Siapakah Tuhan Itu?

Dialog Seri 19: 1

 

Tilmidzi: “Apakah ada Tuhan di kehidupan ini?”

 

Mudariszi: “Manusia (semua orang) merasakan tentang Tuhan di hatinya. Di awal, perasaan mereka tidak berbeda yaitu tidak mengetahui Tuhan tersebut tapi selalu bertanya-tanya. Setelah beberapa waktu, perasaan mereka mulai berubah dan berbeda-beda, yaitu ada yang merasakan adanya Tuhan dan ingin mengetahui Tuhan tersebut hingga lalu dicarinya. Lalu ada yang ingin mengetahui Tuhan tersebut tapi tidak dicarinya dengan sungguh-sungguh. Dan ada yang meninggalkan (hingga terlupakan) Tuhan tersebut karena tidak diketahuinya juga setelah dicari-carinya.

 

Manusia merasakan tentang Tuhan di hatinya itu menunjukkan mereka merasakan adanya Tuhan, meskipun Tuhan itu tidak terlihat atau tidak diketahui keberadaannya. Perkara itu merupakan sesuatu yang tidak dapat diingkari oleh manusia. Tidak ada seorangpun yang mengakui Tuhan itu tidak ada. Jika ada yang mengatakan Tuhan itu tidak ada, maka itu hanya ucapan di mulutnya saja, karena Tuhan tersebut tidak diketahuinya juga setelah dicari-carinya. Manusia merasakan adanya Tuhan di hatinya karena mereka telah mengetahui sebelum lahir ke dunia tapi terlupa setelah lahir. Allah SWT (Tuhan manusia) menjelaskan dan mengingatkan perkara itu melalui kitab-Nya Al Qur’an yang Dia turunkan kepada Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Tuhan yang dirasakan oleh manusia itu adalah Tuhan manusia yang dipanggil Allah melalui kesaksian mereka terhadap Dia.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT (Tuhan manusia) itu merupakan Pencipta manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tatkala Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggung Adam, maka rontoklah dari punggung Adam setiap manusia yang Allah Penciptanya dari keturunan Adam sampai hari kiamat dan Allah menciptakan antara kedua mata setiap manusia di antara mereka kilatan cahaya, kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam, Adam berkata: “Hai Tuhanku, siapa mereka ini?” Allah berfirman: “Mereka ini adalah keturunanmu.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an tersebut tentang penciptaan manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan manusia dengan fitrahnya yang mengikuti agama-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar Ruum 30)

 

Agama Allah yang lurus itu adalah agama tauhid yang hanya menyembah Dia saja. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah setiap makhluk ciptaan-Nya diciptakan dengan fitrahnya masing-masing dan mengikuti agama-Nya yang lurus?”

 

Mudariszi: “Seperti manusia, setiap makhluk diciptakan-Nya dengan fitrahnya masing-masing dan semua makhluk itu mengikuti agama-Nya yang lurus atau mengikuti agama tauhid yang hanya menyembah Dia (beribadah kepada-Nya) saja. Allah SWT berfirman:

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)

 

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. (An Nuur 41)

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an tentang penciptaan manusia termasuk penciptaan manusia pertama?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa Dia yang menciptakan manusia pertama (Nabi Adam), lalu menciptakan isterinya dan menciptakan anak cucu keturunan yang banyak dengan memperkembang biakkan kedua suami isteri pertama tersebut. Allah SWT berfirman:

 

Allah menciptakan Adam dari tanah. (Ali ‘Imran 59)

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Al Hijr 26)

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (An Nisaa’ 1)

 

Dengan demikian, manusia itu diciptakan oleh Allah SWT dan bukan oleh selain Dia. Demikian pula dengan makhluk-makhluk lainnya yang diciptakan oleh Allah SWT. Mustahil apa yang ada di dunia ini terjadi dengan sendirinya atau menciptakan dirinya sendiri atau tidak ada penciptanya. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (Ath Thuur 35)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply