Apakah Ulama Ajarkan Ilmu Dunia Dengan Al Qur’an?

Dialog Seri 18: 15

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT untuk manusia itu juga menjelaskan tentang ilmu dunia di samping ilmu agama Islam?”

 

Mudariszi: “Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT juga menjelaskan tentang ilmu dunia, yaitu ilmu yang berurusan dengan semua makhluk di dunia (termasuk makhluk yang ghaib) yang menjalani hidupnya di dunia bersama-sama dengan manusia.. Allah SWT menjelaskan ketetapan-Nya bagi manusia dan bagi semua apa yang ada di langit dan di bumi itu (termasuk semua makhluk), sebagai berikut:

 

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)

 

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)

 

Manusia dan semua makhluk (termasuk makhluk ghaib) yang ada di langit dan di bumi itu merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Allah SWT telah menetapkan agama-Nya bagi semua makhluk-Nya dan menetapkan ketentuan dan peraturan (syariat) agama-Nya bagi mereka ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? (Al Qalam 37-38)

 

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)

 

Allah mengatur urusan (makhluk-Nya). (Ar Ra’d 2)

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

Karena itu, semua yang ada (termasuk semua makhluk) di langit dan di bumi itu sujud dan bertasbih kepada Allah SWT ketika mereka menjalani hidupnya di dunia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)

 

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. (An Nuur 41)

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menundukkan semua apa yang ada di langit dan di bumi itu untuk kepentingan manusia?”

 

Mudariszi: “Karena perkara itu sudah menjadi ketetapan-Nya untuk manusia. Allah SWT menjelaskan penciptaan-Nya atas segala sesuatu di semesta alam, sebagai berikut:

 

Allah menciptakan segala sesuatu. (Az Zumar 62)

 

Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Al An’aam 101)

 

Dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (An Nisaa’ 126)

 

Yang demikian itu ialah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya. (As Sajdah 6-7)

 

Penciptaan-Nya atas segala sesuatu di semesta alam itu termasuk penciptaan langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi. Dan segala sesuatu itu lalu dicatat dalam kitab Lauh Mahfuzh. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu Kitab. (An Naba’ 29)

 

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (Al Qamar 52-53)

 

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yaasiin 12)

 

Dari Imran bin Hushain, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah ada, sedang selain Dia belumlah ada. Arasy-Nya itu di atas air, dan Dia menuliskan (mentakdirkan) sesuatu pada Lauh Mahfuzh, dan Dia cipta­kan langit dan bumi. (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Allah telah me­nentukan suratan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi atau ketika ArasyNya masih di atas air. (HR Muslim)

 

Kemudian Allah SWT menjelaskan ketetapan-Nya yaitu sebagai berikut:

 

Sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Al Qamar 3)

 

Salah satu ketetapan-Nya yaitu Dia menjadikan bumi dan langit beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi untuk manusia dan untuk kepentingan manusia ketika mereka semua (termasuk manusia) menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)

 

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)

 

Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, mengapa Allah SWT tidak ajarkan ilmu dunia kepada manusia dengan Al Qur’an seperti Dia ajarkan agama Islam kepada Rasulullah SAW (manusia)?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang Al Qur’an sebagai berikut:

 

Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran. (Yaasiin 69)

 

Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. (Al Baqarah 231)

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)

 

Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an tentang semua makhluk di dunia terutama proses (sunnatullah) penciptaan dan pertumbuhan (atau perjalanan atau pergerakan) yang pasti dan jelas. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu. (An Nahl 89)

 

Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Al Israa’ 12)

 

Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (Kitab-Kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu. (Yusuf 111)

 

Allah SWT menjelaskan tentang penciptaan-Nya di semesta alam, termasuk ciptaan atas segala sesuatu, ukurannya, jumlahnya, perhitungannya, sebagai berikut:

 

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (Adz Dzaariyaat 49)

 

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)

 

Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (Ar Ra’d 8)

 

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)

 

Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (An Nisaa’ 86)

 

Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al Jin 28)

 

Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (Maryam 93)

 

Segala sesuatu itu termasuk semesta alam, langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi. Sehingga Allah SWT menjelaskan penciptaan langit dan bumi itu sebagai berikut:

 

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq. (Ad Dukhaan 38-39)

 

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (Al Ahqaaf 3)

 

Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. (Ar Ruum 8)

 

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. (Shaad 27)

 

Karena diciptakan-Nya dengan ukuran waktu, maka setiap ciptaan-Nya yang hidup akan mengalami kematiannya. Dan hal itu dijelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan. (Al Mu’min 68)

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Ali ‘Imran 185)

 

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (Ali ‘Imran 145)

 

Matinya setiap ciptaan-Nya atau makhluk itu akibat dari ketetapan-Nya atas ukuran waktu hidup bagi semua makhluk termasuk makhluk hidup (makhluk yang berjiwa atau yang bernyawa), dengan ukuran waktu yang berbeda-beda. Jika ciptaan-Nya (termasuk makhluk) yang hidup itu mati, maka mereka akan dikembalikan kepada Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Al Ankabuut 57)

 

Demikian pula dengan semua urusan dari setiap ciptaan-Nya yang telah mati itu, yaitu dikembalikan kepada Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan. (Al Baqarah 210)

 

Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Luqman 22)

 

Sehingga segala sesuatu termasuk semua ciptaan-Nya dan semua urusan dari setiap ciptaan-Nya dalam kehidupan dunia di semesta alam ini dipelihara dan diurus oleh Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 3)

 

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)

 

Ilmu dunia atau ilmu yang berurusan dengan semua makhluk di dunia itu merupakan suatu ilmu pasti (sunnatullah) karena Allah SWT telah menetapkan prosesnya (fitrah bagi setiap makhluk dan takdir pertumbuhan atau perjalanan atau pergerakan hidupnya dan menjelaskannya dalam Al Qur’an. Manusia dapat mempelajari dan memikirkan penjelasan Allah SWT (firman-Nya) tentang setiap makhluk dengan proses kehidupannya dalam Al Qur’an itu dengan melakukan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan hingga diperoleh kebenaran firman-Nya tersebut. Sehingga Allah SWT tidak perlu menjelaskan ilmu dunia kepada manusia dengan Al Qur’an seperti Dia menjelaskan agama Islam kepada Rasulullah SAW (manusia).”

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan ilmu agama Islam?”

 

Mudariszi: “Sedangkan ilmu agama Islam melibatkan banyak perkara ghaib yang tidak diketahui oleh manusia dan hanya diketahui oleh Allah SWT. Contoh perkara ghaib itu yaitu tentang Allah SWT (Tuhan manusia), malaikat, jin, syaitan (musuh manusia), iman, pahala, dosa, surga, neraka, dan lain-lain. Agar manusia mengetahui perkara yang ghaib yang berhubungan dengan agama Islam dengan benar, maka Allah SWT menjelaskan hal itu kepada manusia dengan (atau melalui) Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Ilmu agama Islam dan ilmu dunia sama-sama diajarkan oleh Al Qur’an, tapi ilmu dunia tidak diajarkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, contoh sebagai berikut:

 

Dari Musa bin Thalhah dari Ayahnya, dia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah SAW dan bertemu dengan sekelompok orang yang sedang berada di pucuk pohon kurma.” Beliau bertanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Mereka sedang mengawinkan mayang (serbuk) kurma, yaitu mengawinkan serbuk laki-laki dengan serbuk perempuan.” Rasulullah SAW bersabda: “Aku kira pekerjaan itu tidak ada faedahnya.” Setelah diberitahu sabda beliau tersebut, mereka lalu menghentikannya. Kemu­dian Rasulullah SAW diberitahu tentang pekerjaan tersebut, beliau ber­sabda: “Jika pekerjaan itu bermanfaat bagi mereka, maka kerjakanlah. Sesungguhnya itu hanya perkiraanku saja. Kalian jangan mengikuti per­kiraan itu. Tetapi jika aku berbicara tentang Allah, maka ikutilah. Se­sungguhnya aku tidak mungkin berdusta mengenai Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.” (HR Muslim)

 

Dari Rafi’ bin Khadij, dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW tiba di Madinah. Orang-orang sedang merawat pohon kurma. Mereka tengah mengawinkan kurma. Melihat itu beliau ber­tanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Kami biasa mengerjakannya.’ Lalu beliau bersabda: “Barangkali kalau kalian tidak mengerjakannya, hal itu akan lebih baik.” Mereka lalu meninggalkan pekerjaan tersebut. Namun hasil kebon kurma me­reka menjadi berkurang. Kemudian mereka menuturkan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Jika aku memerintahkan tentang urusan agama kalian, maka ikutilah. Tetapi kalau aku memerintahkan kepada kalian tentang urusan ke­hidupan dunia, maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia.” (HR Muslim)

 

Proses mengawinkan serbuk kurma (dalam sunnah Rasulullah SAW di atas) merupakan kerja manusia setelah dipelajarinya, ditelitinya dan dicobanya berkali-kali agar pohon kurma itu berbuah. Perbuatan mereka yang sudah mempelajari, meneliti dan mencoba itu tidak dapat lagi dikatakan perkiraan seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, karena beliau tidak pernah mempelajari dan mencobanya. Allah SWT menjelaskan tentang perkiraan manusia itu sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)

 

Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. (Yunus 36)

 

Rasulullah SAW mengatakan tidak mengetahui ilmu dunia (tentang kurma) itu karena tidak ada kewajiban bagi beliau untuk mempelajarinya. Rasulullah SAW hanya mengetahui tentang Allah SWT dan agama Islam yang diajarkan oleh Allah SWT dengan Al Qur’an. Dengan demikian, Allah SWT mengajarkan manusia tentang agama Islam dengan kitab-Nya (Al Qur’an) dan utusan-Nya (Rasulullah SAW), dan Dia tidak mengajarkan ilmu dunia kepada manusia tapi kitab-Nya (Al Qur’an) yang diturunkan-Nya yang mengajarkan ilmu dunia kepada manusia. Dengan demikian, Al Qur’an tidak hanya mengajarkan agama Islam, tapi juga mengajarkan ilmu dunia. Allah SWT menghendaki manusia memikirkan ayat-ayat Al Qur’an yang berurusan dengan setiap makhluk secara sungguh-sungguh agar mereka berilmu dan agar mereka ditunjuki-Nya hingga ilmu mereka menjadi berguna (bermanfaat) untuk kebaikan umat manusia, melalui firman-Nya ini:

Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shaad 29)

 

Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah 269)

 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Faathir 28)

 

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an menjelaskan ilmu dunia yang berurusan dengan manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Misalnya penciptaan manusia melalui proses perkawinan laki-laki dan perempuan yang pembuahannya di rahim (perut) Ibu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. (Al Mu’minuun 12-14)

 

Maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. (Al Hajj 5)

 

Allah SWT lalu menjelaskan melalui Rasulullah SAW tentang peniupan roh ciptaan-Nya oleh malaikat ketika proses pembuahan di rahim Ibu; dan sejak peniupan itu, jantung anak dalam kandungan mulai berdetak yang berarti dia telah bernyawa. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai nerikut:

 

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (As Sajdah 7-9)

 

Dari Abdullah (ibnu Masud), dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya seorang dari kamu penciptaannya dikumpulkan dalam perut Ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu empat puluh hari. Kemudian menjadi sepotong daging seperti itu empat puluh hari. Kemudian (sesudah membentuk), Allah mengutus malaikat dan diperintahkan dengan empat kalimat dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalnya, rezkinya, ajalnya dan celaka atau bahagia, kemudian ditiupkan roh kepadanya. (HR Bukhari)

 

Pada waktu yang Allah SWT tetapkan, Dia lalu mengeluarkan manusia dalam rahim Ibu itu ke dunia sebagai bayi. Allah SWT kemudian menjadikan si Ibu dapat mengeluarkan air susu untuk bayi selama dua tahun. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. (An Nahl 78)

 

Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi. (Al Hajj 5)

 

Ibu-ibumu yang menyusui kamu (An Nisaa’ 23)

 

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al Baqarah 233)

 

Itulah manusia (yang berupa laki-laki atau perempuan) yang lahir ke bumi dalam bentuk bayi lalu menjadi kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, hingga mati. Allah SWT berfirman:

 

Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (Nuh 14)

 

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al Insyiqaaq 19)

 

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (Al Mu’min 67)

 

Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. (Ar Ruum 54)

 

Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. (Al Hajj 5)

 

Tilmidzi: “Bagaimana bayi (manusia) yang lahir ke dunia itu tumbuh membesar?”

Mudariszi: “Manusia tumbuh membesar dari makanan dan minuman yang terdapat di bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al Anbiyaa’ 8)

 

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah 168)

 

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. (Al An’aam 118)

 

Makanan manusia itu berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti biji-bijian, buah-buahan, daun-daunan dan dari binatang di darat, di air (laut dan sungai) dan di udara. Minuman manusia terdapat di bumi yang berasa air tawar dan yang turun dari atas bumi melalui hujan. Fitrah dan takdir manusia menjadikan tidak ada perubahan dalam proses penciptaan manusia hingga tumbuh membesar sampai ajal menjemputnya. Semua proses tersebut dapat dipelajari oleh manusia termasuk mempelajari struktur dalam tubuh manusia agar dapat mengetahui makanan bagi si bayi dalam kandungan termasuk air susu Ibu, dan juga agar makanan atau minuman yang masuk ke dalam tubuh itu bermanfaat bagi pertumbuhan tubuh atau sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit (jika ada).”

 

Tilmidzi: “Bagaimana proses penciptaan dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan ketika mereka menjalani kehidupannya?”

 

Mudariszi: “Tumbuh-tumbuhan terjadi melalui bijinya atau dahannya atau akarnya yang di tanah (atau di dalam tanah). Setiap tumbuhan memerlukan air dan mempunyai waktu yang tidak sama dalam mengadakan perkawinan guna menghasilkan biji dan buah. Biji yang ditanam di tanah atau yang jatuh ke tanah, maka itu dapat menjadikan tumbuhan yang baru. Perkawinan tumbuhan terjadi karena angin yang membawa serbuk-serbuk. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al Hijr 22)

 

Tapi jika tumbuhan itu dirawat oleh manusia, maka perkawinan serbuk tumbuhan untuk menghasilkan biji dan buah dapat terjadi, contoh seperti yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW di atas. Selain buah kurma, banyak lagi buah-buahan dari pohon-pohon yang ada di bumi yang halal sebagai makanan untuk manusia, yaitu sebagai berikut:

 

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. (Yaasiin 33-35)

 

Dan Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Al An’aam 99)

 

Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al An’aam 141)

 

Selain buah-buahan, ada pula sayur mayur yang bermanfaat untuk tubuh manusia, yaitu sebagai berikut:

 

Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.” (Al Baqarah 61)

 

Di antara tumbuh-tumbuhan itu ada yang menghasilkan obat yang menyembuhkan penyakit manusia, contoh sari bunga tumbuh-tumbuhan yang akan berbuah yang diambil oleh lebah dan disimpan di sarangnya sebagai makanannya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (An Nahl 68-69)

 

Jika sari tumbuh-tumbuhan itu dapat menghasilkan obat yang menyembuhkan penyakit manusia, maka ada tumbuh-tumbuhan lain yang juga menghasilkan obat yang dapat menyembuhkan penyakit manusia, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

 

Diceritakan oleh Abu Hurairah, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat dari segala macam penyakit, kecuali kematian. (HR Muslim)

 

Dari Said bin Zaid dari Rasulullah SAW yang bersabda: Cendawan itu sebangsa Manna yang dulu diturunkan Allah kepada Nabi Musa, sedangkan airnya bisa digunakan sebagai obat mata. (HR Muslim)

 

Fitrah-Nya dan takdir-Nya menjadikan tidak ada perubahan dalam proses penciptaan dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda jenis itu. Sehingga manusia dapat mempelajarinya, karena sebagian dari tumbuh-tumbuhan tersebut dibutuhkan oleh manusia sebagai makanan, minuman, obat.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana proses penciptaan dan pertumbuhan hewan (binatang) ketika mereka menjalani kehidupannya?”

 

Mudariszi: “Proses penciptaan hewan itu tidak berbeda dengan penciptaan manusia yaitu ada yang laki-laki dan perempuan, dan mereka berkembang biak dengan melakukan perkawinan. Allah SWT berfirman:

 

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. (Asy Syuura 11)

 

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. (Luqman 10)

 

Allah SWT menciptakan hewan di darat, di dalam tanah, di air (laut, sungai, danau) dan di udara. Di antara hewan-hewan tersebut ada hewan yang buas (seperti singa, ular), yang jinak (seperti kucing, burung merpati), dan yang diternak (seperti kambing, ayam). Allah SWT berfirman:

 

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri lalu mereka menguasainya? (Yaasiin 71)

 

Hewan ternak dijadikan oleh Allah SWT sebagai hewan pemberi manfaat bagi manusia, yaitu memberikan daging sebagai makanan, mengeluarkan air susu sebagai obat, mengeluarkan bulu sebagai penghangat tubuh, sebagai pengangkut barang. Selain itu ada hewan yang mengeluarkan perhiasan (mutiara). Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. (An Nahl 5-7)

 

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An Nahl 66)

 

Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu. Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan, dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut. (Al Mu’minuun 21-22)

 

Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (Faathir 12)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang penyakit manusia dan obatnya sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Kalau Allah menurunkan suatu penyakit, maka Allah juga menurunkan obatnya.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Setiap penyakit itu ada obatnya. Karena itu, apabila obat tepat me­ngena pada penyakit, maka penyakitpun sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla. (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Apabila ada seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang dari kamu, maka hendaknya kamu tenggelamkan seluruh tubuhnya kemudian buang­lah, karena pada salah satu sayapnya terdapat obat sedang pada sayapnya yang lain terdapat penyakit.” (HR Bukhari)

 

Dengan demikian, pada binatang (hewan) dan tumbuh-tumbuhan ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit manusia, tapi harus dipelajari dan diteliti oleh manusia lebih dahulu. Hewan-hewan itu memerlukan air untuk kehidupannya, yaitu air tawar kecuali hewan di laut yang hidup dengan air asin. Makanan hewan-hewan itu berbeda-beda, misalnya yang buas makan daging hewan, yang jinak makan buah, daging hewan dan yang ternak makan rumput, biji-bijian, cacing (hewan dalam tanah). Fitrah-Nya dan takdir-Nya menjadikan tidak ada perubahan dalam proses penciptaan dan pertumbuhan hewan yang berbeda-beda jenis itu. Sehingga manusia dapat mempelajarinya, karena sebagian dari hewan-hewan itu dibutuhkan oleh manusia sebagai makanan, minuman, atau obat.”

 

Tilmidzi: “Apakah semua makanan dan minuman manusia yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan itu halal?”

 

Mudariszi: “Karena semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ditundukkan-Nya untuk manusia dan untuk kepentingan manusia, maka itu menunjukkan bahwa semua apa yang ada di bumi menjadi halal untuk manusia. Tapi di antara yang halal itu, ada makanan dan minuman yang diharamkan-Nya yaitu sebagai berikut:

 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (Al Maa-idah 3)

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah 90)

 

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (An Nahl 67)

 

Dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang khamer tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Khamer itu berasal dari kedua pohon ini: kurma dan ang­gur. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menyediakan air untuk semua makhluk hidup di bumi?”

 

Mudariszi: “Segala sesuatu yang hidup termasuk makhluk hidup memerlukan air untuk hidup. Manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan memerlulan air tawar, meskipun ada beberapa tumbuhan dan hewan (ikan) hidup di laut air asin. Allah SWT berfirman:

 

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)

 

Dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar. (Al Mursalaat 27)

 

Air tawar dan air asin yang ada di bumi itu berasal dari hujan yang berasa tawar yang turun ke bumi lalu masuk ke dalam tanah atau mengalir ke sungai hingga ke laut. Air tawar dari hujan itu lalu digunakan oleh manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk kehidupannya. Allah SWT menghidupkan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan air hujan yang sebagian tumbuhan itu menjadi makanan bagi manusia dan binatang. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan 48)

 

Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Luqman 10)

 

Adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. (Yunus 24)

 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) dimakan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (As Sajdah 27)

 

Allah SWT menyimpan air hujan dalam tanah sebagai persediaan untuk semua makhluk hidup di bumi pada waktu tidak turun hujan. Air hujan dalam tanah itu dikeluarkan-Nya melalui mata air-mata air dan sungai-sungai untuk mengairi tumbuh-tumbuhan dan untuk keperluan manusia dan binatang. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (Al Hijr 22)

 

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air. (Al Qamar 12)

 

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. (Ar Ra’d 17)

 

Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (An Naazi’aat 30-33)

 

Sehingga, dengan air hujan itulah Allah SWT memelihara dan menumbuhkan manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu. (‘Abasa 25-32)

 

Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (An Nahl 10-11)

 

Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. (Thaahaa 53-54)

 

Dan Allah SWT memelihara (mengurus) semua binatang (hewan) yang tidak dipelihara (dirawat) oleh manusia, sebagai berikut:

 

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (Al ‘Ankabuut 60)

 

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Huud 6)

 

Dengan demikian, Allah SWT memelihara semua tumbuh-tumbuhan dan hewan yang tidak dipelihara (dirawat) oleh manusia, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Al An’aam 59)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan tentang proses turunnya hujan?”

 

Mudariszi: “Ya! Matahari menyinari bumi termasuk menyinari air di laut, di sungai, di danau. Hal itu menjadikan air di lokasi-lokasi itu menguap seperti mendidihnya air. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar. (Yunus 5)

 

Dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. (Thaahaa 119)

 

Seperti mendidihnya air yang sangat panas. (Ad Dukhaan 46)

 

Penguapan air itu mengakibatkan partikel-partikel (ringan) air laut, air sungai, air danau, naik ke udara. Partikel-partikel air laut, air sungai, air danau di semua lokasi di bumi itu lalu bertemu karena terbawa oleh angin, sehingga membentuk awan, yaitu awan yang mengandung partikel-partikel air. Allah SWT berfirman:

 

Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)

 

Dan awan yang mengandung hujan. (Adz Dzaariyaat 2)

Awan-awan yang terus bertemu karena angin, menjadikan partikel-partikel air di awan bertambah banyak. Waktu itu di langit terlihat cahaya kilat yang menyilaukan dan mengandung listrik serta suara petir yang keras. Jika awan sudah terbebani partikel-partikel air yang banyak dan tidak lagi mampu ditahannya, maka partikel-partikel air itu jatuh ke bumi sebagai hujan dalam butiran air atau butiran es. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan. (Faathir 9)

 

Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah. (An Naba’ 14)

 

Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Ar Ruum 48)

 

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (An Nuur 43)

 

Allah SWT terus mengirim angin membawa awan-awan ke tempat-tempat yang tinggi, rendah atau tandus agar menumpahkan air hujan di tempat itu. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (ke-Esaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)

 

Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (Al Jaatsiyah 5)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya). (Al Furqaan 50)

 

Sinar matahari menjadikan udara di bumi mengandung partikel sinar matahari, partikel air dan partikel-partikel lain yang semua itu terkait dengan kehidupan manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang, karena ketiga makhluk itu menghirup dan mengeluarkan udara ketika bernafas. Sehingga keadaan udara dapat dipelajari karena berpengaruh kepada pertumbuhan dan kesehatan manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Manusia dapat sakit jika menghirup udara (partikel) yang tidak ditolak oleh partikel-partikel tubuhnya. Contoh suatu tempat banyak orang yang terkena wabah, Rasulullah SAW perintahkan:

 

Dari Usamah, ia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Sesungguhnya sampar ini merupakan siksa yang pernah di­timpakan kepada orang-orang yang hidup sebelum kalian atau kepada Bani Israil. Jadi, apabila itu terjadi di suatu daerah, maka janganlah kalian keluar dari daerah itu untuk menghindarinya. Dan kalau ber­jangkit di suatu daerah, maka janganlah kalian memasuki daerah ter­sebut. (HR Muslim)

 

Sunnatullah dan takdir-Nya pada hujan menjadikan manusia dapat mempelajari turunnya air hujan karena hujan itu turun berdasarkan pemanasan matahari, penguapan air laut, sungai, danau, angin dan awan dalam waktu-waktu tertentu.”

 

Tilmidzi: “Apakah hujan itu turun pada waktu-waktu tertentu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT pergilirkan air hujan menurut waktu-waktunya, sebagai berikut:

 

Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. (Az Zumar 5)

 

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar Rahmaan 5)

 

Hal tersebut di atas terjadi karena Allah SWT menjadikan matahari, bulan dan bintang-bintang beredar di orbitnya atau di garis edarnya, sebagai berikut:

 

Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang. (Al Ma’aarij 40)

 

Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (Al Anbiyaa’ 33)

 

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Ibrahim 33)

 

Peredaran bintang-bintang, matahari dan bulan yang tetap itu menjadikan bumi pula beredar dengan tetap di orbitnya dan membuat terjadinya waktu malam dan waktu siang. Waktu-waktu itu berguna bagi manusia dan makhluk hidup lainnya untuk bekerja mencari nafkah dan beristirahat. Sehingga manusia dapat merencanakan apa yang akan dibuatnya di masa hadapan. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). (Yunus 67)

 

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al Qashash 73)

 

Sehingga manusia dapat menghitung waktu untuk kehidupannya. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus 5)

 

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. (At Taubah 36)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW memegang tanganku, lalu bersabda: Allah Azza wa Jalla menciptakan bumi pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung di dalamnya pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan halhal yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan berbagai binatang di bumi pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jumat sesudah Asar di akhir pencipta­an, di penghujung waktu Jumat, yakni antara waktu asar sampai malam. (HR Muslim)

 

Fitrah-Nya dan takdir-Nya pada matahari, pada bulan, pada bintang-bintang dan pada bumi menjadikan tidak ada perubahan dalam proses penciptaan dan pergerakan (perjalanan) matahari, bulan, bintang-bintang dan bumi yang berbeda-beda, sehingga manusia dapat mempelajarinya. Manusia dapat juga merencanakan keberlangsungan hidup dari makhluk-makhluk yang diperlukan oleh manusia di masa hadapan.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Pemimpin negeri dan para ulama dapat menetapkan pendidikan tentang ilmu dunia dan ilmu agama Islam dengan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Pemimpin negeri dan para ulama dapat menetapkan pendidikan ilmu dunia dengan disiplin-disiplin ilmunya dan ilmu agama Islam juga dengan disiplin-disiplin ilmunya. Dan karena kedua ilmu tersebut berasal dari sumber yang satu yaitu Al Qur’an, maka kedua ilmu itu sebaiknya tidak harus dipisahkan. Ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh ilmuwan (ulama) Islam di Andalusia (Spanyol) dan Irak yang bersumber dari Al Qur’an dari abad 9 hingga abad 15, banyak melahirkan dasar-dasar ilmu pengetahuan untuk kemajuan ilmu pengetahuan hingga sekarang ini yang ilmu pengetahuan itu berguna (bermanfaat) untuk keselamatan dan kebaikan umat manusia ketika manusia menjalani hidupnya di dunia, contoh ilmu matematik, ilmu botani, ilmu falak, ilmu teknik sipil, arsitek, ilmu kedokteran, ilmu kimia, dan lain-lain. Ulama-ulama di masa itu nampaknya selalu teringat dengan firman-Nya berikut ini:

 

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al A’raaf 56)

 

Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al A’raaf 74)

 

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya. (Asy Syu’araa’ 183)

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)

 

Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.  (Al Jaatsiyah 20)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply