Bagaimana Allah SWT Menjadikan Kehidupan Dunia? 2

Dialog Seri 19: 10

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan semua makhluk hidup menjalani hidupnya di bumi?”

 

Mudarszi: “Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an tentang makhluk hidup, sebagai berikut:

 

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)

 

Karena semua makhluk hidup membutuhkan (memerlukan) air untuk hidupnya dan agar air di bumi selalu tersedia, maka Allah SWT lalu menjadikan air hujan, yaitu air yang turun dari langit ke bumi pada waktu-waktunya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan. (Luqman 34)

 

Dan Kami turunkan air hujan dari langit. (Luqman 10)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjadikan air hujan tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjadikan matahari dan sinarnya yang bersuhu panas. Sinar matahari yang panas itu menyinari bumi pada waktu yang tetap. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar. (Yunus 5)

 

Dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. (Thaahaa 119)

 

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Yaasiin 38)

 

Sinar matahari yang menyinari bumi menjadi siang dan yang tidak tersinari matahari menjadi malam. Keadaan itu membentuk udara bagi kehidupan di bumi, yaitu dengan bersatunya partikel-partikel sinar matahari (ketika menyinari bumi) dengan partikel-partikel bumi. Partikel-partikel sinar matahari itu menjadikan bumi berudara (bersuhu) panas dan dingin (bagi bumi yang tidak tersinari matahari). Udara panas dan dingin itu membuat adanya tekanan udara tinggi dan rendah. Sehingga bumi yang luas memiliki sejumlah lokasi yang bertekanan udara tinggi dan rendah. Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia menjadikan malammya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. (An Naazi’aat 29)

 

Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (Al Jaatsiyah 5)

 

Matahari yang bersuhu panas yang selalu menyinari bumi pada waktu yang tetap, lalu membuat air di laut, di sungai dan di danau menjadi panas hingga airnya menguap. Penguapan air itu menyebabkan partikel-partikel (ringan) air laut, sungai, danau, naik ke atas udara yang bertekanan rendah, yaitu udara yang memuai karena panasnya sinar matahari. Partikel-partikel air yang naik ke atas itu lalu bertemu dengan partikel-partikel air laut, sungai, danau yang lainnya yang terbawa oleh angin hingga bersatu. Angin itu sendiri terjadi karena adanya perubahan tekanan udara tinggi dan rendah. Pemuaian udara membuat partikel-partikel udara bergerak pindah ke tekanan udara yang rendah; perpindahan partikel-partikel udara itulah angin. Allah SWT berfirman:

 

Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)

 

Partikel-partikel air yang naik ke atas karena penguapan terbawa oleh angin membentuk awan, yaitu awan yang mengandung partikel-partikel air. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan. (Faathir 9)

 

Dan awan yang mengandung hujan. (Adz Dzaariyaat 2)

 

Awan-awan yang terus bertemu dan bersatu tersebut lalu membuat partikel-partikel air di awan bertambah banyak. Jika awan itu membentur kumpulan partikel-partikel udara, maka awan itu terpecah (terurai) dan menumpahkan bebannya yang berupa partikel-partikel air yang jatuh ke bumi sebagai air hujan. Allah SWT berfirman:

 

Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. (Ar Ruum 48)

 

Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah. (An Naba’ 14)

 

Di dataran tinggi, tekanan udaranya rendah karena tinggi dari permukaan laut dan karena banyaknya tumbuh-tumbuhan di dataran itu, sehingga membuat udara di sekitarnya bersuhu dingin. Awan yang melintasi udara yang bersuhu dingin akan membuat partikel-partikel air di awan membeku. Jika awan itu berbenturan dengan kumpulan partikel-partikel udara, maka awan itu akan terurai menumpahkan bebannya ke bumi berupa butiran-butiran es. Allah SWT berfirman:

 

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (An Nuur 43)

 

Air hujan yang turun ke bumi lalu masuk ke dalam tanah dan mengalir ke danau-danau dan ke sungai-sungai hingga ke laut. Air di danau, sungai, laut kembali menguap karena panas sinar matahari, dan partikel-partikel airnya naik ke atas membentuk awan dan lalu turun kembali ke bumi sebagai hujan. Demikian air hujan itu berulang-ulang terjadi sehingga bumi dan semua makhluk hidup di bumi tidak akan kekurangan air.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan mata air – mata air dan penyimpan air di dalam tanah untuk keperluan hidup semua makhluk di bumi?”

 

Mudariszi: “Air hujan yang amat bersih dan berasa tawar itu turun dari langit dan jatuh di darat dan di laut. Ar hujan yang jatuh di darat, sebagiannya jatuh di sungai-sungai dan di danau-danau, sebagian lagi jatuh di tanah dan lalu masuk ke dalam tanah dan tersimpan di tempat yang Dia tetapkan. Hanya Allah SWT yang mengetahui tempat penyimpanan air di dalam tanah tersebut, dan Dia akan mengeluarkan air tersebut pada waktunya menurut ukuran (kadar) yang Dia telah tetapkan untuk keperluan hidup semua makhluk hidup di bumi melalu saluran pengairan buatan manusia, danau-danau atau mata air-mata air hingga mengalir ke sungai dan ke laut. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan 48)

 

Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah. (Al Kahfi 41)

 

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air. (Al Qamar 12)

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)

 

Dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar. (Al Mursalaat 27)

 

Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (Al Hijr 22)

 

Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (An Naazi’aat 30-31)

 

Supaya kamu tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. (An Naba’ 15)

 

Tilmidzi: “Apakah semua makhluk hidup di bumi itu menjadi kebutuhan hidup manusia?”

 

Mudariszi: “Dari semua yang ada di bumi yang ditundukkan-Nya untuk manusia, ada sebagian yang dijadikan-Nya untuk kebutuhan hidup manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)

 

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)

 

Kebanyakan tumbuh-tumbuhan di bumi dijadikan oleh Allah SWT sebagai makanan bagi manusia dan sebagai bahan pelindung bagi manusia. Tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di tempatnya tersebut dapat diusahakan oleh manusia agar makanan mereka selalu tersedia. Allah SWT berfirman:

 

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. (Yaasiin 33-35)

 

Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al An’aam 141)

 

Allah SWT menciptakan binatang ternak untuk manusia sebagai makanan, minuman dan berbagai manfaat lainnya. Manusia dapat pula mengusahakan binatang-binatang ternak itu agar makanan dan kebutuhan hidup mereka selalu tersedia. Allah SWT berfirman:

 

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri lalu mereka menguasainya? (Yaasiin 71)

 

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. (An Nahl 5-7)

 

Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. Dan (ada lagi) manfa’at-manfa’at yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. (Al Mu’min 79-80)

 

Binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut dapat diusahakan oleh manusia, karena kedua makhluk itu dijadikan-Nya berpasang-pasangan dan melakukan perkawinan. Allah SWT berfirman:

 

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Yaasiin 36)

 

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. (Asy Syuura 11)

 

Sehingga sebagian dari apa yang ada di bumi, yaitu di darat, di udara, di laut, di sungai, di dalam tanah, semuanya dapat menjadi kebutuhan hidup manusia setelah dipelajari sifat-sifat dari makhluk-makhluk tersebut. Allah SWT berfirman:

 

Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (An Naazi’aat 30-33)

 

Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (An Nahl 80-81)

 

Tilmidzi: “Apakah semua makhluk hidup di bumi itu menjadi tanggung jawab manusia dalam melaksanakan amanah sebagai khalifah memakmurkan bumi?”

 

Mudariszi: “Manusia melaksanakan amanah hanya dengan yang Dia karuniakan baginya dan dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya. Manusia tidak dituntut-Nya untuk memelihara binatang buas atau tumbuh-tumbuhan liar yang membahayakan dirinya. Tapi manusia tidak dibenarkan-Nya untuk mengganggu dan merusak kehidupan semua makhluk. Memelihara makhluk hidup yang dibutuhkan oleh manusia tanpa merusak kehidupan semua makhluk adalah perbuatan memakmurkan bumi. Allah SWT berfirman:

 

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al A’raaf 56)

 

Allah SWT yang memelihara dan mengurus semua makhluk yang tidak dipelihara oleh manusia. Pemeliharaan-Nya itu termasuk pemeliharaan bagi semua makhluk hidup yang dipelihara oleh manusia, contoh: persediaan air dan sinar matahari. Allah SWT mengetahui tempat tinggal semua makhluk hidup yang memerlukan rezeki, yaitu yang di darat, di atas bumi, di dalam air dan di dalam bumi (tanah). Allah SWT berfirman:

 

Dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya (sumbernya); dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (Al Hijr 20-21)

 

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (Al ‘Ankabuut 60)

 

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Huud 6)

 

Allah SWT mengetahui pula keberadaan semua makhluk yang diperlukan oleh manusia yang ada di darat, di atas bumi, di dalam air dan di dalam bumi. Allah SWT berfirman:

 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Al An’aam 59)

 

Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi. (An Naml 25)

 

Semua yang dipelihara oleh Allah SWT itu tidak menjadi tanggung jawab manusia.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memelihara bumi dan manusia dari semua makhluk langit?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara. (Al Anbiyaa’ 32)

 

Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi melainkan dengan izin-Nya. (Al Hajj 65)

 

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Faathir 41)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply