Apakah Nabi Sulaiman Putera Nabi Daud Menjadi Raja?

Dialog Seri 20: 39

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengaruniakan anak kepada Nabi Daud?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Shaad 30)

 

Nabi Sulaiman tidak berbeda dengan Nabi Daud, yaitu sangat taat kepada Allah SWT ketika menjalani hidupnya. Nabi Sulaiman yang terlahir sebagai anak Raja dalam istana yang dilengkapi dengan fasilitas yang indah-indah, menjadikan beliau menyukai keindahan terutama kuda-kuda. Meskipun demikian, kesukaan Nabi Sulaiman itu tidak membuatnya lalai dari mentaati-Nya. Allah SWT menjelaskan tentang Nabi Sulaiman melalui firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shaad 40)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman juga Rasul Allah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwsa Nabi Sulaiman merupakan salah satu anak cucu dari Nabi Ya’qub (Israil) atau dari Bani Israil yang menerima wahyu-wahyu-Nya. Nabi yang menerima wahyu-Nya adalah Rasul-Nya, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. (Al Anbiyaa’ 7)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman sama sekali tidak pernah melupakan Allah SWT karena kesukaannya tersebut?”

 

Mudariszi: “Pada suatu waktu Nabi Sulaiman dilalaikan oleh kesukaannya sehingga beliau melupakan Allah SWT. Mengetahui kesalahannya, beliau lalu melakukan ini:

 

(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shaad 31-33)

 

Karena tidak ingin ketaatannya kepada Allah SWT menjadi lenyap karena kesukaannya, Nabi Sulaiman kemudian memotong kaki dan leher semua kuda yang disukainya. Pada suatu waktu Nabi Sulaiman yang taat kepada Allah SWT itu diuji-Nya sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit). (Shaad 34)

 

Nabi Sulaiman yang mengetahui Allah SWT mengujinya karena kebiasaannya menyukai kuda-kuda, lalu bertaubat kepada-Nya, sebagai berikut:

 

Kemudian ia bertaubat. Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi. (Shaad 34-35)

 

Selain bertaubat kepada-Nya (dalam firman Allah di atas), Nabi Sulaiman juga meminta kepada-Nya agar dianugerahkan-Nya kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Sulaiman?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Sulaiman tersebut. Allah SWT menganugerahkan kerajaan dan kekuasaan kepada beliau dengan menetapkan beliau sebagai pengganti Nabi Daud sebagai Raja dari Bani Israil. Allah SWT berfirman:

 

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.  (An Naml 16)

 

Dengan demikian, Nabi Sulaiman menjadi Raja dari Bani Israil yang ketiga. Sebagai Raja, Nabi Sulaiman dianugerahkan oleh Allah SWT pemahaman tentang suara burung dan binatang-binatang. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan dia berkata: “Hai manusia, kami telah diberi peringatan tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.  (An Naml 16)

 

Selain itu, Allah SWT menganugerahkan kepada Nabi Sulaiman, yaitu menundukkan syaitan-syaitan, cairan tembaga dan angin untuk beliau. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan. (Shaad 37)

 

Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. (Saba’ 12)

 

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman. (Saba’ 12)

 

Tidak ada seorang hamba-Nya yang dianugerahkan kerajaan dan kekuasaan oleh Allah SWT seperti yang Dia anugerahkan kepada Nabi Sulaiman. Bahkan Allah SWT kemudian menjelaskan kepada Nabi Sulaiman tentang anugerah-Nya tersebut, sebagai berikut

 

Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. (Shaad 39)

 

Tilmidzi: “Bagaimana syaitan-syaitan itu ditundukkan-Nya kepada Nabi Sulaiman?”

 

Mudariszi: “Syaitan-syaitan yang tunduk kepada Nabi Sulaiman adalah jin-jin termasuk jin-jin yang kafir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu. (Al Anbiyaa’ 82)

 

Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam. (Shaad 37)

 

Tunduknya jin yang ghaib bagi Nabi Sulaiman itu menunjukkan beliau dapat mengetahui jin dan syaitan yang ghaib, sehingga syaitan-syaitan tidak berani mengganggu manusia di hadapan beliau. Syaitan-syaitan itu menjadi seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. (Shaad 38)

 

Di samping itu, agar Nabi Sulaiman dapat melakukan pekerjaan besar melalui jin dan manusia, Allah SWT lalu memberikan beliau berikut ini:

 

Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. (Saba’ 12)

 

Sehingga, dengan pengetahuan tentang tembaga dan ditambah dengan pengetahuan tentang besi dari Nabi Daud, sejumlah pekerjaan besar yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman melalui jin dan manusia menjadi lebih baik dan kuat. Karena itu Allah SWT memerintahkan keluarga Nabi Daud tersebut sebagai berikut:

 

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba’ 13)

 

Tilmidzi: “Apakah jin-jin kafir (syaitan-syaitan) itu sangat takut kepada Nabi Sulaiman sehingga mereka selalu mematuhi perintah beliau?”

 

Mudariszi: “Ya! Syaitan-syaitan itu mengetahui kekuasaan Allah SWT, sehingga dengan mereka ditundukkan-Nya untuk Nabi Sulaiman, syaitan-syaitan itu terpaksa mengikuti perintah beliau dalam melaksanakan apa yang diinginkan oleh beliau jika mereka tidak ingin diazab-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). (Saba’ 13)

 

Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (Saba’ 12)

 

Dan bukan tidak mungkin istana kerajaan dan Masjidil Aqsha yang dibangun oleh Nabi Daud lalu diperbesar (diperluas) oleh Nabi Sulaiman itu adalah melalui manusia dan jin termasuk syaitan-syaitan tersebut. Syaitan-syaitan di masa Nabi Sulaiman hanya dapat mengganggu (menyesatkan) orang-orang yang di luar pengetahuan Nabi Sulaiman.”

 

Tilmidzi: “Apakah jin-jin tersebut mengetahui jika Nabi Sulaiman adalah Rasul Allah?”

 

Mudariszi: “Ya! Jin-jin mengetahui Rasul-Rasul Allah, karena itulah mereka menghalang-halangi manusia dari mengikuti Rasul agar tersesat dari agama-Nya dan dari jalan-Nya yang lurus. Jin-jin mengetahui jika Nabi Sulaiman yang dari Bani Israil diwariskan Taurat oleh Allah SWT seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)

 

Jin-jin mengetahui Taurat itu diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Musa yang tidak berbeda dengan Al Qur’an yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah SAW, dan jin-jin mengetahui Taurat itu diturunkan sebelum Al Qur’an seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahqaaf 29-32)

 

Karena itu syaitan-syaitan (jin-jin kafir) menghalang-halangi manusia khususnya Bani Israil (pewaris Taurat) dari mengikuti Taurat dan Nabi Musa agar mereka tersesat. Tapi di masa Nabi Sulaiman syaitan-syaitan tersebut tidak menghalang-halangi manusia dari mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, kecuali di daerah-daerah yang jauh yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman.”

 

Tilmidzi: “Apakah tujuan Allah SWT menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman?”

 

Mudariszi: “Tujuan Allah SWT menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya. (Shaad 36)

 

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. (Al Anbiyaa’ 81)

 

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula). (Saba’ 12)

 

Tunduknya angin kepada Nabi Sulaiman membuat beliau dapat menggunakan angin itu untuk mengimbangi kecepatan jin (termasuk syaitan) yang bekerja untuk beliau. Hal itu membuat beliau tidak dapat dikhianati oleh syaitan-syaitan (jin-jin kafir).”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman dianugerahkan hikmah dan ilmu tentang hukum dan keadilan oleh Allah SWT seperti yang Dia ajarkan kepada Nabi Daud?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman. (An Naml 15)

 

Bahkan Allah SWT memberikan hikmah dan ilmu tentang hukum dan keadilan yang lebih baik kepada Nabi Sulaiman daripada kepada Nabi Daud. Contoh, seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. (Al Anbiyaa’ 78-79)

 

Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah SAW ber­sabda: Perumpamaanku dan perumpamaan orang-orang adalah seper­ti seorang laki-laki yang menyalakan api, maka kupu-kupu dan bina­tang-binatang (serangga) ini masuk ke dalam api ini. Dan beliau bersabda: Ada dua orang wanita bersama dua anaknya. Datanglah serigala, lalu serigala itu membawa anak salah seorang wanita itu. Berkata­lah temannya: Serigala itu membawa anakmu, dan yang lain berkata: Serigala itu membawa anakmu. Keduanya minta hukum kepada Da­wud, lalu Dawud memutuskan anak itu untuk wanita yang besar. Lalu keduanya pergi kepada Sulaiman bin Dawud dan memberitakan kepada­nya, lalu Sulaiman berkata: Bawalah pisau kepadaku, hendak aku belah seorang anak ini di antara (untuk) keduanya.” Lalu wanita yang kecil berkata: Janganlah kamu lakukan, semoga Allah menyayangi engkau. Anak itu adalah anaknya (perempuan yang besar), maka Sulaiman memutuskan anak itu bagi wanita yang kecil itu. (HR Bukhari)

 

Dengan demikian, Nabi Sulaiman dianugerahkan oleh Allah SWT kerajaan dan kekuasan yang lebih kuat dan lebih adil daripada Nabi Daud. Dan itulah yang diinginkan oleh Nabi Sulaiman, yaitu kerajaan dari Allah SWT yang tidak dimiliki oleh siapapun.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply