Dialog Seri 18: 11
Tilmidzi: “Bagaimana dapat terjadinya perang di antara manusia di dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menghendaki adanya perang karena Dia melarang manusia membunuh jiwa (termasuk manusia) kecuali dengan alasan yang benar. Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (An Nisaa’ 29)
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). (Al An’aam 151)
Penyebab terjadinya perang di antara manusia hingga mereka saling berbunuhan adalah Iblis. Iblis telah bersumpah akan menyesatkan manusia dari menyembah (mengikuti) Allah SWT (atau dari mengikuti agama-Nya yang benar atau dari mengikuti jalan-Nya yang lurus) hingga kiamat. Allah SWT berfirman:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Iblis menipu dan menghasut manusia agar mereka meninggalkan Allah SWT, agama-Nya dan syariat agama-Nya yang Dia jelaskan dalam ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dan melalui Rasul-Nya (sunnah Rasul-Nya). Allah SWT berfirman:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raaf 33)
Tilmidzi: “Bagaimana Iblis melakukan tujuannya tersebut di atas?”
Mudariszi: “Salah satu cara Iblis menyesatkan manusia yaitu Iblis menimbulkan permusuhan di antara manusia, sebagai berikut:
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. (Al Maa-idah 91)
Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad 2)
Iblis timbulkan permusuhan di antara manusia dengan bantuan pengikutnya (syaitan-syaitan dari golongan manusia) yaitu orang-orang kafir dan fasik. Allah SWT berfirman:
Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjaga (melindungi) orang-orang beriman dari syaitan yang menyesatkan?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Janji Allah di atas tersebut yang membuat orang-orang beriman yang berjumlah sedikit, dapat bertahan hidup dari orang-orang kafir yang berjumlah sangat banyak. Di awali oleh kaum Nabi Nuh, dimana Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya selama:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. (Al ‘Ankabuut 14)
Kebanyakan kaum Nabi Nuh tidak mau mendengar dan mengikuti Nabi Nuh. Mereka mengikuti syaitan dengan menyembah tuhan berhala (atau menyekutukan-Nya) dan mereka menjadi kafir. Nabi Nuh dan pengikutnya seringkali di aniaya oleh kaumnya yang kafir karena mereka tak henti-hentinya menyeru kaumnya agar tidak menyembah tuhan selain Allah SWT. Nabi Nuh akhirnya minta kepada Allah SWT dan Dia kabulkan permintaan beliau, yaitu permintaan sebagai berikut:
Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Nuh 26-27)
Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Huud 36-37)
Allah SWT kabulkan permintaan Nabi Nuh dengan Dia tenggelamkan semua orang kafir yang ada di bumi, karena bumi itu Dia peruntukkan bagi orang-orang yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al Anbiyaa’ 105)
Pengabulan-Nya itu Dia jadikan sebagai pelajaran bagi orang-orang (manusia) yang lahir kemudian agar mereka tidak kafir kepada-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (Al ‘Ankabuut 15)
Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 15)
Tilmidzi: “Apakah setelah itu tidak ada lagi orang-orang kafir dari manusia (orang-orang) yang dilahirkan kemudian (lahir setelah kaum Nabi Nuh)?”
Mudariszi: “Setelah banjir besar yang menenggelamkan seluruh orang-orang kafir, maka bumi lalu dihuni oleh orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang bersana Nabi Nuh di kapal (di bahtera) ketika banjir besar. Allah SWT berfirman:
Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. (Asy Syu’araa’ 119)
Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)
Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)
Setelah sekian waktu menjalani hidup, keturunan orang-orang beriman itu ada yang menjadi kafir, mereka menyembah tuhan berhala. Allah SWT lalu mengutus Rasul yang menjelaskan kepada kaum tersebut agar tidak menyembah tuhan selain Allah SWT dan agar taat mengikuti Rasul-Nya. Tapi seperti kaum Nuh, hanya sedikit kaum Rasul tersebut yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya. Sehingga Allah SWT lalu membinasakan kaum kafir itu, tanpa membinasakan orang-orang beriman agar mereka menurunkan orang-orang beriman. Setelah berjalan waktu, keturunan orang-orang beriman itu lalu ada yang menjadi kafir, mereka menyembah tuhan berhala. Allah SWT lalu mengutus Rasul kepada mereka. Tapi kaum Rasul itu kembali menolak menyembah-Nya dan menolak mengikuti Rasul-Nya, hingga mereka dibinasakan-Nya kecuali orang-orang beriman. Keadaan itu terjadi berulang-kali pada keturunan orang-orang beriman (dari kaum Nabi Nuh) dan Dia utus pula sejumlah Rasul kepada mereka. Al Qur’an menjelaskan Rasul yang Dia utus kepada kaumnya yang kafir, yaitu Nabi Huud, Nabi Shaleh, Nabi Luth, Nabi Syu’aib. Allah SWT berfirman:
Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa Rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka Rasul-Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata. (Yunus 74)
Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)
Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaannya)? (Qaaf 36)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT akan terus membinasakan kaum-kaum yang kafir hingga kiamat?”
Mudariszi: “Tidak! Allah SWT telah menetapkan bahwa perselisihan manusia di dunia itu akan diputuskan-Nya di akhirat. Allah SWT berfirman:
Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada pada sisi Tuhanmu dahulu (perselisihan di dunia diputuskan di akhirat), pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (Yunus 19)
Kaum-kaum yang telah dibinasakan oleh Allah SWT sebelumnya itu juga orang-orang yang berselisih di antara mereka setelah datang ayat-ayat-Nya kepada mereka melalui Rasul-Nya. Tapi hampir semua dari mereka menolak ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, dan itu berarti mereka menolak menyembah-Nya dan tetap menyembah tuhan berhala (menyekutukan-Nya). Allah SWT lalu binasakan kaum-kaum itu agar tidak bertambah orang-orang kafir serta tidak lenyap agama-Nya dan orang-orang beriman. Allah SWT kemudian menurunkan kitab-Nya yang mengandung ayat-ayat-Nya kepada Rasul-Nya untuk kaum Rasul. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Al Baqarah 213)
Karena Alah SWT tidak lagi membinasakan kaum kafir (seperti kaum-kaum kafir terdahulu), maka kaum kafir itu dapat bertaubat dan beriman akibat dari adanya petunjuk Allah dalam kitab-Nya dan adanya sunnah (penjelasan) Rasul-Nya. Kitab-Nya itu diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya untuk kaum Rasul tersebut. Dan itu membuat syaitan menjadi lebih sulit dan lama dalam menyesatkan manusia.”
Tilmidzi: “Kaum siapakah yang terakhir dibinasakan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Di masa Fir’aun, Allah SWT mengutus Nabi Musa dari Bani Israil. Bani Israil itu dizalimi (diazab) oleh Fir’aun yang kejam dan jahat, hingga Dia kemudian membinasakan Fir’aun dan kaumnya di laut. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun) dan kaumnya yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu. (Al A’raaf 141)
Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya. (Al Israa’ 103)
Setelah itu Nabi Musa menerima Taurat dari Allah SWT. Taurat itu lalu diperselisihkan oleh umat Nabi Musa hingga mereka terpecah yaitu ada yang menjadi kafir dan ada yang beriman. Allah SWT lalu mengutus sejumlah Nabi dari Bani Israil untuk memperbaiki umat Nabi Musa yang kafir. Nabi Bani Israil terakhir yang diutus oleh Allah SWT kepada Bani Israil yaitu Nabi ‘Isa dan beliau diberikan-Nya Injil. Injil lalu diperselisihkan oleh umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa hingga ada yang menjadi kafir dan ada yang beriman. Tapi umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa (Ahli Kitab) dari Bani Israil yang kafir dan berselisih itu tidak dibinasakan-Nya karena telah ada ketetapan-Nya, dan perselisihan mereka akan diputuskan-Nya pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. (Fushshilat 45)
Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. (Asy Syuura 14)
Dengan demikian, kaum terakhir yang dibinasakan oleh Alllah SWT adalah kaum Fir’aun.”
Tilmidzi: “Bagaimana Bani Israil dapat berselisih padahal mereka menyaksikan azab-Nya kepada Fir’aun dan mereka menyaksikan Nabi Musa menerima kitab-Nya (Taurat)?”
Mudariszi: “Perselisihan di antara Bani Israil itu terjadi karena syaitan yang pandai menipu. Syaitan menipu dan menghasut Bani Israil hingga mereka berbeda pendapat, berselisih, mendengki, dan itu berlanjut sampai ke bermusuhan, berbunuhan, berperang. Allah SWT menjelaskan kepada Nabi Musa ketika beliau menerima Taurat, sebagai berikut:
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintah-Nya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(–Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya; tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Al A’raaf 145-147)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil. (Al Mu’min 53)
Syaitan menipu umat Nabi Musa hingga kebanyakan mereka menjadi kafir. Mereka tidak taat dan tidak patuh kepada perintah Allah SWT (Taurat) dan perintah Nabi Musa ketika menjalani hidupnya di dunia. Mereka menyembunyikan ayat-ayat Taurat yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya (keinginannya) dan mereka lalu merubah ayat-ayat tersebut. Allah SWT menjelaskan Bani Israil yang berselisih dan merubah ayat-ayat Taurat itu, sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al Baqarah 83)
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya”, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Ali ‘Imran 187)
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya).” (Al An’aam 91)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. (Al Baqarah 159)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. (Al Jaatsiyah 16-17)
Setelah Nabi Musa wafat, Allah SWT mengutus sejumlah Nabi dari Bani Israil kepada umat Nabi Musa yang menjadi kafir. Allah SWT menghendaki mereka agar bertaubat dan beriman. Tapi mereka telah dikuasai oleh hawa nafsu syaitan, sehingga sulit bagi mereka untuk bertaubat. Mereka membunuh sebagian Nabi-Nabi yang Dia utus kepada mereka karena membawa ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Nabi-Nabi dari Bani Israil itu diakhiri dengan Nabi ‘Isa yang diutus sebagai Rasul-Nya dan diberikan-Nya Injil. Injil itu berkaitan dengan Taurat dan umat Nabi Musa. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al Maa-idah 70-71)
Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Al Maa-idah 46)
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (Ali ‘Imran 48)
Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran 50-51)
Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (Az Zukhruf 61)
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-Rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al Baqarah 87)
Perselisihan di antara Bani Israil (dari umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa) itu berlanjut kepada perang di antara mereka, yaitu Bani Israil yang beriman dan yang kafir di masa Nabi ‘Isa, dan perang itu dimenangkan oleh Bani Israil yang beriman. Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff 14)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengatasi Ahli Kitab yang kafir karena mereka mengikuti Taurat dan Injil yang sebagian ayat-ayat-Nya telah berubah?”
Mudariszi: “Ayat-ayat Taurat dan Injil itu menjelaskan agama-Nya dan syariat agama-Nya yang Dia turunkan kepada Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Ayat-ayat Taurat dan Injil ada yang disembunyikan dan dibiarkan oleh Ahli Kitab yang kafir, dan ayat-ayat-Nya itu lalu dirubahnya sesuai dengan keinginan mereka. Perubahan ayat-ayat Taurat dan Injil itu membuat kedua kitab-Nya tidak lagi menjelaskan agama-Nya dan syariat agama-Nya yang benar. Contoh, ada perkara yang diharamkan-Nya, tapi perkara itu menjadi tidak haram karena ayat-ayat-Nya disembunyikan atau dirubah. Sehingga Ahli Kitab tidak lagi beragama dengan agama-Nya yang benar. Akibat lain, tanpa disadarinya, Ahli Kitab menjadi tidak beriman kepada Allah SWT dan kepada hari kemudian (hari kiamat). Allah SWT berfirman:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian. (At Taubah 29)
Allah SWT menghendaki anak cucu Ahli Kitab tidak mengikuti orang tuanya yang kafir karena tidak beragama dengan agama-Nya yang benar akibat mengikuti Taurat atau Injil yang telah berubah. Untuk itu Allah SWT lalu mengutus Rasulullah SAW dan memberikannya Al Qur’an yang untuk manusia (termasuk untuk Ahli Kitab, kaum musyrik, umat Islam). Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (An Nahl 63)
Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba–Ku dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu.” Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, kecuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: “Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)
Untuk mengatasi Ahli Kitab yang berselisih dan yang kafir agar mereka bertaubat dan beriman, maka Allah SWT perintahkan Ahli Kitab untuk beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. (An Nisaa’ 47)
(Kami terangkan yang demikian itu) supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. (Al Hadiid 29)
Allah SWT menghendaki Ahli Kitab beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW karena Al Qur’an menjelaskan perselisihan mereka. Allah SWT berfirman:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al Maa-idah 77)
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-Rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Maa-idah 19)
Sesungguhnya Al Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (An Naml 76)
Jika mereka bertaubat, maka Allah SWT akan menunjuki mereka dengan Al Qur’an dan sunnah Rasulullah untuk kembali kepada agama-Nya yang benar atau kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (A Nahl 9)
Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)
Tilmidzi: “Bagaimana jika ayat-ayat Al Qur’an juga disembunyikan dan dibiarkan oleh orang-orang kafir dan dirubah seperti Taurat dan Injil?”
Mudariszi: “Sejak Taurat dan Injil berubah, maka agama Allah yang benar hanya agama Islam yaitu agama-Nya yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Syaitan ingin agar Al Qur’an juga berubah seperti Taurat dan Injil supaya umat Islam tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Syaitan menggunakan umat Islam yang fasik atau munafik untuk mencapai tujuannya. Adapun orang munafik itu dijelaskan-Nya sebagai berikut:
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya.” (Al Anfaal 49)
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (Al Ahzab 12)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Orang munafik tidak berbeda dengan Ahli Kitab yang kafir yaitu sama-sama tidak menyukai agama Islam dan Al Qur’an, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran. (Al Baqarah 109)
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” (Al Baqarah 120)
Sehingga kedua golongan (kaum munafik dan Ahli Kitab yang kafir) itu lalu bekerja sama untuk merubah ayat-ayat Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al Maa-idah 52)
Tapi mereka tidak pernah dapat merubah ayat-ayat Al Qur’an, karena Al Quran itu dipelihara (dijaga) langsung oleh-Nya. Allah SWT berfirman:
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Ahli Kitab yang kafir, kaum musyrik yang kafir dan orang-orang munafik yang fasik itu merupakan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh umat Islam yang beriman?”
Mudariszi: “Syaitan tidak menyukai orang-orang beriman karena mereka mengikuti Allah SWT dan agama-Nya. Sehingga umat Islam yang beriman tidak disukai oleh orang-orang yang mengikuti syaitan yaitu Ahli Kitab, kaum musyrik, kaum munafik. Allah SWT menjelaskan pandangan Ahli Kitab terhadap umat Islam sebagai berikut:
Maka jika mereka (Yahudi dan Nasrani) beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 137)
Jika Ahli Kitab tidak mau beriman kepada apa yang diimani oleh Rasulullah SAW, maka mereka dalam permusuhan dengan umat Islam. Sehingga, jika kaum musyrik dan kaum munafik tidak mau beriman kepada apa yang diimani oleh Rasulullah SAW, maka mereka juga berada dalam permusuhan dengan umat Islam. Adapun kaum yang paling keras permusuhannya dengan umat Islam dan yang paling dekat persahabatannya dengan umat Islam, dijelaskan oleh Allah SWT, sebagai berikut:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (Al Maa-idah 82)
Dalam memusuhi umat Islam, orang-orang Yahudi tolong menolong dengan orang-orang musyrik dan orang-orang munafik (umat Islam). Sehingga bukan tidak mungkin orang-orang munafik (umat Islam) juga tolong menolong dengan orang-orang musyrik. Allah SWT berfirman:
Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (Al Maa-idah 62)
Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (Al Maa-idah 80)
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad 26)
Ketiga golongan kafir (Ahli Kitab, kaum musyrik, kaum munafik) itu seperti Iblis karena mereka (ketiga golongan itu) mengikuti Iblis yaitu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 1-2)
Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)
Allah SWT murka kepada mereka (ketiga golongan tersebut di atas) karena perbuatan mereka yang mengikuti Iblis yang telah dikutuk-Nya. Allah SWT berfirman:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)
Tilmidzi: “Apakah musuh-musuh umati Islam yang beriman yaitu orang-orang kafir (Ahli Kitab dan kaum musyrik) dan munafik itu menyukai kehidupan dunia dan suka membuat kekacauan dan kerusakan di bumi?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai belikut:
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Al Baqarah 212)
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insaan 27)
Orang-orang kafir dan fasik (munafik) yang menyukai kehidupan dunia itu juga suka membuat kekacauan dan kerusakan di bumi. Allah SWT berfirman:
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (Al Baqarah 204-205)
Padahal Allah SWT menjadikan bumi itu untuk manusia, yaitu sebagai berikut:
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)
Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Karena itu, jika kaum muslimin tidak taat mengikuti perintah-Nya yaitu perintah memerangi orang-orang kafir dan fasik yang jahat dan kejam, maka bumi yang untuk manusia itu akan menjadi kacau dan rusak hingga merugikan manusia sendiri. Allah SWT berfirman:
Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Al Baqarah 251)
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal 73)
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Huud 116)
Allah SWT menghendaki orang-orang beriman mau berperang (berjihad) di jalan-Nya membela agama-Nya dengan nyawanya dan hartanya, dan mereka akan diberikan balasan yang besar di akhirat. Berjihad di jalan Allah memerangi orang-orang kafir dan fasik (munafik) yang menyukai kehidupan dunia dan yang tidak menyukai agama-Nya dan ingin melenyapkan agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Karena, itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. (An Nisaa’ 74)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min. (At Taubah 111-112)
Timidzi: “Apakah karena itu pula Allah SWT mengizinkan neger-negeri Islam memiliki tentara atau pasukan (angkatan) perangnya masing-masing?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menghendaki agar setiap negeri Islam memiliki pasukan perang sendiri guna berjaga-jaga dari penganiayaan, pengusiran, penyerangan oleh pemimpin negeri-negeri kafir. Pemimpin negeri Islam yang hendak memerangi negeri kafir itu sebaiknya bermusyawarah lebih dulu dengan pemimpin negeri-negeri Islam lain yang berhubungan baik dengan negeri kafir tersebut. Orang-orang beriman berperang di jalan Allah sedangkan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut (syaitan). Allah SWT menolong orang-orang beriman dan memakai tangan-tangan mereka dalam menyiksa, membunuh dan mengalahkan orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (An Nisaa’ 76)
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (At Taubah 14)
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Anfaal 60)
Tapi orang-orang beriman tidak dibenarkan memerangi orang-orang kafir tanpa sebab (alasan) yang jelas dan benar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al Mumtahanah 8)
Dengan demikian, pemimpin negeri-negeri Islam tidak pernah memerangi negeri kafir lebih dulu. Tapi jika terbukti (diketahui) pemimpin negeri kafir itu menganiaya, mengusir dan memerangi orang-orang beriman di negeri Islam, maka Allah SWT mengizinkan orang-orang beriman atau tentara (pasukan perang) negeri Islam untuk memerangi mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (Al Hajj 39-40)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT peringatkan orang-orang beriman atas musuh-musuh mereka yang terdiri dari orang-orang kafir dan fasik yang akan memerangi mereka?”
Mudariszi: “Karena orang-orang kafir dan orang-orang fasik (munafik) tidak henti-hentinya memusuhi orang-orang beriman apalagi di antara umat Islam itu ada orang-orang munafik yang dapat bekerja sama dengan orang-orang kafir tanpa sepengetahuan orang-orang beriman, maka Allah SWT peringatkan orang-orang beriman sebagai berikut:
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (Al Baqarah 217)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (Ali ’Imran 118)
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Mumtahanah 9)
Dan Allah SWT juga peringatkan orang-orang beriman atas pemimpin atau wali yang bukan dari golongan mereka sendiri, yaitu sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Maa-idah 51)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). (Al Maa-idah 57)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? (An Nisaa’ 144)
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa yang berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu). (Ali ’Imran 28)
Wallahu a’lam.