Apakah Umat Manusia Sebelum Islam Juga Berilmu & Beriman?

Dialog Seri 16: 2

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengajarkan Nabi Adam supaya beliau berilmu dan beriman?”

 

Mudariszi: ”Ya! Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. (Al Baqarah 31)

 

Allah SWT lalu memberikan isteri kepada Nabi Adam, kemudian Dia menempatkan mereka di surga dan memperingatkan musuh mereka, Iblis (syaitan). Allah SWT berfirman:

 

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu celaka. (Thaahaa 117)

 

Tapi Nabi Adam dan isterinya tertipu oleh Iblis (syaitan) hingga mereka melanggar (mendurhakai) perintah-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al A’raaf 22)

 

Allah SWT memaafkan pelanggaran mereka tapi tetap menghukumnya. Allah SWT perintahkan mereka untuk turun ke bumi sebagai tempat tinggal mereka dan anak cucu mereka dalam menjalani hidupnya hingga kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan. Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Al A’raaf 24-25)

 

Allah SWT memberikan kepada Nabi Adam dan anak cucunya kalimat-kalimat-Nya (ayat-ayat-Nya) sebagai petunjuk baginya ketika menjalani hidupnya di bumi (di dunia) agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaahaa 123-124)

 

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan Ibu Bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

 

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)

 

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi aurat dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Al A’raaf 26)

 

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al A’raaf 31)

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Tilmidzi: ”Apakah Iblis dan syaitan menyesatkan manusia di dunia?”

 

Mudariszi: ”Tidak diketahui jumlah manusia yang hidup sebelum Rasulullah SAW karena tidak dijelaskan dalam Al Qur’an, dan Allah SWT menjelaskan Rasul-Rasul-Nya kepada manusia sebagai berikut:

 

Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)

 

Setiap Rasul yang diutus oleh Allah SWT diberikan ayat-ayat-Nya untuk dijelaskan dan diajarkan agama-Nya kepada umat Rasul agar mereka beriman kepada-Nya dan berilmu agama-Nya hingga mereka menjalani hidupnya dengan mengikuti agama-Nya supaya selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu. (An Nahl 36)

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia. (An Nisaa’ 116)

 

Ketika tiba ke masa Nabi Nuh, kaum Nabi Nuh mulai menyembah tuhan berhala (patung). Mereka telah menyembah tuhan selain Allah SWT (atau menyekutukan-Nya); mereka berarti menyembah syaitan musuh manusia. Allah SWT berfirman:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Nabi Nuh yang hidup bersama kaumnya selama 950 (sembilan ratus lima puluh) tahun, tidak mampu lagi menyadarkan kaumnya untuk beriman kepada Allah SWT. Nabi Nuh dan ayat-ayat-Nya telah didustakan oleh kaumnya. Nabi Nuh mengadu kepada Allah SWT dan meminta kepada-Nya sebagai berikut:

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh 21-24)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, Ibu Bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. (Nuh 26-28)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Nuh?”

 

Mudarszi: “Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Nuh karena Dia tidak menghendaki orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir. Bumi ditetapkan-Nya untuk orang-orang beriman dan bukan untuk orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu, ketika dia berdo’a dan Kami memperkenankan do’anya. (Al Anbiyaa’ 76)

 

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al Anbiyaa’ 105)

 

Allah SWT kemudian perintahkan Nabi Nuh untuk menaikkan semua orang-orang beriman dan binatang-binatang ke bahtera agar selamat dari azab-Nya, yaitu banjir besar, yang menenggelamkan (mematikan) semua orang-orang kafir di bumi di masa itu. Allah SWT berfirman:

 

Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Al Mu’minuun 27)

 

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (Al Qamar 11-12)

 

Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (Al Anbiyaa’ 77)

 

Allah SWT turunkan Nabi Nuh dan orang-orang beriman ke daratan setelah semua orang kafir binasa, Dia menjadikan orang-orang beriman itu sebagai penerus manusia di bumi, dan Dia jadikan azab-Nya tersebut sebagai pelajaran bagi orang-orang yang lahir kemudian agar mereka beriman kepada-Nya, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. (Yunus 73)

 

Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan Rasul-Rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. (Al Furqaan 37)

 

Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (Al ‘Ankabuut 15)

 

Tilmidzi: ”Jika demikian, apakah manusia sebagai khalifah di muka bumi dimulai lagi dari orang-orang beriman yang selamat bersama dengan Nabi Nuh di bahtera?”

 

Mudariszi: ”Ya! Orang-orang beriman yang diselamatkan-Nya dari banjir besar itulah nenek moyang manusia atau penerus manusia di bumi hingga kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al Haaqqah 11-12)

 

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)

 

Orang-orang beriman tersebut lalu melahirkan anak-cucunya di bumi dan menyebar ke berbagai belahan bumi hingga membentuk suku-suku (kaum-kaum) dan bangsa-bangsa. Setelah melalui sekian tahun, di antara kaum-kaum itu ada yang menyembah tuhan selain Allah SWT, sehingga Dia mengutus Rasul-Rasul dengan diberikan ayat-ayat-Nya guna dijelaskan kepada kaum-kaum Rasul. Tapi kebanyakan dari kaum-kaum Rasul itu tidak mau beriman kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa Rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka Rasul-Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata. (Yunus 74)

 

Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang Rasul-Rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya.” Berkata Rasul-Rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” (Ibrahim 9-10)

 

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-Rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.” Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu.” (Ibrahim 13)

 

Setelah menyelamatkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman, Allah SWT membinasakan semua kaum Rasul yang kafir itu dengan berbagai azab. Allah SWT tidak zalim kepada mereka tapi mereka sendiri yang zalim kepada dirinya karena mereka telah dijelaskan dan diperingatkan dengan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Dan Allah SWT tidak menghendaki orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir. Allah SWT berfirman:

 

Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, ‘Aad dan Tsamud, dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu). (Al Hajj 42-44)

 

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Al ’Ankabuut 40)

 

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-Rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (At Taubah 70)

 

Tilmidzi: ”Jika semua kaum Rasul yang kafir dibinasakan oleh Allah SWT, lalu siapa yang meneruskan keturunan manusia di bumi?”

 

Mudariszi: “Di antara Rasul-Rasul setelah Nabi Nuh itu terdapat Rasul yang dikaruniakan-Nya ilmu tauhid yang dalam dan luas, yaitu Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim menurunkan kalimat (agama) tauhid tersebut kepada anak cucunya sehingga banyak di antara mereka yang menjadi Nabi seperti Nabi Adam dan Nabi Nuh yang menurunkan banyak Nabi-Nabi. Allah SWT berfirman:

 

Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (Az Zukhruf 28)

 

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. (Al Baqarah 131-132)

 

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil. (Maryam 58)

 

Allah SWT perintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun kembali Baitullah di Mekkah, yaitu rumah ibadah pertama yang Dia bangun untuk manusia. Allah SWT menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Imam bagi seluruh umat manusia dengan Dia menjadikan maqam Ibrahim di Baitullah sebagai tempat shalat bagi manusia ketika mereka menyembah-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. (Al Baqarah 124)

 

Dan (ingatlah), ketika Kami memberi tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. (Al Hajj 26)

 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. (Ali ‘Imran 96-97)

 

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (Al Baqarah 125)

 

Tilmidzi: ”Bagaimana Allah SWT meneruskan keturunan manusia di bumi melalui Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: ”Nabi Musa, salah satu anak cucu Nabi Ya’qub dan Nabi Ibrahim, dipilih oleh Allah SWT menjadi Rasul yang diutus kepada Fir’aun (penguasa Mesir) agar Fir’aun dan kaumnya menyembah Dia. Tapi Fir’aun menolak hingga dia ingin membunuh Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israil). Fir’aun dan kaumnya yang kafir itu kemudian dibinasakan oleh Allah SWT dan Dia mempusakai semua yang ada di Mesir kepada Bani Israil. Allah SWT berfirman:

 

Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(-Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (Al A’raaf 128-129)

 

Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al Qashash 40)

 

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al A’raaf 137)

 

Nabi Musa yang telah menyeberangi laut ketika Allah SWT membinasakan (menenggelamkan) Fir’aun dan tentaranya di laut, lalu diberikan-Nya kitab Taurat yang berisikan ayat-ayat-Nya (keterangan-keterangan-Nya) untuk manusia agar mereka berilmu dan beriman ketika menjalani hidupnya supaya selamat di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat agar mereka ingat. (Al Qashash 43)

 

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. (Al A’raaf 145)

 

Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. (Al An’aam 154)

 

Taurat pertama kali dijelaskan oleh Nabi Musa kepada kaumnya sendiri, Bani Israil, agar mereka berilmu, beriman dan mengikuti agama-Nya ketika menjalani hidupnya yaitu di jalan-Nya yang lurus. Bani Israil yang beriman lalu menjelaskan Taurat kepada umat manusia lainnya agar mereka juga beriman kepada-Nya, berilmu agama-Nya dan menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus hingga selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. (Ibrahim 5)

 

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Al A’raaf 159)

 

Dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (As Sajdah 23-24)

 

Tapi kebanyakan dari Bani Israil tidak mau beriman kepada Taurat (ayat-ayat-Nya) dan Nabi Musa. Mereka menyukai kehidupan dunia dan tidak menyukai syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Taurat dan Nabi Musa. Syariat agama-Nya bagi mereka merupakan penghambat keinginan duniawi mereka. Agar keinginannya tercapai dan mereka tetap beragama, mereka merubah atau menyembunyikan ayat-ayat Taurat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak mentaati. (Al Baqarah 93)

 

Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya). (Al An’aam 91)

 

Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. (Al Maa-idah 13)

 

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Al Baqarah 86)

 

Perbuatan Bani Israil yang kafir yang merubah Taurat telah menjadikan agama-Nya tidak lagi seperti yang dijelaskan oleh Taurat dan Nabi Musa. Akibatnya timbul perselisihan di antara Bani Israil. Bani Israil yang kafir seharusnya dibinasakan oleh Allah SWT karena agama-Nya yang berubah itu akan membuat orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir. Tapi mereka tidak dibinasakan karena telah ada ketetapan-Nya terdahulu. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. (Fushshilat 45)

 

Dengan demikian, Fir’aun dan kaumnya menjadi kaum terakhir yang dimusnahkan oleh Allah SWT agar agama mereka tidak diikuti oleh orang-orang yang lahir kemudian.”

 

Tilmidzi: ”Jika demikian, bagaimana Allah SWT menyelamatkan orang-orang yang lahir kemudian agar mereka tidak kafir mengikuti Taurat dan agama-Nya yang berubah?”

 

Mudariszi: ”Agar orang-orang yang lahir kemudian tidak tersesat, Allah SWT mengutus Nabi-Nabi dari Bani Israil dengan diberikan ayat-ayat-Nya yang menjelaskan Taurat dan agama-Nya yang benar. Tapi kebanyakan Bani Israil tidak menyukai dengan apa yang dijelaskan oleh Nabi-Nabi mereka. Sehingga mereka lalu membunuh sebagian Nabi-Nabi itu dan menyembunyikan ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Akibat perbuatan mereka, timbul golongan-golongan dalam beragama di antara Bani Israil dan agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan Taurat makin terpecah. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu). (Al Maa-idah 70-71)

 

Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al Baqarah 87)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kami-lah masing-masing golongan itu akan kembali. (Al Anbiyaa 92-93)

 

Allah SWT lalu mengutus Nabi ’Isa (dari Bani Israil) dengan diberikan kitab Injil yang untuk manusia seperti Taurat. Injil dijelaskan terlebih dulu kepada Bani Israil karena Injil berkaitan dengan Taurat dan agama-Nya yang berubah, supaya Bani Israil berilmu, beriman dan mengikuti agama-Nya yang benar di jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. (Al Maa-idah 46)

 

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus. (Ali ‘Imran 50-51)

 

Dan tatkala ‘Isa datang membawa keterangan, dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.” (Az Zukhruf 63-64)

 

Tapi Bani Israil yang kafir tidak menyukai Injil karena sebagian ayat-ayat-Nya tidak sesuai dengan keinginan duniawi mereka. Mereka berselisih dan di antara mereka ada yang ingin membunuh Nabi ’Isa. Tapi mereka tidak berhasil membunuh Nabi ’Isa karena beliau telah diangkat (diselamatkan) oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). (Az Zukhruf 65)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-Rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al Baqarah 87)

 

Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 158)

 

Setelah Nabi ‘Isa diangkat oleh Allah SWT, terjadi perselisihan antara pengikut Nabi ‘Isa dengan Bani Israil (pengikut Nabi Musa) yang kafir. Kemudian timbul golongan-golongan dalam beragama di antara pengikut Nabi ‘Isa, sehingga agama-Nya yang diajarkan oleh Injil dan Nabi ‘Isa terpecah seperti agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa yang terpecah. Ahli Kitab, yaitu pengikut Nabi Musa dan pengikut Nabi ‘Isa menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan menjadi kafir. Mereka seharusnya dibinasakan-Nya agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir. Tapi mereka tidak dibinasakan-Nya karena telah ada ketetapan-Nya terdahulu. Allah SWT berfirman:

 

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-54)

 

Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. (Asy Syuura 14)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT mengatasi orang-orang yang lahir kemudian agar tidak menjadi kafir?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak menghendaki manusia menjadi kafir ketika menjalani hidupnya di dunia, karena itu akan merugikan mereka di kehidupan akhirat yang kekal. Agar Ahli Kitab, orang-orang musyrik dan orang-orang yang lahir kemudian menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti agama-Nya yang benar, maka Allah SWT lalu mengutus Rasulullah SAW, hamba-Nya dari anak cucu Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, kepada umat manusia dengan diberikan Al Qur’an untuk umat manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)

 

(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. (Al An’aam 156)

 

Rasulullah SAW menjelaskan Allah SWT mengutus beliau dan turunkan Al Qur’an kepada beliau yang untuk umat manusia itu, sebagai berikut:

 

Dari Iyaadl bin Himar Al Mujasyiiy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam ke­adaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu me­nyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar memper­sekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah ten­tang itu. Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, ke­cuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)

 

Syaitan menyimpangkan hamba-hamba-Nya dari agama-Nya hingga mereka menjadi kafir dalam sunnah Rasulullah di atas itu juga dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (An Nahl 63)

 

Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (Al ‘Ankabuut 38)

 

Allah SWT telah menjelaskan tentang syaitan kepada umat-umat Rasul (umat manusia) terdahulu melalui Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya dan mereka itu orang-orang yang berakal (pandai). Tapi mereka mendustakan Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya dan mereka menjadikan syaitan sebagai tuhan dan pelindung mereka. Karena itu mereka tidak dapat menyalahkan Allah SWT ketika azab menimpa mereka di dunia dan di kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 30)

 

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mu’min.” (Al Qashash 47)

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika Al Qur’an dirubah seperti dirubahnya Taurat dan Injil oleh orang-orang kafir?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)

 

Dengan demikian, tidak akan ada lagi Nabi dan kitab-Nya yang diturunkan oleh Allah SWT kepada manusia setelah Rasulullah SAW dan Al Qur’an hingga kiamat. Karena itu agar agama-Nya (agama Islam) yang diajarkan oleh Rasulullah SAW tidak berubah seperti agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa karena dirubahnya Taurat dan Injil, maka Allah SWT berfirman:

 

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)

 

Firman-Nya di atas membuat orang-orang kafir dapat bertaubat dan beragama dengan agama-Nya (agama Islam) yang benar ketika menjalani hidupnya, dan demikian pula dengan orang-orang yang lahir kemudian, hingga mereka semua selamat di dunia dan di akhirat.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply