Dialog Seri 18: 9
Tilmidzi: “Bagaimana rakyat terhadap Raja atau Khalifah (pemimpin negeri)?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hazim, dia berkata: “Selama lima tahun aku berkawan dengan Abu Hurairah dan aku pernah mendengar dia menceritakan suatu hadits dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Qrang-orang Bani Israil itu selalu diatur oleh para Nabi. Seorang Nabi meninggal dunia akan digantikan oleh seorang Nabi yang lainnya. Tetapi sesungguhnya tidak akan ada Nabi sama sekali sesudahku. Dan kelak akan bermunculan para Khalifah.” Para sahabat bertanya: “Lantas apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Rasulullah SAW menjawab: “Penuhilah pembai’atan yang pertama kemudian seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungan jawab terhadap kepemimpinan mereka.” (HR Muslim)
Perintah Rasulullah SAW untuk memenuhi hak-hak Khalifah dalam sunnah beliau di atas menunjukkan bahwa rakyat harus mentaati Khalifah.”
Tilmidzi: “Bagaimana jika terjadi ada dua pemimpin (dua Khalifah)?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Said Al Khudri, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila pembai’atan dilaksanakan kepada dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir di antara keduanya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Khalifah yang sah adalah Khalifah yang pertama.”
Tilmidzi: “Bagaimana jika dua Khalifah itu berlanjut kepada peperangan?”
Mudariszi: “Khalifah pertama mengajak untuk berdamai dengan bermusyawarah mengikuti perintah-Nya ini:
Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat 10)
Jika Khalifah kedua menolak untuk berdamai hingga terjadi perang, Khalifah pertama dibenarkan untuk memeranginya karena Khalifah kedua telah berlaku aniaya. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al Hujuraat 9)
Tilmidzi: “Bagaimana ketaatan rakyat kepada Khalifah itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku berarti dia taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti dia durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin, maka berarti dia taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin, maka berarti dia durhaka kepadaku.” (HR Muslim)
Dari Yahya bin Hushain, dia berkata: “Aku mendengar nenekku bercerita, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah SAW pernah berkhotbah dalam waktu Haji wada. Beliau bersabda: “Sekalipun seorang hamba yang ditugaskan mengurus kalian namun dia menuntun kalian berdasarkan Kitab Allah, maka kalian harus tetap tunduk dan taat kepadanya.” (HR Muslim)
Rakyat harus taat kepada Khalifah itu termasuk harus taat juga kepada pembantu Khalifah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Hajjaj bin Muhammad, dia berkata: “Menurut Ibnu Juraij, turunnya firman Allah (surat An Nisaa’ ayat 59): “Wahai orang-orang yang beriman. Taatlah kamu kepada Allah, taatlah kamu kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara kamu”, adalah menyinggung atau gara-gara Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi As Sahmi, yang diutus oleh Rasulullah SAW dalam suatu pertempuran. Demikian hal itu diceritakan kepadaku oleh Ya’la bin Muslim dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas.” (HR Muslim)
Dari Ubadah bin Al Walid bin Ubadah dari Ayahnya dari kakeknya, dia berkata: “Kami membai’at kepada Rasulullah SAW untuk selalu tunduk dan taat dalam kesulitan dan kemudahan, dalam suka maupun duka, serta dalam hal-hal yang mengalahkan kepentingan kami, untuk tidak mempersoalkan perkara yang sudah berada di tangan ahlinya, dan untuk tetap senantiasa mengatakan yang benar dimana pun kami berada. Demi kepentingan Allah, kami tidak akan takut cercaan orang yang memang tukang mencerca.” (HR Muslim)
Rakyat tidak harus mentaati Khalifah dan pembantu Khalifah jika disuruh berbuat maksiat atau disuruh melakukan kekufuran. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata: “Satu hari kami menjenguk Ubadah bin Shamit yang sedang jatuh sakit. Kami katakan padanya: “Ceritakan kepada kami suatu hadits yang anda dengar dari Rasulullah SAW. Mudah-mudahan saja Allah memberinya manfaat dan memberikan kebajikan kepada anda.” Ubadah lalu bercerita: “Rasulullah SAW memanggil kami. Kami lalu membai’at beliau. Di antara yang beliau tekankan kepada kami ialah, supaya kami bersumpah setia untuk selalu tunduk dan taat dalam suka maupun duka kami, dalam kesulitan dan kemudahan kami, bahkan dalam sesuatu yang harus mengalahkan kepentingan kami sekalipun. Di samping itu aku juga ditekankan supaya tidak perlu mempersoalkan suatu perkara yang sudah berada di tangan ahlinya. Selanjutnya beliau bersabda: “Kecuali kalau kamu melihat kekufuran yang terang-terangan berada di sampingmu dan mengabaikan kepentingan Allah.” (HR Muslim)
Dari Ali, dia berkata: “Rasulullah SAW mengirim rombongan pasukan, dan beliau menugaskan seorang lelaki dari kaum Anshar sebagai komandannya. Beliau menyuruh mereka untuk mendengar dan taat kepada komandannya tersebut. Entah karena apa, yang jelas sang komandan tersebut menjadi marah oleh ulah anak buahnya. Dia lalu menyuruh mereka untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah terkumpul dia berkata: “Nyalakanlah api.” Setelah api dinyalakan dia bertanya kepada mereka: “Bukankah Rasulullah SAW menyuruh kalian untuk selalu patuh dan taat?” Mereka menjawab dengan serentak: “Betul.” Dia lalu mengatakan: “Sekarang masukilah api itu.” Mendengar perintah itu, mereka satu sama lain saling memandang. Mereka lalu berkata: “Kami akan menghindari api ini. Kami akan pergi menemui Rasulullah SAW.” Melihat sikap mereka tersebut, kemarahan sang komandan tersebut menjadi reda bersamaan dengan redanya api. Ketika rombongan sudah pulang, mereka lalu menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Mendengar laporan itu beliau bersabda: “Kalau sampai kamu jadi memasuki api tersebut, niscaya kamu tidak akan bisa keluar daripadanya. Sesungguhnya taat itu hanya terbatas pada sesuatu yang baik dan patut saja.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah rakyat harus tetap taat kepada Khalifah yang zalim dan mengambil hak-hak rakyatnya?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdullah, dia mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Sepeninggalanku nanti akan muncul pemimpin-pemimpin yang tidak kamu sukai.” Para sahabat sama bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang Anda perintahkan sekiranya hal itu benar-benar terjadi pada kami?” Rasulullah SAW menjawab: “Penuhilah kewajiban yang dibebankan kepadamu, dan mohonlah kepada Allah atas hakmu.” (HR Muslim)
Dari Alqamah bin Wa-il Al Hadrami dari Ayahnya, dia mengatakan: “Salamah bin Yazid Al Ju’fi bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Nabi Allah, bagaimana pendapat Anda jika ada di tengah-tengah kami para pemimpin yang suka menuntut haknya kepada kami, akan tetapi enggan memberikan hak kami yang ada pada mereka, apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Ternyata Rasulullah SAW berpaling darinya. Bahkan ketika pertanyaan tersebut sampai ketiga kalinya, beliau masih tetap diam saja. Setelah didesak oleh Al Asy’ats bin Qais akhirnya beliau mau menjawab juga: “Tunduk dan taatlah. Sesungguhnya mereka akan menanggung perbuatannya sendiri, dan kamu pun akan menanggung perbuatanmu sendiri.” (HR Muslim)
Dari Usaid bin Hudhair, sesungguhnya seorang lelaki dari kaum Anshar seorang diri menemui Rasulullah SAW dan bertanya: “Apakah Anda tidak menugaskan aku seperti Anda menugaskan si polan?” Rasulullah SAW bersabda: “Sepeninggalanku nanti kamu akan mendapati para pemimpin yang egois. Bersabarlah kamu sampai kita ketemu di telaga kelak.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah rakyat dibenarkan untuk memerangi dan membunuh Khalifah zalim itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ummu Salamah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Bakal muncul para pemimpin yang tidak kamu sukai dan kamu ingkari. Barangsiapa yang tidak menyukainya, maka dia akan terbebas dari dosanya, dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka dia akan selamat. Kecuali orang yang ridha dan mengikuti.” Para sahabat bertanya: “Apakah kami boleh membunuh mereka?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak, selama mereka melakukan sembahyang.” (HR Muslim)
Dari Auf bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Pemimpin-pemimpinmu yang baik ialah mereka yang kamu cintai, merekapun mencintai kamu, yang dekat dengan kamu dan kamu pun dekat dengan mereka. Sedang pemimpin-pemimpin kamu yang jahat ialah mereka yang kamu benci dan mereka pun membenci kamu, yang kamu kutuk dan mereka pun mengutuk kamu.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh melawan mereka dengan pedang?” Rasulullah SAW menjawab: “Jangan, selagi mereka masih melakukan sembahyang di tengah-tengah kamu. Apabila kamu melihat sesuatu yang tidak kamu sukai pada para pemimpin kamu, maka kamu boleh membenci amal perbuatannya saja, tetapi janganlah kamu melepaskan tangan dari ketaatan.” (HR Muslim)
Menghadapi Khalifah yang zalim, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk bersabar dan tetap dalam persatuan jamaah (rakyat) yang telah mengangkat Khalifah tersebut. Jika ada sekelompok rakyat yang memisahkan diri dari persatuan jama’ah dan melawan Khalifah membela kelompoknya, maka Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak menyenangkannya pada pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena sesungguhnya orang yang memisahkan diri dari jama’ah barang sejengkal saja lalu dia mati, maka kematiannya adalah seperti kematian orang-orang Jahiliyah.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari taat dan memisahkan diri dari jama’ah lalu dia mati, maka matinya adalah mati secara Jahiliyah. Barangsiapa yang berperang secara membabi buta dan dengan emosi karena membela atau mempertahankan marganya lalu dia terbunuh, maka dia terbunuh secara Jahiliyah. Dan barangsiapa yang memusuhi ummatku sehingga dia pukul mereka semua tanpa mempedulikan orang-orang yang seharusnya dijamin keamanan mereka dan juga tanpa mengabaikan janji yang telah dia buat sendiri, maka dia bukan termasuk aku dan aku pun bukan termasuk daripadanya.” (HR Muslim)
Dari Nafi, dia berkata: “Satu hari Abdullah bin Umar berkunjung ke rumah Abdullah bin Muthi. Saat itu tengah terjadi ketegangan situasi politik pada zaman pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah. Kepada pelayannya, Abdullah bin Muthi menyuruh untuk mempersilahkan dan melayani tamunya tersebut. Akan tetapi Abdullah bin Umar segera berkata: “Jangan. Sesungguhnya aku menemuimu bukan untuk bertamu. Aku hanya ingin menceritakan kepadamu sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah SAW. Betul, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang melepas tangan dari ketaatan, maka pada hari kiamat kelak dia akan bertemu Allah dalam keadaan tidak punya hujjah sama sekali. Dan barangsiapa yang meninggal dunia sedang pada lehernya tidak ada bai’at, maka kematiannya adalah seperti kematian orang-orang Jahiliyah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana jika rakyat mendapati tidak ada persatuan jamaah?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Busr bin Ubaidillah Al Hadhrami, sesungguhnya dia mendengar Abu Idris Al Khaulani pernah mengatakan: “Aku pernah mendengar Abu Hudzaifah Al Yamani mengatakan: “Orang-orang sama bertanya kepada Rasulullah SAW tentang masalah kebajikan, sedangkan aku justru bertanya kepada beliau tentang keburukan. Karena takut disangka yang bukan-bukan, bergegas aku katakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami pernah berada pada zaman Jahiliyah dan keburukan. Lalu Allah berkenan membawakan kebajikan ini kepada kami. Apakah setelah kebajikan ini nanti akan ada lagi keburukan?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Apakah setelah keburukan itu lalu ada lagi kebajikan?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya, tapi ada yang menodainya.” Aku bertanya: “Apa itu maksudnya?” Rasulullah SAW menjawab: “Kelak ada suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku, memberikan petunjuk dengan selain petunjukku, dan di antara mereka ada yang kamu kenal juga ada yang tidak kamu kenal.” Aku bertanya lagi: “Apakah setelah kebajikan itu nanti akan ada lagi keburukan?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya. Kelak akan muncul para penyeru (da’i) yang mengajak ke pintu-pintu neraka Jahannam. Barangsiapa yang menyambut ajakan mereka, maka dia akan celaka di dalamnya.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, terangkan kepada kami siapa mereka itu.” Rasulullah SAW bersabda: “Baiklah. Mereka adalah kaum yang kulitnya sama dengan kita dan berbicara dengan memakai bahasa kita.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa pendapat Anda jika hal itu sampai aku alami? Apa yang harus aku lakukan?” Rasulullah SAW menjawab: “Kamu harus tetap bersama jama’ah kaum muslimin dan imam atau pemimpin mereka.” Aku bertanya: “Kalau kaum muslimin itu tidak memiliki jama’ah dan juga seorang imam, bagaimana?” Rasulullah SAW bersabda: “Maka kamu boleh mengasingkan diri sepenuhnya. Sekalipun sambil menggigit akar pohon sampai mati, lebih baik kamu terus begitu.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah rakyat boleh meminta jabatan sebagai pembantu Khalifah?”
Mudariszi: “Rakyat sebaiknya tidak meminta jabatan kepada Khalifah karena jabatan di pemerintahan itu merupakan tugas dengan tanggung jawab yang besar (berat) karena melibatkan perkara amanah, kesejahteraan dan keamanan rakyat, dan pengetahuan syariat agama Islam. Kecuali jika rakyat itu diminta oleh Khalifah untuk menjadi pembantunya karena dia memiliki ilmu dan keahlian. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Samurah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Wahai Abdurrahman! Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak menjadi masalah bagimu.” (HR Muslim)
Dari Abu Dzar, dia berkata: “Pernah aku berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mau menugaskan aku?” Sambil menepuk pundakku beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu ini lemah sekali. Sedangkan tugas yang ingin kau minta itu merupakan amanah. Pada hari kiamat kelak ia merupakan sesuatu yang bakal mendatangkan kenistaan dan penyesalan. Kecuali bagi orang yang mau mengembannya dengan benar dan memenuhi semua kewajiban yang dibebankan padanya.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW tidak akan memberikan jabatan kepada seseorang yang sangat menginginkannya, sebagai berikut:
Dari Abu Musa, dia berkata: “Aku menemui Rasuluillah SAW ditemani oleh dua orang lelaki dari keponakanku. Salah seorang keponakan itu berkata: “Wahai Rasulullah, jadikan aku pemimpin atas sebagian apa yang telah dikuasakan oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung kepada Anda.” Yang satunya lagi juga mengatakan hal yang sama. Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, aku tidak akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang pun yang memintanya, apalagi kepada seseorang yang amat loba padanya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah rakyat juga harus mentaati pembantu Khalifah tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Karena pembantu Khalifah itu adalah pemimpin yang mengurus bidang tertentu yang merupakan tanggung jawab Khalifah. Karena itu rakyat harus mentaati pembantu Khalifah seperti mentaati Khalifah, dan itu telah dijelaskan di atas. Bersamaan dengan itu, pembantu Khallifah mempunyai tanggung jawab seperti Khalifah sekalipun terbatas atas bidangnya saja. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Syumamah, dia berkata: “Aku menemui Aisyah untuk menanyakan sesuatu kepadanya. Aisyah bertanya kepadaku: “Siapakah kamu ini?” Aku jawab: “Aku adalah seorang lelaki penduduk Mesir.” Ia bertanya: “Bagaimana sikap pemimpin kamu di negerimu sana?” Aku jawab: “Aku kira kami semua menyukainya. Dia begitu dermawan. Apabila ada seorang di antara kami yang unta atau budaknya mati, dia biasa memberikan ganti. Bahkan dia tidak segan-segan memberikan bantuan nafkah kepada yang memerlukannya.” Ia berkata: “Aku tidak perduli terhadap apa yang telah dilakukan kepada saudaraku sendiri yaitu Muhammad bin Abu Bakar. Namun aku ingin memberitahukan kepadamu sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah SAW. Satu hari di rumahku ini, beliau pernah bersabda: “Ya Allah, barangsiapa yang menjadi pemimpin ummatku dalam bidang apapun lalu dia menyusahkan mereka, maka balaslah perbuatannya itu. Dan barangsiapa yang menjadi pemimpin ummatku dalam bidang apapun lalu dia berlaku lembut kepada mereka, maka juga balaslah perbuatannya tersebut.” (HR Muslim)
Dari Abu Al Malih, sesungguhnya Ubaidillah bin Ziyad menjenguk Ma’qil bin Yasar yang sedang sakit. Ma’qil berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku ingin menceritakan kepadamu suatu hadits yang seandainya aku tidak merasa sebentar lagi akan meninggal dunia, maka tidak akan aku ceritakan kepadamu. Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap pemimpin yang menguasai urusan kaum muslimin namun dia tidak mau memberikan nasehat dan tidak mau pula bekerja keras atau bersusah payah untuk mereka, maka dia tidak akan bisa masuk surga bersama mereka.” (HR Muslim)
Pembantu Khalifah yang bekerja tidak amanah (jujur), maka dia akan menanggung sendiri akibatnya ketika di akhirat. Rasulullah SAW menjelaskan perkara itu sebagai berikut:
Dari Ady bin Amirah Al Kindi, dia berkata: “Aku pernah mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa di antara kamu yang aku tugaskan melakukan suatu pekerjaan lalu dia menyembunyikan sebatang jarum atau yang lebih, maka pada hari kiamat nanti dia akan datang sebagai seorang yang korupsi.” Seorang lelaki berkulit hitam dari kaum Anshar tiba-tiba berdiri mendekati Rasulullah SAW dan hal itu sempat aku perhatikan terus. Laki-laki itu berkata: “Wahai Rasulullah, tarik kembali tugas yang pernah Anda bebankan kepadaku.” Rasulullah SAW bertanya: “Ada apa denganmu?” Laki-laki itu menjawab: “Aku mendengar Anda bersabda begini-begini.” Rasulullah SAW bersabda: “Sekarang aku nyatakan hal itu. Barangsiapa di antara kamu yang aku tugaskan melakukan suatu pekerjaan, maka hendaklah dia lakukan sepenuhnya dengan jujur. Apa yang memang diberikan untuknya dia boleh mengambil, tetapi apa yang dilarang darinya dia harus menahan diri.” (HR Muslim)
Dari Abu Humaid As Sa’idi, dia berkata: “Rasulullah SAW menugaskan seorang lelaki dari suku Al Azdi untuk mengurus sedekahnya Bani Sulaim. Lelaki itu biasa dipanggil Ibnu Lutbiyah. Begitu tiba dari melaksanakan tugasnya, dia langsung mengadakan perhitungan hasilnya. Dia mengatakan: “Ini harta Anda, dan ini merupakan hadiah.” Rasulullah SAW lalu bersabda: “Kenapa kamu tidak duduk-duduk saja di rumah Ayah dan Ibumu sampai datang kepadamu hadiahmu, apabila kamu orang yang jujur?” Kemudian beliau berpidato di hadapan kami. Setelah memanjatkan puja-puji kepada Allah, selanjutnya beliau bersabda: “Syahdan. Sesungguhnya aku menugaskan seorang di antara kamu untuk melakukan suatu pekerjaan yang dikuasakan oleh Allah kepadaku. Kembali dari tugasnya, orang itu berkata: “Ini harta Anda dan ini hadiah yang diberikan untukku.” Lalu aku katakan, apakah tidak sebaiknya dia duduk-duduk saja di rumah Ayah dan Ibunya sampai datang hadiah kepadanya, jika dia memang orang yang benar? Demi Allah, siapapun di antara kamu yang mengambil sesuatu daripadanya yang bukan haknya, maka pada hari kiamat kelak Allah akan menemuinya dengan menanggung beban yang cukup berat. Sungguh aku akan mendapati salah seorang kamu bertemu dengan Allah sambil membawa seekor unta atau seekor lembu yang melenguh atau seekor kambing yang mengembik.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya cukup tinggi sampai kelihatan kedua ketiaknya yang berwarna putih. Selanjutnya beliau bersabda: “Ya Allah, bukankah telah aku sampaikan?” Peristiwa itu aku lihat dengan mata kepalaku dan aku dengar dengan dua telingaku sendiri.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.