Dialog Seri 18: 12
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT membantu umat Islam yang menolong agama-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hadiid 25)
Allah SWT menjelaskan kepada umat Islam bagaimana Dia membantu mereka ketika ditangkap, dianiaya, dibunuh, diusir oleh orang-orang kafir, sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. (Al Anfaal 30)
Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Al Anfaal 26)
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak, yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (An Nisaa’ 75)
Allah membantu orang-orang beriman yang berjihad (berperang) di jalan-Nya dengan harta dan nyawanya dalam memerangi orang-orang kafir (dan fasik). Contoh bantuan-Nya kepada orang-orang beriman yaitu Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir dan Yahudi yang kafir (fasik), sebagai berikut:
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. (Ali ‘Imran 151)
Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (Al Ahzab 26)
Contoh lain, Dia membantu orang orang beriman dengan menipu penglihatan orang-orang kafir ketika melihat jumlah pasukan orang-orang beriman di perang Badar guna menggetarkan hati mereka, sebagai berikut:
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali ’Imran 13)
Contoh lain, Dia mengabulkan permintaan Rasulullah SAW dengan mengirim bantuan seribu malaikat yang tidak terlihat oleh manusia. Syaitan dari golongan jin lalu meninggalkan kaum musyrik (syaitan dari golongan manusia) setelah mereka melihat para malaikat itu, sebagai berikut:
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Al Anfaal 9)
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. (Al Anfaal 17-18)
Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.” Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Al Anfaal 48)
Tilmidzi: “Bagaimana jika terjadi peperangan di antara orang-orang yang beriman?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara, dan Dia menyeru orang-orang beriman yang berselisih hingga mereka berperang, sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat 10)
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al Hujuraat 9)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menolong orang-orang beriman yang diperangi oleh orang-orang kafir?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut di atas sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak. (At Taubah 25)
Rasulullah SAW telah berperang dengan orang-orang kafir sebanyak sembilan belas kali yang semuanya itu perang di jalan-Nya dalam menegakkan agama Islam ketika beliau menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Zaid bin Arqam, sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengikuti pertempuran sebanyak sembilan belas kali pertempuran. Dan setelah peristiwa hijrah, beliau hanya melakukan satu kali ibadah haji, yaitu haji wada’. (HR Muslim)
Allah SWT menolong orang-orang beriman yang berperang di jalan-Nya karena mereka mengikuti perintah-Nya dan perintah Rasulullah. Jika mereka tidak mengikuti perintah Allah dan perintah Rasulullah, maka mereka tidak akan ditolong-Nya hingga mereka mengalami kekalahan. Hal itu terjadi misalnya di perang Uhud dimana sebagian pasukan Rasulullah tidak mengikuti perintah beliau, yaitu mereka bergegas mengambil ghanimah (rampasan perang) padahal perang belum berakhir, sehingga pasukan musuh tiba-tiba menyerang balik sampai pasukan Rasulullah menderita kekalahan. Allah SWT berfirman:
Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (Ali ’Imran 165)
Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. (Ali ‘Imran 152)
(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu. (Ali ‘Imran 153)
Demikian pula dengan yang terjadi di perang Hunain dimana sebagian pasukan Rasulullah merasa sombong karena berjumlah banyak. Allah SWT tidak menyukainya. Karena itu, ketika perang terjadi, Allah SWT mendiamkan mereka hingga mereka kalah (lari). Rasulullah SAW melihat kejadian itu lalu beliau memanggil para sahabat yang telah berjanji setia di bawah pohon ketika di Hudaibiyah. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. (At Taubah 25)
Dari Katsir bin Abbas bin Abdul Muthalib, dia berkata: “Abbas pernah bercerita sebagai berikut: “Aku ikut terjun dalam perang Hunain bersama-sama Rasulullah SAW. Aku dan Abu Sufyan bin Al Harits bin Abdul Muthalib terus menempel Rasulullah SAW. Kami tidak mau berpisah dengan beliau. Saat itu Rasulullah SAW naik seekor bighal miliknya hadiah dari Furwah bin Nufatsah Al Judzami. Tatkala pasukan Islam dan pasukan kafir sudah saling berhadap-hadapan langsung, maka pasukan Islam sengaja berpaling untuk mengatur serangan. Rasulullah SAW menepuk bighalnya menghadapkan ke arah pasukan kafir. Saat itu, akulah yang memegang kendali bighal Rasulullah SAW tersebut. Aku harus sering menarik kendali itu supaya ia jangan cepat-cepat jalannya. Sementara itu Abu Sufyan lah yang memegangi inja-inja Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Hai Abbas! Panggil sahabat-sahabat yang pernah berbai’at di bawah pohon.” Perintah Rasulullah SAW itu memang tepat, sebab aku memang terkenal punya suara yang cukup tinggi. Maka dengan selantang suaraku, aku panggil mereka: “Dimana para sahabat yang pernah berbai’at di bawah pohon?!!!” Demi Allah, begitu mendengar suaraku bergegas mereka mencari dari mana asal suara tersebut, persis seperti induk ayam yang mendengar suara anak-anaknya yang sedang dicarinya. Serentak mereka menjawab: “Baik, akan kami penuhi panggilanmu. Baik, akan aku penuhi panggilanmu.” Kembali aku serukan kepada mereka: “Ayo! Bertempurlah melawan orang-orang kafir. Dan jangan lupa mintalah bantuan kepada orang-orang Anshar!” Mereka lalu menyeru: “Wahai orang-orang Anshar! Wahai orang-orang Anshar!” Selanjutnya mereka hanya cukup memanggil Bani Al Harits bin Al Khazraj: “Wahai Bani Al Harits bin Al Khazraj! Wahai Bani Al Harits bin Al Khazraj!” Sementara itu Rasulullah SAW tetap berada di atas bighalnya. Sejenak beliau melongok ke medan perang. Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Inilah kalau pertempuran sudah memanas.” Selanjutnya Rasulullah SAW mengambil beberapa butir kerikil lalu beliau lemparkan ke arah wajah orang-orang kafir seraya bersabda: “Kalahkan mereka, demi Tuhannya Muhammad!” Sejenak aku pun ikut memperhatikan keadaan medan perang dan ternyata memang dalam keadaan cukup menegangkan. Demi Allah, aku saksikan Rasulullah SAW terus melemparkan batu-batu kerikil yang ada padanya ke arah orang-orang kafir. Lama kelamaan aku lihat orang-orang kafir keadaannya semakin lemah sebelum akhirnya mereka mundur.” (HR Muslim)
Dengan demikian, Allah SWT membantu umat Islam yang berperang (berjihad) di jalan-Nya dalam menegakkan agama Islam dengan mengikuti perintah Allah dan perintah Rasulullah. Jika kedua perintah itu ditaati (dijalankan), maka merekalah orang-orang yang beriman kepada-Nya, Rasul-Nya dan agama-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan perang (berjihad) di jalan-Nya dalam menegakkan agama Islam itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah menjamin kepada orang yang berjihad di jalan-Nya, dimana dia tidak keluar kecuali untuk jihad di jalan-Nya dan karena membenarkan kalimat-kalimat-Nya, hendak memasukkannya ke surga atau mengembalikannya ke rumah tempat dia keluar, bersama pahala dan harta rampasan.” (HR Bukhari)
Dari Abu Musa Al Asy’ari, sesungguhnya seorang lelaki dusun datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang berperang demi mendapatkan ghanimah. Ada seseorang yang berperang untuk membuktikan kejantanannya. Dan ada pula seseorang yang berperang untuk melihat kemampuannya sampai dimana. Mana di antara mereka yang berada pada jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab: “Barangsiapa yang berperang demi menegakkan kalimat Allah setinggi mungkin, maka dia itulah yang berada pada jalan Allah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW sampai memerangi kaum-kaum di Jazirah Arab ketika beliau menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada mereka (manusia)?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan kepada panglima perangnya yang berjihad di jalan-Nya menegakkan agama Islam ketika dia menyampaikan (menjelaskan) Al Qur’an dan agama Islam kepada suatu kaum di Jazirah Arab, sebagai berikut:
Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, dia berkata: “Ketika Rasulullah SAW mengangkat seorang komandan pasukan, secara khusus beliau menyampaikan pesan atau wasiat kepadanya supaya dia selalu bertakwa kepada Allah dan supaya dia selalu berbuat baik terhadap orang-orang Islam yang ikut bersamanya. Lebih lanjut Rasulullah SAW berpesan: “Berperang di jalan Allah dengan senantiasa menyebut nama–Nya. Perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah dan jangan berkhianat dalam urusan harta rampasan atau ghanimah. Janganlah mengkhianati janji. Janganlah membunuh dengan cara yang sadis. Dan janganlah membunuh anak-anak kecil. Apabila kamu bertemu dengan musuhmu dari orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga hal. Dan apabila mereka mau menerima salah satu daripadanya, maka terimalah mereka dan bertakwalah selalu untuk memeranginya. Ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Apabila mereka mau menerima ajakanmu tersebut, maka terimalah mereka dan bertakwalah selalu di dalam memeranginya. Lalu ajaklah mereka berpindah dari kampung halamannya ke kampung halamannya para sahabat Muhajirin. Apabila mereka mau memenuhi ajakan tersebut, maka beritahukanlah bahwa mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti sahabat-sahabat Muhajirin. Apabila mereka enggan berpindah dari kampung halamannya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka sama dengan orang-orang Arab lainnya yang tidak beroleh bagian sedikit pun dari harta rampasan perang, kecuali jika mereka ikut berjihad bersama orang Islam lainnya. Jika mereka menolak, maka mintalah upeti kepada mereka. Apabila ternyata mereka mau memberikan upeti tersebut, maka terimalah dan batalkanlah untuk memeranginya. Tetapi apabila mereka tidak mau memenuhinya, maka mohonlah pertolongan kepada Allah untuk memerangi mereka. Jika kamu mengepung sebuah benteng perlindungan, lalu orang-orang yang berada di dalam sana meminta keamanan atau jaminan Allah dan Rasul–Nya, maka janganlah kamu penuhi permintaannya itu. Tetapi buatlah keamanan untuk mereka, sebab resikonya lebih ringan jika kamu harus merusak keamananmu sendiri ketimbang merusak keamanan Allah dan Rasul–Nya. Apabila mereka menghendaki agar mereka ditempatkan pada hukum Allah, maka janganlah kamu lakukan. Lebih baik kamu berlakukan hukumanmu sendiri sebab kami tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas merupakan perintah Allah kepada beliau untuk tegakkan agama Islam dengan menyampaikan Al Qur’an dan mengajak suatu kaum kepada agama Islam. Allah SWT dan Rasulullah SAW akan memerangi kaum tersebut jika mereka menolak dan memerangi beliau. Tidak ada paksaan untuk memeluk (memasuki) agama Islam, karena itu jika ada kaum yang menolak ajakan kepada agama Islam tapi mereka membayar jizyah (upeti) kepada Rasulullah SAW (pemimpin umat Islam), maka mereka berarti tunduk kepada pemerintah Islam. Dengan demikian mereka mempunyai hak yang sama dengan umat Islam, sehingga mereka tidak boleh dibunuh atau diperlakukan berbeda dengan umat Islam. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (syaitan) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 256)
Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al Kahfi 29)
Dari Amr bin Maimun dari Umar (bin Khaththab), dia berkata (sebelum meninggal): “Dan aku wasiatkan kepadanya (khalifah sesudahnya), dengan jaminan dari Allah dan jaminan dari Rasul-Nya saw, supaya hak mereka (Ahlul-Kitab yang membayar jizyah) dipenuhi dengan perjanjian mereka, berperang membela mereka (terhadap kaum kafir harbi) dan mereka tidak dibebani kecuali menurut kemampuan mereka.” (HR Bukhari)
Allah SWT mengajak mereka kepada agama Islam agar mereka selamat dari syaitan karena mereka dilindungi-Nya dari penyesatan syaitan, sehingga mereka selamat ketika menjalani hidupnya di dunia dan di akhirat.”
Tilmidzi: “Apakah ada perintah-perintah Rasulullah SAW yang lainnya ketika berperang (berjihad) di jalan-Nya dalam menegakkan agama-Nya (agama Islam)?”
Mudariszi: “Ya! Perintah Rasulullah kepada panglima perangnya itu merupakan perintah dari Allah SWT. Contoh perintah Rasulullah seperti perintah keutamaan bersiap siaga:
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali ’Imran 200)
Dari Sahl bin Sa’ad Al-Sa’idi, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “(Pahala) bersiap siaga sehari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan apa-apa yang di atasnya. Tempat cambuk seorang dari kamu di surga adalah lebih baik daripada dunia dan apa-apa yang di atasnya. Satu keberangkatan di sore hari dimana seorang hamba berangkat pada sore hari itu di jalan Allah, atau satu keberangkatan di pagi hari, adalah lebih baik daripada dunia dan apa–apa yang di atasnya.” (HR Bukhari)
Perintah mendengarkan, patuh dan taat kepada pemimpin perang, dan melindungi, menjaga, membela penglima perang ketika memerangi musuh:
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Mendengarkan dan patuh adalah wajib, selama tidak diperintah kemaksiatan. Jika diperintah kemaksiatan, maka tidaklah ada pendengaran dan kepatuhan.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kita adalah (umat) yang terakhir dan (umat) yang mendahului (di akhirat).” Dan dengan isnad ini (beliau bersabda): “Barangsiapa mentaati aku maka sungguh dia mentaati Allah, dan barangsiapa mendurhakai aku maka sungguh dia mendurhakai Allah. Barangsiapa mentaati pemimpin maka sungguh dia mentaati aku, dan barangsiapa mendurhakai pemimpin maka sungguh dia mendurhakai aku. Sesungguhnya imam itu adalah perisai, dimana (musuh) diperangi untuk membelanya dan dia dijaga. Apabila dia memerintahkan taqwa kepada Allah dan dia berlaku adil maka sungguh dia mendapatkan pahala dari (perintah dan keadilan)nya, dan apabila dia berkata selain demikian maka (dosalah) atas dia dari (perkataan)nya.” (HR Bukhari)
Perintah dilarang berbantah-bantahan, berselisih, mempersulit, menakut-nakuti serta membuat pasukan lari dari atasannya:
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar. (Al Anfaal 46)
Dari Abu Musa, dia berkata: “Ketika Rasulullah SAW memerintah seorang sahabatnya untuk melaksanakan salah satu perintahnya, beliau bersabda: “Sampaikanlah khabar gembira dan jangan menakut-nakuti. Permudahlah dan jangan mempersulit.” HR Muslim)
Dari Sa’id bin Abi Burdah dari Ayahnya dari kakeknya, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW mengirim Mu’adz (bin Jabal) dan Abu Musa ke Yaman. Beliau bersabda (kepada dua orang utusan ini): “Permudahkanlah dan janganlah mempersulit, berilah berita gembira dan janganlah membuat mereka lari, bercinta-kasihlah dan janganlah berselisih.” (HR Bukhari)
Perintah keutamaan orang yang mengobati orang-orang yang terluka dalam peperangan, dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang lemah:
Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, dia berkata: “Kami bersama Rasulullah SAW (dalam peperangan), kami memberi minum (kepada para sahabat beliau) dan melayani mereka, dan kami mengembalikan orang–orang yang terluka dan orang-orang yang terbunuh ke Madinah.” (HR Bukhari)
Perintah keutamaan membantu orang yang berperang di jalan Allah berupa hewan kendaraan dan yang lainnya, atau menjaga keluarganya yang ditinggalkannya di rumah:
Dari Zaid bin Khalid Al Juhani dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Barangsiapa yang membantu menyiapkan persiapan kepada orang yang berperang pada jalan Allah, maka sama halnya dia sudah ikut berperang. Dan barangsiapa yang menjaga atau memperhatikan keluarga yang ditinggalkannya dengan baik, maka berarti dia juga ikut berperang.” (HR Muslim)
Dari Abu Sa’id Al Khudri, sesungguhnya Rasulullah SAW berkirim surat kepada Bani Lahyan yang isinya: “Hendaknya setiap dari orang lelaki berangkat satu.” Sedang khusus kepada orang yang kebetulan tidak bisa ikut berperang beliau berpesan: “Jaga dan perhatikan keluarga dengan baik keluarga serta harta orang yang berangkat berperang, maka kamu akan mendapatkan separuh pahala orang yang berangkat berperang tersebut.” (HR Muslim)
Perintah keutamaan melindungi pasukan yang berperang pada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung:
Dari Salman, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Melindungi pasukan sehari semalam, lebih baik daripada berpuasa sebulan berikut ibadah malamnya. Apabila dia meninggal dunia, maka amal yang dia lakukannya masih terus berlaku, rezkinya terus mengalir dan dia aman dari berbagai fitnah.” (HR Muslim)
Perintah membawa bekal ketika akan berperang:
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Al Baqarah 197)
Dari Jabir, dia berkata: “Kami, sejumlah 300 (tiga ratus) orang, berangkat dengan membawa bekal di bahu kami, lalu kami kehabisan bekal, hingga ada orang dari kami yang makan sebutir kurma untuk setiap hari.” Berkata seorang laki-laki: “Wahai Abu Abdullah (Jabir), bagaimana sebutir kurma (sebagai makanan) pada orang itu?” Jabir berkata: “Sungguh kami mengalami kepayahan atas habisnya kurma itu di saat kami kehabisan kurma, sehingga kami datang ke laut, tiba-tiba ada ikan besar terhempas laut, lalu kami memakannya selama 18 hari sesuka kami.” (HR Bukhari)
Perintah mengobarkan semangat untuk berperang:
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (karena tujuan mereka hanya duniawi saja). (Al Anfaal 65)
Dari Anas, dia berkata: “Rasulullah SAW berangkat ke Khandaq (parit). Ketika itu orang-orang Muhajirin dan Anshar menggali di pagi yang dingin, di antara mereka tidak ada hamba sahaya yang bekerja demikian untuk mereka. Ketika beliau melihat kelelahan dan lapar pada mereka, beliau bersabda: “Wahai Allah, sesungguhnya kehidupan itu adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.” Maka mereka menjawab beliau: “Kami adalah orang-orang yang berbai’at kepada Muhammad untuk berjihad selama kita masih (hidup) selama-lamanya.” (HR Bukhari)
Perintah tidak boleh berkhianat (haram hukumnya):
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ketika Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan pada hari kiamat kelak, maka setiap yang berkhianat akan diberikan tanda sebuah bendera dan bertuliskan: “Ini adalah bukti tanda pengkhianatannya kepada si polan bin polan.” (HR Muslim)
Perintah untuk waspada terhadap pengkhianatan:
Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min. (Al Anfaal 62)
Dari Auf bin Malik, dia berkata: “Aku datang kepada Rasulullah SAW dalam perang Tabuk sedang beliau di dalam kubah kulit. Lalu beliau bersabda: “Hitunglah enam (tanda-tanda) menjelang datangnya kiamat: kematianku, ditaklukkannya Baitul Maqdis, wabah kematian yang merenggut kalian seperti penyakit kambing, melimpah ruahnya harta benda sehingga seorang dari kamu diberi 100 dirham maka ia tidak suka, fitnah yang memasuki seluruh rumah bangsa Arab, dan perdamaian antara kalian dengan Bani Ashfar (Rumawi) lalu mereka berkhianat lalu mereka mendatangi kalian di bawah 80 panji di bawah setiap panji 12.000 orang.” (HR Bukhari)
Boleh hukumnya melakukan tipu daya dalam peperangan:
Dari Jabir, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Peperangan itu tipu daya.” (HR Muslim)
Boleh berdusta dalam peperangan dan membunuh musuh dalam kelengahan:
Dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Siapakah kepada Ka’ab bin Asyraf? Sungguh dia menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Berkata Muhammad bin Maslamah: “Apakah engkau menghendaki aku membunuhnya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Ya.” Lalu Muhammad bin Maslamah mendatangi Ka’ab dan dia berkata: “Sungguh orang itu (yakni Rasulullah SAW) benar-benar memayahkan kami dan dia meminta shadakah (zakat) kami.” Ka’ab berkata: “Dan (kami) juga, demi Allah.” Muhammad bin Maslamah berkata: “Sesungguhnya kami ini telah mengikuti dia dan kami tidak enak meninggalkan dia sehingga kami melihat agamanya di kemudian hari.” Muhammad bin Maslamah tidak henti-henti berbicara dengan Ka’ab, sehingga berkesempatan (membunuhnya), maka membunuhnya.” (HR Bukhari)
Perintah berhati-hati terhadap mata-mata musuh:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Al Mumtahanah 1)
Dari Ubaidillah bin Abu Rafi’, dia berkata: “Aku mendengar Ali berkata: “Aku diutus oleh Rasulullah SAW bersama Zubair dan Miqdad bin Aswad. Beliau bersabda: “Berangkatlah, hingga sampai di pertamanan Khah (antara Makah-Madinah), maka disana ada seorang perempuan di dalam sekedup yang membawa surat (dari Hathib), maka ambillah surat itu.” Berangkatlah kami dengan kuda yang lari membawa kami, hingga kami sampai di pertamanan Khah. Tiba-tiba kami mendapati seorang perempuan (di dalam sekedup). Kami berkata (kepadanya): “Keluarkanlah surat (yang kamu bawa).” Perempuan itu berkata: “Tidak ada surat bersama aku sama sekali.” Lalu kami berkata: “Kamu keluarkan surat itu ataukah kami melucuti pakaianmu.” Maka dia mengeluarkan surat itu dari ikatan (kepang) rambutnya. Lalu kami membawa surat itu kepada Rasulullah SAW. Ternyata surat itu dari Hathib bin Abi Balta’ah, kepada beberapa orang musyrik penduduk Makah yang memberitakan kepada mereka tentang sebagian urusan Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Hai Hathib, apakah ini?” Hathib berkata: “Wahai Rasulullah, janganlah engkau cepat–cepat menghukum aku. Sesungguhnya aku ini seorang yang akrab dengan orang-orang Quraisy sedang aku bukanlah dari (senasab) mereka. Dan orang-orang yang bersama engkau dari orang-orang Muhajirin adalah mereka mempunyai kerabat di Makah yang akan menjaga keluarga mereka dan harta mereka disana. Maka mengingat ketertinggalanku dari penjagaan senasab mereka itu, aku ingin memetik anugerah pada mereka dimana mereka akan menjaga kerabatku disana. Dan demikian aku lakukan tidaklah karena kekafiran, atau kemurtadan, atau rela terhadap kekafiran sesudah Islam.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Hathib telah menyatakan kejujuran kepada kalian.” Berkata Umar: “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia mengikuti (Perang) Badar. Tahukah kamu, mudah-mudahan Allah memperhatikan para peserta (Ahli) Badar. Maka Dia berfirman: “Berbuatlah kamu sekehendak kamu, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu.” (HR Bukhari)
Dari Salamah bin Akwa, dia berkata: “Datang kepada Rasulullah SAW yang sedang dalam bepergian, seorang mata-mata dari kaum musyrik. Ia duduk dan berbincang-bincang di tengah para sahabat, kemudian ia lepas (pergi). Maka Rasulullah SAW bersabda: “Carilah ia dan bunuhlah.” Lalu Salamah membunuhnya, dan beliau memberikan kepadanya harta rampasannya (barang yang dipakai korban).” (HR Bukhari)
Perintah mengembalikan perjanjian kepada kaum yang terikat perjanjian karena khawatir terjadi pengkhianatan:
Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (Al Anfaal 58)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Abu Bakar mengutus aku dalam sekelompok orang yang mengumandangkan pada hari Nahar (Idil Adha) di Mina: “Tidaklah berhaji sesudah tahun ini orang musyrik dan tidaklah thawaf di Bait(ullah) ini orang telanjang. Dan hari haji Akbar adalah hari Nahar.” Disebutkan “Akbar” itu karena ucapan orang-orang “Haji kecil (Umrah)”, maka Abu Bakar melemparkan (perjanjian) kepada umat manusia pada tahun itu, maka tidaklah berhaji orang musyrik pada tahun Haji Wada’ dimana Rasulullah SAW berangkat haji pada tahun itu.” (HR Bukhari)
Makruh hukumnya berharap ketemu musuh, dan perintah untuk bersabar dan tabah jika harus ketemu dengannya dan sunnah hukumnya berdo’a untuk mendapatkan kemenangan ketika bertemu musuh:
Dari Abu Hurairah dari Rasuluillah SAW, beliau bersabda: “Janganlah kamu bercita-cita bertemu musuh. Tetapi apabila kamu bertemu musuh, maka bertabahlah (bersabarlah).” (HR Bukhari)
Dari Abu Nadher, dia pernah mendapat sepucuk surat dari seorang lelaki asal daerah Aslam, termasuk sahabatnya Rasulullah SAW bernama Abdullah bin Abu Aufa. Kemudian Abu Nadher berkirim surat kepada Umar bin Ubaidillah ketika dia hendak berangkat ke daerah Haruriyah yang isinya memberitahukan bahwasanya Rasulullah SAW ketika pada satu hari bertemu dengan musuh, beliau menunggu sampai matahari bergeser ke arah barat. Kemudian beliau bersabda: “Hai sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan bertemu musuh dan memohonlah kesehatan kepada Allah. Jika terpaksa kalian bertemu mereka, maka bersabarlah. Dan ketahuilah sesungguhnya surga itu berada di bawah ayunan pedang kalian.” Selanjutnya Rasulullah SAW berdo’a: “Ya Allah Dzat yang menurunkan Al Kitab, Dzat yang menjalankan awan, dan Dzat yang mengalahkan pasukan yang bersekutu, hancurkanlah mereka dan berikan kami kemenangan.” (HR Muslim)
Seseorang boleh memimpin peperangan yang tanpa ditunjuk kepemimpinannya karena atau ketika mengkhawatirkan musuh:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW berkhuthbah, lalu beliau bersabda: “Bendera itu diambil oleh Zaid (bin Haritsah) lalu dia terbunuh. Kemudian bendera itu diambil oleh Ja’far (bin Abu Thalib), lalu dia terbunuh. Kemudian bendera itu diambil oleh Abdullah bin Rawahah, lalu dia terbunuh. Kemudian bendera itu diambil oleh Khalid bin Walid, tanpa perintah kepemimpinan, lalu dia dimenangkan (oleh Allah). Dan tidaklah menyenangkan aku, atau beliau bersabda: Dan tidaklah menyenangkan mereka, bahwa mereka di sisi kami.” Dan Anas berkata: “Dan sungguh dua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR Bukhari)
Haram hukumnya membunuh wanita dan anak-anak, tetapi boleh hukumnya membunuh wanita dan anak-anak pada malam hari tanpa sengaja:
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Pernah ada seorang wanita ditemukan terbunuh pada salah satu pertempuran. Kemudian Rasulullah SAW melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.” (HR Muslim)
Dari Sha’ab bin Jatsamah, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang rumah-rumah milik kaum musyrik yang diserang pada malam hari dan ternyata serangan itu mengenai isteri dan anak-anak mereka, maka beliau menjawab: “Dalam keadaan seperti itu isteri dan anak-anak mereka adalah termasuk mereka.” (HR Muslim)
Perintah tidak boleh menyiksa musuh dengan siksaan Allah SWT yaitu membakar:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW mengutus kami sebagai satu pasukan, lalu beliau bersabda: “Bila kamu menemukan Polan dan Polan, maka bakarlah keduanya dengan api.” Di kemudian ketika kami hendak berangkat, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku telah memerintahkan kepadamu untuk membakar Polan dan Polan, dan (sekarang) sesungguhnya api itu tidaklah untuk menyiksa selain oleh Allah. Maka bila kamu menemukan keduanya maka bunuhlah keduanya.” (HR Bukhari)
Boleh hukumnya menebang dan membakar pohon-pohon milik kaum kafir:
Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW menebang dan membakar pohon kurma milik Bani Nadhir. Dalam peristiwa itu Hassan sempat membaca sebuah sya’ir: “Alangkah terhinanya tokoh-tokoh Bani Luayyi. Saat kebakaran melumat kebun mereka yang berada di daerah Buwairah.” Sehubungan dengan peristiwa itulah turun sebuah ayat: “Apa saja yang kamu tebang dari pohon (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah, karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.” (Surat Al Hasyr ayat 5). (HR Muslim)
Harta rampasan perang itu milik Allah SWT dan Rasul-Nya. Rasul-Nya kemudian menetapkan (memberikan) kepada pihak-pihak yang berhak menerimannya:
Dari Mush’ab bin Sa’ad dari Ayahnya, dia berkata: “Ayahku mengambil sebatang pedang dari harta hasil rampasan perang. Dia lalu membawanya menghadap Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Berikan kepadaku pedang itu.” Ayahku tidak mau memberikannya. Kemudian Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan sebuah ayat: “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul.” (Surat Al Anfaal ayat 1). (HR Muslim)
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Anfaal 41)
Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: “Bersabda Rasulullah SAW: “Dihalalkan kepadaku harta rampasan (ghanimah) itu.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah memberangkatkan serombongan pasukan termasuk di dalamnya Ibnu Umar sendiri ke daerah Najed. Mereka berhasil mendapat bagian dua belas ekor unta. Selain itu mereka masing-masing masih mendapat hadiah seekor lagi. Itulah keputusan Rasulullah SAW dan beliau tidak hendak merubahnya. (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah membagi harta hasil rampasan perang, untuk pasukan berkuda sebanyak dua bagian, dan untuk pasukan berjalan kaki hanya satu bagian. (HR Muslim)
Perintah orang yang membunuh musuh berhak akan harta milik orang yang dibunuhnya dalam perkara harta rampasan perang:
Dari Abdurrahman bin Auf, dia berkata: “Ketika aku tegak berdiri di tengah-tengah barisan pada peristiwa perang Badar dan menoleh ke kiri serta ke kanan, tiba-tiba aku merasa berada di antara dua orang pemuda Anshar yang masih cukup belia. Aku sangat senang sekali bisa bersama dengan mereka. Salah seorang dari mereka memegang pundakku dan bertanya kepadaku: “Wahai paman, apakah anda kenal dengan Abu Jahal?” Aku jawab: “Kenal, ada kepentingan apa kamu dengannya, wahai keponakanku?” Selanjutnya dia bercerita: “Aku pernah diberitahu bahwa Abu Jahal pernah mencaci-maki Rasulullah. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, jika kapan-kapan aku melhat Abu Jahal, maka dia akan aku ajak duel satu lawan satu sehingga akan diketahui siapa yang akan mati terlebih dahulu.” Aku kagum sekali dengan tekad anak muda tersebut. Tekad yang serupa juga dilontarkan oleh pemuda satunya lagi. Tidak berapa lama kemudian aku melihat Abu Jahal muncul dari kejauhan dan mondar-mandir di antara orang banyak. Aku katakan kepada kedua orang pemuda itu: “Bukankah sekarang kalian sudah melihat Abu Jahal. Itu dia lawan yang kalian tanyakan tadi.” Seketika mereka lalu mendekati Abu Jahal, dan tanpa menunggu lama-lama terayunlah pedang ke arah tubuh Abu Jahal sehingga dia meninggal dunia seketika. Kemudian mereka berdua menemui Rasulullah SAW dan memberitahukannya kepada beliau. Rasulullah SAW lalu bertanya kepada mereka: “Sebenarnya siapa di antara kalian yang telah membunuhnya?” Masing-masing mengakui sebagai pembunuhnya. Rasulullah SAW bertanya lagi: “Apakah pedang kalian sempat ditepisnya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Selanjutnya Rasulullah SAW memeriksa pedang mereka. Setelah puas, beliau lalu bersabda: “Kalian berdua telah membunuhnya.” Akhirnya Rasulullah SAW memutuskan bahwa harta orang yang terbunuh tersebut adalah untuk Mu’adz bin Amer bin Al Jamuh. (Dua orang pemuda tadi bernama Mu’adz bin Amer bin Al Jamuh dan Mu’adz bin Afra’).” (HR Muslim)
Rasulullah SAW membagi ghanimah dalam peperangan dan bepergian:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW berumrah dari Ji’ranah, tempat dimana beliau membagikan ghanimah Hunain.” (HR Bukhari)
Perintah dilarang korupsi ghanimah:
Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (Ali ’Imran 161)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW berdiri di tengah-tengah kami, beliau menuturkan pengkhianatan dalam rampasan dan beliau memandang urusan itu besar, lalu beliau bersabda: “Sungguh aku tidak akan bertemu dengan seorang dari kamu pada hari kiamat, yang di atas tengkuknya ada seekor kambing yang mengembik, ada yang di atas tengkuknya seekor kuda yang meringkik, dimana ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah saya.” Lalu aku berkata: “Aku tidak kuasa sedikitpun bagimu, sungguh aku telah menyampaikan.“ Ada yang di atas tengkuknya seekor unta yang melenguh, dimana ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah saya”, lalu aku (Nabi) katakan: “Aku tidak kuasa sedikitpun untukmu, sungguh aku telah menyampaikan.” Ada yang di atas tengkuknya terdapat emas dan perak, dimana ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah saya”, lalu aku katakan: “Aku tidak kuasa sedikitpun bagimu.” Dan ada yang di atas tengkuknya terdapat kain (tambalan) yang bergerak-gerak, ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah saya”, lalu aku katakan: “Aku tidak kuasa sedikitpun untukmu, sungguh aku telah menyampaikan.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah musuh-musuh Allah pernah mengalahkan Pemimpin (Khalifah) Islam hingga tidak tegak lagi Kekhalifahan (Pemerintahan) Islam?”
Mudariszi: “Pada saat-saat sekarang inilah Pemerintahan (Kekhalifahan) Islam tidak tegak, dan itu sesuai dengan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Abdullah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sebaik-baiknya manusia ialah kurunku, kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurunku, kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurun mereka.” Aku tidak mengerti dengan yang ketiga dan yang keempat. Selanjutnya beliau bersabda: “Kemudian sesudah mereka akan datang suatu kaum secara silih berganti, dimana kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” (HR Muslim)
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku yang terbaik ialah generasiku, generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutkan sesudah generasinya dua generasi lagi atau tiga.” Kemudian sesudah kalian terdapat kaum yang berhak menjadi saksi, tapi tidak dimintai kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai seorang saksi). Mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya. Mereka bernazar dan tidak dapat menunaikannya dan tampak pada mereka orang-orang gemuk.” (HR Bukhari)
Meskipun Kekhalifahan (Pemerintahan) Islam tidak tegak, tapi umat Islam yang membela kebenaran itu kenyataannya tetap ada (tegak) dan hal itu sesuai dengan sunnah Rasulullah ini:
Dari Tsauban, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok ummatku yang selalu setia membela kebenaran. Mereka tidak merasa gentar terhadap orang-orang yang menyalahi mereka. Sampai hari kiamat kelakpun mereka akan tetap bersikap begitu.” (HR Muslim)
Dari Al Mughirah, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Satu kaum dari ummatku akan senantiasa membela manusia. Dan sampai hari kiamat kelak sekalipun mereka akan tetap bersikap begitu.” (HR Muslim)
Meskipun Kekhalifahan (Pemerintahan) Islam tidak tegak, tapi umat Islam yang membela atau menegakkan agama Islam kenyataannya tetap ada dan hal itu sesuai dengan sunnah Rasulullah ini:
Dari Jabir bin Samurah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Agama ini akan senantiasa tegak, mengingat ada sekelompok kaum muslimin yang membelanya sampai hari kiamat.” (HR Muslim)
Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, sesungguhnya Umair bin Hani’ bercerita kepadanya, dia mengatakan: “Aku pernah mendengar Mu’awiyah berkata di atas mimbar: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang senantiasa setia menegakkan agama Allah. Mereka tidak gentar terhadap orang-orang yang menyalahi atau menentang mereka. Sampai hari kiamat kelakpun mereka akan senantiasa sudi membela manusia.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Kekhalifahan (Pemerintahan) Islam dengan mengamalkan syariat agama Islam akan kembali tegak di bumi?”
Mudariszi: “Pada waktunya, Allah SWT akan mendatangkan Khalifah (Pemimpin) umat Islam. Nama Khalifah itu sesuai dengan nama Rasulullah SAW dan dijuluki Al Mahdi. Khalifah tinggal bersama umat Islam selama lima atau tujuh atau sembilan tahun. Khalifah memerangi dan mengalahkan orang-orang kafir. Khalifah membagikan ghanimah tanpa menghitung karena banyaknya harta rampasan dan banyaknya umat Islam yang miskin akibat di bawah pemimpin kafir sebelumnya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ashim dari Zirr dari Abdillah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Seorang dari keluargaku akan berkuasa yang namanya cocok dengan namaku.” Ashim berkata: “Abu Shaleh menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, dia berkata: “Seandainya dunia tidak tersisa selain satu hari, pasti Allah memanjangkan hari itu sehingga dia berkuasa.” (HR Tirmidzi)
Syu’bah memberitahukan kepada kami, dia berkata: “Aku mendengar Zaid Al Ami berkata: “Aku mendengar Abush Shiddiq menceritakan kepada Abu Sa’id Al–Khudriy, berkata: “Kami khawatir sepeninggal Nabi kami terjadi suatu kejadian, lalu kami bertanya kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya di dalam umatku ada Al Mahdi yang keluar serta hidup lima atau tujuh atau sembilan (Zaid yang ragu-ragu).” Abu Sa’id berkata: “Kami berkata: “Apa itu?” Beliau bersabda: “Tahun.” Beliau bersabda: “Lalu seseorang datang kepadanya lalu berkata: “Hai Mahdi, berilah aku, berilah aku.” Beliau bersabda: “Kemudian beliau memberikan kepadanya dalam pakaiannya sebanyak dia mampu membawanya.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu pernah mendengar tentang suatu kota yang satu sisinya di laut dan sisi yang lain berada di darat?” Mereka berkata: “Ya, hai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai kota tersebut diserang tujuh puluh ribu orang dari keturunan Nabi Ishaq. Setelah sampai, mereka menyerbu. Mereka tidak menyerang dengan pedang atau panah, mereka membaca: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah salah satu sisinya.” Tsaur berkata: “Aku hanya tahu beliau bersabda: “Yang ada di laut. Kemudian mereka membaca untuk yang kedua kalinya: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah sisi yang lain. Lalu mereka membaca lagi: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka mereka menang. Lantas mereka memasukinya dan memperoleh barang jarahan.” (HR Muslim)
Dari Abu Nadlrah, ia,berkata: “Kami berada di tempat Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Pada akhir masa umatku akan ada seorang Khalifah yang membagi-bagikan harta tanpa menghitungnya.” (HR Muslim)
Karena usia Khalifah yang singkat, maka Allah SWT menurunkan Nabi ‘Isa kepada umat Khalifah (umat Islam) untuk memerangi dan mengalahkan kaum-kaum kafir yaitu kaum Nasrani, kaum Yahudi, Dajjal Al Masih dan kaum musyrik. Nabi ‘Isa memimpin dengan memakai syariat Islam dalam memerangi orang-orang kafir tersebut. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal,beliau bersabda: “Ketika ia dalam keadaan demikian, mendadak Allah mengutus Al Masih putera Maryam. Beliau turun di menara putih, sebelah timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelup za’faran, dan meletakkan telapak tangannya pada sayapnya dua malaikat; apabila beliau menundukkan kepala airpun menetes, dan jika mengangkat kepala, berluncuranlah air tadi bagaikan mutiara; orang kafir yang mencium bau nafas beliau pasti mati, sedangkan nafas beliau itu dapat mencapai sejauh pandangan mata beliau.” (HR Muslim)
Jabir bin Abdullah berkata:“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tak henti-hentinya sekelompok dari ummatku berkelahi berebut benar yang tampaknya sampai hari kiamat. Lalu Isa bin Maryam turun, maka berkatalah pemimpin mereka: “Marilah, do’akanlah kami.” Isa menjawab:“Tidak! Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap ummat ini.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimanakah kalian bila Ibnu Maryam turun pada kalian lalu menjadi imam kalian dari kalian?”Aku (Al Walid bin Muslim, perawi hadis) berkata kepada Ibnu AbuDzi’bi (yang menceritakan): “Al Auza’iy menceritakan kepadaku melalui jalur Az Zuhri dari Nafi dari Abu Hurairah: “Dan imam kalian di antara kalian.”Ibnu Dzi’bi bertanya: “Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan rnenjadi iman kalian dari kalian?”Aku berkata: “Beritahukanlah kepadaku.” Ibnu Abu Dzi’bi berkata: “Dia (Isa) menjadi imam kalian dengan menggunakan Kitab Tuhan kalian Tabaraka wa Ta’ala (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi kalian Muhammad SAW.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.