Dialog Seri 17: 6
Tilmidzi: “Apakah agama Allah (agama Islam) akan selamanya tegak di bumi memimpin manusia dalam menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku yang terbaik ialah generasiku, generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutkan sesudah generasinya dua generasi lagi atau tiga.” Kemudian sesudah kalian terdapat kaum yang berhak menjadi saksi, tapi tidak dimintai kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai seorang saksi). Mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya. Mereka bernazar dan tidak dapat menunaikannya dan tampak pada mereka orang-orang gemuk.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa kaum setelah generasi ketiga atau keempat menjalani hidupnya tidak mengikuti syariat agama Islam. Agama Allah (Islam) tegak di bumi memimpin manusia yang menjalani hidupnya di dunia di bawah Khalifah-Khalifah. Mereka memimpin penduduk negeri-negeri di bumi dengan syariat agama Islam sejak Rasulullah SAW, Khalifah Rasyidin, Kekhalifahan Umayyah, Abbasyiah dan Utsmaniyah selama lebih dari seribu tiga ratus tahun. Setelah Kekhalifahan Utsmaniyah runtuh di awal tahun seribu sembilan ratus, Khalifah tidak lagi memimpin penduduk negeri-negeri ketika mereka menjalani hidupnya di dunia.”
Tilmidzi: “Apakah itu berarti tidak akan ada lagi Khalifah yang memimpin manusia di bumi?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Dari Abu Nadlrah, ia,berkata: “Kami berada di tempat Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Pada akhir masa umatku akan ada seorang Khalifah yang membagi-bagikan harta tanpa menghitungnya.” (HR Muslim)
Khalifah yang membagikan harta tanpa menghitung-hitungnya pada akhir masa umat Islam dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan akan ada Khalifah yang memimpin manusia ketika menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti syariat agama Islam. Tetapi tidak diketahui waktu kedatangannya.”
Tilmidzi: “Siapa yang memimpin manusia pengganti Khalifah?”
Mudariszi: “Yang memimpin manusia di bumi menggantikan Khalifah yaitu pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Allah (agama Islam). Allah SWT berfirman:
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? (Ash Shaff 7)
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)
Pemimpin negeri-negeri itu memimpin dengan peraturan yang ditetapkannya sendiri. Mereka menyukai kehidupan dunia dan menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Kebanyakan manusia menjadi jalani hidupnya di dunia tidak di jalan-Nya yang lurus tapi di jalan yang bengkok. Allah SWT berfirman:
Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)
Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. (Huud 18-19)
Allah SWT murka kepada pemimpin-pemimpin itu karena mereka mengikuti Iblis yang menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Padahal Allah SWT telah menyeru manusia ke Darussalam (surga), yaitu dengan memasuki agama-Nya (Islam) dan mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Tilmidzi: “Apakah pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam tidak menyukai umat Islam?”
Mudariszi: “Ya! Mereka tidak menyukai agama Islam dan umat Islam. Mereka memusuhi umat Islam dan ingin mengembalikan umat Islam kepada kekafiran. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)
Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran. (Al Baqarah 109)
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (Al Baqarah 217)
Adapun pemimpin-pemimpin umat yang paling keras permusuhannya dengan umat Islam, sebagai berikut:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Al Maa-idah 82)
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu). (An Nisaa’ 44-45)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT membiarkan pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam itu memimpin negeri-negeri di bumi?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT ingin menguji perbuatan manusia (umat Islam, Ahli Kitab dan kaum musyrik) ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Ali ‘Imran 186)
Alllah SWT menjadikan manusia di bumi untuk diuji amal perbuatannya ketika mereka menjalani hidupnya di dunia dengan agama-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya dan dengan karunia-Nya di bumi. Sebelumnya manusia telah diuji amal perbuatannya dengan mereka dipimpin oleh Nabi-Nabi, lalu dengan mereka dipimpin oleh Rasulullah SAW dan oleh Khalifah-Khalifah, dan sekarang manusia diuji amal perbuatannya dengan mereka dipimpin oleh pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama-Nya (Islam) dan menyukai kehidupan dunia (karunia-Nya). Manusia diuji-Nya itu dijelaskan sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). (Al Insaan 2)
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 7)
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. (Al Mulk 2)
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir 39)
Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia itu adalah seperti buah-buahan yang hijau dan manis. Sesungguhnya Allah menunjuk kalian untuk menjadi khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana yang kalian lakukan. Takutlah pada dunia.” (HR Muslim)
Karena itu Allah SWT dan Rasulullah SAW memperingatkan umat Islam ketika mereka menjalani hidupnya di dunia sebagai berikut:
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaahaa 131)
Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (Al Hijr 88)
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al Kahfi 28)
Dari Ka’ab bin Iyadh, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap umat ada cobaan dan cobaan umatku adalah harta.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Aku mendengar Khaulah binti Qais dan ia di bawah kekuasaan Hamzah bin Abdul Muththalib, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya harta ini adalah indah dan manis. Barangsiapa memperolehnya dengan melakukan kewajibannya, maka diberi keberkatan baginya; dan banyak orang menyelami harta benda Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti kehendak hawa nafsunya, maka tidak ada baginya kelak di hari kiamat kecuali neraka.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memperingatkan umat Islam atas tujuan pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam itu?”
Mudariszi: “Allah SWT peringatkan umat Islam tentang perkara itu, sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). (Al Maa-idah 57)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Maa-idah 51)
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa yang berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali ’Imran 28)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? (An Nisaa’ 144)
Jika umat Islam mengambil pemimpin-pemimpin yang tidak menyukai agama Islam, maka Allah SWT menjelaskan sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Ali ‘Imran 100)
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. (Ali ’Imran 149-150)
Dan Allah SWT lalu perintahkan umat Islam melalui firman-Nya ini:
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Al A’raaf 3)
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)
Tilmidzi: “Apakah pemimpin negeri yang tidak menyukai agama Islam bekerja sama dengan umat Islam?”
Mudariszi: “Mereka bekerja sama dengan umat Islam yang menyukai kehidupan dunia dan tidak menyukai agama Islam, yaitu orang munafik dan zalim. Mereka mengangkat umat Islam yang munafik dan yang zalim itu sebagai pemimpin di negerinya (Islam). Karena tidak menyukai agama Islam, pemimpin-pemimpin Islam itu tidak akan menerapkan syariat agama Islam di negerinya dan diganti dengan peraturan yang ditetapkan oleh pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam. Mereka berarti menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya.” (Al Anfaal 49)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan apa yang akan terjadi dengan agama Islam dan umat Islam hingga kiamat setelah beliau wafat?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Az-Zubair ibn Ady, dia berkata: “Kami datang kepada Anas ibn Malik lalu kami mengadukan kepadanya apa yang kami alami dari Al-Hajaj (ibn Yusuf yang terkenal kezhalimannya). Maka dia (Anas) berkata: “Bersabarlah, karena sesungguhnya tidaklah datang kepadamu suatu zaman kecuali zaman sesudahnya adalah lebih buruk dari padanya hingga kamu bertemu Tuhanmu. Aku mendengar demikian dari Nabimu SAW.” (HR Bukhari)
Dari Abu Burdah dari Ayahnya, dia berkata: “Selesai sembahyang Maghrib bersama dengan Rasulullah SAW, kami berkata: “Kita duduk disini saja menunggu supaya kita bisa bersembahyang Isya bersama dengan beliau lagi.” Kami pun duduk. Tak lama kemudian keluarlah Rasulullah SAW bergabung dengan kami. Beliau bertanya: “Kalian masih disini?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tadi ikut sembahyang Maghrib bersama Anda. Kami duduk menunggu disini supaya bisa bersembahyang Isya sekalian bersama Anda lagi.” Rasulullah SAW bersabda: “Bagus dan benar kalian.” Selanjutnya beliau mengangkat kepalanya ke atas langit lama sekali. Lalu beliau bersabda: “Bintang-bintang adalah jaminan bagi keberadaan langit. Apabila bintang-bintang itu sudah tidak ada, maka kiamatlah yang terjadi. Aku adalah jaminan keamanan bagi sahabat-sahabatku. Apabila aku sudah tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka. Dan para sahabatku adalah jaminan keamanan bagi ummatku. Apabila para sahabatku tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka.” (HR Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekalipun mereka memasuki sebuah liang biawak tentu kalian pun tetap mengikutinya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW perintahkan umat Islam ketika menghadapi fitnah dan bid’ah itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW perintahkan umat Islam untuk mengikuti perintah Allah agar selalu dalam persatuan (jama’ah) umat Islam dan melarang umat Islam berbuat atau mengikuti bid’ah, yaitu mengada-adakan atau membaharui urusan agama Islam (dengan menambah atau mengurangi) dari yang beliau telah jelaskan dan ajarkan dengan Al Qur’an. Jika menjumpai perkara bid’ah, maka Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah para sahabat. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Ali ‘Imran 103)
Dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mempersekutukan umatku (atau bersabda: umat Muhammad) dalam kesesatan. Tangan Allah itu atas jama’ah (persatuan) dan barangsiapa memisahkan dari (jama’ah umat Islam), maka dia memisahkan diri di dalam neraka.” (HR Tirmidzi)
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: “Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore!” Kala itu beliau bersabda: “Masa aku diutus dan hari kiamat itu hanyalah seperti kedua jari ini!” Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: “Sesudah apa yang tersebut, maka ketahuilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang disebut bid’ah). Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR Muslim)
Dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata: “Rasulullah SAW menasehati kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh suatu nasehat yang penting yang mana mata menangis dan hati bergetar karenanya. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ini adalah nasehat orang yang akan meninggalkan, maka dalam hal apa saja engkau mengamanatkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu), karena sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kamu tentu akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya perkara-perkara yang baru (bid’ah) itu sesat. Barangsiapa di antara kamu menjumpai hal itu, maka ia harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus yang diberi petunjuk, peganglah sunnah itu dengan kuat-kuat.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah umat Islam terkena fitnah dan bid’ah itu dari syaitan?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan berusaha memecahkan agama Islam dan umat Islam dengan melemparkan fitnah dan menyuruh umat Islam untuk berbuat dan mengikuti bid’ah. Umat Islam yang lemah ilmu agamanya cenderung akan mudah berbuat dan mengikut bid’ah. Ditambah lagi mereka suka mengikuti Ahli Kitab yang telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW, dimana Ahli Kitab sudah terpecah menjadi beberapa golongan. Sehingga akhirnya umat Islam berbuat bid’ah dan terpecah menjadi beberapa golongan seperti Ahli Kitab. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ummat Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tujuh puluh dua golongan, dan ummat Nashara terpecah belah seperti ummat Yahudi, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR Tirmidzi)
Allah SWT menjelaskan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Sehingga, ke tujuh puluh dua golongan umat Yahudi dan Nasrani dalam sunnah Rasulullah di atas itu tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT berfirman:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Dengan demikian, ke tujuh puluh dua golongan umat Islam juga tidak beragama dengan agama Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, karena mereka mengikuti bid’ah. Mereka semua akan di neraka seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh akan menimpa atas ummatku apa yang telah menimpa atas Bani Israil (sejajar) satu sandal dengan satu sandal, sehingga jika dari mereka ada orang yang menyetubuhi Ibunya secara terang-terangan, maka dari umatku ada orang yang berbuat demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Abdullah bin Amr bertanya: “Siapa golongan itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Golongan yang (berpegang teguh dengan) apa yang aku lakukan beserta sahabatku.” (HR Tirmidzi)
Tujuh puluh dua golongan dari umat Nabi Musa, umat Nabi ‘Isa dan umat Rasulullah SAW berada di neraka karena mereka menjalani hidupnya tidak di jalan-Nya yang lurus akibat dari tidak beragama dengan agama Allah yang benar yang diajarkan oleh Rasul-Rasul-Nya dan kitab-kitab-Nya. Golongan ke tujuh puluh tiga dari umat Islam yang tidak di neraka itu umat Islam yang mengikuti perintah Rasullah SAW yang telah dijelaskan di atas yaitu yang mengikuti sunnah beliau dan sunnah para sahabat.”
Tilmidzi: “Bagaimana umat Islam di negeri-negeri Islam pada waktu itu?”
Mudariszi: “Pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam mengangkat pemimpin negeri-negeri Islam yang munafik dan beriman tipis. Mereka memimpin rakyatnya dengan tidak adil dan zalim. Mereka menimbulkan fitnah-fitnah mengikuti pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam agar umat Islam menjauh dari agama Islam hingga meninggalkannya. Mereka lebih mengutamakan umat Islam yang mengikuti (berbuat) bid’ah dan mengikuti golongan dalam beragama daripada yang tidak berbuat bid’ah. Ulama yang mengikuti bid’ah dibenarkan untuk mengajarkan agama Islam, sehingga umat Islam banyak yang menjadi lemah ilmu agamanya dan imannya tipis. Umat Islam kebanyakannya menjadi jalani hidupnya tidak di jalan-Nya yang lurus. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Urwah, dia berkata: “Abdullah bin Amr pernah memberi hujah padaku. Aku lalu mendengar dia mengatakan: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja setelah Allah memberikannya kepada kalian. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dari mereka adalah dengan cara mencabut ulama dan ilmunya sekaligus. Yang tinggal adalah orang-orang bodoh. Saat diminta fatwanya, mereka berfatwa berdasarkan pendapatnya. Mereka menyesatkan dan mereka juga tersesat.” (HR Bukhari)
Dari Suwaid bin Ghaflah, ia berkata: “Ali berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Al Qur’an yang tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak-panah menembus binatang buruan.” (HR Muslim)
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud), (berkata Abu Wail: “Dan aku menyangka dia memarfu’kan hadits”), dia berkata: “Antara dua tangan kiamat adalah hari-hari kekacauan, ilmu menghilang dan pada hari-hari itu muncul kebodohan (karena kepergian ulama dan kesibukan fitnah–fitnah).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah umat Islam dapat memerangi pemimpin yang zalim?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW melarang umat Islam memerangi pemimpin negerinya yang zalim dan munafik, sebagai berikut:
Dari Ummu Salamah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Bakal muncul para pemimpin yang tidak kamu sukai dan kamu ingkari. Barangsiapa yang tidak menyukainya, maka dia akan terbebas dari dosanya, dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka dia akan selamat. Kecuali orang yang ridha dan mengikutinya.” Para sahabat bertanya: “Apakah kami boleh membunuh mereka?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak, selama mereka melakukan sembahyang.” (HR Muslim)
Dari Auf bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Pemimpin-pemimpinmu yang baik ialah mereka yang kamu cintai, merekapun mencintai kamu, yang dekat dengan kamu dan kamu pun dekat dengan mereka. Sedang pemimpin-pemimpin kamu yang jahat ialah mereka yang kamu benci dan mereka pun membenci kamu, yang kamu kutuk dan mereka pun mengutuk kamu.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh melawan mereka dengan pedang?” Rasulullah SAW menjawab: “Jangan, selagi mereka masih melakukan sembahyang di tengah-tengah kamu. Apabila kamu melihat sesuatu yang tidak kamu sukai pada para pemimpin kamu, maka kamu boleh membenci amal perbuatannya saja, tetapi janganlah kamu melepaskan tangan dari ketaatan.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari taat dan memisahkan diri dari jama’ah lalu dia mati, maka matinya adalah mati secara Jahiliyah. Barangsiapa yang berperang secara membabi buta dan dengan emosi karena membela atau mempertahankan marganya lalu dia terbunuh, maka dia terbunuh secara Jahiliyah. Dan barangsiapa yang memusuhi ummatku sehingga dia pukul mereka semua tanpa mempedulikan orang-orang yang seharusnya dijamin keamanan mereka dan juga tanpa mengabaikan janji yang telah dia buat sendiri, maka dia bukan termasuk golongan aku dan aku pun bukan termasuk daripadanya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana jika pemimpin negeri yang tidak menyukai agama Islam memerangi negeri Islam?”
Mudariszi: “Umat Islam dibenarkan oleh Allah SWT untuk memerangi orang-orang kafir (pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam) yang memerangi negeri umat Islam. Allah SWT berfirman:
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” (Al Hajj 39-40)
Pada waktu itu akan selalu ada umat Islam yang membela agama Allah (Islam). Mereka tidak takut dengan musuh-musuhnya. Jika mereka dan agama Islam diperangi, maka mereka akan memeranginya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Syumasah Al Mahri dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Adapun aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang selalu siap berperang membela agama Allah. Mereka akan berlaku keras terhadap musuh-musuh mereka. Mereka tidak merasa gentar terhadap orang yang menyalahi mereka. Dan sampai kiamat kelak sekalipun mereka tetap bersikap begitu.” (HR Muslim)
Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, sesungguhnya Umair bin Hani bercerita kepadanya, dia mengatakan: “Aku pernah mendengar Mu’awiyah berkata di atas mimbar: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang senantiasa setia menegakkan agama Allah. Mereka tidak gentar terhadap orang-orang yang menyalahi atau menentang mereka. Sampai hari kiamat kelakpun mereka akan senantiasa sudi membela manusia.” (HR Muslim)
Dari Jabir bin Samurah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Agama ini akan senantiasa tegak, mengingat ada sekelompok kaum muslimin yang membelanya sampai hari kiamat.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah umat Islam pada waktu itu tetap harus berjihad?”
Mudariszi: “Tidak diketahui berapa lama pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam itu memimpin negeri-negeri di bumi. Umat Islam di setiap negeri agak sulit menjalankan ibadah agama ketika mereka menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus. Rasulullah SAW menjelaskan keadaan umat Islam yang beriman itu, sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang suatu masa atas manusia dimana orang yang sabar dalam menjalankan agamanya seperti orang yang memegang bara api.” (HR Tirmidzi)
Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah dalam suasana kacau itu seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu di masa orang yang meninggalkan sepersepuluh apa yang diperintahkannya, niscaya ia celaka. Kemudian akan datang suatu masa dimana orang yang berbuat sepersepuluh apa yang diperintahkannya, niscaya ia selamat.” (HR Tirmidzi)
Umat Islam yang beriman pada waktu itu mendapat cobaan yang berat dari Allah SWT ketika mereka beribadah agama. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, dunia tidak akan hancur sehingga ada seseorang melewati kubur orang lain, maka dia berhenti lalu berkata:“Alangkah senangnya jika aku yang menjadi penghuni kubur ini.” Dan demikian itu bukan ajaran agama, tapi hanya karena beratnya cobaan di dunia.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali sebagaimana dia mulai, menjadi asing. Karena itu, berbahagialah orang-orang asing.” (HR Muslim)
Walaupun demikian, keimanan umat Islam yang berilmu pada waktu itu tetap berjihad dan bersabar menolong agama Allah (Islam) di jalan-Nya yang lurus dengan sebaik mungkin. Mereka tetap mengikuti perintah Allah dalam keadaan itu, yaitu perintah-Nya berikut ini:
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Muhammad 31)
Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar. (Al Furqaan 52)
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Tilmidzi: “Apakah umat Islam berjihad membela agama-Nya (Islam) di masa itu seperti umat Islam berjihad di masa Rasulullah SAW dan di masa Khalifah-Khalifah?”
Mudariszi: “Umat Islam yang berjihad menolong agama Allah (Islam) di jalan-Nya yang lurus di masa itu tidak berbeda dengan di masa Rasulullah SAW dan di masa Khalifah-Khalifah (kekhalifahan). Allah SWT berfirman:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah 16)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujuraat 15)
Tapi karena tidak ada Khalifah pada waktu itu, maka umat Islam berjihad menolong agama Allah (Islam), misalnya dengan melakukan amar ma‘ruf nahi munkar (menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah berbuat kejahatan) mengikuti perintah Rasulullah berikut ini:
Dari Abi Bakar Ash Shiddiq bahwa dia berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kamu membaca ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang sesat itu memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (surat Al-Maaidah ayat 105). Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang yang menganiaya lalu tidak memegang kedua tangannya, maka hampir saja Allah menurunkan siksa kepada mereka secara merata.” (HR Tirmidzi)
Dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Tolonglah saudaramu yang menganiaya maupun yang teraniaya.” Dikatakan: “Wahai Rasulullah, aku menolong yang teraniaya lalu bagaimana aku menolong yang menganiaya?” Beliau bersabda: “Kamu mencegahnya dari perbuatan aniaya, demikian itulah pertolonganmu kepadanya.” (HR Tirmidzi)
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh hendaklah kamu mengajak berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran dan sungguh hampir saja Allah menurunkan siksa atasmu lalu kamu berdoa kepada-Nya, tapi Dia tidak mengabulkan do’amu.” (HR Tirmidzi)
Atau bersedekah membantu orang-orang miskin sambil mengajarkan ilmu agama Islam kepada mereka atau menyelamatkan agama Allah (Islam) jika kemampuan umat Islam tersebut sangat terbatas, mengikuti perintah Rasulullah berikut ini:
Dari Abu Sa’id Al-Kudri, bahwa sesungguhnya dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Hampir terjadi sebaik-baik harta orang Islam adalah kambing yang diikutinya di puncak gunung dan di tempat-tempat turun hujan (untuk menggembala dan mencari air), dimana dia lari dengan (membawa) agamanya dari fitnah-fitnah.” (HR Bukhari)
Dari Abdurrahman bin Tsarwan dari Huzail bin Syurahbil dari Abi Musa dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda pada hari-hari terjadinya fitnah: “Pecahlah busur-busurmu, putuslah tali panah-tali panahmu, tinggallah di rumah-rumahmu dan jadilah seperti anak Adam (Habil).” (HR Tirmidzi)
Dari Thawus dari Ummi Malik Al-Bahziyyah, dia berkata: “Rasulullah SAW menyebutkan fitnah lalu mendekatkan waktu tibanya.” Dia berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapa orang yang terbaik dalam fitnah itu?”Beliau menjawab: “Seseorang yang berada pada hewan ternaknya, dia menunaikan kewajiban hewan ternak tersebut dan menyembah Tuhannya dan seseorang yang memegang kepala kudanya menakut-nakuti musuh.”(HR Tirmidzi)
Atau menasehati dan mengajarkan umat Islam yang mengikuti bid’ah dan golongan agar mereka kembali kepada agama Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Itu mengikuti perintah Rasulullah seperti yang dijelaskan sebagai berikut:
Dari Katsir bin Abdillah dari Ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal bin Al-Harits: “Ketahuilah!” Dia berkata: “Apakah yang harus aku ketahui wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya barangsiapa menghidupkan satu sunnahku yang telah ditinggalkan sesudahku, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka, dan barangsiapa mengada-adakan hal baru yang sesat yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka dia terkena dosa seperti dosa-dosa orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR Tirmidzi)
Dari Jarir bin Abdullah, dia berkata: “Beberapa orang dusun datang kepada Rasulullah SAW. Mereka sebenarnya adalah orang-orang sufi. Tetapi karena satu kebutuhan yang menimpa mereka, mereka melakukan suatu hal yang tidak patut bagi predikatnya sebagai sufi, dan hal itu dilihat sendiri oleh Rasulullah SAW. Beliau lalu menganjurkan para sahabatnya untuk memberikan sedekah. Namun para sahabat enggan melakukannya, sehingga tergambar lewat wajah Rasulullah SAW beliau merasa sedih. Kemudian datang seorang lelaki dari kaum Anshar dengan membawa setumpuk uang, lalu disusul yang lain, kemudian seterusnya sampai terlihat kegembiraan pada wajah beliau. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mensunnahkan suatu sunnah kebajikan di dalam Islam, lalu sunnah itu di amalkan sesudahnya, maka dicatat untuknya seperti pahala orang yang melakukannya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mensunnahkan suatu sunnah keburukan di dalam Islam, lalu sunnah itu diamalkan sesudahnya, maka ditimpakan padanya seperti dosa orang-orang yang melakukannya, tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa mereka.” (HR Muslim)
Jika umat Islam yang mengikuti bid’ah kembali kepada agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, maka itu akan menguatkan jama’ah (persatuan) umat Islam. Mereka berbuat bid’ah tanpa mengetahui amal ibadah mereka yang tidak mengikuti Rasulullah SAW itu tidak akan diterima-Nya dan mereka telah mendurhakai Rasulullah SAW. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku tentu dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agamaku, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami tanpa ada dasarnya, maka sesuatu itu tertolak.” (HR Muslim)
Umat Islam yang mengikuti bid’ah karena lemahnya ilmu agama mereka. Penjelasan yang baik dan sabar kepada mereka dengan disertai bukti-bukti dari Al Qur’an dan As Sunnah dapat membuat mereka berfikir dengan benar dan jujur tanpa mengikuti hawa nafsunya. Agama Islam dan Al Qur’an yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW itu telah sempurna, sehingga amal ibadah dalam urusan agama Islam yang tidak diajarkan oleh beliau tidak akan diterima oleh Allah SWT. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)
Umat Islam yang beribadah dengan tidak mengikuti syariat agama Islam yang ditetapkan oleh Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah), berarti mendurhakai Allah SWT dan Rasuilullah SAW dan itu akan berakibat buruk bagi mereka di akhirat. Allah SWT berfirman:
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)
Tilmidzi: “Sampai kapan umat Islam yang beriman harus menjalankan cobaan Allah tersebut?”
Mudariszi: “Sampai pada waktu yang Allah SWT telah tetapkan yang Dia saja yang mengetahuinya. Pada waktu yang Allah SWT telah tetapkan itu, Dia akan menyatukan umat Islam yang beriman di seluruh negeri. Umat Islam yang beriman pada waktu itu akan mengikuti perintah-Nya ini:
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal 73)
Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfaal 62-63)
Perintah-Nya itu untuk menegakkan kembali agama Islam memimpin manusia di bumi, Allah SWT akan mendatangkan Khalifah yang akan mengalahkan pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam. Rasulullah SAW menjelaskan Khalifah itu dan beliau perintahkan umat Islam yang beriman untuk mengikuti Khalifah menuju ke negeri Syam, sebagai berikut:
Dari Ashim dari Zirr dari Abdillah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Seorang dari keluargaku akan berkuasa yang namanya cocok dengan namaku.” Ashim berkata: “Abu Shaleh menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, dia berkata: “Seandainya dunia tidak tersisa selain satu hari, pasti Allah memanjangkan hari itu sehingga dia berkuasa.” (HR Tirmidzi)
Dari Salim bin Abdillah dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Api akan keluar dari Hadramaut atau akan keluar dari arah laut Hadramaut sebelum datang hari kiamat untuk menggiring manusia.”Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Ambillah jalan menuju ke Syam.” (HR Tirmidzi)
Ketika Khalifah sedang membagi-bagikan ghanimah, Allah SWT lalu menurunkan Nabi ‘Isa kepada mereka (Khalifah dan pasukan umat Islam) di Syam untuk membantu Khalifah dalam menghancurkan pemimpin negeri-negeri yang tidak menyukai agama Islam dan mengembalikan agama-Nya (agama Islam) tegak di bumi. Nabi ‘Isa akan memimpin umat Islam dengan mengikuti syariat agama Islam. Hal itu di jelaskan sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal,beliau bersabda: “Ketika ia dalam keadaan demikian, mendadak Allah mengutus Al Masih putera Maryam. Beliau turun di menara putih, sebelah timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelup za’faran, dan meletakkan telapak tangannya pada sayapnya dua malaikat; apabila beliau menundukkan kepala airpun menetes, dan jika mengangkat kepala, berluncuranlah air tadi bagaikan mutiara; orang kafir yang mencium bau nafas beliau pasti mati, sedangkan nafas beliau itu dapat mencapai sejauh pandangan mata beliau.” (HR Muslim)
Jabir bin Abdullah berkata:“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tak henti-hentinya sekelompok dari ummatku berkelahi berebut benar yang tampaknya sampai hari kiamat. Lalu Isa bin Maryam turun, maka berkatalah pemimpin mereka: “Marilah, do’akanlah kami.” Isa menjawab:“Tidak! Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain sebagai penghormatan Allah terhadap ummat ini.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimanakah kalian bila Ibnu Maryam turun pada kalian lalu menjadi imam kalian dari kalian?”Aku (Al Walid bin Muslim, perawi hadis) berkata kepada Ibnu AbuDzi’bi (yang menceritakan): “Al Auza’iy menceritakan kepadaku melalui jalur Az Zuhri dari Nafi dari Abu Hurairah: “Dan imam kalian di antara kalian.”Ibnu Dzi’bi bertanya: “Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan rnenjadi iman kalian dari kalian?”Aku berkata: “Beritahukanlah kepadaku.” Ibnu Abu Dzi’bi berkata: “Dia (Isa) menjadi imam kalian dengan menggunakan Kitab Tuhan kalian Tabaraka wa Ta’ala (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi kalian Muhammad SAW.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.