Dialog Seri 20: 12
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Ibrahim memperingatkan kaumnya dengan ayat-ayat Allah?”
Mudariszi: “Nabi Ibrahim menyampaikan (menjelaskan) ayat-ayat-Nya kepada kaumnya bahwa Tuhan mereka yang benar yaitu Allah SWT dan bukan tuhan-tuhan yang mereka sembah yang tidak dapat memberikan apapun kepada mereka. Allah SWT berfirman:
Ketika ia berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.” Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a)mu sewaktu kamu berdo’a (kepadanya), atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” (Asy Syu’araa 70-73)
Kaum Nabi Ibrahim lalu menjelaskan alasan penyembahan mereka itu sebagai berikut:
Mereka menjawab: “(Bukan karena itu), sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (Asy Syu’araa 74)
Nabi Ibrahim menjelaskan kepada kaumnya tentang Allah SWT Tuhan semesta alam, Tuhan Pencipta manusia, Tuhan yang benar untuk disembah oleh mereka. Sedangkan patung-patung yang mereka sembah itu bukanlah Tuhan tapi syaitan yang merupakan musuh manusia yang menginginkan manusia menjadi sesat. Allah SWT berfirman:
Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, dan Tuhanku Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (Asy Syu’araa 75-82)
Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Alah itu adalah berhala dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al ‘Ankabuut 16-18)
Penyembahan pada patung-patung oleh kaum Nabi Ibrahim itu tidak lain hanya karena rasa kasih sayang dalam keluarga atau adat istiadat keluarga. Mereka tidak mengetahui Allah SWT Tuhan mereka yang benar, sehingga mereka tidak mengetahui agama-Nya yang benar Karena itu mereka mengatakan agama mereka itu agama nenek moyang dan mereka menyembah patung-patung berhala. Yang menjadikan mereka demikian itu adalah syaitan dengan menjadikannya beragama melalui rasa (perasaan) kasih sayang dalam keluarga atau adat istiadat dalam keluarga yang turun temurun (nenek moyang). Nabi Ibrahim menjelaskan hal itu kepada kaumnya sebagai berikut:
Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (Al ‘Ankabuut 25)
Tilmidzi: Bagaimana tanggapan kaum Nabi Ibrahim setelah mendengar penjelasan Nabi Ibrahim tentang Tuhan yang benar?”>
Mudariszi: “Kaum Nabi Ibrahim membantah Nabi Ibrahim sambil mengancam beliau. Tapi Nabi Ibrahim tidak takut dengan ancaman mereka. Allah SWT berfirman:
Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (Al An’aam 80-81)
Nabi Ibrahim menjelaskan kepada kaumnya (dalam firman-Nya di atas) bahwa Allah SWT tidak menurunkan hujjah (ayat-ayat-Nya) kepada mereka untuk menyekutukan-Nya atau menyembah tuhan patung berhala, sehingga yang mereka sembah itu adalah tuhan selain Allah SWT yaitu syaitan. Tapi mereka tidak dapat berfikir sampai kesana karena hati dan akal mereka telah tertutup oleh bisikan syaitan yang selalu diikuti dan dianggapnya benar hingga mereka berbuat yang buruk (berdosa). Allah SWT berfirman:
Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). (Ar Ra’d 33)
Karena itu Nabi Ibrahim lalu menjelaskan kepada kaumnya sebagai berikut:
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (Az Zukhruf 26-27)
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah 4)
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 83)
Tilmidzi: “Apakah penolakan dari Bapaknya dan kaumnya itu lalu membuat Nabi Ibrahim berhenti dari menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya?”
Mudariszi: “Nabi Ibrahim tetap menyampaikan ayat-ayat-Nya dan menyeru kaumnya agar mengikuti agama-Nya walaupun ditolak oleh kaumnya. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah) ketika ia berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?” Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit.” Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang. (Ash Shaaffaat 85-90)
Tidak diketahui berapa lama Nabi Ibrahim menyeru kaumnya agar menyembah Allah SWT supaya mereka selamat di dunia dan di akhirat. Bahkan beliau berniat melakukan tipu daya kepada kaumnya agar mereka bertaubat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati Bapak-Bapak kami menyembahnya.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan Bapak-Bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.” (Al Anbiyaa’ 52-57)
Ketika tidak ada seorangpun dari kaumnya, Nabi Ibrahim lalu mendatangi patung-patung kaumnya sambil bertanya kepada mereka, sebagai berikut:
Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?” (Ash Shaaffaat 91-93)
Nabi Ibrahim lalu menghancurkan semua patung itu dengan menyisakan satu patung yang besar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). (Ash Shaaffaat 91-93)
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (Al Anbiyaa’ 58)
Itulah tipu daya Nabi Ibrahim kepada kaumnya agar mereka bertaubat.”
Tilmidzi: “Bagaimana dengan kaum Nabi Ibrahim setelah mengetahui patung-patungnya (tuhan-tuhannya) telah hancur?”
Mudariszi: “Mengetahui patung-patungnya (tuhan-tuhannya) telah hancur, kaum Nabi Ibrahim lalu mendatangi beliau dan bertanya kepada beliau sebagai berikut:
Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. (Ash Shaaffaat 94)
Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya: “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” (Al Anbiyaa’ 59-62)
Nabi Ibrahim lalu menjawab kaumnya, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara.” (Al Anbiyaa’ 63)
Jawaban Nabi Ibrahim itu membuat kaumnya terdiam karena mereka mengetahui jika patung-patung itu hanya benda mati yang tidak dapat berbicara. Allah SWT berfirman:
Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).” Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (Al Anbiyaa’ 64-65)
Karena itulah Nabi Ibrahim lalu memperingatkan kaumnya, sebagai berikut:
Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (Al Anbiyaa’ 66-67)
Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Ash Shaaffaat 95-96)
Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Ibrahim itu lalu bertaubat?”
Mudariszi: “Kaum Nabi Ibrahim tidak mau mengakui kebenaran yang telah diketahuinya itu, karena mereka telah dikuasai oleh syaitan. Syaitan tidak ingin mereka mengikuti Nabi Ibrahim atau agama-Nya; syaitan membuat mereka tidak mengakui kesalahannya dan lalu membisikkan mereka untuk membunuh Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman:
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (Al Anbiyaa’ 68)
Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” (Ash Shaaffaat 97)
Allah SWT tidak menghendaki Rasul-Nya dikalahkan oleh musuh-musuh-Nya; Dia lalu membantu Nabi Ibrahim dengan menyelamatkan beliau dari api. Allah SWT berfirman:
Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. (Al ‘Ankabuut 24)
Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Mereka hendak membuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (Al Anbiyaa’ 69-70)
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (Ash Shaaffaat 98)
Kejadian Nabi Ibrahim tidak terbakar oleh api itu seharusnya membuat kaumnya sadar dan lalu mengikuti Nabi Ibrahim, karena terbukti Tuhan Nabi Ibrahim telah menolong beliau, sedangkan tuhan-tuhan mereka tidak dapat menolong dirinya sendiri ketika dihancurkan oleh Nabi Ibrahim. Tapi syaitan sudah terlalu kuat menguasai diri mereka.”
Tilmidzi: “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim setelah diselamatkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Allah SWT lalu memindahkan Nabi Ibrahim dari kaumnya ke negeri lain. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Ash Shaaffaat 99)
Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku).” (Al ‘Ankabuut 26)
Wallahu a’lam.