Dialog Seri 19: 13
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjadikan ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya di langit dan di bumi?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa Dia menetapkan semua kepunyaan-Nya di langit dan di bumi sebagai kerajaan langit dan bumi, sebagai berikut:
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. (Ali ‘Imran 189)
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. (Al Maa-idah 17)
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. (Al Maa-idah 120)
Tilmidzi: “Jika kerajaan langit dan bumi kepunyaan Allah SWT, lalu apakah Dia itu Raja?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal tersebut melalui firman-Nya ini:
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya. (Thaahaa 114)
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Al Hasyr 23)
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Jumu’ah 1)
Allah SWT adalah Raja, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, Tuhan manusia dan Raja manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nisaa’ 171)
Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia.” (An Naas 1-3)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT memelihara dan mengurus semua ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang segala sesuatu ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya melalui firman-Nya ini:
Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Al An’aam 101)
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 3)
Allah SWT mengurus dan mengatur segala sesuatu ternasuk semua ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. (Al Baqarah 255)
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. (Al Hadiid 4)
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (As Sajdah 5)
Tilmidzi: “Apakah kehidupan dunia bagi setiap ciptaan-Nya itu juga telah ditetapkan dan diurus oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Kehidupan dunia bagi setiap ciptaan-Nya di semesta alam itu merupakan bagian dari segala sesuatu yang Dia telah tetapkan (takdirkan) dan ciptakan, dan telah tertulis dalam kitab induk Lauh Mahfuzh. Segala sesuatu termasuk semua ciptaan-Nya dan semua urusan dari setiap ciptaan-Nya dalam kehidupan dunia di semesta alam ini dipelihara dan diurus oleh Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 3)
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)
Dalam memelihara dan mengurus semua ciptaan-Nya, Allah SWT menetapkan peraturan (syariat) agama bagi setiap ciptaan-Nya yang wajib diikutinya ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. (Al A’raaf 54)
Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (Al An’aam 57)
Allah SWT menciptakan, memelihara, mengurus semua ciptaan-Nya dan semua urusan dari setiap makhluk ciptaan-Nya itu dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya. Adapun ilmu dan pengetahuan Allah SWT itu sebagai berikut:
Dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (An Nisaa’ 126)
Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Ath Thalaaq 12)
Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (Al Anfaal 47)
Sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka. (Al Jin 28)
Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (Thaahaa 110)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mempunyai pembantu dalam memelihara kerajaan-Nya dan dalam mengurus semua ciptaan-Nya dengan urusannya masing-masing?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong.” (Al Israa’ 111)
Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan. (Al Kahfi 26)
Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(–Nya). (Al Furqaan 2)
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al Baqarah 255)
Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT memelihara dan mengurus semua ciptaan-Nya dan mengurus semua urusan dari setiap ciptaan-Nya di semesta alam ini?”
Mudariszi: “Dalam mengurus semua urusan dari setiap ciptaan-Nya di semesta alam ini, Allah SWT menciptakan makhluk malaikat. Para malaikat itu bukan pembantu-Nya, tapi hanya makhluk ciptaan-Nya yang diberikan-Nya tugas. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. (Faathir 1)
Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimulyakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. (Al Anbiyaa’ 26-27)
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Al Ma’aarij 4)
Wallahu a’lam.