Bagaimana Nabi Ibrahim Dengan Bapaknya Yang Kafir?

Dialog Seri 20: 11

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT tetap mengutus Nabi-Nabi kepada kaum-kaum yang kafir?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tetap mengutus Nabi-Nabi kepada kaum yang kafir, tapi Dia tidak menjelaskan semua Nabi itu dalam Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)

 

Salah satu Nabi yang diutus-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an setelah Nabi Shaleh yaitu Nabi Ibrahim, dan Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (Maryam 41)

 

Tilmidzi: “Siapakah Nabi Ibrahim itu?”

 

Mudariszi: “Nabi Ibrahim merupakan salah satu anak cucu dari orang-orang beriman yang selamat dari banjir besar, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (As Shaaffaat 83)

 

Nabi Ibrahim tidak berbeda dengan Nabi Nuh, yaitu Rasul Allah yang menerima wahyu-wahyu-Nya atau ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dari Allah SWT untuk disampaikan kepada manusia melalui kaumnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim. (An Nisaa’ 163)

 

Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (An Najm 36-42)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengajarkan dan menunjuki Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menganugerahkan hidayah (petunjuk) kebenaran kepada Nabi Ibrahim agar beliau menjadi orang yang meyakini kebenaran tersebut. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Al Anbiyaa’ 51)

 

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. (Al An’aam 75)

 

Syaitan ingin menyesatkan Nabi Ibrahim tentang Allah SWT Tuhan semesta alam, Tuhan Yang Maha Esa. Tapi Allah SWT tidak menghendakinya, dengan Dia menganugerahkan hidayah (petunjuk) kebenaran kepada beliau, yaitu Dia mengajarkan beliau cara berfikir yang benar melalui makhluk-makhluk di langit. Allah SWT berfirman:

 

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al An’aam 76-79)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan anugerah-Nya tersebut di atas lalu Nabi Ibrahim benar-benar mantap hatinya akan ke-Esa-an Allah SWT, Tuhan semesta alam?”

 

Mudariszi: “Syaitan yang tetap ingin menyesatkan Nabi Ibrahim, lalu terus menggoda beliau agar keyakinannya atas ke-Esa-an Allah SWT menjadi luntur hingga lenyap. Godaan syaitan itu berhasil menimbulkan keragu-raguan dan kerisauan di hati Nabi Ibrahim. Sehingga Nabi Ibrahim lalu meminta kepada Allah SWT, sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu.” (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah 260)

 

Setelah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim dan beliau menyaksikannya, maka hati atau iman (keyakinan) beliau atas ke-Esa-an Allah SWT menjadi mantap. Sehingga sulit bagi syaitan untuk mengaburkan beliau tentang ke-Esa-an Allah SWT. Selain itu, godaan-godaan syaitan tersebut menjadi pengajaran bagi Nabi Ibrahim dari Allah SWT tentang agama-Nya yang benar, yaitu agama tauhid yang hanya menyembah Dia saja dan agama yang bersih dari syirik (kesyirikan). Allah SWT berfirman:

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Dengan ilmu dan pengetahuannya itu, Nabi Ibrahim lalu menyampaikan ayat-ayat-Nya termasuk menjelaskan agama-Nya kepada kaumnya. Beliau mengutamakan penjelasan tentang Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa agar kaumnya tidak salah dalam beragama, karena Dia menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al An’aam 82)

 

Pemahaman dan keyakinan kepada ke-Esa-an Allah SWT (tauhid) sangat penting bagi manusia agar tidak salah dalam beragama ketika menjalani hidupnya di dunia.”

 

Tilmidzi: “Agama apakah yang dipeluk (diikuti) oleh kaum Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Ibrahim beragama menyembah tuhan-tuhan berupa patung-patung berhala. Karena itulah Nabi Ibrahim lalu menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dan menyeru mereka agar menyembah Allah SWT saja. Nabi Ibrahim memulai menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya tersebut kepada Bapaknya yang juga menyembah tuhan patung berhala. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada Bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (Al An’aam 74)

 

Ingatlah ketika ia berkata kepada Bapaknya: “Wahai Bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai Bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai Bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan. (Maryam 42-45)

 

Nabi Ibrahim melarang Bapaknya menyembah patung-patung berhala, karena dengan demikian Bapaknya menyembah syaitan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan Bapaknya Nabi Ibrahim setelah mendengar penjelasan Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: “Penjelasan dan peringatan Nabi Ibrahim kepada Bapaknya itu dijawab oleh Bapaknya sebagai berikut:

 

Berkata Bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama. (Maryam 46)

 

Jawaban Bapaknya Nabi Ibrahim di atas menunjukkan bahwa syaitan tidak ingin Bapaknya mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim. Syaitan melalui bisikan jahatnya menyuruh Bapaknya mengatakan kepada Nabi Ibrahim untuk tidak lagi menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada dia agar dia tetap mengikuti syaitan menyembah patung berhala atau menyembah syaitan. Bapak Nabi Ibrahim dibuat oleh syaitan menjadi seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (Al Hajj 72)

 

Penjelasan dan peringatan Nabi Ibrahim kepada Bapaknya yang berkali-kali, dan juga penolakan Bapaknya yang berkali-kali yang disertai ancaman-ancaman, lalu membuat Nabi Ibrahim menjauh dari Bapaknya sambil mengatakan kepadanya sebagai berikut:

 

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku. (Maryam 42-48)

 

Kecuali perkataan Ibrahim kepada Bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah. (Al Mumtahanah 4)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim tersebut?”

 

Mudariszi: “Ketika Nabi Ibrahim berjanji akan meminta kepada-Nya agar mengampuni Bapaknya, beliau belum mengetahui peringatan-Nya ini:

 

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya) sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam. (At Taubah 113)

 

Setelah mengetahui Bapaknya merupakan musuh-Nya, yaitu orang musyrik karena dia telah menyekutukan-Nya dengan tuhan lain (patung berhala), maka beliau lalu tidak lagi meminta kepada Allah SWT untuk mengampuni Bapaknya. Allah SWT berfirman:

 

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk Bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada Bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa Bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 114)

 

Allah SWT menjelaskan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa menyekutukan-Nya dengan tuhan lain, melalui firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply