Dialog Seri 18: 14
Tilmidzi: “Bagaimana Al Qur’an itu?”
Mudariszi: “Al Quran merupakan bukti nyata dari Allah SWT Tuhan semesta alam dan bukti nyata keberadaan Allah SWT di semesta alam bagi manusia karena Dia tidak terlihat oleh manusia dan manusia tidak dapat berbicara dengan-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (Asy Syu’araa’ 192)
Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. (Al A’raaf 203)
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 103)
Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (An Naba’ 37)
Al Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW, untuk manusia dengan membawa kebenaran. Allah SWT berfirman:
Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Az Zumar 1)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisaa’ 174)
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah 147)
Al Qur’an itu merupakan kitab pelajaran. Penjelasan Al Qur’an berdasarkan pengetahuan-Nya dan Al Qur’an mengajarkan kepada manusia atas apa yang tidak diketahuinya. Allah SWT berfirman:
Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran. (Yaasiin 69)
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. (Al A’raaf 52)
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ’Alaq 3-5)
Salah satu penjelasan dan pengajaran Allah SWT melalui Al Qur’an bagi manusia yaitu penjelasan dan pengajaran agama Allah (agama Islam). Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali ’Imran 83)
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ’Imran 19)
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ’Imran 85)
Selain menjelaskan agama Islam, Allah SWT menjelaskan pula dalam Al Qur’an tentang peraturan (syariat) agama Islam kepada Rasulullah SAW dan manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Tilmidzi: “Bukankah telah ada agama Allah yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa yaitu agama Yahudi dan agama Nasrani?”
Mudariszi: “Allah SWT telah mengutus Nabi Musa dan Nabi ‘Isa (keduanya dari Bani Israil) yang masing-masing diberikan-Nya kitab Taurat dan Injil dengan membawa agama-Nya untuk manusia. Kedua agama-Nya itu diturunkan-Nya sebelum Dia turunkan kitab Al Qur’an kepada Rasulullah SAW (dari bangsa Arab) yang membawa agama-Nya yaitu agama Islam untuk manusia. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat). (Al Qashash 43)
Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rasul-Rasul Kami dan Kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil. (Al Hadiid 27)
Dia menurunkan Al Kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia. (Ali ‘Imran 3-4)
Agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa itu bukan agama Yahudi dan bukan agama Nasrani; tapi agama-Nya dalam Taurat dan Injil yang berbahasa Ibrani berarti agama Islam. Agama Yahudi dan agama Nasrani itu agama pengikut Nabi Musa dan pengikut Nabi ‘Isa, yaitu agama-Nya yang dirubah (diada-adakan) oleh mereka karena mereka mengingkari Taurat, Injil dan Rasul-Rasul-Nya, contoh sebagai berikut:
Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (Al Baqarah 135)
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Al Baqarah 111)
Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (Ali ‘Imran 24)
Mereka dengan agamanya mengada-ada tentang Allah SWT dan tentang agama-Nya dengan mengatakan Nabi Ibrahim itu pengikut agama Yahudi atau agama Nasrani. Allah SWT membantah semua itu melalui firman-Nya berikut ini:
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berfikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (Ali ‘Imran 65-67)
Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah 139-140)
Allah SWT menjelaskan tentang Nabi Ibrahim dengan anak-anaknya dan cucunya yang memeluk agama-Nya yaitu agama Islam, sebagai berikut:
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (Al Baqarah 132)
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al Baqarah 133)
Allah SWT perintahkan umat Islam agar beriman dan bertakwa kepada-Nya hingga mereka mati dalam keadaan beragama Islam, seperti wasiat Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya dalam firman-Nya di atas. Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali ’Imran 102)
Allah SWT menurunkan agama Islam melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW untuk manusia, dan untuk manusia itu termasuk untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan musyrik yang menyembah tuhan berhala, agar mereka dan anak cucunya meninggalkan agama Yahudi, agama Nasrani dan agama menyembah berhala, supaya mereka selamat di dunia dan di akhirat.”
Tilmidzi: “Bagaimana Al Qur’an dan agama Islam tersebut?”
Mudariszi: “Al Qur’an merupakan penjelasan yang sempurna bagi manusia atas ke-Esa-an Allah SWT (Tuhan Yang Maha Esa), dan penjelasan agama-Nya yang agama tauhid yaitu agama Islam untuk manusia. Allah SWT berfirman:
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)
Agama Islam diajarkan oleh Allah SWT melalui Al Qur’an dan Jibril kepada Rasulullah SAW yang mengajarkan syariat (agama Islam) yang benar, dengan pokok-pokok agama Islam yaitu: Islam, Iman dan Ihsan, sebagai berikut:
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. (Ar Ra’d 37)
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikitpun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata: “Hai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.” Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan beribadah haji di Baitullah jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Kata Umar: “Kami merasa heran kepada orang itu. Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya.” Kembali orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman.” Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat–Nya, kitab-kitab–Nya, para utusan–Nya, hari Akhir, dan kepada takdir, baiknya takdir dan buruknya takdir.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Lalu lanjutnya: “Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihat–Nya. Jika engkau tidak mampu berbuat seolah-olah melihat–Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang hari Kiamat.” Rasulullah SAW menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah tersebut lebih tahu ketimbang orang yang bertanya.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari Kiamat itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu bila telah ada budak perempuan melahirkan majikannya, jika engkau telah melihat orang-orang yang tadinya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kambing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan.” Kemudian orang itu berlalu. Rasulullah SAW diam sejenak, lalu bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul–Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW bersabda: “Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR Muslim)
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (Az Zumar 2)
Selain mengajarkan syariat agama Islam, Allah SWT mengajarkan pula jalan-Nya yang lurus dan jalan-Nya itu wajib diikuti oleh umat Islam. Allah SWT berfrman:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)
Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)
Pokok-pokok agama Islam itu merupakan kewajiban pokok bagi manusia atas Allah SWT ketika manusia menjalani hidupnya di dunia. Orang yang beriman kepada-Nya dan taat menjalankan kewajiban ibadah kepada-Nya akan berpahala dan orang yang tidak menjalankan kewajiban ibadah kepada-Nya dan tidak beriman kepada-Nya akan berdosa. Selain kewajiban pokok tersebut, manusia ketika menjalani hidupnya di dunia berinteraksi dengan makhluk-makhluk hidup lainnya (bermu’amalah), untuk itu umat Islam diwajibkan agar taat mengikuti perintah dan larangan yang ditetapkan oleh Allah SWT dalam hukum-hukum agama Islam yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Al Insaan 2)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Di samping itu, Rasulullah SAW menjelaskan agar berhati-hati dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an dan berhati-hati atas perkara-perkara yang tidak jelas, sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW membaca firman Allah: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (surat Ali Imran ayat 7). Setelah membaca firman tersebut Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari Al Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang telah dinamai oleh Allah. Maka waspadalah terhadap mereka.” (HR Muslim)
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: “Aku mendengar (sambil memegang kedua telinganya) Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itupun jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat yang tidak diketahui oleh orang banyak. Oleh karena itu, barangsiapa menjaga diri dari perkara syubhat, ia telah terbebas (dari kecaman) untuk agamanya dan kehormatannya. Dan orang yang terjerumus ke dalam syubhat, berarti terjerumus ke dalam perkara haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar cagar alam, maka kemungkinan besar gembalaannya akan merumput di cagar alam tadi. Ingat! Sesungguhnya setiap penguasa itu memiliki daerah terlarang. Ingat! Sesungguhnya daerah terlarang milik Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingat! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik, baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh, itulah hati.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW memperingatkan umat Islam agar tidak berselisih atau memperdebatkan Al Qur’an atau ayat-ayat Al Qur’an, karena hal itu dilarang oleh Allah SWT, sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. (Al Mu’min 56)
Dari Abu Imran Al Jauni, dia berkata: “Abdullah bin Rabbah Al Anshari berkirim surat kepadaku yang isinya memberitahukan, bahwa Abdullah bin Amer pernah mengatakan: “Suatu pagi aku bersama dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang berselisih mengenai suatu ayat. Rasulullah SAW keluar menemui kami dengan wajah kelihatan murka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadi binasa adalah disebabkan mereka suka berselisih mengenai Al Kitab.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Jangan hiraukan aku tentang sesuatu yang aku telah membiarkannya terhadap kalian. Sejatinya binasanya orang-orang yang sebelum kalian adalah disebabkan pertanyaan dan pertentangan mereka terhadap para Nabinya. Maka jika aku telah melarang kalian tentang sesuatu, jauhilah ia. Dan jika aku telah perintah kepada kalian untuk mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah ia selama kalian mampu.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah berbuat sesuatu pekerjaan, namun beliau kemudian memberikan keringanan. Ketika hal itu didengar oleh sebagian dari sahabat-sahabatnya, mereka seolah-olah tidak suka pada tindakan beliau tersebut dan berlagak sok tahu. Reaksi mereka itu sampai kepada beliau. Beliau lalu berdiri dan berpidato: “Apa pedulinya orang-orang itu? Mereka mendengar berita tentang diriku yang memberikan kemurahan terhadap sesuatu. Mereka lalu tidak menyukainya dan berlagak sok tahu. Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling tahu dan paling bertakwa kepada Allah daripada mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur’an. (Ar Rahmaan 1-2)
Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (An Nisaa’ 113)
Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa dikehendaki Allah akan kebaikan padanya, maka Allah memberikan kefahaman dalam soal Agama.“ (HR Tirmidzi)
Dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Humaid bin Abdurrahman berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman). Umat ini senantiasa menegakkan urusan Allah, dan orang yang sesudah mereka tidaklah membahayakan mereka sehingga datang perintah Allah.” (HR Bukhari)
Dengan demikian, Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia, dan Dia menganugerahkan Al Hikmah kepada manusia, yaitu kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah atau tentang agama Islam. Allah SWT berfirman:
Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah 269)
Kepahaman yang dalam tentang agama Islam itu membuat orang tersebut menjadi dalam imannya dan ilmunya karena pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman:
Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. (Al ’Ankabuut 49)
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Al Hujuraat 7)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. (Al Mujaadilah 22)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT ajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia ketika Dia menurunkan ayat-ayat Al Qur’an kepada utusan-Nya dari malaikat (Jibril) untuk disampaikan kepada utusan-Nya dari manusia (Rasulullah SAW). Allah SWT berfirman:
Allah memilih utusan-utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. (Al Hajj 75)
Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). (At Takwiir 19)
Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan-Nya itu disampaikan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur agar mudah diingat dan dihafal oleh beliau di dadanya. Bacaan dan hafalan Rasulullah SAW akan diuji dan dikoreksi oleh Jibril pada setiap kunjungan di setiap tahun. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (Al Insaan 23)
Kami akan membacakan (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa kecuali kalau Allah menghendaki. (Al A’laa 6-7)
Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia (Al Qur’an) dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad). Dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa’ 192-195)
Dari Abu Hurairah, katanya: “Adalah Jibril menyodorkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW pada setiap tahun satu kali. Kemudian mengajukan kepada beliau dua kali pada tahun menjelang beliau wafat. Dan beliau setiap tahun i’tikaf sepuluh kali. Kemudian dua puluh kali pada tahun menjelang beliau wafat.” (HR Bukhari)
Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan-Nya dengan berangsur-angsur itu juga bertujuan agar beliau memahami penjelasan dari ayat-ayat Al Qur’an tersebut yang dijelaskan dan diajarkan oleh Jibril. Allah SWT berfirman:
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaahaa 114)
Janganlah kamu (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. (Al Qiyaamah 16-19)
Penyampaian dan pengajaran Allah SWT kepada Rasulullah SAW (melalui Jibril) atas ayat-ayat Al Qur’an dan agama Islam (termasuk dihafal dan dipahami oleh beliau) itu diperlukan karena beliau setelah itu wajib menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an tersebut kepada manusia. Allah SWT berrfirman:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)
Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)
Rasulullah SAW menyampaikan, membacakan dan menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an (yang diterimanya dari Jibril) dan agama Islam kepada manusia, yaitu para sahabat, di Mekkah, di Madinah dan di daerah Jazirah Arab lainnya. Rasulullah SAW lalu perintahkan sahabatnya untuk mencatat ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Ketika menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada para sahabat, Rasulullah SAW mengajarkan cara membacanya, menghafalnya dan memahami penjelasannya seperti yang Jibril ajarkan kepada beliau. Penjelasan (tafsir) dan hikmah ayat-ayat Al Qur’an tersebut dicatat terpisah dari kitab Al Qur’an. Kebanyakan ayat-ayat Al Qur’an turun ketika Rasulullah SAW sedang bersama dengan para sahabat. Tujuannya agar Rasulullah SAW dan para sahabat mudah dan cepat memahami ayat-ayat Al Qur’an itu karena mereka melihat dan mengalami sebab-sebab kejadian hingga turunnya ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Tapi ada beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang turun ketika Rasulullah SAW sedang sendiri, tujuannya dijelaskan sebagai berikut:
Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. (Huud 120)
Contoh para sahabat belajar membaca dan menghafalkan Al Qur’an dan As Sunnah dari Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Sesungguhnya manusia berkata: “Abu Hurairah itu memperbanyak (periwayatan). Seandainya tidak karena dua ayat dalam kitabullah (Al Qur’an) niscaya saya tidak menceriterakan hadits. Kemudian ia membaca firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk ….. sampai firman-Nya: Yang Maha Pengasih.” (surat Al Baqarah ayat 159-160).Sesungguhnya saudara-saudara kami orang-orang Muhajirin pergi ke pasar-pasar, saudara-saudara kami orang-orang Anshar sibuk mengurusi harta benda mereka, dan Abu Hurairah selalu bersama Rasulullah SAW karena perutnya kenyang (mencukupkan dengan makan seadanya), ia mendatangi apa yang mereka tidak datang dan ia hafal apa yang mereka tidak hafal.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Saya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mendengar hadits yang banyak dari engkau namun saya lupa.” Beliau bersabda: “Hamparkan selendangmu.” Lalu saya menghamparkannya dan beliau mencedok dengan kedua tangan beliau kemudian beliau bersabda: “Himpunlah dia.” Maka saya menghimpunkannya dan sesudah itu saya tidak lupa sedikitpun. (HR Bukhari)
Contoh sahabat menulis (mencatat) ayat-ayat Al Qur’an, sunnah (hadist) Rasulullah (As Sunnah) dan penjelasan (tafsir) ayat-ayat Al Qur’an karena perintah dari Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah dari Ayahnya, ia berkata: “Rasulullah SAW duduk pada unta beliau dan seseorang memegang kendalinya, beliau bersabda: “Hari apakah ini?“ Kami diam karena kami menduga bahwa beliau akan menamakannya dengan selain namanya. Beliau bersabda: “Bukankah hari Nahar (korban)?” Kami diam karena kami menduga bahwa beliau akan memberi nama dengan selain namanya. Lalu beliau bersabda: “Bukankah Dzul Hujjah?” Kami menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu di antaramu semua adalah haram (terlarang) seperti terlarangnya harimu itu dalam bulanmu ini di negerimu ini. Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena barangkali orang yang hadir itu menyampaikan kepada orang yang lebih menjaga (lebih hafal) daripadanya.” (HR Bukhari)
Dari Wahab bin Munabbah dari saudaranya, ia berkata: “Saya mendengar Abu Hurairah berkata: “Tiada seorangpun dari para sahabat Rasulullah SAW yang lebih banyak dalam hal meriwayatkan hadits yang diterima dari beliau dari padaku sendiri, melainkan apa yang terdapat dari Abdullah bin Amr, sebab ia mencatat apa yang di dapat dari Abdullah bin Amr, sebab ia mencatat hadits itu dan aku tidak mencatatnya.” (HR Bukhari)
Contoh ancaman bagi orang yang berdusta dengan menggunakan nama Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dari Rib’iy bin Hirasy berkata: “Saya mendengar Ali berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya orang yang berdusta atasku maka baiklah ia memasuki neraka.” (HR Bukhari)
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah dari Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menceritakan hadits dariku padahal ia melihat bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah seorang pendusta.“ (HR Tirmidzi)
Contoh para sahabat belajar agama Islam dari Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Ketika kami duduk dengan Rasulullah SAW di masjid, masuklah seorang laki-laki.yang mengendarai unta, lalu mendekamkan untanya di dalam masjid, dan mengikatkannya, kemudian berkata: “Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?“ Dan Rasulullah SAW bertelekan di antara mereka, lalu kami katakan: “Laki-laki putih yang bertelekan ini.” Laki-laki itu berkata: “Putera Abdul Muththalib?” Beliau bersabda kepadanya: “Saya telah menjawabmu.” Ia berkata: “Sesungguhnya saya bertanya kepadamu, berat atasmu namun janganlah diambil hati olehmu terhadap saya.” Beliau bersabda: “Tanyakan apa-apa yang timbul dalam dirimu.” Ia berkata: “Saya bertanya kepadamu tentang Tuhanmu, dan Tuhan orang-orang yang sebelummu. Apakah Allah mengutusmu kepada seluruh manusia?” Beliau bersabda: “Wahai Allah, ya.” Ia berkata: “Saya sebutkan kepadamu karena Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk shalat lima waktu dalam sehari semalam?” Beliau bersabda: “Wahai Allah, ya.” Ia berkata: “Saya sebutkan kepadamu karena Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk puasa bulan ini (Ramadlan) dalam satu tahun?” Beliau bersabda: “Wahai Allah, ya.” Ia berkata: “Saya sebutkan kepadamu karena Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk mengambil zakat ini dari orang-orang kaya kita, lalu kamu bagikan atas orang-orang fakir kita?” Beliau bersabda: “Wahai Allah, ya.” Lalu laki-laki itu berkata: “Saya percaya kepada apa yang kamu bawa dan saya adalah utusan dari orang yang di belakang saya dari kalangan kaum saya. Saya Dhimam bin Tsa’labah saudara Bani Sa’d bin Bakr.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Suatu saat Rasulullah SAW tertinggal di belakang kami yang sedang mengadakan perjalanan. Beliau telah bersama kami ketika kami sedang melakukan wudlu’ untuk shalat Ashar yang segera akan dilakukan. Kami baru saja mengusap kaki kami, tiba-tiba dari tempat agak jauh beliau berseru dengan suara yang amat keras: “Celakalah kaki-kaki dari sebab kena siksa neraka.” Beliau mengucapkan itu dua atau tiga kali. (HR Bukhari)
Contoh para sahabat menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah (atau apa yang mereka dengar dan lihat dari ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW), sebagai berikut:
Dari Abu Musa, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah peperangan di jalan Allah itu, karena salah seorang di antara kita berperang karena marah dan ada yang karena menjaga?” Beliau kemudian bersabdasambil mengangkat kepalanya dan tentunya beliau tidak perlu mengangkat kepala, melainkan karena orang yang bertanya itu berdiri sedang beliau duduk, demikianlah kata Abu Musa. Lalu beliau menjawab: “Barangsiapa yang berperang agar hanya kalimah Allah-lah yang tertinggi, maka dia di jalan Allah.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya seorang laki-laki berdiri di masjid dan bertanya: “Wahai Rasulullah, dari manakah engkau menyuruh kami untuk mengeraskan suara talbiyah ketika ihram?” Rasulullah SAW bersabda: “Penduduk Madinah mengeraskan suara talbiyah dari Dul Hulaifah, penduduk Syam mengeraskan suara talbiyah dari Juhfah, dan penduduk Najd mengeraskan suara talbiyah dari Qarn.” Ibnu Umar berkata: “Manusia menduga bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Penduduk Yaman mengeraskan suara talbiyah dari Yalamlam.” Ibnu Umar berkata: “Dan saya tidak tahu bahwa ini dari Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)
Dengan demikian Rasulullah SAW menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia itu diawali dengan menyampaikan kepada para sahabat beliau di Mekkah, di Madinah dan di daerah Jazirah Arab lainnya. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al Jumu’ah 2-3)
Penjelasan Rasulullah SAW atas Al Qur’an yang diterimannya dari Jibril kepada para sahabat, membuat para sahabat memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Penjelasan Rasulullah SAW tersebut termasuk tentang agama Islam, syariat agama Islam, hukum-hukum agama, mu’amalah. Ayat-ayat Al Qur’an dan penjelasan ayat-ayat Al Qur’an itu dicatat oleh para sahabat sehingga menjadi Al Qur’an dan As Sunnah. Dan mereka lalu menyampaikan semua ilmu itu kepada manusia yang lahir kemudian (sesudah mereka). Allah SWT berfirman:
Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al Baqarah 150-152)
Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah 231)
Penyampaian dan penjelasan Rasulullah SAW atas Al Qur’an dan agama Islam kepada para sahabat (manusia) itu merupakan bukti pengajaran Allah SWT kepada manusia. Jika Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada Rasulullah SAW melalui Jibril, maka Dia mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia melalui Rasulullah SAW (yaitu As Sunnah atau sunnah Rasulullah SAW).”
Tilmidzi: “Apakah ulama wajib mengajarkan ilmu agama dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah?”
Mudariszi: “Di antara para sahabat Rasulullah SAW itu ada yang dianugerahkan-Nya Al Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah). Kepahamannya yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah telah menjadikannya sebagai ulama (orang yang berilmu) atau sebagai pewaris Nabi. Orang yang pandai dalam agama itu lebih utama dari ahli ibadah. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Qais bin Katsir berkata: “Seseorang dari Madinah datang kepada Abud Darda’ sedangkan dia berada di Damasqus lalu dia berkata: “Apakah yang mendorong kamu datang kemari hai saudaraku?” Dia menjawab: “Hadits yang sampai kepadaku bahwa kamu menceritakannya dari Rasulullah SAW.” Abud Darda’ bertanya: “Apakah kamu datang untuk kebutuhan lain?” Dia menjawab: “Tidak.” Abud Darda’ bertanya: “Apakah kamu datang untuk perdagangan?” Dia menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Aku tidak datang selain untuk mencari hadits ini.” Abud Darda’ berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya jalan ke syurga. Dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya karena ridha terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang pandai dimintakan ampun oleh apa (siapa) yang berada di langit dan di bumi, sehingga ikan-ikan di air. Keutamaan orang pandai atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil ilmu, maka dia telah mengambil bagian yang sempurna.“ (HR Tirmidzi)
Dari Abu Harun berkata: “Kami datang menghadap Abu Said, lalu dia berkata: “Selamat datang kepada wasiat Rasulullah SAW sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia mengikutimu dan sesungguhnya orang-orang datang kepadamu dari penjuru dunia untuk belajar dalam soal agama. Jika mereka datang kepadamu, maka berilah wasiat yang baik kepada mereka.“ (HR Tirmidzi)
Allah SWT menjelaskan tentang ulama (orang yang berilmu agama) itu sebagai berikut:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Faathir 28)
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mengatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali ‘Imran 18)
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)
Dalam mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya, maka para ulama mengikuti nasehat Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai berikut:
Ibnu Abbas berkata: “Jadilah kamu semua itu golongan rabbani, penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum-hukum agama). Yang dimaksudkan “Rabbani” ialah orang yang mendidik para manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar).” (HR Bukhari)
Ali berkata: “Hendaknya kamu menasehati orang lain sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Adakah kamu semua senang sekiranya Allah dan Rasul-Nya itu didustakan sebab kurangnya pengertian yang ada pada mereka itu?” (HR Bukhari)
Agar selamat di akhirat, Rasulullah SAW menjelaskan kepada orang-orang yang berilmu agar tidak menyembunyikan ilmunya dan tidak mencari dunia dengan ilmunya, sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui kemudian ia menyembunyikannya (tanpa menjawabnya), maka kelak dia dikendalikan di hari kiamat dengan kendali yang terdiri dari api neraka.“ (HR Tirmidzi)
Ibnu Ka’b bin Malik dari Ayahnya berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mencari ilmu agar diperlakukan sebagai seorang yang pandai atau untuk berbantah dengan orang-orang yang bodoh atau menarik perhatian manusia kepadanya, niscaya kelak Allah memasukkannya ke neraka.” (HR Tirmidzi)
Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk mengajarkan ilmu agama kepada kaum wanita dan anak-anak, sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: “Orang-orang wanita berkata: “Orang-orang laki-laki bagi engkau mengalahkan atas kami, berilah kami satu hari daripada engkau.” Beliau menjanjikan kepada mereka satu hari untuk bertemu, lalu beliau memberi nasihat dan perintah kepada mereka. Tentang yang beliau sabdakan kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita daripadamu sekalian telah ditinggal mati tiga orang anaknya kecuali wanita itu akan mempunyai penghalang dari neraka.” Seorang wanita di antara mereka berkata: “Dua orang?” Beliau bersabda: “Dua orang.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW memelukku dan bersabda: “Wahai Allah, ajarkanlah Al Qur’an kepadanya.” (HR Bukhari)
Dari nasehat Rasulullah SAW dan para sahabat dalam mengajarkan ilmu agama dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah itulah maka pemimpin negeri dengan para ulama atau pendidik agama lalu menetapkan pelajaran agama dengan mata pelajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan berfikir orang tersebut, mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa. Mata pelajaran ilmu agama itu termasuk ilmu Al Qur’an, ilmu As Sunnah (hadis Rasulullah), ilmu tauhid, ilmu pokok-pokok agama Islam, ilmu hukum-hukum Islam, ilmu mu’amalah.”
Tilmidzi: “Apakah ulama dibenarkan untuk mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam mengikuti pendapatnya (termasuk perbuatannya) atau pendapat gurunya?”
Mudariszi: “Ulama dilarang menjelaskan dan mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam mengikuti pendapatnya (termasuk perbuatannya) atau pendapat gurunya. Penjelasan dan pendapat ulama seperti itu dilarang untuk diikuti (dikerjakan) oleh murid-muridnya, karena pendapatnya itu hanya menuruti hawa nafsunya. Jika ulama itu tetap melakukannya dan terbukti ada murid-muridnya yang mengikutinya, maka ulama itu telah mengada-adakan ibadah baru dalam urusan agama. Allah SWT tidak menerima ibadah baru itu karena ibadah itu bukan (tidak) diajarkan oleh Rasuilullah SAW, ibadah baru itu bukan ibadah dari agama-Nya (agama Islam), seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agamaku, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami tanpa ada dasarnya, maka sesuatu itu tertolak.” (HR Muslim)
Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW telah sempurna seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT. Karena telah sempurna, maka ketentuan-ketentuan (hukum-hukum) agama Islam yang ditetapkan oleh Allah SWT dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW tidak dapat dirubah (ditambah atau dikurangkan). Jika ada ketentuan-ketentuan yang dirubah (ditambah atau dikurangkan) hingga ibadah agama Islam tidak lagi seperti yang dijalankan (dikerjakan) oleh Rasulullah SAW, maka orang yang melakukan (perubahan) itu berarti dia telah mendurhakai Allah SWT dan Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)
Dengan demikian, melakukan (mengada-adakan) ibadah baru itu sesat (seperti firman-Nya di atas). Dan melakukan ibadah baru itu disebut bid’ah, dan setiap orang yang buat dan jalankan bid’ah itu maka dia telah sesat. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: “Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore!” Kala itu beliau bersabda: “Masa aku diutus dan hari kiamat itu hanyalah seperti kedua jari ini!” Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: “Sesudah apa yang tersebut, maka ketahuilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang disebut bid’ah). Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR Muslim)
Ulama dan muridnya (pengikutnya) yang mengerjakan bid’ah ulama itu semuanya sesat dan berdosa, dan itu dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (An Nahl 25)
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengajak pada petunjuk, maka baginya adalah pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya, tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka baginya menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti ajakannya itu, tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa mereka itu.” (HR Muslim)
Ulama dan pengikutnya yang melakukan bid’ah itu menunjukkan mereka semua tidak mau (tidak taat) mengikuti Rasulullah SAW, itu berarti mereka tidak mau masuk surga, karena mereka durhaka kepada beliau. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku tentu dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah mungkin bid’ah itu akan berkembang luas?”
Mudariszi: “Jika persatuan jama’ah Islam yang mengikuti Rasulullah SAW melemah, maka akan banyak fitnah dan bid’ah. Rasulullah SAW menjelaskan itu, sebagai berikut:
Dari Abu Burdah dari Ayahnya, dia berkata: “Selesai sembahyang Maghrib bersama dengan Rasulullah SAW, kami berkata: “Kita duduk disini saja menunggu supaya kita bisa bersembahyang Isya bersama dengan beliau lagi.” Kami pun duduk. Tak lama kemudian keluarlah Rasulullah SAW bergabung dengan kami. Beliau bertanya: “Kalian masih disini?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tadi ikut sembahyang Maghrib bersama Anda. Kami duduk menunggu disini supaya bisa bersembahyang Isya sekalian bersama Anda lagi.” Rasulullah SAW bersabda: “Bagus dan benar kalian.” Selanjutnya beliau mengangkat kepalanya ke atas langit lama sekali. Lalu beliau bersabda: “Bintang-bintang adalah jaminan bagi keberadaan langit. Apabila bintang-bintang itu sudah tidak ada, maka kiamatlah yang terjadi. Aku adalah jaminan keamanan bagi sahabat-sahabatku. Apabila aku sudah tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka. Dan para sahabatku adalah jaminan keamanan bagi ummatku. Apabila para sahabatku tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka.” (HR Muslim)
Melemahnya persatuan jama’ah Islam itu karena kebanyakan umat Islam meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani, diangkat-Nya ilmu dan timbul kebodohan, sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh kalian telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai pun mereka masuk ke dalam liang biawak, kalian pun akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani?” Beliau bersabda: “Siapa lagi?” (HR Muslim)
Dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, sesungguhnya Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Kiamat semakin dekat, ilmu diambil, muncul berbagai fitnah, sifat kikir merajalela dan banyak terjadi alharju.” Para sahabat bertanya: “Apa itu al harju?” Rasulullah SAW menjawab: “Yaitu permusuhan.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW menjelaskan ilmu agama dicabut (diambil) itu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba-Nya. Tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan (mematikan) ulama, sehingga apabila Allah tidak menyisakan orang pandai, maka manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya maka mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah yang umat Islam harus lakukan dalam menghadapi fitnah dan bid’ah tersebut agar mereka selamat?”
Mudariszi: “Agar umat Islam selamat menghadapi fitnah dan bid’ah, maka Rasulullah SAW menjelaskan agar menjauhi bid’ah yang menyesatkan dan beramal ibadah dengan taat mengikuti Rasulullah SAW dan para sahabat yang ditunjuki-Nya, sebagai berikut:
Dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata: “Rasulullah SAW menasehati kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh suatu nasehat yang penting yang mana mata menangis dan hati bergetar karenanya. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ini adalah nasehat orang yang akan meninggalkan, maka dalam hal apa saja engkau mengamanatkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu), karena sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kamu tentu akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya perkara-perkara yang baru (bid’ah) itu sesat. Barangsiapa di antara kamu menjumpai hal itu, maka ia harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus yang diberi petunjuk, peganglah sunnah itu dengan kuat-kuat.” (HR Tirmidzi)
Dari Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh akan menimpa atas ummatku apa yang telah menimpa atas Bani Israil (sejajar) satu sandal dengan satu sandal, sehingga jika dari mereka ada orang yang menyetubuhi Ibunya secara terang-terangan, maka dari umatku ada orang yang berbuat demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Abdullah bin Amr bertanya: “Siapa golongan itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Golongan yang (berpegang teguh dengan) apa yang aku lakukan beserta sahabatku.” (HR Tirmidzi)
Umat Islam yang mengikuti bid’ah itu tidak berbeda dengan Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani), yaitu sama-sama tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT berfirman:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Orang-orang beriman dan bertakwa diminta oleh Rasulullah SAW untuk menghidupkan sunnah Rasulullah yang banyak ditinggalkan oleh umat Islam karena mereka mengikuti bid’ah (agama baru). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Marwan bin Mu’awiyah dari Katsir bin Abdillah dari Ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal bin Al-Harits: “Ketahuilah!” Dia berkata: “Apakah yang harus aku ketahui wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya barangsiapa menghidupkan satu sunnahku yang telah ditinggalkan sesudahku, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka, dan barangsiapa mengada-adakan hal baru yang sesat yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka dia terkena dosa seperti dosa-dosa orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.“ (HR Tirmidzi)
Wallahu a’lam.