhianatinya. Adapun kewajiban semua makhluk ketika menjalani hidupnya di dunia yaitu menjembah-Nya dengan mengikuti agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)

 

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. (An Nuur 41)

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)

 

Karena tidak ada yang bersedia memikul amanah itu, maka manusia lalu bersedia memikulnya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)

 

Kesediaan manusia memikul amanah, menghendaki Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab 72-73)

 

Allah SWT mengazab orang-orang munafik dan musyrik (laki-laki dan perempuan) dalam firman-Nya di atas yaitu mengazab mereka karena mengkhianati amanah ketika mereka menjalani hidupnya di dunia, sehingga itu menunjukkan mereka akan menjadi penghuni neraka. Sedangkan Allah SWT menerima orang-orang yang bertaubat dalam firman-Nya di atas menunjukkan mereka akan menjadi penghuni surga karena mereka tidak mengkhianati amanah ketika menjalani hidupnya di dunia. Itulah yang menyebabkan surga dan neraka dihuni oleh manusia.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan jin yang juga menjadi penghuni neraka?”

 

Mudariszi: “Ketika Allah SWT menjadikan manusia pertama (Nabi Adam), Iblis dari makhluk jin mendurhakai perintah-Nya yaitu menolak untuk sujud kepada Nabi Adam, karena Iblis merasa lebih mulia daripada manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)

 

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. (Al A’raaf 12)

 

Allah SWT lalu menghukum Iblis karena mendurhakai-Nya. Iblis bukan bertaubat kepada-Nya tapi justru meminta kepada-Nya untuk menangguhkan kematiannya agar Iblis dapat menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi. (Al Hijr 39)

 

Iblis mendurhakai perintah-Nya berarti mendurhakai-Nya, padahal jin diciptakan seperti makhluk-makhluk lain yaitu untuk menyembah-Nya. Allah SWT lalu mengabulkan permintaan Iblis dengan memberikan balasan kepadanya dan kepada yang mengikuti Iblis dari makhluk jin dan manusia, yaitu sebagai berikut:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat). (Shaad 80-81)

 

Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya.” (Shaad 84-85)

 

Allah SWT mengancam jin dan manusia yang mengikuti Iblis dengan balasan neraka Jahannam karena mereka semua ingin menyesatkan manusia dari jalan-Nya (agama-Nya) yang lurus yang berarti mereka ingin menyesatkan manusia agar tidak menyembah-Nya dan berbuat maksiat kepada-Nya. Itu menunjukkan orang-orang yang mengikuti Iblis tidak melaksanakan amanah. Allah SWT juga bersumpah akan menjaga orang-orang yang mengikuti-Nya atau mengikuti jalan-Nya (agama-Nya) yang lurus hingga mereka tidak dapat disesatkan oleh Iblis dan pengikutnya. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga. (Al Israa’ 63-65)

 

Itulah yang menyebabkan jin menjadi penghuni neraka. Tapi tidak semua jin mengikuti Iblis, sehingga tidak semua jin menjadi penghuni neraka. Allah SWT lalu menjelaskan tujuan Iblis itu kepada manusia agar mereka tidak tertipu oleh Iblis dan pengikutnya, sebagai berikut:

 

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)

 

Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong. (Al Kahfi 51)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT menjadikan kehidupan dunia untuk mengetahui langit, bumi dan makhluk-makhluk di langit dan di bumi yang mengikuti-Nya dan mengkhianati-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah mengetahui niat dan perbuatan semua makhluk yang Dia ciptakan di semeta alam sebelum Dia menjadikan surga, neraka, langit dan bumi. Contoh, Allah SWT mengetahui Iblis dari makhluk jin akan mendurhakai-Nya dan ingin menyesatkan manusia. Contoh lain, Allah SWT mengetahui jin dan manusia yang menjadi penghuni surga dan neraka. Kedua contoh itu telah dijelaskan sebelumnya di atas. Contoh lain, Allah SWT telah mengetahui makhluk-makhluk di bumi termasuk manusia akan menumpahkan darah hingga merusak bumi, sebagai berikut:

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 30)

 

Semua itu telah diketahui oleh Allah SWT sebelum Dia menciptakan kehidupan akhirat dan kehidupan dunia dan dicatat dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh) termasuk mencatat semua kejadian di langit dan di bumi dan semua yang terjadi pada manusia ketika mereka menjalani hidupnya di dunia, yaitu sebagai berikut:

 

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al Hajj 70)

 

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi atau di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 61)

 

Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi melainkan (terdapat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (An Naml 75)

 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. (Al Hadiid 22)

 

Sehingga, dengan Allah SWT menjadikan langit dan bumi atau kehidupan dunia, maka Dia menghendaki agar semua makhluk mengetahui apakah mereka itu patuh dan taat kepada-Nya atau durhaka kepada-Nya hingga mereka lalu dibalas-Nya dengan surga atau neraka yang kekal di kehidupan akhirat. Ketaatan dan kedurhakaan mereka kepada-Nya itu diketahui dari ujian-Nya yaitu ujian atas amanah yang dipikul dan dilaksanakan oleh mereka ketika menjalani hidupnya di dunia yang sementara. Allah SWT tidak menghendaki surga dan neraka yang kekal itu dihuni langsung oleh mereka yang taat dan yang durhaka kepada-Nya (yang telah diketahui-Nya), agar mereka yang di neraka tidak menyalahkan-Nya dengan alasan tidak menjelaskan kepada mereka. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mu’min.” (Al Qashash 47)

 

Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Qashash 83)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Neraka berdebat dengan surga, maka neraka berkata: Aku dimasuki orang-orang yang zalim dan takabur.” Surga berkata: Aku dimasuki orang-orang yang lemah dan miskin. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada neraka: Kamu adalah siksa-Ku. Aku gunakan kamu untuk menyiksa siapapun yang Aku kehendaki (terkadang berfirman: Aku gunakan kamu untuk menimpakan bencana terhadap orang yang Aku kehendaki).” Dan Dia berfirman kepada surga: “Kamu adalah rahmat-Ku. Aku beri rahmat dengan kamu siapapun yang Aku kehen­daki. Dan masing-masing akan Ku-isi sampai penuh.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Rasulullah SAW ber­sabda: “Pada hari kiamat, maut didatangkan berupa seperti kambing gibas yang belang (Abu Kuraib dalam periwayatannya menambahkan: lalu dihentikan di antara surga dan neraka) kemudian diserukan: “Hai ahli surga, apakah kalian mengenali ini?” Mereka mendongak dan memandang lalu berkata: “Ya, itu adalah maut.” Kemudian diserukan: “Hai ahli neraka, apakah kalian mengenali ini?” Mereka mendongak dan me­lihat lalu berkata: “Ya, itu maut.” Lantas diperintahkan agar maut itu disembelih, lalu diserukan: “Hai ahli surga, kalian tetap kekal, tidak akan mati; dan hai ahli neraka, kalianpun kekal, tidak akan mati.” Kemudian Rasulullah SAW membaca: “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, yaitu ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak pula beriman.” (surat Maryam ayat 39). Kemudian beliau menunjuk dunia dengan tangan be­liau.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT akan meminta pertanggungan jawaban manusia atas amanah yang dipikulnya itu?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Ahzab 15)

 

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al Qiyaamah 36)

 

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (Al Muddatstsir 38)

 

Di padang Mahsyar ketika di akhirat itulah manusia mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Allah SWT, yaitu perbuatan mereka ketika melaksanakan amanah di dunia, dengan disaksikan oleh semua makhluk, yang lalu dibalas-Nya dengan surga atau neraka seperti yang Dia janjikan dan tetapkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh). Hal itu telah dijelaskan sebelumnya di atas.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply