Apakah Semua Ahli Kitab Menyukai Agama Islam?

Dialog Seri 16: 7

 

Tilmidzi: “Apakah di antara penduduk Madinah terdapat Ahli Kitab?”

 

Mudariszi: “Di Madinah terdapat Ahli Kitab yaitu kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Ahli Kitab mengetahui Rasulullah SAW dan Al Qur’an dari Taurat dan Injil yang Allah SWT telah turunkan kepada Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:

 

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqarah 146)

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu. (Asy Syu’araa’ 196)

 

Selain itu, semua Nabi telah berjanji kepada Allah SWT akan beriman kepada Rasulullah SAW dan menolongnya. Dengan demikian, umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa sudah harus mendapat penjelasan dari Rasul-Rasul mereka tentang Rasulullah SAW, beriman kepada beliau dan menolong beliau ketika beliau datang. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku akan menjadi saksi (pula) bersama kamu. (Ali ‘Imran 81)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW wajib menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada Ahli Kitab?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT menurunkan Al Qur’an untuk manusia dan Rasulullah SAW yang menerima Al Qur’an itu diutus-Nya untuk manusia. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)

 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)

 

Manusia dalam firman-Nya di atas yaitu semua orang yang hidup di dunia termasuk yang lahir kemudian. Al Qur’an menjelaskan agama Allah yaitu agama Islam, dan menjelaskan agama Allah sebelumnya yang tidak lagi seperti yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa karena Taurat dan Injil diganti, dan itu akan membuat Ahli Kitab dan pengikutnya yang lahir kemudian menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan akan menjadi sesat. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Dari Iyaadl bin Himar Al Mujasyiiy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam ke­adaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu me­nyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar memper­sekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah ten­tang itu. Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, ke­cuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)

 

Dengan demikian, Allah SWT turunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk manusia yaitu agar manusia selamat (tidak sesat) ketika menjalani hidupnya di dunia dan di akhirat. Allah SWT lalu menjelaskan kepada Ahli Kitab sebagai berikut:

 

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)

 

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-Rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Maa-idah 19)

 

Dan Allah SWT menyeru Ahli Kitab agar beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka(mu). (An Nisaa’ 47)

 

(Kami terangkan yang demikian itu) supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. (Al Hadiid 29)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Yahudi beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Kebanyakan kaum Yahudi menolak beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, walaupun seorang ulama Yahudi beriman hingga dia memeluk agama Islam. Allah SWT berfirman:

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur’an itu datang dari sisi Allah padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil (Abdullah bin Salam) mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Ahqaaf 10)

 

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy Syu’araa’ 197)

 

Rasulullah SAW menjelaskan ulama Yahudi yang memeluk agama Islam tersebut sebagai berikut:

 

Dari Anas, bahwasanya telah sampai kepada Abdullah bin Salam (dari Bani Israil) berita tentang kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, lalu ia datang kepadanya untuk menanyakan beberapa hal. Ia berkata: Saya bertanya kepadamu tentang tiga hal, tiada yang mengetahuinya kecuali seorang Nabi. Apakah tanda-tanda kiamat yang pertama, makanan apakah yang pertama kali dimakan penghuni surga dan mengapakah seorang anak menyerupai Ayah atau Ibunya? Beliau bersabda: Tadi Jibril telah memberitahukannya padaku.” Ibnu Salam berkata: Jibril adalah malaikat musuh orang Yahudi.” Beliau bersabda: Adapun tanda-tanda Kiamat yang pertama ialah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Dan makanan yang pertama kali dimakan penghuni surga ialah gumpalan yang ada pada limpa ikan paus. Adapun tentang anak, apabila mani laki-laki (keluarnya) mendahului mani seorang wanita, maka ia serupa dengan anaknya. Dan apabila mani seorang wanita mendahului mani seorang laki-laki, maka ia serupa dengan anaknya.” Ia (Abdullah bin Salam) berkata: Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya engkau adalah utusan Allah.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kaum Yahudi yang lainnya menolak beriman?”

 

Mudariszi: “Kaum Yahudi yang menolak beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW itu seperti Bani Israil terdahulu yang kafir. Contoh mereka menolak beriman kepada Al Qur’an sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan. (Al An’aam 91)

 

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh Nabi-Nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (Al Baqarah 91)

 

Contoh kaum Yahudi menolak beriman kepada Rasulullah SAW yaitu sebagai berikut:

 

(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasul sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api.” Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar. (Ali ‘Imran 183)

 

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). (Al Baqarah 101)

 

Mereka menolak beriman karena dengki kepada Rasulullah SAW. Mereka lebih utamakan kaumnya (Bani Israil atau Yahudi) daripada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (Al Baqarah 89-90)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kaum Yahudi terhadap orang-orang beriman?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan dalam beberapa contoh berikut ini:

 

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman”, tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mu’min) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu, tidakkah kamu mengerti?” (Al Baqarah 76)

 

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. (Ali ‘Imran 72-73)

 

Tilmidzi: “Bagaimana pandangan kaum Yahudi atas Allah SWT, Taurat, kehidupan akhirat dan agama Allah?”

 

Mudariszi: “Contoh orang-orang Yahudi mengatakan tentang Allah SWT sebagai berikut:

 

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (Al Maa-idah 64)

 

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh Nabi-Nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar.” (Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (Al ‘Imran 181-182)

 

Contoh pandangan dan perlakuan mereka atas Taurat sebagai berikut:

 

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah 79)

 

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab, dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (Ali ‘Imran 78)

 

Contoh pandangan mereka atas kehidupan akhirat sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (Al Baqarah 94-95)

 

Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (Ali ‘Imran 24)

 

Agama mereka dalam firman-Nya di atas itu bukan agama Allah yang dijelaskan dalam Taurat. Agama mereka itu agama Yahudi, agama yang mereka ada-adakan guna mencapai keinginannya. Mereka mengada-adakan agama Yahudi itu dengan menyembunyikan dan mengganti ayat-ayat Taurat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Karena itu mereka tidak dapat memutuskan hukuman mengikuti hukum-hukum Taurat dengan benar. Contoh dijelaskan firman-Nya ini:

 

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al  Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). (Ali ‘Imran 23)

 

Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta keputusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. (Al Maa-idah 42-43)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Yahudi itu menentang Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Salah satu kaum Yahudi menentang Rasulullah SAW ketika diajak untuk beriman. Itu berarti mereka menentang Allah SWT. Karena itu Allah SWT mengusir mereka dari Madinah dengan Dia memasukan rasa takut ke hati mereka hingga mereka menghancurkan sendiri harta mereka. Allah SWT lalu memberikan harta rampasan itu kepada Rasulullah SAW dan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:

 

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al Hasyr 4)

 

Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (Al Hasyr 2)

 

Kemudian kaum Yahudi lainnya mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah SAW. Mereka membantu kaum musyrik yang memerangi Rasulullah SAW di perang Khandaq. Allah SWT lalu membantu Rasulullah SAW dengan Dia memasukkan rasa takut ke hati mereka hingga mereka dikalahkan. Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (Al Ahzab 26-27)

 

Rasulullah SAW lalu mengusir semua kaum Yahudi yang mengkhianatinya dan tidak mau membayar jizyah (pajak), dan beliau lalu mengangkat pemimpin di Khaibar. Rasulullah SAW menetapkan bagi orang-orang Yahudi yang memeluk agama Islam dan yang tetap mengikuti agamanya tapi tidak memiliki tanah, yaitu dengan mempekerjakan mereka di tanah rampasan dengan perhitungan bagi hasil. Dengan penghasilan itulah orang-orang Yahudi membayar zakat atau jizyah. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW menyerahkan Khaibar kepada orang-orang Yahudi agar mereka mengolah dan menanami­nya, sedang mereka mendapat bagian separuh dari hasil yang dikeluarkan (dipanen).” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Said dan Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus saudara laki-laki Bani Adiy dari golongan Anshar menuju Khai­bar, lalu beliau mengangkat dia sebagai Emir atas Khaibar. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan kaum Nasrani, apakah mereka beriman?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kepada Ahli Kitab sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Al Maa-idah 77)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa kaum Nasrani seperti kaum Yahudi, yaitu sama-sama tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Mereka beragama dengan berlebih-lebihan karena suka mengada-adakan sesuatu yang tidak diajarkan oleh Injil. Misalnya mereka beragama dengan menjadikan Nabi ‘Isa dan pendetanya sebagai tuhan selain Allah SWT atau menjadikan pendeta tidak kawin dan mengurung diri di biara. Allah SWT berfirman:

 

Dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Taubah 30-31)

 

Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rasul-Rasul Kami dan kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rabbaniyyah (tidak kawin dan mengurung diri dalam biara), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (Al Hadiid 27)

 

Setiap Rasul diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyuruh umatnya agar menyembah Dia saja dan tidak menyekutukan-Nya. Sungguh janggal jika ada Rasul yang menyuruh umatnya agar menyembah dirinya (Rasul itu). Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu. (An Nahl 36)

 

Ketika Rasul-Rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka (dengan menyerukan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah. (Fushshilat 14)

 

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. (Al ‘Imran 79)

 

Karena itu Allah SWT lalu bertanya kepada Nabi ‘Isa atas penyembahan umatnya kepada Nabi ‘Isa, dan Nabi ‘Isa menjawab sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ’Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan Ibuku dua orang tuhan selain Allah?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Maa-idah 116-118)

 

Perkara itu lalu dijelaskan kepada kaum Nasrani agar mereka bertaubat. Selain itu, Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk bermubahalah dengan kaum Nasrani. Tapi pemuka-pemuka agama Nasrani menolak ajakan itu dengan mereka meninggalkan Rasulullah SAW dan keluarganya yang dibawa serta, sebagai berikut:

 

Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali ‘Imran 61-62)

 

Dari Amir bin Saad dari Ayahnya, ia berkata: Tatkala turun ayat ini: Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istriistri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (surat Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fati­mah, Hasan dan Husain. Rasulullah SAW bersabda:Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah kebanyakan kaum Nasrani seperti kaum Yahudi?”

 

Mudariszi: “Kebanyakan kaum Nasrani seperti kaum Yahudi yaitu sama-sama menolak beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Contoh, kedua golongan itu mengatakan sebagai berikut:

 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya.  (Al Maa-idah 18)

 

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.  (Al Baqarah 111)

 

Mereka menyuruh orang-orang beriman agar mengikuti agama mereka (yaitu agama Yahudi atau agama Nasrani). Mereka mengatakan Nabi Ibrahim, Nabi Isma’il, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub dan anak cucunya merupakan penganut agama Yahudi atau agama Nasrani, hingga Allah SWT lalu menegur mereka. Allah SWT berfirman:

 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). (Al Baqarah 120)

 

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk. (Al Baqarah 135)

 

Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya? Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah 140)

 

Padahal kaum Nasrani dan kaum Yahudi saling berselisih tentang agama mereka dan agama Nabi Ibrahim. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (Al Baqarah 113

 

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berfikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (Ali ‘Imran 65-67)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidak mengetahui agama-Nya yang benar, bahkan mereka sendiri tidak memahami agamanya (agama Yahudi dan agama Nasrani). Karena itu Allah SWT menyeru mereka untuk beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW supaya mereka kembali beragama dengan agama-Nya yang benar hingga selamat hidup di dunia dan di akhirat.”

 

Tilmidzi: “Jika kaum Nasrani dan kaum Yahudi saling berselisih dengan agamanya masing-masing, lalu bagaimana dengan anak cucu mereka yang mengikuti agama itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kepada kaum Yahudi dan kaum Nasrani tersebut sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.(Al Maa-idah 68)

 

Jika mereka menolak beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka mereka tidak akan mengetahui agama-Nya yang benar, akibatnya mereka tidak dianggap beragama (firman-Nya di atas). Sehingga anak cucu mereka yang lahir kemudian yang mengikuti agama itu akan memandang Taurat, Injil dan Al Qur’an sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu. (Asy Syuura 14)

 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu. (Al Maa-idah 48)

 

Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang kafir itu. (Al Maa-idah 68)

 

Karena itu Allah SWT lalu menetapkan atas mereka dan anak cucunya yang beragama dengan agama mereka itu sebagai berikut:

 

Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka (orang-orang Yahudi). Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (Al Maa-idah 64)

 

Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (Al Maa-idah 14)

 

Dan Allah SWT lalu memperingatkan orang-orang beriman sebagai berikut:

 

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 137)

 

Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab itu menghalang-halangi manusia dari Al Qur’an dan agama Islam?”

 

Mudariszi: “Ahli Kitab menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan dari jalan-Nya yang lurus. Selain itu, mereka juga ingin agar orang-orang beriman meninggalkan agama Islam. Allah SWT berfirman:

 

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. (At Taubah 32)

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)

 

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran. (Al Baqarah 109)

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT murka terhadap keinginan Ahli Kitab itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak memaksa manusia untuk beriman kepada-Nya dan untuk memeluk agama Islam. Allah SWT berfirman:

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (Al Kahfi 29)

 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah 256)

 

Ahli Kitab itu bukan saja menolak beriman, tapi juga menghalang-halangi manusia dari agama-Nya (agama Islam) dan dari jalan-Nya yang lurus. Hal itu menghendaki Allah SWT murka kepada mereka, karena Dia menghendaki semua manusia selamat hidup di dunia dan di akhirat, tapi mereka justru menentangnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? (Ash Shaff 7)

 

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. (Huud 18-19)

 

Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)

 

Allah SWT murka kepada Ahli Kitab karena mereka seperti orang-orang munafik yang beragama Islam dan seperti Iblis musuh manusia, yang semuanya sama-sama menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 1-2)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply