Dialog Seri 20: 40
Tilmidzi: “Bagaimana tentara Nabi Sulaiman dengan ditundukkan-Nya syaitan, burung (binatang), angin untuk beliau?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentara Nabi Sulaiman itu sebagai berikut:
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang Ibu Bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (An Naml 17-19)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman pernah menundukkan kerajaan negeri lain?”
Mudariszi: “Suatu waktu Nabi Sulaiman memeriksa tentaranya, tapi beliau tidak melihat kehadiran burung hud-hud, sehingga beliau bertanya sebagai berikut:
Dan dia memeriksa burung-burung, lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat huh-hud (sebangsa burung pelatuk), apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” (An Naml 20-21)
Setelah burung hud-hud hadir dan menjelaskan keterlambatannya, sebagai berikut:
Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah.” (An Naml 22-24)
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan Nabi Sulaiman setelah penjelasan burung hud-hud?”
Mudariszi: “Untuk membuktikan kebenaran burung hud-hud dan untuk memperingatkan Ratu negeri Saba’, Nabi Sulaiman lalu memerintahkan burung hud-hud sebagai berikut:
Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat apa kamu benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (An Naml 27-28)
Tilmidzi: “Apakah Ratu negeri Saba’ menerima surat dari Nabi Sulaiman tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Ratu lalu menjelaskan dan membacakan isi surat Nabi Sulaiman tersebut kepada para pembantunya dan merundingkan isi surat tersebut. Allah SWT berfirman:
Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (An Naml 29-31)
Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).” (An Naml 32)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Ratu negeri Saba’ merupakan pemimpin yang bijaksana, yaitu dia tidak memutuskan suatu perkara sebelum berunding terlebih dahulu dengan para pembantunya.”
Tilmidzi: “Apakah yang diusulkan oleh para pembantu Ratu atas surat Nabi Sulaiman?”
Mudariszi: “Para pembantu Ratu tidak senang dengan isi surat Nabi Sulaiman, mereka tidak ingin Ratu tunduk kepada Nabi Sulaiman sekalipun harus dengan berperang. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” (An Naml 33)
Tilmidzi: “Apakah Ratu menyetujui usulan para pembantunya tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia berkata: “Sesungguhnya Raja-Raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (An Naml 34-35)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Ratu negeri Saba’ tidak setuju dengan usulan para pembantunya. Bagi Ratu, menolak permintaan Nabi Sulaiman dapat menimbulkan perang yang akan merugikan harta dan jiwa manusia. Ratu sepertinya telah mengetahui kekuatan tentara Nabi Sulaiman. Walaupun demikian, Ratu tidak pula ingin direndahkan oleh Nabi Sulaiman, karena itu Ratu lalu memutuskan untuk memberikan hadiah kepada Nabi Sulaiman terlebih dahulu. Keputusan Ratu itu menunjukkan bahwa Ratu sebagai pemimpin tidak memutuskan suatu perkara menurut hawa nafsunya.”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Sulaiman menerima hadiah pemberian Ratu negeri Saba’ itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (An Naml 36-37)
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Ratu negeri Saba’ setelah mendengar penjelasan dari utusannya?”
Mudariszi: “Setelah mengetahui dari utusannya, Ratu yang tidak ingin ada pertumpahan darah, menyetujui menghadap ke Nabi Sulaiman. Mendengar berita kedatangan Ratu negeri Saba’, Nabi Sulaiman ingin agar singgasana Ratu didatangkan ke istana beliau sebelum Ratu datang. Beliau lalu bertanya kepada para pembesarnya, sebagai berikut:
Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (An Naml 38)
Ifrit dari golongan jin menyanggupi keinginan Nabi Sulaiman itu. Allah SWT berfirnan:
Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (An Naml 39)
Tapi ada lagi seorang yang berilmu yang dapat memindahkan singgasana Ratu negeri Saba’ lebih cepat daripada yang dilakukan oleh Ifrit, yaitu sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An Naml 40)
Melihat singgasana Ratu negeri Saba’ telah berada di hadapannya (karena orang berilmu itu), Nabi Sulaiman lalu bersyukur kepada-Nya, karena itu merupakan karunia-Nya yang hanya dapat terjadi karena kehendak-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah tujuan dari Nabi Sulaiman dengan memindahkan singgasana Ratu negeri Saba’ sebelum kedatangan Ratu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia berkata: “Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).” (An Naml 41)
Tilmidzi: “Apakah Ratu negeri Saba’ mengenali singgasananya ketika sampai di istana Nabi Sulaiman?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:
Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (An Naml 42)
Ratu negeri Saba’ sudah mengetahui tentang kekuasaan dan kekuatan Nabi Sulaiman, karena itu Ratu menuruti perintah beliau menghadap (berserah diri) kepada beliau. Ratu tidak menuruti hawa nafsunya dengan mengabaikan kekuatan Nabi Sulaiman karena hal itu dapat merugikan dirinya, rakyatnya, negerinya. Nabi Sulaiman lalu mempersilahkan Ratu negeri Saba’ untuk memasuki istananya, sebagai berikut:
Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” (An Naml 44)
Menyadari perbuatannya yang keliru (setelah dijelaskan oleh Nabi Sulaiman dalam firman-Nya di atas), Ratu lalu menyadari kebodohannya. Ratu negeri Saba’ yang berfikir jujur tanpa menuruti hawa nafsunya itu akhirnya bukan saja berserah diri kepada Nabi Sulaiman tapi juga berserah diri kepada Allah SWT; Ratu bertaubat kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagi berikut:
Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (An Naml 44)
Dengan demikian Nabi Sulaiman pernah menaklukan suatu kerajaan termasuk membuat pemimpin kerajaan tersebut mengikuti Allah SWT dan agama-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah hal itu berarti Ratu negeri Saba’ telah mengetahui jika matahari yang disembahnya bukanlah tuhannya?”
Mudariszi: “Nabi Sulaiman mengetahui dari burung hud-hud bahwa Ratu negeri Saba’ menyembah matahari akibat dari mengikuti bisikan syaitan. Allah SWT berfirman:
Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. (An Naml 24-25)
Karena Ratu menyembah matahari, maka Allah SWT tidak menunjukinya kepada jalan-Nya yang lurus. Kekafiran Ratu itu menjadikannya tidak mengetahui agama-Nya (Islam) yang benar, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. (An Naml 43)
Syaitan dapat menipu Ratu negeri Saba’ pada waktu itu karena tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman. Tapi syaitan tidak dapat berbuat apapun ketika Ratu bertemu dengan Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman yang mengetahui perihal Ratu, lalu menjelaskannya dengan bukti-bukti, misalnya pemindahan singgasana Ratu yang bukan karena kekuatan beliau tapi karena kekuasaan Allah SWT, Tuhannya dan Tuhan Ratu. Ratu yang ketika itu tidak diganggu oleh syaitan, menjadi dapat berfikir dengan benar sehingga dia bertaubat dan berserah diri kepada-Nya dengan mengikuti agama-Nya dan menyembah Dia saja.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah syaitan-syaitan menjadi terhina di hadapan manusia di masa Nabi Sulaiman?”
Mudariszi: “Ya! Karena mereka harus tunduk kepada manusia dan tidak dapat berbuat jahat terhadap manusia. Mereka tidak menyukainya, tapi mereka tidak dapat berbuat apapun karena takut kepada Nabi Sulaiman dan azab-Nya. Allah SWT berfirman:
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksaan yang menghinakan. (Saba’ 14)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa syaitan-syaitan sangat takut kepada Nabi Sulaiman, karena mereka tetap bekerja menurut perintah beliau, padahal beliau ketika itu telah wafat. Firman-Nya di atas menunjukkan pula bahwa syaitan tidak mengetahui perkara yang ghaib. Jin termasuk syaitan tidak berbeda dengan manusia, yaitu sama-sama hanya menduga-duga tentang yang ghaib karena sama-sama tidak mengetahui yang ghaib, sekalipun jin dan syaitan itu ghaib bagi manusia.”
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Iblis di masa Nabi Sulaiman itu?”
Mudariszi: “Iblis juga tidak dapat berbuat apapun di masa Nabi Sulaiman kecuali hanya menyesatkan orang-orang yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya. Iblis dan Nabi Sulaiman dianugerahkan oleh Allah SWT dengan kelebihan-kelebihan, tapi hal itu tidak membuat Nabi Sulaiman menjadi sombong seperti Iblis yang merasa lebih mulia dari manusia dan ingin menyesatkan manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Nabi Sulaiman dengan anugerah-Nya itu tidak ingin menyesatkan manusia ataupun jin, beliau justru mengajak mereka kepada agama-Nya agar tidak rugi (di neraka) ketika di akhirat. Contoh, Nabi Sulaiman mengajak Ratu negeri Saba’ bertaubat kepada-Nya setelah disesatkan oleh syaitan. Anugerah-Nya telah membuat Nabi Sulaiman semakin bersyukur kepada-Nya, yaitu semakin taat kepada-Nya. Berbeda dengan Iblis yang menolak perintah-Nya ketika disuruh bersujud kepada Nabi Adam, bahkan Iblis ingin menyesatkan manusia. Jika manusia dapat melihat jin dan syaitan, maka Iblis dan syaitan belum tentu dapat menyesatkan manusia, contoh Iblis tidak dapat menyesatkan Nabi Sulaiman. Dengan demikian, Iblis tidaklah lebih mulia dari manusia, bahkan Iblis lebih bodoh dari manusia, karena Iblis tidak memahami jika Allah SWT mengizinkannya menyesatkan manusia hanyalah agar Dia mengetahui orang-orang yang mengikuti-Nya dan mengikuti Iblis, yaitu orang-orang yang beriman dan tidak beriman kepada akhirat atau hari kiamat, hari dimana Dia akan menghisab perbuatan manusia ketika di dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba’ 20-21)
Tilmidzi: “Bagaimana Bani Israil setelah Nabi Sulaiman wafat?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menetapkan putera Nabi Sulaiman sebagai Raja pengganti Nabi Sulaiman, karena semua isteri beliau tidak dapat melahirkan anak. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sulaiman bin Dawud berkata: “Sungguh aku hendak mengelilingi (menyetubuhi) tujuh puluh istri nanti malam, dimana setiap seorang istri akan mengandung seorang laki-laki penunggang kuda yang akan berjihad di jalan Allah.” Lalu kawannya berkata kepadanya: “(Ucapkanlah) Insya Allah”, lalu Sulaiman tidak mengucapkannya. Dan tidaklah mengandung selain (seorang istri yang mengandung) guguran separuh badan.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya dia mengucapkannya, niscaya mereka (70 putranya) berjihad di jalan Allah.” Berkata Syu’aib dan Ibnu Abi Zanad: “Sembilan puluh (bukan tujuh puluh), dan ini yang paling benar (ashah).” (HR Bukhari)
Pengganti Nabi Sulaiman sebagai Raja adalah dari Bani Israil. Tapi Raja pengganti Nabi Sulaiman itu memerintah negerinya dengan tidak mengikuti syariat agama-Nya. Raja itu memerintah dengan sombong dengan mengikuti hawa nafsunya. Hal itu menimbulkan kebencian di antara rakyatnya dan negeri-negeri yang dikuasainya. Akibatnya kerajaan Nabi Sulaiman diperangi hingga menjadi hancur dan rakyatnya termasuk Bani Israil melarikan diri ke negeri-negeri lain. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (Al Israa’ 4-5)
Kekuasaan Nabi Sulaiman yang banyak memberikan pelajaran khususnya bagi Bani Israil karena tunduknya syaitan-syaitan kepada beliau, tidak diambil sebagai pelajaran oleh Bani Israil. Bani Israil yang suka menuruti hawa nafsunya tidak mengambil pelajaran dari syaitan-syaitan yang tunduk kepada Nabi Sulaiman. Setelah Nabi Sulaiman wafat, kebanyakan Bani Israil berhasil ditipu oleh syaitan. Syaitan membuat mereka hingga mengatakan Nabi Sulaiman mengerjakan sihir, padahal syaitan-syaitan yang diikuti oleh Bani Israil itu yang mengerjakan sihir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. (Al Baqarah 102)
Bani Israil tersebut mempelajari sihir dari syaitan sekalipun harus dengan mengingkari ayat-ayat-Nya, karena mereka menuruti hawa nafsunya yang ingin memperoleh harta atau keuntungan dunia, padahal Allah SWT telah menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah 102)
Dengan demikian, setelah Nabi Sulaiman wafat, kebanyakan Bani Israil kembali kepada kebiasaan buruknya yaitu menuruti hawa nafsunya yang menyukai keuntungan dunia atau kehidupan dunia.”
Wallahu a’lam.