Apakah Banjir Tenggelamkan Semua Orang Kafir Di Bumi?

Dialog Seri 20: 8

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Nuh tidak mau mengikuti Nabi Nuh?”

 

Mudariszi: “Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. (Al ‘Ankanuut 14)

 

Nabi Nuh hidup bersama kaumnya (seperti firman-Nya di atas) menunjukkan bahwa beliau bukan tidak mungkin telah memperingatkan kaumnya dengan ayat-ayat-Nya selama beratus-ratus tahun. Itu merupakan jangka waktu yang panjang dan itu menunjukkan kesabaran beliau dalam menyeru kaumnya untuk mengikuti agama Allah. Tapi kaumnya tidak mau meninggalkan agamanya, dan hal itu dijelaskan oleh Nabi Nuh kepada Allah SWT sebagai berikut:

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.(Nuh 5-20)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah yang Nabi Nuh lakukan setelah mengetahui kaumnya tidak mau meninggalkan agamanya?”

 

Mudariszi: “Nabi Nuh lalu mengadu kepada Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (Al Qamar 10)

 

Dan Nabi Nuh lalu meminta kepada Allah SWT sebagai berikut:

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mu’min besertaku. (Asy Syu’araa’ 117-118)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh 21-24)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, Ibu Bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. (Nuh 26-28)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Nuh itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengetahui kaum Nabi Nuh mendustakan Rasul-Nya, mengetahui Rasul-Nya berdo’a kepada-Nya, dan Dia kabulkan do’a Rasul-Nya, sebagai berikut:

 

Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul. (Asy Syu’araa’ 105)

 

Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu, ketika dia berdo’a dan Kami memperkenankan do’anya. (Al Anbiyaa’ 76)

 

Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). (Ash Shaaffaat 75)

 

Allah SWT yang mengetahui keadaan Nabi Nuh (ketika itu), lalu ditenangkan-Nya dan Dia perintahkan beliau untuk membuat bahtera (kapal) sebagai berikut:

 

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (Huud 36)

 

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Huud 37)

 

Perintah Allah kepada Nabi Nuh (dalam firman-Nya di atas) itu merupakan bagian dari permintaan Nabi Nuh yang dikabulkan-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Nuh melaksanakan perintah-Nya itu?”

 

Mudariszi: “Nabi Nuh lalu melaksanakan perintah-Nya yaitu membuat kapal (bahtera) yang dikerjakannya di darat. Kaumnya yang melihat Nabi Nuh membuat kapal di darat yang jauh dari laut, menjadikan beliau sebagai bahan ejekan. Allah SWT bertfirman:

 

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami(pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. (Huud 38-39)

 

Tilmidzi: “Apakah perintah Allah selanjutnya setelah Nabi Nuh menyelesaikan kapal itu?”

 

Mudariszi: “Selanjutnya Allah SWT perintahkan Nabi Nuh sebagai berikut:

 

Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim. Dan berdo’alah: “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat. (Al Mu’minuun 27-29)

 

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Huud 40)

 

Karena itu, setelah kapal selesai dikerjakan dan datangnya tanda-tanda yang dijelaskan oleh Allah SWT, Nabi Nuh lalu memerintahkan orang-orang beriman untuk menaiki kapal. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Huud 41)

 

Tilmidzi: “Tapi bagaimana kapal yang berada di darat itu dapat berlayar?”

 

Mudariszi: “Setelah Nabi Nuh, orang-orang beriman dan binatang-binatang dengan pasangannya masing-masing telah berada di atas kapal, Allah SWT lalu berfirman:

 

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (Al Qamar 11-12)

 

Dan Kami angkat Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (Al Qamar 13-14)

 

Firman-Nya di atas menerangkan daratan dipenuhi oleh air yang turun dari langit dan dari dalam tanah, sehingga kapal Nabi Nuh terangkat oleh air itu dan dapat berlayar.”

 

Tilmidzi: “Apakah banjir itu menenggelamkan semua orang kafir yang ada di bumi?”

 

Mudariszi: “Air yang turun dari langit dan keluar dari dalam tanah yang sangat banyak di daratan dengan gelombang air yang tinggi membuat air tersebut naik ke tempat-tempat yang tinggi (gunung-gunung). Air (banjir) tersebut menenggelamkan siapapun yang ada di daratan, termasuk anak Nabi Nuh yang lari ke gunung. Allah SWT berfirman:

 

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Huud 42-43)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang tenggelam karena air banjir tersebut adalah orang-orang kafir seperti permintaan Nabi Nuh kepada-Nya?”

 

Mudariszi: “Air yang sangat banyak dan tinggi itu membuat bumi tertutup oleh air atau banjir besar. Orang-orang yang tidak berada dalam kapal Nabi Nuh, yaitu orang-orang kafir, menjadi tenggelam semuanya. Hal itu sesuai dengan permintaan Nabi Nuh kepada-Nya, yaitu agar Dia tidak membiarkan seorang kafirpun yang hidup di bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (Asy Syu’araa’ 120)

 

Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (Al A’raaf 64)

 

Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (Al Anbiyaa’ 77)

 

Orang-orang kafir yang tenggelam binasa itu bukan hanya dari kaum Nabi Nuh saja, tapi juga dari kaum Nabi Idris dan kaum Nabi-Nabi lain yang ketika itu diutus-Nya, tapi tidak dijelaskan dalam Al Qur’an. Nabi Adam, Nabi Idris dan Nabi-Nabi lain di masa itu berusia panjang seperti Nabi Nuh dan Nabi Adam, sehingga mereka menurunkan puluhan generasi (anak cucu) manusia yang kemudian tersebar ke berbagai belahan bumi. Ketika terjadi banjir besar itu, semua kaum Nabi Idris dan kaum Nabi-Nabi lain bukan tidak mungkin telah pula menjadi kafir seperti kaum Nabi Nuh.”

 

Tilmidzi: “Apakah di antara keluarga Nabi Nuh ada yang tidak ikut dalam kapal?”

 

Mudariszi: “Salah satu anak Nabi Nuh tidak ikut dalam kapal karena perbuatannya termasuk perbuatan orang kafir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. (Huud 45-47)

 

Demikian pula dengan isteri Nabi Nuh, yaitu termasuk orang yang tidak ikut dalam kapal karena dia telah mengkhianati Nabi Nuh. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). (At Tahriim 10)

 

Allah SWT menjadikan isteri dan anak Nabi Nuh contoh orang-orang yang mengkhianati suami dan Bapak sendiri, karena keduanya terhasut oleh syaitan. Sehingga banjir besar itu membuat tidak ada satu orang kafirpun yang selamat (hidup) di bumi.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana kapal Nabi Nuh itu berhenti berlayar?”

 

Mudariszi: “Setelah semua orang kafir mati tenggelam, maka Allah SWT lalu berfirman:

 

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah”, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim. (Huud 44)

 

Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. (Huud 48)

 

Kapal Nabi Nuh berhenti berlayar dengan berlabuh di atas bukit Judi. Berlabuhnya kapal di atas bukit itu menunjukkan banyak dan tingginya air ketika terjadi banjir. Banjir besar tersebut mematikan semua orang dan binatang yang tidak ikut dalam kapal Nabi Nuh. Berlabuhnya kapal di atas bukit menunjukkan pula bahwa Allah SWT menyelamatkan Nabi Nuh dan orang-orang beriman dari azab-Nya seperti yang diminta oleh Nabi Nuh. Allah SWT lalu menjadikan orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh yang selamat itu sebagai penerus keturunan manusia dan sebagai pemegang kekuasaan di bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. (Asy Syu’araa’ 119)

 

Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)

 

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)

 

Karena semua orang kafir mati dan orang-orang beriman dalam kapal Nabi Nuh sebagai penerus keturunan manusia di bumi, maka orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh itu lalu menjadi nenek moyang manusia atau nenek moyang orang-orang yang lahir di dunia sampai sekarang. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al Haaqqah 11-12)

 

Orang-orang dalam kapal Nabi Nuh itu adalah anak cucu Nabi Adam. Mereka kemudian disebut oleh Allah SWT sebagai nenek moyang orang-orang yang lahir sampai sekarang. Dikatakan nenek moyang karena hanya untuk membedakan orang-orang yang hidup di bumi sebelum banjir besar yang dimulai dari Nabi Adam dan isterinya yang beriman, dengan orang-orang yang hidup di bumi sesudah banjir besar yang dimulai dari orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh.”

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply