Apakah Rasulullah SAW Ajarkan Al Qur’an Kepada Kaumnya?

Dialog Seri 16: 4

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an kepada penduduk Mekkah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW agar menyampaikan Al Qur’an kepada kerabatnya lebih dulu. Tapi di antara kerabat beliau itu ada yang tidak menyukai ayat-ayat-Nya,  sehingga dia dan isterinya dibinasakan-Nya, sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Ketika turun ayat 214 surat Asy Syu’araa ini, Rasulullah SAW keluar dan naik ke Shafa, lalu ber­teriak: “Awas!” Orang-orang bertanya-tanya: “Siapakah yang berteriak ini?” Di antara mereka berkata: “Muhammad!” Merekapun berkumpul mengerumuni beliau. Beliau bersabda: “Hai Bani Fulan! Hani Bani Fulan! Hai Bani Fulan! Hai Bani Abdi Manaf! Hai Bani Abdil Muththalib!” Mereka mengerumuni beliau. Lalu beliau bersabda: “Apa pendapat kalian seandainya aku kabarkan kepada kalian, bahwa seekor kuda akan keluar di kaki gunung ini. Apakah kalian mempercayaiku?” Orang­-orang menjawab: “Kami telah buktikan engkau tidak pernah ber­bohong.” Rasulullah SAW bersabda: “Aku memperingatkan kepada kalian di hadapan siksa yang sangat pedih.” Mendengar itu Abu Lahab berkata: “Celaka engkau! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Kemudian dia berdiri. Lalu turunlah surat ini: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia benar-benar binasa. (surat Al Lahab). (HR Muslim)

 

Pandangan Rasulullah SAW terhadap kerabatnya dan kaumnya dalam memikirkan Allah SWT dan agama Islam ketika beliau menyampaikan Al Qur’an, sebagai berikut:

 

Dari Amr bin Ash, dia berkata:Aku pernah men­dengar Rasulullah SAW bersabda dengan terang-terangan, tidak secara rahasia: “Ingatlah, bahwa keluarga Ayahku (yakni si Fulan) bukanlah teman yang kucintai. Teman yang kucintai hanyalah Allah dan orang-orang mukmin yang shalih.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah, dia berkata: “Aku berkata: “Ya Ra­sulullah! Ibnu Jud’an, dulu di masa Jahiliyah suka menyambung tali persaudaraan (bersilaturrahim) dan memberi makan orang miskin. Apakah yang demikian itu bermanfaat baginya?” Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada manfaatnya semua itu. Karena, tak seharipun dia pernah mengucap: “Wahai Tuhanku, ampunilah kesalahanku pada hari kiamat.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada kaumnya (penduduk Mekkah dan sekitarnya)?”

 

Mudariszi: “Pada awalnya, Rasulullah SAW tidak pandai memperingatkan dan menyeru kaumnya supaya beriman kepada Allah SWT dengan mengikuti Al Qur’an. Ketika itu Rasulullah SAW lebih mengutamakan pemuka kaum daripada kaum yang lemah hingga beliau ditegur oleh Allah SWT, sebagai berikut:

 

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti. (‘Abasa 1-16)

 

Semua pengalaman di atas menjadi pelajaran bagi Rasulullah SAW, dan itu membuat beliau menjadi lebih bersabar dalam menyampaikan Al Qur’an, contoh sebagai berikut:

 

Dari Urwah bin Zubair, sesungguhnya Aisyah isteri Rasulullah SAW bercerita kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, apakah Anda pernah meng­alami ada suatu hari yang lebih berat melebihi hari pertempuran Uhud?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya. Waktu itu aku ketemu kaummu Qu­raisy. Tetapi yang paling berat lagi ialah ketika aku berada di Mina sedang mengajak manusia masuk Islam. Mereka bukannya memenuhi ajakanku itu, melainkan malah menyakitiku. Aku ajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal untuk ikut aku. Namun dia enggan memenuhi ajakanku tersebut. Aku lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa tahu arah mana yang selanjutnya harus aku tuju. Aku tidak tahu kemana langkahku, namun yang jelas aku sampai di daerah Qarnu Tsa’alib. Aku meng­angkat kepalaku ke atas langit, dan saat itulah aku melihat segumpal awan menaungiku. Ketika aku perhatikan lebih cermat, ternyata dalam awan tersebut ada Jibril yang memanggil-manggilku: “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadap­mu. Allah telah mengutus malaikat penunggu gunung untukmu, dan kamu tinggal menyuruhnya untuk melakukan apa yang kamu inginkan terhadap mereka.” Tidak lama kemudian ganti malaikat penunggu gu­nung yang memanggil-manggilku. Setelah mengucap salam kepadaku, dia berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah sudah mendengar jawaban kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat penung­gu gunung. Aku telah diutus Tuhanmu untuk siap melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Apa yang kamu inginkan? Jika kami ingin mereka dijepit oleh kedua gunung di Makkah itu, niscaya segera aku laksanakan.” Rasulullah SAW bersabda kepada malaikat penung­gu gunung itu: “Tidak. Sebaliknya aku malah berharap mudah­-mudahan Allah berkenan menampilkan dari diri mereka orang yang mau menyembah kepada Allah semata, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Agama apakah yang dianut oleh penduduk Mekkah dan sekitarnya pada waktu itu?”

 

Mudariszi: “Agama penduduk Mekkah dan sekitarnya yaitu agama menyembah patung berhala atau menyembah tuhan selain Allah SWT atau agama yang menyekutukan-Nya. Mereka itu orang-orang musyrik, dan mereka tidak berbeda dengan kaum-kaum penyembah berhala terdahulu yang telah dimusnahkan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. (Huud 109)

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: “Berhala-berhala yang dulu ada pada zaman Nabi Nuh, masih ada di Arab setelah itu. Adapun berhala Wudd milik Suku Kalb berada di Daumatul Jandal, dan Suwa ada di Su­ku Hudzail. Yaghuts milik Suku Murad kemudian milik Suku Ghuthaif ada di Jauf dekat Saba’. Adapun Ya’uq milik Suku Hamadan. Naser ada­lah milik Suku Himyar yakni keluarga Dzil Kala adalah nama-nama orang yang shaleh dari kaumnya Nuh. Maka ketika mereka meninggal, syaithan memberikan wahyu kepada kaum mereka yakni: “Dirikanlah tanda kepada tempat tinggal mereka dimana pernah menempatinya dengan berhala-berhala, dan berilah nama berhala-berhala itu dengan nama-nama mereka. Kemudian kaum tadi melakukannya. Berhala-berhala tersebut tidaklah disembah sampai mereka mati dan ilmu telah terhapus, barulah berhala-berhala itu disembah.” (HR Bukhari)

 

Mereka menyembah patung-patung (tuhan-tuhan) itu karena mereka beranggapan sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az Zumar 3)

 

Anggapan mereka itu tidak mungkin terjadi, itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu(-Nya), sekali-kali tidak mungkin!(Saba’ 27)

 

Tuhan-tuhan kaum musyrik itu tidak mungkin dapat mendekatkan mereka kepada Allah SWT, karena Dia tidak mempunyai sekutu (tuhan lain) atau keluarga dalam Dia menciptakan dan dalam memelihara segala sesuatu di semesta alam ini. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) sebesar zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. (Saba’ 22)

 

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong. (Al Israa’ 111)

 

Dari Abil Aliyah dari Ubai bin Kaab, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah SAW: Sebutkan sifat-sifat Tuhanmu kepada kami”, lalu Allah menurunkan ayat: Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Dia adalah Tuhan yang ber­gantung kepadaNya segala sesuatu dan Dia tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya. (surat Al ­Ikhlash ayat 1-4). Dia berkata: Sifat-sifat Allah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu, Allah tidak dilahirkan karena tidak ada sesuatu yang dilahirkan selain akan mati, tidak ada sesuatu yang mati selain akan diwaris dan sesung­guhnya Allah tidak mati dan tidak diwaris dan tidak ada satupun yang setara dengan-Nya.” Dia berkata: Tidak ada sesuatu yang menyerupaiNya dan tidak ada seseorang yang menyamai-Nya dan tidak ada sesuatu yang menyamaiNya.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik itu mempunyai kitab agamanya?”

 

Mudariszi: “Kaum kafir musyrik mempunyai kitab agama yang bukan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca. (Saba’ 44)

 

Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. (Al Hajj 71)

 

Kitab agamanya dibuat oleh pemuka-pemuka agama mereka menurut anggapannya. Contoh, mereka menetapkan tuhan-tuhannya, anak-anak tuhannya, nama-nama tuhan, semuanya berdasarkan anggapan mereka. Allah SWT berfirman:

 

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. (Yusuf 40)

 

Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekkah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?” Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. (Ash Shaaffaat 149-157)

 

Mereka mengetahui ketetapan agamanya tidak benar, tapi mereka tetap melakukannya. Contoh, mereka mengetahui tuhannya tidak dapat berbuat apapun karena hanya patung dan mereka mengetahui Allah SWT tidak dapat menerima makanan dari mereka, sebagai berikut:

 

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku tanpa memberi tangguh (kepadaku). Sesungguhnya Pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat. (Al A’raaf 191-198)

 

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan oleh Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka. (Al An’aam 136)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik itu mengetahui kehidupan akhirat?”

 

Mudariszi: “Anggapan kaum musyrik terhadap kehidupan akhirat yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al Jaatsiyah 24)

 

Ketidak percayaan maum musyrik kepada kehidupan akhirat karena mengikuti anggapannya itu akan membuat mereka celaka setelah kematiannya atau ketika dalam kehidupan akhirat. Beragama mengikuti anggapan adalah salah karena anggapan itu sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)

 

Karena itu Allah SWT menjelaskan kepada mereka tentang Tuhan mereka dan agama-Nya (Islam) melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat, sebagai berikut:

 

Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan Bapak-Bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al Qur’an) dan seorang Rasul yang memberi penjelasan. (Az Zukhruf 29)

 

Demi Al Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-Rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang Bapak-Bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (Yaasiin 2-6)

 

Al Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada mereka itu datang dari Allah SWT dengan menjelaskan kebenaran dan bukan anggapan. Allah SWT berfirman:

 

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu. (An Nisaa’ 170)

 

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah 147)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum musyrik atas agama Islam?”

 

Mudariszi: “Kaum musyrik heran dengan agama Islam yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an, mereka mengatakan sebagai berikut:

 

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (Shaad 4-5)

 

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (Al Muddatstsir 25)

 

Mereka lalu menyihir Rasulullah SAW, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, dia berkata: “Rasulullah SAW disihir sehingga terbayang oleh beliau bahwa beliau berbuat sesuatu, padahal beliau tidak berbuat demikian itu, hingga pada suatu hari beliau berdoa dan berdoa, dan kemudian beliau bersabda: “Adakah kamu (Aisyah) tahu bahwa Allah berfatwa (memenuhi doa) kepadaku mengenai kesembuhanku? Telah datang kepadaku dua orang (malaikat: Jibril dan Mikail, dalam mimpi). Seorang (Jibril) dari keduanya duduk di kepalaku dan yang lain (Mikail) di kedua kakiku. Seorang (Mikail) dari keduanya berkata kepada yang lain (Jibril): “Apakah sakitnya laki-laki (Nabi) ini?” Dia (Jibril) menjawab: “Dia disihir.” Dia (Mikail) bertanya: “Dan siapakah yang menyihirnya?” Dia (Jibril) menjawab: “Labid bin A’sham.” Dia (Mikail) bertanya: “Pada apakah?” Dia (Jibril) menjawab: “Pada sisir, serat dan mayang kurma kering yang jantan.” Dia (Mikail) bertanya: “Dimanakah itu?” Dia (Jibril) menjawab: “Di sumur dzarwan.” Kemudian Rasulullah SAW berangkat ke sumur itu, kemudian beliau kembali, lalu beliau bersabda kepada Aisyah ketika kembali: “Pohon kurma (di sisi)nya adalah seperti kepala-kepala setan.” Lalu aku (Aisyah) berkata: “Engkau minta untuk mengeluarkannya?” Beliau bersabda: “Tidak. Adapun aku, telah disembuhkan oleh Allah, dan aku khawatir (bila dikeluarkan) hal itu akan membangkitkan keburukan pada manusia.” Kemudian sumur itu dimatikan.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT mengizinkan mereka dapat menyihir Rasulullah SAW agar Rasulullah SAW mengetahui sihir syaitan hingga beliau berilmu. Kaum musyrik tidak menyukai agama Islam yang menyembah satu Tuhan, karena itu mereka mengatakan Rasulullah SAW ingin menyesatkan mereka dari agamanya, sebagai berikut:

 

Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya. (Al Furqaan 41-42)

 

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh Bapak-Bapakmu. (Saba’ 43)

 

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, ini (meng-Esakan Allah) tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (Shaad 6-7)

 

Apa yang dilakukan oleh kaum musyrik Mekkah itu tidak berbeda dengan orang-orang musyrik di masa Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW, hingga Allah SWT berfirman:

 

Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (Adz Dzaariyaat 52-53)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik meminta perkara-perkara yang ganjil kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Contohnya kaum musyrik Mekkah meminta kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Bahkan mereka berkata (pula): “(Al Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mu’jizat sebagaimana Rasul-Rasul yang telah lalu diutus.” (Al Anbiyaa 5)

 

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. (Al Furqaan 21)

 

Mereka meminta kepada Allah SWT agar mendatangkan azab-Nya untuk membuktikan kebenaran Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang (sebahagian dari) mereka meminta ampun. (Al Anfaal 32-33)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW dilarang menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya (agama Islam)?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Urwah bin Zubair, ia meriwayatkan: Saya bertanya kepada Ibnu Amr bin Ash: Ceriterakanlah kepadaku tentang per­buatan orang-orang musyrik yang sangat keterlaluan terhadap Rasulullah SAW. Ia menjawab: Ketika Rasulullah SAW shalat di Hijr Kabah, tiba-tiba Uqbah bin Abi Muaith datang meletakkan pakaiannya di leher beliau dan menjeratnya dengan keras sekali. Kemudian Abu Bakar datang memegang kedua bahu Uqbah dan mendorongnya (jauh) dari Rasulullah SAW seraya berkata: Apakah kalian hendak membunuh seorang lelaki karena ia menyatakan: Tuhanku ialah Allah.” (surat Mukmin ayat 28). (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah SAW tengah bersembahyang di dekat Ka’bah. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya sedang duduk di sekitar situ, dan sehari sebelumnya mereka ramai-ramai menyembelih seekor unta. Berkatalah Abu Jahal: Siapa di antara kamu yang berani ambil ari-ari unta si Bani Polan, lalu meletakkannya pada kedua pundak Muhammad sewaktu dia sedang bersujud? Seorang dari mereka tiba-tiba bangkit berdiri dan mengambil ari-ari tersebut. Ketika Rasulullah SAW tengah sujud, dia lalu meletakkan barang itu di antara kedua pundak beliau. Mereka semua ter­tawa sampai terpingkal-pingkal. Sementara saya hanya bisa tegak berdiri melihat pemandangan itu. Seandainya saya punya kekuatan, niscaya akan aku buang barang itu dari punggung Rasulullah SAW. Saat beliau tengah bersujud, lama sekali beliau tidak mengangkat kepalanya. Sese­orang lalu pergi melapor kepada Fatimah yang waktu itu sudah tumbuh rnenjadi seorang gadis. Tidak lama kemudian datanglah Fatimah. Ia lalu membuang ari-ari tersebut dari tubuh Rasulullah SAW. Kemudian Fati­mah memalingkan mukanya ke arah orang-orang kafir Quraisy itu sera­ya mencaci-maki mereka. Ketika Rasulullah SAW selesai dari sembahyang­nya, beliau mengangkat suaranya keras-keras sembari mendo’akan orang-orang kafir Quraisy tersebut sampai tiga kali: Ya Allah, aku serahkan kepada Engkau orang-orang kafir Quraisy itu seraya mencaci-maki mereka. Ketika mendengar suara Rasulullah SAW itulah, serta merta mereka menghentikan ter­tawanya. Mereka benar-benar takut akan do’a beliau itu. Ke­mudian Rasulullah SAW bersabda lagi: Ya Allah, aku serahkan kepada Engkau: Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu’aith (yang ketujuh aku tidak ingat namanya). Demi Dzat yang meng­utus Muhammad dengan membawa kebenaran, sungguh aku me­lihat orang-orang yang beliau sebut itu terbanting pada waktu perang Badar, kemudian mereka diseret ke dalam sumur Badar. (HR Muslim)

 

Para pemuka kaum memerintahkan kaumnya untuk tidak mendengarkan Rasulullah SAW dan Al Qur’an (yang beliau sampaikan), sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat 26)

 

Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (Al An’aam 26)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW putus asa dengan ucapan-ucapan kaum musyrik tersebut?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW pernah merasa putus asa karena ulah kaum musyrik itu hingga beliau ditegur oleh Allah SWT, sebagai berikut:

 

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” (Al Furqaan 30)

 

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an). (Al Kahfi 6)

 

Allah SWT lalu menenangkan dan menunjuki Rasulullah SAW seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An Naml 70)

 

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An Nahl 127)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang beriman menjalankan agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Perbuatan kaum musyrik atas Rasulullah SAW itu membuat orang-orang beriman menjadi takut. Mereka beribadah dan membaca Al Qur’an secara diam-diam di tempat yang dirahasiakannya. Salah satu orang beriman meminta kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Khabbab bin Aratt, dia berkata: “Kami mengadu ke­pada Rasulullah SAW dimana beliau sedang bersandar pada selimutnya pada naungan Ka’bah. Kami bertanya kepada beliau: “Hendaklah engkau memohon pertolongan (kemenangan) bagi kami? Hendaklah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki dari orang-orang yang sebelum kamu dibuatlah galian di bumi, lalu ia dimasukkan ke dalamnya dan dibawalah gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya dan dibelahlah kepala itu menjadi dua. Hal itu tidaklah menghalangi orang tersebut dari agamanya. Ia (orang sebelum kamu) disikat dengan sikat besi pada bawah dagingnya yaitu tulang dan otot. Hal ini tidaklah menghalangi orang tersebut dari agamanya. Demi Allah, urusan (agama Islam) ini sungguh akan sempurna sehingga penunggang kendaraan berjalan dari Shan’a ke Hadramaut tidak takut kecuali kepada Allah Azza Wa Jalla, atau (kecuali) kepada serigala terhadap (keselamatan) kambingnya, tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW tidak menyetujui permintaan sahabat beliau itu karena beliau telah diperingatkan oleh Allah SWT dan hati beliau telah teguh setelah penjelasan tentang kisah Rasul-Rasul terdahulu ketika mereka menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. (Al An’aam 34)

 

Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (Huud 120)

 

Orang-orang beriman yang menyaksikan turunnya Al Qur’an kepada Rasulullah SAW dan menyaksikan bagaimana kaum musyrik menganiaya mereka dan Rasulullah SAW, telah membuat iman mereka bertambah kuat walaupun jumlah mereka tidak banyak. Mereka tidak banyak karena yang lain takut dianiaya oleh kaum musyrik. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekkah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. (Al ’Ankabut 47)

 

Dari Ammar bin Yasir, ia berkata: Aku pernah melihat Ra­sulullah SAW dimana tak seorangpun yang menyertainya kecuali lima orang hamba, dua wanita dan Abu Bakar.” (HR Bukhari)

 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata: Tiada seseorangpun yang masuk Islam, melainkan pada hari aku masuk Islam. Dan se­sungguhnya saya berdiam selama tujuh hari. Sungguh diriku adalah orang ketiga yang masuk Islam.” (HR Bukhari)

 

Sekalipun orang-orang beriman berada dalam ketakutan, Allah SWT tetap melindungi mereka karena imannya yang kuat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikuit:

 

Demi Al Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad 1-2)

 

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Al Buruuj 8)

 

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekkah) akan menculik kamu. (Al Anfaal 26)

 

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. (Al Anfaal 30)

 

Tilmidzi: “Mengapa Rasulullah SAW tidak hijrah juga ke negeri lain?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW tetap di Mekkah dan tetap menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada kaumnya dan kaum-kaum di luar Mekkah secara sembunyi-sembunyi, contoh kepada kaum dari Yatsrib (Madinah), sebagai berikut:

 

Dari Ka’ab bin Malik, ia menceriterakan bahwasanya ketika ia tertinggal dari Rasulullah SAW pada perang Tabuk karena panjangnya. Ibnu Bukair berkata di dalam sebuah haditsnya: Sungguh aku telah menyaksikan malam (Baiat) Aqabah bersama Rasulullah SAW ketika kami berjanji setia pada Islam. Dan aku tidak menyukai bahwa dengan baiat itu diriku mendapatkan mati syahid pada perang Badar. Meskipun perang Badar lebih (sering) disebut-sebut orang dari pada Baiat Aqabah itu.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir, ia berkata: Dua pamanku dari Ibu pernah me­nyaksikan Baiat Aqabah bersamaku.” Ibnu Uyainah berkata: Salah satu (kedua paman)nya ialah Barra bin Marur.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW kemudian bermimpi tempat hijrah bagi orang-orang beriman, yaitu kota Madinah, karena itu beliau menyampaikannya kepada orang-orang beriman untuk segera berhijrah ke Madinah. Setelah itu Rasulullah SAW pula diizinkan-Nya untuk berhijrah ke Madinah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: “Rasulullah SAW pada hari itu berada di Makkah. Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang muslim: “Sesungguhnya aku pernah diperlihatkan kampung (tempat) hijrahmu yang berpohon kurma di antara dua daerah berbatu hitam. Maka berhijrahlah orang yang pernah berhijrah menuju Madinah. Dan kebanyakan orang yang pernah berhijrah di Habasyah kembali ke Madinah. Abu Bakar pun bersiap-siap menuju Madinah, lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Pelan-pelanlah, sesungguhnya aku mengharapkan semoga diriku mendapat izin.” Abu Bakar bertanya: “Apakah engkau mengharapkan hal itu, demi ayahku?” Beliau menjawab: “Ya.” Kemudian Abu Bakar menahan dirinya karena Rasulullah SAW ingin agar ia dapat menemani beliau. Ia memberi makan dua untanya dengan daun Samur selama empat bulan.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Pada suatu hari ketika kami sedang duduk di dalam rumah Abu Bakar di tengah hari, seseorang berkata kepada Abu Bakar: Inilah Rasulullah SAW (datang) dengan bertudung kepala”, pada suatu waktu dimana beliau belum pernah mendatangi kami pada waktu (seperti) itu. Abu Bakar berkata: Sebagai tebusan baginya adalah Ayah dan Ibuku. Demi Allah, beliau tidak datang pada saat seperti ini kecuali ada sesuatu (urusan).” Aisyah berkata: Rasulullah SAW datang seraya minta izin. Lalu ia memberi izin kepada beliau dan masuk.” Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar: Keluarkanlah orang-orang yang ada di dekatmu.” Abu Bakar menjawab: Mereka hanyalah keluargamu, dengan Ayahku engkau ditebusi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: Diriku benar-benar diizinkan untuk keluar.” Abu Bakar bertanya: (Apakah termasuk) sahabat, dengan Ayahku engkau ditebus, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya.” Abu Bakar berkata: Dengan Ayahku engkau ditebusi, wahai Rasulullah, maka ambillah salah satu dari dua untaku ini.” Rasulullah SAW bersabda: (Tetapi harus) dengan harga.” Aisyah berkata: Lalu kami menyiapkan kedua unta itu dengan persiapan secepatnya. Kemudian kami membuatkan bekal untuk mereka berdua di dalam kantong.” (HR Bukhari)

 

Dengan hijrah ke Madinah, maka Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam di Mekkah selama paling sedikit sepuluh tahun, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW tinggal di kota Makkah selama sepuluh tahun dimana Al Qur’an diturunkan dan di kota Madinah selama sepuluh tahun. (HR Bukhari)

 

Sedikitnya orang-orang yang beriman di Mekkah selama Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam, menunjukkan sulitnya orang-orang musyrik menerima agama Islam yang hanya menyembah Allah SWT. Di lain pihak, orang-orang yang memeluk agama Islam di Mekkah adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan iman yang tinggi karena mereka menyaksikan turunnya ayat-ayat Al Qur’an kepada Rasulullah SAW yang sebagiannya berdasarkan dari apa yang menimpa mereka.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply