Bagaimana Allah SWT Yang Ghaib (Tidak Terlihat)?

Dialog Seri 19: 2

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT itu ghaib atau tidak terlihat?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an tentang Dia sebagai berikut:

 

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 103)

 

Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (An Naba’ 37)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan perkara yang lain tentang Dia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT melanjutkan penjelasan tentang Dia sebagai berikut:

 

Katakanlah; “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al Ikhlas 1-4)

 

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al Baqarah 255)

 

Allah SWT menjelaskan kepada manusia yang bertanya tentang Dia, sebagai berikut:

 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (Al Baqarah 186)

 

Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka). (Al A’raaf 7)

 

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf 16)

 

Dan Allah SWT menjelaskan kepada manusia yang ingin mengetahui tentang perkara ghaib, sebagai berikut:

 

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)

 

Contoh Rasul yang diridhai-Nya tersebut yaitu Rasulullah SAW, karena itu Allah SWT menjelaskan kepada manusia yang ingin mengetahui tentang Dia dengan bertanya kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dia-lah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (Al Furqaan 59)

 

Tilmidzi: “Apakah manusia akan dapat melihat Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya, yaitu pada waktu manusia berada (tinggal) di surga. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Dari Abu Said Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya: Ya Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami nanti pada hari kiamat? Rasulullah SAW bersabda: Ya! Apakah menyulitkan kalian melihat matahari di siang hari yang cerah yang tidak ada awan sedikitpun? Apakah menyulitkan kalian melihat bulan pada malam purnama yang cerah tanpa ada awan sedikitpun? Kaum muslimin menjawab: Tidak, ya Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda: Kalian tidak akan mengalami kesulitan da­lam melihat Allah Taala pada hari kiamat, sebagaimana kalian tidak mengalami kesulitan dalam melihat salah satu dari matahari dan bulan.” (HR Muslim)

 

Dari Shuhaib dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Apabila ahli surga sudah masuk surga, maka Allah Taala berfirman: Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan ke­pada kalian? Mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamat­kan kami dari neraka? Lalu Allah menyingkapkan tirai, maka tidak ada sesuatupun yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada memandang kepada Tuhan mereka Azza wa Jalla.Setelah itu Rasulullah SAW membaca ayat berikut ini (surat Yunus ayat 26): Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (yaitu kenikmatan melihat Allah).” (HR Muslim)

 

Dari Israil dari Tsuwair, ia berkata:Aku mendengar Ibnu Umar berkata:Rasulullah SAW bersabda:Sesungguh­nya orang ahli surga yang paling rendah kedudukannya adalah orang yang melihat pada kebunnya, istrinya, kenikmatannya, para pembantunya dan kesenangannya perjalanan seribu tahun. Orang ahli surga yang termulia di sisi Allah adalah orang yang dapat melihat wajah Tuhannya pagi dan sore, kemudian Rasulullah SAW membaca ayat: Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada waktu itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (surat Al Qiyaamah ayat 22-23). (HR Tirmidzi)

 

Dengan demikian, manusia harus memasuki surga agar dapat melihat-Nya (berjumpa dengan-Nya). Allah SWT tidak bersedia dilihat oleh manusia yang bermaksiat dengan-Nya yaitu yang di neraka.”

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply