Dialog Seri 18: 2
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan ketentuan bagi manusia ketika mereka memilul amanah di kehidupan dunia?”
Mudariszi: “Manusia telah bersedia memikul amanah, sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Karena itu Allah SWT lalu menjadikan manusia sebagai berikut:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir 39)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah atau pengganti sebelumnya di bumi yang memakmurkan bumi termasuk memakmurkan penghuni-penghuni bumi. Pengganti sebelum manusia itu boleh jadi Allah SWT yang memelihara dan memakmurkan bumi kepunyaan-Nya. Manusia dijadikan-Nya sebagai khalifah yang memakmurkan bumi, tapi manusia juga dijadikan-Nya sebagai muslim yang memelihara bumi agar tidak terjadi kerusakan. Hal itu menunjuikkan bahwa manusia dijadikan-Nya sebagai khalifah di bumi sebagai pengganti-Nya dalam memakmurkan dan memelihara bumi. Allah SWT menjelaskan manusia sebagai muslim itu sebagai berikut:
Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal 73)
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini. (Al Hajj 78)
Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkankepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan muslim semuanya.” (HR Muslim)
Kemudian, karena kehidupan bumi dan semua makhluk di bumi berkaitan dengan kehidupan langit dan semua makhluk di langit, maka Allah SWT menetapkan bagi manusia dan bagi semua makhluk di langit dan di bumi, sebagai berikut:
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Tilmidzi: “Apakah dengan Allah SWT tundukkan semua yang ada di langit dan di bumi untuk manusia itu berarti semuanya menjadi kepunyaan manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT tundukkan semua yang ada di langit dan di bumi untuk manusia tidak berarti Dia memberikan semua itu kepada manusia, tapi hanya untuk membantu manusia dalam melaksanakan amanah (memakmurkan dan memelihara bumi) ketika menjalani hidupnya di kehidupan dunia. Semua apa yang ada di langit dan di bumi itu tetap kepunyaan-Nya dan diurus-Nya. Contoh, Dia tetap memberikan rezeki kepada semua makhluk yang menjalani hidupnya di kehidupan dunia sebagai berikut:
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (Al ‘Ankabuut 60)
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Huud 6)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menghendaki manusia memakmurkan dan memelihara bumi tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT mengaruniakan kelebihan yang sempurna kepada manusia sehingga manusia lebih baik daripada kebanyakan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Contoh, Allah SWT mengaruniakan akal kepada manusia agar mereka dapat berfikir yang benar dan yang salah dan dapat memutuskan. Allah SWT berfirman:
Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. (Al Qashash 14)
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al Israa’ 70)
Dengan karunia-Nya kepada manusia dan ditundukkan-Nya semua makhluk di langit dan di dunia untuk manusia, maka Allah SWT menghendaki manusia memakmurkan dan memelihara bumi dengan perbuatan sebagai berikut:
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar Rahmaan 7-9)
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya. (Asy Syu’araa’ 183)
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan yang keji, kemungkaran dan permusuhan. (An Nahl 90)
Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al A’raaf 74)
Selain itu, karena All;ah SWT telah menetapkan ketentuan-Nya dan agama-Nya bagi semua makhluk ciptaan-Nya, maka Dia menghendaki manusia melaksanakan amanah di kehidupan dunia dengan mengiikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Tilmidzi: “Bagaimana manusia dapat mengetahui agama Allah baginya itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Allah SWT memberitahukan agama-Nya kepada manusia melalui ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya. Rasul menjelaskan ayat-ayat-Nya itu kepada umat Rasul (manusia). Allah SWT lalu perintahkan manusia untuk mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya ketika mereka melaksanakan amanah dalam perjalanan hidupnya di kehidupan dunia. Siapa yang mengikuti ayat-ayat-Nya atau mendustakan ayat-ayat-Nya atau menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia, maka dia akan mendapati dirinya dalam kebaikan atau keburukan di dunia dan di akhirat. Ayat-ayat-Nya itu merupakan kalam-Nya atau keterangan-Nya yang menjelaskan perkara-perkara yang tidak diketahui oleh manusia, termasuk perkara tentang Dia, agama-Nya, syariat agama-Nya dan jalan-Nya, tentang semesta alam yang terdiri dari kehidupan dunia dan akhirat, dan tentang musuh manusia. Allah SWT berfirman:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ’Alaq 1-5)
Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)
Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al Maa-idah 48)
Tilmidzi: “Apakah aturan dan jalan yang terang dalam firman-Nya di atas itu?”
Mudariszi: “Aturan yang terang dalam firman-Nya di atas yaitu peraturan (syariat) agama-Nya, sedangkan jalan yang terang yaitu jalan-Nya yang lurus. Aturan (syariat) dan jalan yang terang itu bagian dari agama-Nya. Allah SWT menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya kepada setiap umat Rasul (manusia) melalui Rasul-Rasul-Nya. Agama-Nya itu agama tauhid yaitu agama yang bersih dari syirik dan jalan-Nya itu adalah jalan yang lurus. Allah SWT berfirman:
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. (Al An’aam 126)
Keadaan (lingkungan) kehidupan di masa setiap umat Rasul itu tidak sama. Hal itu menghendaki Allah SWT memberikan syariat agama-Nya kepada setiap umat Rasul tidak sama. Meskipun syariat agama-Nya bagi umat Rasul itu tidak sama, tapi agama-Nya dan jalan-Nya tidak berbeda. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu.” (An Nahl 36)
Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. (Az Zukhruf 64)
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semua (kepada jalan yang benar). (An Nahl 9)
Tilmidzi: “Apakah jalan-jalan yang bengkok dalam firman-Nya di atas itu?”
Mudariszi: “Jalan-jalan yang bengkok yaitu jalan-jalan yang diada-adakan oleh Iblis dan pengikutnya yaitu syaitan dari golongan jin dan manusia. Tujuannya untuk menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan-Nya yang lurus agar perbuatan mereka ketika menjalani hidupnya di dunia tidak mengikuti syariat agama-Nya. Jika mereka menyukai jalan yang bengkok, maka perbuatan mereka akan banyak mendurhakai syariat agama-Nya, sehingga cepat atau lambat mereka akan melupakan-Nya dan agama-Nya. Mereka dapat menjadi terbiasa dengan perbuatannya yang buruk itu hingga menganggap benar perbuatannya itu. Jika telah demikian, maka mereka telah sesat, dan itulah keinginan Iblis yang dimintainya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi.” (Al Hijr 39)
Orang-orang yang menempuh jalan yang bengkok ketika menjalani hidupnya di dunia itu berarti mereka mengkhianati amanah karena mereka berbuat dengan tidak mengikuti agama-Nya atau syariat agama-Nya. Mereka itu orang-orang kafir yang ingin ke neraka (atau tidak mau ke surga). Ketika masuk neraka, mereka tidak dapat menyalahkan-Nya karena Dia telah menjelaskan kepada mereka melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. Mereka tidak akan dikembalikan-Nya ke dunia untuk berbuat baik (beramal saleh). Allah SWT berfirman:
Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mu’min.” (Al Qashash 47)
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripada-Ku: “Sesungguhnya akan Aku penuhi nereka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (Hari Kiamat); sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (As Sajdah 12-14)
Tilmidzi: “Apakah jalan yang lurus itu?”
Mudariszi: “Jalan yang lurus yaitu jalan Allah untuk manusia yang melaksanakan amanah dengan mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya ketika manusia berbuat (beramal) dalam perjalanan hidupnya di dunia. Karena Iblis ingin menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus, Allah SWT lalu berjanji akan menjaga orang-orang yang mengikuti-Nya dan agama-Nya. Orang-orang itu yang dikehendaki-Nya untuk Dia tunjuki kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT langsung yang akan menunjuki mereka kepada jalan-Nya yang lurus. Tiada siapapun kecuali Allah SWT yang dapat memberikan petunjuk (taufiq hidayah) kepada manusia kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah 272)
Allah SWT menunjuki orang-orang yang dikehendaki-Nya atau yang mengikuti-Nya (mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya) dengan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya. Dalam ayat-ayat-Nya itu terdapat penjelasan jalan kebaikan dan kejahatan, jalan orang-orang yang saleh dan yang berdosa. Allah SWT berfirman:
Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 126-127)
Orang-orang yang ingin kebaikan bagi dirinya dan ingin ke surga, maka mereka akan menjalani hidupnya di dunia dengan mengambil jalan-Nya yang lurus. Mereka akan berbuat (beramal) mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya. Mereka itulah orang-orang beriman yang dikehendaki-Nya untuk Dia tunjuki kepada jalan-Nya yang lurus. Mereka akan memegang teguh agama-Nya dan berbuat sebaik mungkin di jalan-Nya tanpa mengikuti jalan-jalan yang bengkok ketika mereka menjalani hidupnya di dunia, hingga mereka sampai kepada-Nya di surga di akhirat. Allah SWT berfirman:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)
Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al Insaan 29)
Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (Al An’aam 39)
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Dari Shuhaib dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Apabila ahli surga sudah masuk surga, maka Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan kepada kalian?” Mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Lalu Allah menyingkapkan tirai, maka tidak ada sesuatupun yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada memandang kepada Tuhan mereka Azza wa Jalla.” Setelah itu Rasulullah SAW membaca ayat berikut ini (surat Yunus ayat 26): “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (yaitu kenikmatan melihat Allah).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah manusia dapat melaksanakan amanah dengan baik dan benar karena adanya syaitan yang ingin menyesatkan manusia?”
Mudariszi: “Adanya syaitan membuat manusia tidak mudah untuk melaksanakan amanah dengan baik. Melaksanakan amanah menjadi tantangan (cobaan) bagi manusia agar selamat hidup di dunia dan di akhirat. Syaitan menipu manusia tentang Allah SWT dengan menggunakan kehidupan dunia agar manusia menyembah tuhan selain Dia dan selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Syaitan menipu manusia tanpa henti-hentinya terlebih lagi jika diketahuinya ada yang ingin mengetahui Tuhannya dan yang menginginkan kesenangan dunia. Syaitan ingin supaya manusia menyekutukan-Nya dan tidak menyembah-Nya (tidak mengikuti agama-Nya). Jika ada yang mengikuti agama-Nya, maka dia akan ditipu oleh syaitan agar tidak mengikuti syariat agama-Nya dan jalan-Nya. Jika mereka mengikuti syaitan, maka mereka akan ditipu oleh syaitan agar mernjadi sesat sejauh-jauhnya. Allah SWT berfirman:
Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. (Al Hajj 52)
Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis yang ingin menyesatkan manusia karena Dia hendak mengetahui orang-orang yang beriman dan orang-orang yang ragu-ragu kepada kehidupan akhirat ketika mereka melaksanakan amanah di kehidupan dunia. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba’ 20-21)
Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nuur 21)
Adapan kehidupan dunia itu dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)
Karena itu Allah SWT peringatkan manusia yang melaksanakan amanah dalam berbuat (beramal) ketika menjalani hidupnya di dunia berikut ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)
Tilmidzi: “Bagaimana tipu daya syaitan yang menyesatkan itu hingga menjadi cobaan bagi manusia dalam berbuat ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Syaitan mengetahui manusia tidak dapat melihat Allah SWT dan tidak dapat berbicara dengan-Nya. Syaitan juga mengetahui manusia tidak dapat melihat syaitan tapi syaitan dapat melihat manusia dan berbicara dengan manusia. Allah SWT berfirman:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. (Al An’aam 103)
Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (An Naba’ 37)
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)
Keadaan manusia terhadap Allah SWT dan syaitan itu dimanfaatkan oleh syaitan dalam menipu manusia agar manusia menyembah tuhan selain Dia atau menyekutukan-Nya. Sehingga, hal itu menjadi cobaan bagi manusia dalam mengetahui Tuhannya yang benar. Selain itu, Allah SWT menetapkan takdir bagi setiap orang yang lahir ke dunia dan setiap orang tidak mengetahui takdirnya. Syaitan memanfaatkan takdir-Nya dan keadaan manusia itu dalam menipu manusia sehingga takdir-Nya menjadi cobaan bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. (Al An’aam 165)
Dari Thawus, sesungguhnya dia berkata: “Aku mendapati beberapa orang dari sahabat Rasulullah pernah mengatakan: “Segala sesuatu itu karena takdir.” Aku juga pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Segala sesuatu itu karena takdir, termasuk juga ketidak mampuan dan kecerdikan, atau kecerdikan dan ketidak mampuan.” (HR Muslim)
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (Ali ‘Imran 140)
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al Hadiid 22-24)
Allah SWT menjadikan kehidupan dunia dengan berbagai kenikmatan yang dapat membuat manusia menjadi senang atau sedih (susah). Allah SWT juga menjadikan manusia dengan tidak dapat menahan hawa nafsunya. Syaitan memanfaatkan kehidupan dunia dan keadaan manusia itu dalam menipu manusia sehingga kehidupan dunia dan hawa nafsu menjadi cobaan bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan-Nya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu.” (HR Muslim)
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. (Ali ‘Imran 14)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. (Al Baqarah 155)
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan. (Al Anfaal 28)
Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. (Al Furqaan 20)
Allah SWT dan syaitan yang tidak terlihat (ghaib), takdir-Nya, kehidupan dunia dan keadaan manusia itu berakibat kepada manusia dalam berkeinginan dan berbuat (beramal) yang baik atau yang buruk (jahat). Sehingga, baik atau buruknya perbuatan manusia itu terjadi karena adanya Allah SWT dengan agama-Nya dan adanya Iblis dan syaitan. Contoh Dia perintahkan manusia untuk mengikuti agama-Nya dan melarang mengikuti syaitan, sedangkan syaitan perintahkan manusia agar mengikutinya dan bukan mengikuti Dia dan agama-Nya. Dan hal itu membuat syariat agama-Nya (perintah dan larangan) dan syaitan menjadi cobaan bagi manusia dalam berbuat (beramal) ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). (Al Insaan 2)
Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. (Al Hajj 53)
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). (Al Anbiyaa’ 35)
Sehingga, amanah yang dipikul oleh manusia itu merupakan ujian (cobaan) bagi manusia dalam berbuat (beramal) ketika menjalani hidupnya di dunia agar mereka dapat ke surga dan sampai kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al Mulk 2)
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 7)
Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia itu adalah seperti buah-buahan yang hijau dan manis. Sesungguhnya Allah menunjuk kalian untuk menjadi khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana yang kalian lakukan. Takutlah pada dunia.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan agama Allah yang sekarang ini?”
Mudariszi: “Allah SWT telah mengutus Rasul-Rasul dari sejak Nabi Adam kepada umat manusia yang menjalani hidupnya di dunia. Rasul-Rasul diperintahkan-Nya agar menyeru umat manusia untuk menyembah-Nya dengan mengikuti agama-Nya. Tapi syaitan menyesatkan umat Rasul sehingga kebanyakan mereka kafir kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu.” (An Nahl 36)
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk). (An Nahl 63)
Karena kehidupan dunia memiliki jangka waktu, Allah SWT lalu mengutus Rasul (Nabi) terakhir dengan diberikan Kitab-Nya (ayat-ayat-Nya). Allah SWT mengutus Rasulullah SAW kepada umat manusia dan Dia memberikan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk manusia hingga kiamat. Allah SWT berfirman:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)
Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh). (Al Waaqi’ah 77-78)
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Rasulullah SAW menjelaskan Al Qur’an kepada manusia termasuk menjelaskan agama-Nya, syariat agama-Nya, jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berrfirman
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Sehingga agama-Nya yang terakhir hingga kiamat untuk manusia yaitu agama Islam. Selain agama Islam tidak akan diterima-Nya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ‘Imran 19)
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT berikan tugas kepada manusia yang berbeda-beda itu dalam melaksanakan amanah di dunia yang harus dipertanggung jawabkannya ketika di akhirat?”
Mudariszi: “Takdir Allah pada setiap orang (manusia) menjadikan manusia tidak ada yang sama dalam berpendapat dan berusaha. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat. (Adz Dzaariyaat 8)
Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. (Al Lail 4)
Karena itu Allah SWT lalu tetapkan bagi manusia yang melaksanakan amanah di dunia yang harus dipertanggung jawabkannya di akhirat yaitu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW ini:
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggauta keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap mereka. Seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin bagi harta suruhannya, dan dia juga akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan ingat, setiap kamu adalah pemimpin. Setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang kamu pimpin.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW menjelaskan setiap kamu (manusia) itu pemimpin karena khalifah dapat juga berarti pemimpin. Pertanggungan jawaban setiap pemimpin atau setiap orang (manusia) kepada Allah SWT itu pada hari kiamat di akhirat.”
Wallahu a’lam.