Dialog Seri 20: 9
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengutus Rasul-Rasul-Nya setelah Nabi Nuh?”
Mudariszi: “Orang-orang beriman yang berada di atas kapal bersama dengan Nabi Nuh merupakan orang-orang yang diselamatkan oleh Allah SWT dari banjir besar yang menenggelamkan semua orang kafir di bumi. Mereka menjadi penerus (nenek moyang) manusia yang hidup di muka bumi sebagai khalifah, dan di antara mereka ada yang menjadi penguasa, seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al Haaqqah 11-12)
Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)
Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)
Orang-orang beriman tersebut lalu menurunkan anak cucunya yang banyak. Mereka menjalani hidupnya sebagai khalifah dengan mencari karunia-Nya di muka bumi hingga tersebar ke berbagai belahan bumi dan membentuk kaum-kaum. Iblis dan syaitan mengetahui bahwa banjir besar telah membinasakan semua orang kafir di bumi dan syaitan tetap ingin menyesatkan manusia hingga kiamat. Syaitan lalu menggoda orang-orang beriman tersebut dan anak cucunya tanpa henti-henti. Pada akhirnya syaitan berhasil membuat beberapa kaum menjadi sesat, mereka meninggalkan agama-Nya (ayat-ayat-Nya) dengan menyembah tuhan-tuhan selain Allah SWT. Allah SWT lalu mengutus Rasul-Rasul kepada kaum-kaum tersebut dengan diberikan ayat-ayat-Nya guna disampaikan dan diperingatkan kepada mereka agar mereka kembali mengikuti agama-Nya (ayat-ayat-Nya) dan Rasul-Nya dengan menyembah Allah SWT saja. Rasul-Rasul yang diutus kepada kaum-kaum tersebut dijelaskan Al Qur’an, sebagai berikut:
Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa Rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka Rasul-Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata. (Yunus 74)
Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)
Salah satu Nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada kaum dari anak cucu orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh tersebut yaitu Nabi Huud.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengutus Nabi Huud kepada kaumnya?”
Mudariszi: “Allah SWT mengutus Nabi Huud kepada kaumnya yaitu kaum ‘Aad. Allah SWT memberikan ayat-ayat-Nya kepada Nabi Huud guna disampaikan (dijelaskan) dan diperingatkan kepada kaumnya agar mereka kembali bertaubat mengikuti agama-Nya dengan menyembah-Nya. Syaitan ketika itu berhasil membuat kaum ‘Aad menyembah tuhan (patung) selain Allah SWT hingga mereka menjadi musyrik (karena menyekutukan-Nya dengan tuhan berhala). Nabi Huud lalu menjalankan perintah-Nya dengan menyeru kaumnya sebagai berikut:
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Al A’raaf 65)
Dan ingatlah (Huud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.” (Al Ahqaaf 21)
Tilmidzi: “Bagaimana kaum ‘Aad tersebut?”
Mudariszi: “Kaum ‘Aad (kaum Nabi Huud) itu kaum yang pandai. Allah SWT memberikan keahlian (kepandaian) kepada mereka yaitu pandai membangun bangunan pada tanah yang tinggi-tinggi. Tapi, mereka (dengan keahliannya) berhasil dialihkan oleh syaitan hingga mereka tidak taat dan bersyukur kepada Allah SWT. Syaitan melalui bisikan jahatnya berhasil membuat mereka menjadi sombong dengan keahliannya (ilmunya) hingga mereka berkuasa dan bertindak sewenang-wenang. Mereka merasa yang paling kuat dan paling pandai di antara manusia yang ada di bumi. Mereka menetapkan peraturan menurut hawa nafsu para pemimpinnya tanpa mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. (Fushshilat 15)
Para pemimpin yang kafir cenderung akan membuat rakyatnya menjadi kafir pula. Itu terjadi karena syaitan membuat para pemimpin kaum menjadi kafir agar mereka membantu syaitan dalam menyesatkan rakyatnya melalui kekuasaannya. Karena itulah Allah SWT perintahkan Nabi Huud untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada mereka dengan berbagai peringatan, yaitu sebagai berikut:
Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Huud 50-52)
Ketika saudara mereka Huud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui, Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.” (Asy Syu’araa’ 124-135)
Tilmidzi: “Apakah tanggapan kaum ‘Aad atas apa yang disampaikan oleh Nabi Huud?”
Mudariszi: “Ayat-ayat-Nya yang disampaikan oleh Nabi Huud kepada kaumnya tersebut akhirnya sampai ke telinga para pemuka (pemimpin) kaum. Mereka tidak menyukainya dan khawatir kaumnya akan mengikuti agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Huud. Mereka lalu mengatakan kepada Nabi Huud, sebagai berikut:
Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (Al A’raaf 66)
Nabi Huud menjelaskan kepada kaumnya termasuk kepada para pemuka kaum tentang diri beliau, dan beliau memperingatkan mereka pula tentang kejadian yang menimpa kaum Nabi Nuh karena menyembah tuhan selain Dia. Tujuannya agar mereka kembali bertaubat dengan mengikuti agama-Nya (mengikuti Nabi Huud dan ayat-ayat-Nya). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Huud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu. Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keuntungan.” (Al A’raaf 67-69)
Nabi Huud juga memperingatkan mereka tentang kaum ‘Aad yang sebelumnya yang telah dibinasakan oleh Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama. (An Najm 50)
Tilmidzi: “Apakah kaum ‘Aad itu lalu mengikuti Nabi Huud dan ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Kaum Nabi Huud termasuk para pemuka kaum menolak seruan Nabi Huud. Mereka tidak ingin meninggalkan agama adat istiadat (nenek moyang) mereka yang menyembah tuhan berupa patung-patung. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Kaum ‘Aad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” (Huud 53-54)
Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (Asy Syu’araa’ 136-138)
Mereka mengatakan Nabi Huud tidak membawa bukti yang nyata, padahal Nabi Huud membawa ayat-ayat-Nya yang menjelaskan kepada mereka tentang Tuhan dan agama-Nya termasuk menjelaskan apa yang terjadi dengan kaum Nabi Nuh yang mengingkari Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya dengan menyembah tuhan-tuhan selain Dia hingga mereka ditenggelamkan dalam banjir besar.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kaum ‘Aad itu tidak mau meninggalkan agamanya?”
Mudariszi: “Syaitan selalu menghalang-halangi kaum ‘Aad agar tidak mendengarkan Nabi Huud ketika beliau menyampaikan ayat-ayat-Nya supaya mereka tidak memikirkan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya. Syaitan selalu membisikkan kejahatan ke hati mereka agar timbul hawa nafsunya yang mengatakan tidak akan meninggalkan agamanya karena agama nenek moyangnya. Bahkan agar kaum ‘Aad tidak mengikuti Nabi Huud dan ayat-ayat-Nya, syaitan membujuk mereka untuk meminta kepada Nabi Huud supaya diturunkan azab bagi mereka guna membuktikan kebenaran seruan Nabi Huud itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh Bapak-Bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al A’raaf 70)
Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al Ahqaaf 22)
Nabi Huud yang mengetahui keingkaran dan kebodohan kaumnya itu, lalu mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Ia berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang) itu hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh.” (Al Ahqaaf 23)
Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu.” (Al A’raaf 71)
Lamanya Nabi Huud menjelaskan dan memperingatkan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dan permintaan kaumnya untuk menurunkan azab-Nya kepada mereka, lalu membuat Nabi Huud mengetahui bahwa kaumnya tidak ingin beriman kepada-Nya dan hanya mau mengikuti agamanya yang menyembah patung berhala. Karena itu Nabi Huud kemudian menjelaskan kepada kaumnya, sebagai berikut:
Huud menjawab: “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku, dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Huud 54-57)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menurunkan azab kepada kaum Nabi Huud (kaum ‘Aad)?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang kaum ‘Aad yang sombong hingga meminta kepada Nabi Huud untuk diturunkan azab-Nya, sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokannya. (Al Ahqaaf 26)
Allah SWT mengetahui kaum ‘Aad telah mendustakan Rasul-Nya, Nabi Huud, dan ayat-ayat-Nya setelah mereka diperingatkan sekian lama. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Kaum ‘Aad telah mendustakan para Rasul. (Asy Syu’araa’ 123)
Karena itu Allah SWT lalu menurunkan azab bagi mereka dengan mendatangkan angin yang menghancurkan dan memusnahkan mereka termasuk memusnahkan bangunan-bangunan yang mereka telah bangun. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (Al Ahqaaf 24-25)
Sebelum azab-Nya turun, Allah SWT terlebih dahulu menyelamatkan Nabi Huud beserta orang-orang beriman, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. (Al A’raaf 72)
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. (Huud 58)
Tilmidzi: “Bagaimana azab Allah terhadap kaum ‘Aad yang kafir itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan juga pada (kisah) ‘Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan suatupun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. (Adz Dzaariyaat 41-42)
Kaum ‘Aad pun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang. (Al Qamar 18-20)
Adapun kaum ‘Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. (Al Haaqqah 6-8)
Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (Fushshilat 16)
Allah SWT memusnahkan semua kaum ‘Aad yang kafir itu agar orang-orang yang lahir kemudian dari kaum ‘Aad tidak menjadi kafir seperti mereka.”
Wallahu a’lam.