Dialog Seri 19: 11
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menghendaki manusia menjalankan amanah tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa manusia telah bersedia memikul amanah daripada-Nya yaitu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Allah SWT dalam memelihara dan mengurus langit dan bumi dan semua apa yang ada (termasuk semua makhluk) di langit dan di bumi itu dengan agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya. Peraturan agama-Nya itu berupa peraturan dan hukum yang Dia tetapkan bagi setiap makhluk yang menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 3)
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. (Al A’raaf 54)
Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (Al An’aam 57)
Karena manusia bersedia memikul amanah, maka Allah SWT menjadikannya dari tanah sebagai khalifah di bumi yang bertugas memakmurkan bumi. Allah SWT berfirman:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Manusia memakmurkan bumi itu termasuk memakmurkan semua apa yang ada dan hidup di bumi. Di samping itu, Allah SWT menetapkan peraturan (syariat) agama-Nya bagi semua makhluk (termasuk manusia) ketika menjalani hidupnya di bumi (di dunia). Dengan demikian, amanah yang dipikul oleh manusia itu bukan saja memakmurkan bumi, tapi juga amanah menjalankan peraturan agama-Nya dengan benar (ketika memakmurkan bumi), karena keduanya berjalan bersamaan.”
Tilmidzi: “Bagaimana setiap makhluk (termasuk manusia) itu mengikuti agama Allah?”
Mudariszi: “Allah SWT menciptakan setiap makhluk dengan fitrah yang berbeda antara satu dengan lainnya, tapi mereka semua tetap mengikuti agama-Nya yang lurus. Contoh yaitu manusia seperti yang dijelaskan-Nya sebagai berikut:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar Ruum 30)
Agama Allah yang lurus itu adalah agama tauhid yang hanya menyembah Dia saja. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)
Seperti manusia, setiap makhluk diciptakan-Nya dengan fitrahnya masing-masing dan semua makhluk tersebut mengikuti agama-Nya yang lurus atau agama tauhid yang hanya menyembah Dia (beribadah kepada-Nya) saja. Allah SWT berfirman:
Dan Allah SWT menjelaskan bahwa setiap makhluk-Nya mengkuti agama-Nya dengan berserah diri dan tunduk patuh beribadah kepada-Nya, sebagai berikut:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)
Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. (An Nuur 41)
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)
Karena itu Allah SWT berfirman:
Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. (Al Mu’min 62)
Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. (Al Mu’minuun 116)
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (An Nisaa’ 36)
Jika di antara makhluk-makhluk-Nya ada yang tidak menyembah kepada-Nya saja atau mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, maka Dia sangat murka kepadanya. Sehingga, Allah SWT sangat murka kepada orang-orang kafir yang menyekutukan-Nya dan dosa syiriknya itu tidak akan diampuni-Nya. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Faathir 39)
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)
Tilmidzi: “Bagaimana manusia dapat mengetahui peraturan (syariat) agama-Nya itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan perkara itu melalui firman-Nya ini:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Ayat-ayat-Nya yang dijelaskan dalam firman-Nya di atas itu termasuk ayat-ayat-Nya yang menjelaskan peraturan (syariat) agama-Nya untuk manusia dan yang wajib diikutinya. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an (dalam firman-Nya di atas) itu kitab Allah yang Dia turunkan untuk manusia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia (Al Qur’an) dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa’ 192-194)
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (Al Insaan 23)
Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekkah ini. (Al Balad 2)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW (Rasulullah SAW) hamba-Nya yang berbangsa Arab dan tinggal di kota Mekkah. Di kota Mekkah itu terdapat tempat ibadah manusia yang pertama dibangun oleh Allah SWT yaitu Ka’bah atau Baitullah (Masjidil Haram). Allah SWT berfirman:
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). (Quraisy 3)
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali ‘Imran 96)
Dan Allah SWT menjelaskan kepada manusia tentang Al Qur’an itu sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisaa’ 174)
Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu. (An Nisaa’ 170)
Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an itu telah ditulis dan tersimpan di kitab induk Lauh Mahfuzh?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Al Israa’ 12)
Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (Kitab-Kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu. (Yusuf 111)
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu. (An Nahl 89)
Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (Al Buruuj 21-22)
Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh). (Al Waaqi’ah 77-78)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menghendaki Al Qur’an itu sampai kepada manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. (Al Hajj 74)
Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan kepada manusia melalui firman-Nya ini
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. (Al A’raaf 52)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)
Melalui firman-Nya dalam Al Qur’an dan Sunnah (penjelasan) Rasulullah SAW yang menerima Al Qur’an, Allah SWT menjelaskan tentang Dia Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, Tuhan Yang menciptakan ‘Arsy, Lauh Mahfuzh, surga, neraka, langit, bumi, semua makhluk (termasuk manusia) di langit dan di bumi dan segala sesuatu di semesta alam. Karena itu Allah SWT berfirman:
Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia. (Al Jaatsiyah 20)
Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. (Al A’raaf 203)
Dengan demikian, Al Qur’an (kitab-Nya) itu merupakan bukti nyata keberadaan Allah SWT dalam kehidupan di semesta alam.”
Wallahu a’lam.