Dialog Seri 20: 10
Tilmidzi: “Apakah ada kaum yang lain yang mengingkari Allah SWT setelah kaum ‘Aad yang kafir dimusnahkan-Nya?”
Mudariszi: “Setelah kaum ‘Aad (kaum Nabi Huud) dimusnahkan, Allah SWT menjadikan orang-orang beriman yang bersama Nabi Huud sebagai pengganti kaum ‘Aad yang kafir. Mereka bercampur baur dengan orang-orang dari kaum-kaum lain hingga membentuk kaum Tsamud. Kaum Tsamud tidak berbeda dengan kaum ‘Aad yaitu pandai dalam membangun bangunan, tapi kaum Tsamud diberikan kelebihan dalam memotong batu-batu besar di bukit-bukit dan memahat gunung-gunung yang dijadikannya sebagai tempat tinggal mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:
Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. (Al Fajr 9)
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al A’raaf 74)
Setelah sekian lama kaum Tsamud menjalani hidupnya dengan kepandaian dan berbagai kenikmatan dari Allah SWT, mereka lalu menjadi sombong, suka bertindak sewenang-wenang dan melupakan Allah SWT dan agama-Nya. Mereka menyembah tuhan selain Dia dan mereka menurunkan anak cucu yang beragama menyembah tuhan selain Dia atau menyekutukan-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT kemudian mengutus Rasul-Nya kepada kaum Tsamud?”
Mudariszi: “Allah SWT lalu mengutus Nabi Shaleh kepada kaumnya dan Nabi Shaleh memperingatkan kaumnya dengan ayat-ayat-Nya serta menyeru mereka agar bertaubat kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya dalam menyembah Dia saja. Allah SWT berfirman:
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya. Kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (Huud 61)
Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut, dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (Asy Syu’araa’ 142-152)
Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum Tsamud atas seruan Nabi Shaleh itu?”
Mudariszi: “Kaum Tsamud yang menyembah tuhan selain Allah SWT itu sebenarnya mereka menyembah syaitan, dan hal itu dijelaskan dalam firman-Nya ini:
Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)
Dengan menyembah syaitan berarti kaum Tsamud mengikuti syaitan. Dengan mengikuti syaitan, maka dengan sendirinya mereka tidak memahami agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus yang dibawa oleh Rasul-Nya, karena syaitan ingin mereka tidak mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus agar mereka tersesat. Allah SWT berfirman:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Karena itu, ketika Nabi Shaleh menjelaskan (menyampaikan) ayat-ayat-Nya (agama-Nya) kepada kaumnya termasuk menyeru mereka untuk mengikuti agama-Nya, maka kaum Tsamud tidak memahami agama-Nya dan bahkan mereka merasakan keanehan dengan agama-Nya itu. Allah SWT menjelaskan hal tersebut dalam firman-Nya ini:
Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh Bapak-Bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Huud 62)
Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (Al Qamar 24-25)
Nabi Shaleh menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dan menyeru mereka untuk mengikuti agama-Nya itu berlangsung dalam masa yang panjang. Karena kaum Tsamud itu kaum yang cerdas, maka seruan Nabi Shaleh telah membuat kaum Tsamud terpecah menjadi dua golongan yang bermusuhan, yaitu golongan orang-orang beriman dan golongan orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan. (An Naml 45)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan para pemuka kaum Tsamud?”
Mudariszi: “Para pemuka kaum Tsamud memilih untuk tidak mengikuti Nabi Shaleh dan tetap mengikuti agama menyembah tuhan selain Dia. Allah SWT berfirman:
Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh diutus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya.” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (Al A’raaf 75-76)
Kaum Tsamud yang diberikan-Nya dengan kecerdasan akal, bahkan para pemuka kaum lebih cerdas daripada kaumnya, berhasil ditipu oleh syaitan hingga mereka menganggap benar perbuatannya yang buruk. Mereka berhasil ditipu oleh syaitan karena selalu menuruti hawa nafsunya akibat dari bisikan syaitan. Jika para pemuka kaum mengikuti penyembahan patung berhala, maka kaumnya cenderung akan mengikuti pula agama pemimpinnya. Sehingga syaitan berhasil membuat kaum Tsamud menjadi penyembah patung berhala dan tidak mau mengikuti agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Shaleh. Allah SWT berfirman:
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (Al ‘Ankabuut 38)
Jika di antara kaum Tsamud ada yang bernasib buruk, misalnya tidak seperti orang-orang kaya atau tidak seperti para pejabat (pemuka kaum), maka mereka dikatakan itu terjadi karena adanya Nabi Shaleh. Perkataan mereka tersebut berasal dari tipu daya syaitan agar mereka menyalahkan nasib buruknya kepada Nabi Shaleh sehingga mereka tidak mengikuti Nabi Shaleh dan agama-Nya. Dan mereka yang bernasib buruk itu cenderung mengikuti bisikan syaitan karena mereka tidak memahami agama-Nya. Karena itu Nabi Shaleh lalu menjelaskan kepada mereka, sebagai berikut:
Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” (An Naml 46-47)
Kaum Nabi Shaleh yang bernasib buruk meminta agar disegerakan keburukan sebelum kebaikan seperti dalam firman-Nya di atas adalah karena syaitan, yaitu mereka meminta sesuatu yang tidak dipahaminya karena tidak memahami agama Allah dan takdir-Nya. Jika Allah SWT mengabulkan permintaan mereka, maka mereka tidak akan memperoleh kebaikan (pahala) apapun dari permintaannya itu, dan ketika di akhirat mereka akan di neraka bersama-sama dengan Iblis dan syaitan, karena banyaknya kesalahan (dosa) mereka akibat dari amal perbuatannya yang mengikuti Iblis (syaitan) ketika di dunia.”
Tilmidzi: “Apakah kaum Tsamud meminta bukti kerasulan Nabi Shaleh?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:
Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mu’jizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” (Asy Syu’araa’ 153-154)
Allah SWT lalu mengabulkan permintaan kaum Tsamud itu, yaitu dengan menurunkan unta betina untuk mereka. Allah SWT lalu perintahkan mereka untuk memeliharanya seperti mereka memelihara binatang-bintang ternaknya sendiri. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. Dan berikanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). (Al Qamar 27-28)
Nabi Shaleh menjelaskan kepada kaumnya jika unta betina itu milik Allah sebagai bukti kerasulannya dan beliau meminta mereka agar memelihara unta tersebut dengan baik. Nabi Shaleh peringatkan kaumnya agar tidak mengganggu (menyakiti) unta itu supaya mereka tidak diazab oleh Pemiliknya yaitu oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: “(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (Asy Syams 13)
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al A’raaf 73)
Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian. Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mu’jizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.” (Huud 63-64)
Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar.” (Asy Syu’araa’ 155-156)
Tilmidzi: “Apakah kaum Tsamud mengikuti perintah dan peringatan Nabi Shaleh itu?”
Mudariszi: “Kebanyakan kaum Tsamud adalah orang-orang kafir. Di antara mereka itu ada sembilan orang jahat yang mempunyai rencana jahat terhadap Nabi Shaleh dan unta bertina Allah. Allah SWT berfirman:
(Kaum) Tsamud telah mendustakan (Rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. (Asy Syams 11-12)
Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.” (An Naml 48-49)
Para pemuka kaum Tsamud bukan tidak mengetahui rencana jahat dari sembilan orang itu. Tapi, meskipun mengetahuinya, para pemuka kaum tidak akan menghalang-halangi mereka dalam melaksanakan rencana jahatnya karena para pemuka kaum itu juga tidak menyukai Nabi Shaleh dan agama-Nya. Rencana jahat mereka diketahui oleh Allah SWT karena Dia mengetahui segala isi hati manusia, tapi mereka tidak mengetahui rencana-Nya. Allah SWT mempunyai rencana pula karena Dia tidak akan membiarkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman dikalahkan oleh musuh-musuh-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. (Al Ahzab 51)
Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Al Mulk 13)
Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (An Naml 50)
Mereka lalu menangkap unta betina itu dan membunuhnya. Allah SWT berfirman:
Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. (Al Qamar 29)
Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. (Asy Syams 14)
Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” (Al A’raaf 77)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Shaleh setelah mengetahui unta betina milik Allah dibunuh oleh orang-orang yang jahat itu?”
Mudariszi: “Mengetahui unta betina itu dibunuh, Nabi Shaleh lalu meninggalkan mereka sambil mengatakan kepada mereka, sebagai berikut:
Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Al A’raaf 79)
Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selang tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Huud 65)
Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.” (Adz Dzaariyaat 43)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menurunkan azab-Nya kepada kaum Tsamud yang kafir?”
Mudariszi: “Allah SWT menyelamatkan Nabi Shaleh dan orang-orang beriman terlebih dulu sebelum Dia mengazab kaum Tsamud yang kafir itu. Allah SWT berfirman:
Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Huud 66)
Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. (An Naml 53)
Pada waktu yang Allah SWT telah tetapkan, Dia lalu mengazab kaum Tsamud yang kafir dengan suara guntur atau petir yang sangat keras. Allah SWT berfirman:
Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan. (Adz Dzaariyaat 44-45)
Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Fushshilat 17)
Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. (Huud 67-68)
Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. (Al Qamar 31)
Wallahu a’lam.