Bagaimana Nabi-Nabi Dan Umatnya Setelah Nabi Adam?

Dialog Seri 20: 7

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengutus Nabi-Nabi kepada manusia setelah Nabi Adam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengutus Nabi-Nabi-Nya kepada anak cucu Nabi Adam. Tetapi Allah SWT tidak menjelaskan Nabi-Nabi tersebut diutus kepada umatnya (kaumnya) ketika Nabi Adam masih hidup atau setelah wafat. Nabi Adam berumur panjang, sehingga bukan tidak mungkin beliau melahirkan (memiliki) anak cucu dan cicit yang banyak dengan keluarganya masing-masing hingga membentuk kaum-kaum (umat-umat). Sementara itu, syaitan tetap menggoda manusia agar tersesat. Dan di antara anak cucu dan cicit Nabi Adam itu, ada yang tidak mengikuti ayat-ayat-Nya atau agama-Nya lagi yang dijelaskan oleh Nabi Adam. Sehingga Allah SWT lalu mengutus Nabi-Nabi-Nya (Rasul-Rasul-Nya) kepada kaum (umat) dari anak cucu dan cicit Nabi Adam. Tapi tidak semua Nabi diceritakan oleh Allah SWT, yaitu sebagai berikut:

 

Tiap-tiap umat mempunyai Rasul. (Yunus 47)

 

Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)

 

Salah satu Nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada umatnya setelah Nabi Adam yaitu Nabi Idris. Tapi Allah SWT hanya menjelaskan tentang Nabi Idris sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (Al Anbiyaa’ 85)

 

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (Maryam 56-57)

 

Rasulullah SAW pernah berjumpa dengan Nabi Idris ketika beliau melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj, seperti yang dijelaskan oleh beliau sebagai berikut:

 

Syaiban memberitahukan kepada kami dari Qatadah di dalam firman-Nya: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (surat Maryam ayat 57). Qatadah berkata: Anas bin Malik menceritakan kepadaku, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ketika saya di Mi’rajkan saya melihat Idris di langit yang ke empat.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Siapa lagi yang diutus oleh Allah SWT setelah Nabi Idrtis?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan jumlah anak cucu dan cicit Nabi Adam, usia mereka dan tempat tinggal mereka di bumi. Setelah mengutus Nabi Idris, Allah SWT mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya, karena kaumnya tidak lagi menyembah-Nya atau tidak lagi mengikuti agama-Nya (ayat-ayat-Nya). Allah SWT memberikan ayat-ayat-Nya dan petunjuk-Nya kepada Nabi Nuh untuk disampaikan kepada kaumnya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh. (An Nisaa’ 163)

 

Dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk. (Al An’aam 84)

 

Ayat-ayat-Nya yang disampaikan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya yaitu ayat-ayat-Nya untuk kebaikan dan keselamatan hidup mereka di dunia dan di akhirat.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Nuh diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengutus Nabi Nuh sebagai Rasul kepada manusia (atau anak cucu Nabi Adam) melalui kaumnya dengan memerintahkan beliau, sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.(Nuh 1)

 

Nabi Nuh menjelaskan kerasulan-Nya kepada kaumnya yang kemudian menyampaikan ayat-ayat-Nya sambil menyeru mereka, sebagai berikut:

 

Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.(Asy Syu’araa’ 106-110)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Al Mu’minuun 23)

 

Seruan Nabi Nuh kepada kaumnya itu diikuti dengan peringatan-Nya yang dijelaskan dengan ayat-ayat-Nya berikut ini:

 

Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan kalau kamu mengetahui.(Nuh 2-4)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.(Huud 25-26)

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (Al A’raaf 59)

 

Penjelasan, seruan dan peringatan yang disampaikan oleh Nabi Nuh dengan berulang-ulang kepada kaumnya itu berlangsung dalam jangka waktu yang panjang yang hanya diketahui oleh Allah SWT saja.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum Nabi Nuh atas seruan Nabi Nuh itu?”

 

Mudariszi: “Para pemuka agama yang mengetahui apa yang disampaikan (diserukan) oleh Nabi Nuh kepada kaumnya, tidak menyukai seruan Nabi Nuh tersebut, sehingga mereka mengatakan kepadfa Nabi Nuh sebagai berikut:

 

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 24-25)

 

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.(Al A’raaf 60)

 

Nabi Nuh kemudian menjelaskan kepada para pemuka kaum tersebut sebagai berikut:

 

Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?” (Al A’raaf 61-63)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan para pemuka kaum setelah mendengar penjelasan Nabi Nuh itu?”

 

Mudariszi: “Para pemuka kaum khawatir kaumnya akan mengikuti Nabi Nuh, karena sudah ada yang mengikuti Nabi Nuh. Jika semua orang mengikuti Nabi Nuh, maka itu berarti mereka meninggalkan agamanya yang tidak menyembah Allah SWT. Karena itu para pemuka kaum kemudian mengatakan kepada Nabi Nuh sebagai berikut:

 

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.(Huud 27)

 

Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepada kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” (Asy Syu’araa’ 111)

 

Nabi Nuh pula lalu menerangkan kepada para pemuka kaum itu sebagai berikut:

 

Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.(Asy Syu’araa’ 112-115)

 

Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya padahal kamu tidak menyukainya?” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu bahwa sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.(Huud 28-31)

 

Para pemuka kaum itu tidak memahami agama Allah; mereka memandang seseorang dari kedudukan dan hartanya. Agamanya membuat mereka menyukai kehidupan dunia dan tidak memahami iman dan akhlak orang-orang yang mengikuti agama Allah. Mereka seharusnya memikirkan lebih dahulu ajakan (seruan) Nabi Nuh itu sebelum menolaknya dengan ucapan-ucapannya yang buruk. Mereka mempunyai sifat-sifat yang buruk, yaitu sombong dan berburuk sangka terhadap orang yang tidak sependapat dengan mereka. Allah SWT berfirman:

 

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi. (An Nahl 60)

 

Tilmidzi: “Agama apakah yang diikuti oleh kaum Nabi Nuh itu?”

 

Mudariszi: “Agama kaum Nabi Nuh yaitu agama yang menyembah tuhan berhala. Mereka adalah orang-orang musyrik karena menyembah tuhan selain Allah SWT atau menyekutukan-Nya dengan tuhan lain yang berupa patung (atau berhala). Syaitan membuat mereka beragama menyekutukan-Nya agar mereka tersesat sejauh-jauhnya hingga dosa syirik mereka tidak diampuni-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Patung berhala yang disembah oleh kaum Nabi Nuh itu adalah orang-orang alim mereka yang telah wafat. Syaitan membisikkan ke hati mereka agar membuat patung orang-orang alim itu sebagai penghormatan. Syaitan lalu membisikkan kepada mereka agar merubah penghormatan kepada orang-orang alim itu dengan penyembahan. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Berhala-berhala yang dulu ada pada zaman Nabi Nuh, masih ada di Arab setelah itu. Adapun berhala Wadd milik suku Kalb berada di Daumatul Jandal, dan Suwa ada di sku Hudzail, Yaghuts milik suku Murad kemudian milik suku Ghuthaif ada di Jauf dekat Saba, adapun Yauq milik suku Hamadan, Nasr ada­lah milik suku Himyar yakni keluarga Dzil Kala, adalah nama-nama orang yang shaleh dari kaumnya Nuh. Maka ketika mereka meninggal, syaithan memberikan wahyu kepada kaum mereka yakni: Dirikanlah tanda kepada tempat tinggal mereka dimana pernah menempatinya dengan berhala-berhala dan berilah nama berhala-berhala itu dengan namanama mereka. Kemudian kaum tadi melakukannya. Berhala-berhala terse­but tidaklah disembah sampai mereka mati dan ilmu telah terhapus, barulah berhala-berhala itu disembah. (HR Bukhari)

 

Dengan mereka menyembah tuhan selain Allah SWT yang berupa patung (berhala) yang karena bisikan syaitan, maka mereka sebenarnya menyembah syaitan. Dan hal itu dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Karena kaum Nabi Nuh mengikuti agama yang diada-adakan oleh syaitan itulah maka mereka lalu langsung menolak ajakan (seruan) Nabi Nuh kepada agama Allah dengan alasan atau ucapan-ucapan yang buruk. Ucapan-ucapan mereka itu dari syaitan yang tidak ingin mereka mendengar Nabi Nuh dan ayat-ayat-Nya agar tidak dipikirkannya.”

 

Tilmidzi: “Apakah para pemuka kaum Nabi Nuh tetap menghalangi-halangi Nabi Nuh dari menyampaikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya) kepada kaumnya?”

 

Mudariszi: “Ya! Para pemuka kaum yang kafir minta kepada Nabi Nuh sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.(Huud 32)

 

Nabi Nuh lalu menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:

 

Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Malahan kaum Nuh itu berkata: “Dia cuma membuat-buat nasehatnya saja.” Katakanlah: “Jika aku membuat-buat nasehat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat. (Huud 33-35)

 

Karena tidak dapat menghentikan Nabi Nuh dari menyampaikan ayat-ayat-Nya, para pemuka kaum itu lalu mengancam Nabi Nuh, sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.(Asy Syu’araa’ 116)

 

Ancaman para pemuka kaum itu tidak menjadikan Nabi Nuh takut; karena nyatanya beliau mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku dan janganlah kamu memberi tangguh padaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). (Yunus 71-72)

 

Para pemuka kaum mengucapkan perkataaan-perkataan yang buruk kepada Nabi Nuh karena mereka mengikuti hawa nafsunya yang berasal dari bisikan syaitan, yaitu syaitan yang mereka sembah dan ikuti. Mereka tidak menyadari bahwa syaitan telah membuat mereka selalu menganggap baik semua ucapan dan perbuatan mereka yang buruk itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply