Bagaimana Syaitan Menipu Dan Menyesatkan Manusia?

Dialog Seri 8: 2

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan bagaimana Iblis menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Al Hijr 39)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al A’raaf 16-17)

 

Orang-orang yang berhasil disesatkan oleh Iblis dan syaitan dengan kedua jalan dalam firman-Nya di atas, akan menjadi orang-orang yang menyukai kehidupan dunia dengan melupakan atau meninggalkan Allah SWT (ayat-ayat-Nya) dan agama-Nya. Sehingga mereka menjadi tidak berbeda dengan Iblis, yaitu mendurhakai Allah SWT. Padahal Allah SWT berfirman:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Tilmidzi: “Apakah yang membuat Iblis sangat yakin dapat menyesatkan manusia dengan kedua jalan di atas?”

 

Mudariszi: “Karena Iblis mengetahui manusia dijadikan oleh Allah SWT dengan memiliki beberapa sifat buruk, yaitu sebagai berikut:

 

Dan manusia dijadikan bersifat lemah. (An Nisaa’ 28)

 

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. (Al Anbiyaa’ 37)

 

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (Al Ma’aarij 19-21)

 

Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. (Al Baqarah 187)

 

Melalui sifat-sifat buruk manusia itulah Iblis menyesatkan manusia.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menjadikan manusia dengan sifat-sifat buruk tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia dengan sifat-sifat buruk di atas bukan untuk membuat manusia menjadi lemah atau tergesa-gesa atau berkeluh kesah atau kikir atau tidak dapat menahan nafsu, tapi sebagai pasangan dari sifat-sifat baik yang Dia jadikan (berikan) kepada manusia. Allah SWT tidak menjadikan manusia dengan sifat-sifat baik saja, karena Dia menjadikan (menciptakan) segala sesuatu itu sebagai berikut:

 

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (Adz Dzaariyaat 49)

 

Allah SWT membiarkan syaitan (termasuk Iblis) menyesatkan manusia dengan menggunakan sifat-sifat buruknya karena Dia berkehendak menguji manusia (melalui perbuatannya) ketika menjalani hidupnya di dunia dengan karunia-Nya di bumi dan dengan agama-Nya. Allah SWT menghendaki dengan ujian tersebut manusia berbuat (beramal) hingga menjadi orang yang bersifat baik, seperti bersifat sabar, bersifat membantu, bersifat menahan diri dari hawa nafsu. Allah SWT berfirman:

 

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (Fushshilat 35)

 

Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At Taghaabun 16)

 

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (An Naazi’aat 40-41)

 

Sifat-sifat buruk manusia yang digunakan oleh Iblis itu tidak berbeda dengan keinginan Iblis menyesatkan manusia hingga kiamat, yaitu sama-sama sebagai ujian bagi manusia agar Allah SWT mengetahui orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada hari akhir melalui perbuatannya ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba’ 21)

 

Tilmidzi: “Apakah manusia dijadikan oleh Allah SWT dengan nafsu baik?”

 

Mudariszi: “Manusia juga dijadikan oleh Allah SWT dengan nafsu yang baik, yaitu nafsu yang mendorongnya (menyuruhnya) kepada kebaikan, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)

 

Adapun nafsu yang dirahmati-Nya, yaitu nafsu yang menyuruh manusia kepada kebaikan, misalnya nafsu orang yang selalu ingin mensedekahkan hartanya di jalan Allah atau orang yang berilmu (agama-Nya) yang selalu ingin mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Nafsu kedua orang itulah yang seharusnya dikejar (diinginkan) oleh orang lain, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Tidak dengki kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam ke­benaran, dan seorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah dimana ia memutuskan dan mengajar dengannya. (HR Bukhari)

 

Sedangkan contoh nafsu yang menyuruh kepada kejahatan, yaitu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau ber­sabda: Manusia itu ditentukan cenderung berbuat zina. Mereka pasti akan mendapati hal tersebut. Bentuk zinanya kedua pasang mata ialah memandang. Bentuk zinanya kedua pasang telinga ialah mendengarkan. Bentuk zinanya mulut ialah berbicara. Bentuk zinanya tangan ialah menempeleng. Bentuk zinanya kaki ialah melangkah. Bentuk zinanya hati ialah berkeinginan mendapatkan sesuatu dan berharap-harap. Dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan hal tersebut. (HR Muslim)

 

Nafsu menjadi selalunya menyuruh kepada kejahatan daripada kepada kebaikan, karena syaitan selalunya menyuruh manusia kepada kejahatan setiap saat tanpa henti-hentinya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Sedangkan syaitan menggunakan nafsu dalam menyuruh manusia agar berbuat jahat, karena Iblis mengetahui manusia tidak dapat menahan nafsunya, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkanNya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu. (HR Muslim)

 

Sehingga godaan Iblis dan syaitan yang menimbulkan nafsu manusia untuk berbuat jahat itu menjadi ujian bagi manusia agar dapat menahan nafsunya dan agar dapat berkeinginan kepada nafsu yang dirahmati-Nya.”

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Iblis dan syaitan menggunakan sifat-sifat buruk manusia agar manusia menyukai kehidupan dunia dan memandang baik perbuatan maksiat?”

 

Mudariszi: “Syaitan (termasuk Iblis) menggunakannya ketika manusia memanfaatkan karunia-Nya di bumi yang penuh dengan kenikmatan (kesenangan) dan yang sebagiannya merupakan kebutuhan hidupnya. Syaitan mengetahui manusia menyukai karunia-Nya, karena Allah SWT menjadikan manusia terhadap karunia-Nya itu sebagai berikut:

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)

 

Syaitan menipu manusia tanpa henti-henti hingga hawa nafsunya terhadap kesenangan dunia itu ingin dicapainya dengan cara apapun. Tipu daya syaitan yang terus menerus itu dapat membuat nafsu manusia menguasai dirinya. Ketika nafsunya timbul, orang yang tertipu oleh syaitan itu akan menganggap baik perbuatan buruknya, karena dia harus mencapai keinginannya itu menurut nafsunya. Nafsu keinginannya (yang selalu timbul) itu yang membuatnya menyukai kehidupan (kesenangan) dunia dan memandang baik perbuatan maksiatnya, sehingga dia menjadi sesat karena menjalani hidupnya di dunia tidak dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya tapi menuruti hawa nafsunya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis membuat manusia menyukai kesenangan dunia sebagai salah satu jalan untuk menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus?”

 

Mudariszi: “Ya! Orang yang menyukai kesenangan dunia cenderung akan melalaikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya). Jika nafsu keinginannya terhadap kesenangan dunia telah menguasai dirinya, maka cepat atau lambat dia akan melupakan Allah SWT, ayat-ayat-Nya atau agama-Nya. Jika telah melupakan-Nya dan ayat-ayat-Nya, dia berarti telah dikuasai oleh syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al Mujaadilah 19)

 

Melupakan agama-Nya membuat orang yang tertipu oleh syaitan itu tidak mengetahui syariat agama-Nya. Melupakan Allah SWT dan ayat-ayat-Nya membuat dia tidak ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus, sehingga dia menjalani hidupnya dengan menuruti hawa nafsunya dan menjadi sesat. Orang yang tersesat menjalani hidupnya dengan menuruti hawa nafsunya, menunjukkan dia menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Allah SWT berfirman:

 

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Al Furqaan 43)

 

Selain itu, syaitan juga mengada-adakan jalan-jalan yang bengkok dalam menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan-Nya yang lurus. Syaitan melakukan hal itu karena syaitan mengetahui manusia tidak mengenal Tuhannya, tidak memahami takdir, tidak mengetahui hari akhir, karena semua itu ghaib. Melalui bisikan-bisikan jahatnya, syaitan lalu membuat manusia mengikuti jalan-jalan yang bengkok itu hingga mereka menjadi sesat. Karena itu, agar manusia tidak tertipu oleh syaitan, Allah SWT lalu menjelaskan jalan-Nya yang lurus kepada manusia, seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semua (kepada jalan yang benar). (An Nahl 9)

 

Mudah bagi Allah SWT menjadikan semua manusia berada di jalan-Nya yang lurus, tapi karena Dia hendak menguji manusia dengan syaitan (Iblis), maka Dia membiarkan syaitan menggoda manusia agar Dia mengetahui orang-orang yang mengikuti jalan-Nya yang lurus dan yang mengikuti jalan-jalan syaitan (jalan-jalan yang bengkok).”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Iblis dan syaitan-syaitan itu menipu manusia?”

 

Mudariszi: “Syaitan (termasuk Iblis) mengetahui manusia tidak dapat melihat syaitan, tapi syaitan dapat melihat manusia. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

 

Selain itu, syaitan juga mengetahui manusia tidak dapat menguasai hatinya karena dia tidak mengetahui letak hatinya seperti dia mengetahui letak matanya dan telinganya. Hal itu terjadi karena Allah SWT menetapkan hati manusia sebagai berikut:

 

Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. (Al Anfaal 24)

 

Keadaan manusia dengan hatinya itu membuat syaitan mengetahui ketika manusia sedang berkeinginan. Dan jika seseorang sedang berkeinginan, maka syaitan lalu berbuat terhadap orang itu sebagai berikut:

 

Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. (Al Hajj 52)

 

Syaitan dapat pula membuat manusia berkeinginan, karena syaitan dapat melihat gerak gerik manusia ketika menjalani hidupnya, misalnya melihat atau mendengar sesuatu yang membuat hatinya tertarik sehingga ingin mengetahuinya. Ketika mengetahui seseorang berkeinginan, syaitan lalu menggodanya dengan memberikan janji-janji manis (bagus) kepadanya agar timbul angan-angannya terhadap keinginannya tersebut. Allah SWT berfirman:

 

Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)

 

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)

 

Syaitan memberikan janji-janji manis itu melalui bisikan-bisikannya ke hati manusia yang tidak diketahui oleh manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (An Naas 4-6)

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)

 

Janji-janji syaitan tersebut akan terasa indah dan bagus di hati manusia, sehingga manusia lalu memikirkannya sampai menjadi keinginannya yang kemudian disimpan di hatinya. Ketika hawa nafsunya atas keinginannya itu timbul, keinginannya tersebut lalu akan dicapainya melalui perbuatannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)

 

Baik atau buruk keinginan dan perbuatan seseorang, dapat diketahui dari baik atau buruk pengetahuan agamanya dan keimanannya.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT membatasi manusia dengan hatinya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT membatasi manusia dengan hatinya, karena Dia hendak menguasai hati manusia. Allah SWT menguasai hati manusia dengan membatasi manusia dengan hatinya, yaitu untuk menguji iman manusia, karena iman itu terjadi di hati. Iman di hati itu datang dari ayat-ayat-Nya yang didengar, dilihat, dibaca, dipikirkan oleh manusia hingga dirasakan (oleh hatinya) kebenarannya. Sedangkan syaitan ingin manusia tersesat atau tidak beriman, karena itu syaitan membisikkan janji-janji ke hati manusia agar dirasakannya bagus, lalu dipikirkannya hingga diputuskannya menjadi keinginan yang akan dicapainya. Rasulullah SAW lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Sa’id al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Setiap orang yang diangkat menjadi khalifah, tentu ia mempunyai dua orang peng­iring. Seorang pengiring memerintahkan dan menganjurkan kebajikan kepadanya, dan seorang pengiring lagi memerintahkan dan menganjurkan kejahatan kepadanya. (HR Bukhari)

 

Syaitan mengetahui manusia tidak dapat mengetahui bisikan dari kedua pengiringnya (seperti dalam sunnah Rasulullah di atas) tersebut. Syaitan membisikan janji-janji yang dirasakan manis dan bagus oleh hati manusia agar manusia mengira bisikan itu dari pengiringnya yang menganjurkan kepada kebaikan. Manusia lalu harus memutuskan bisikan-bisikan yang masuk ke hatinya (dari kedua pengiringnya) itu dengan benar, karena bisikan-bisikan tersebut akan membawanya kepada keimanan atau kekafiran. Dengan demikian, bisikan syaitan itu menjadi ujian bagi manusia. Allah SWT berfirman:

 

Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. (Al Hajj 53)

 

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (Al An’aam 113)

 

Karena Allah SWT menguji keimanan manusia melalui hatinya, Dia lalu membiarkan syaitan membisikkan janji-janji ke hati manusia agar Dia mengetahui keinginan manusia terhadap janji-janji syaitan itu. Jika ada orang yang selalu menuruti bisikan (janj-janji) syaitan dan selalu menuruti hawa nafsunya, maka Allah SWT akan mengirim syaitan-syaitan kepadanya dan membiarkan syaitan-syaitan itu selalu membisikkan kejahatan ke hatinya hingga dia selalu berbuat maksiat (kejahatan) dan menjadi sesat. Allah SWT berfirman:

 

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh? (Maryam 83)

 

Orang itu menjadi kafir (tidak beriman) dengan sifat-sifatnya yang buruk sehingga dirinya (tubuhnya) menjadi rusak karena hatinya rusak. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk. (An Nahl 60)

 

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: Aku men­dengar (sambil memegang kedua telinganya) Rasulullah SAW bersabda: Ingat! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging; apabila ia baik, baik pula seluruh tubuh; dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh; itulah hati. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika ada orang tidak mau menuruti janji syaitan?”

 

Mudariszi: “Jika Allah SWT mengetahui ada orang yang tidak mau menuruti janji-janji syaitan karena dia merasa pencapaian janji-janji itu melalui perbuatan yang dilarang-Nya, maka Dia akan melindunginya dengan tidak membiarkan syaitan membisikkan kejahatannya itu lagi. Allah SWT melakukannya dengan menguatkan ayat-ayat-Nya di hati orang itu (melalui pengiringnya yang menganjurkan kebaikan) sehingga dia meyakini larangan-Nya itu dan syaitan lalu berhenti dengan gangguannya. Allah SWT berfirman:

 

Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al Hajj 52)

 

Tapi seringkali sulit mengetahui perbuatan untuk mencapai janji-janji syaitan itu melanggar agama-Nya karena pandainya syaitan dalam menipu. Karena itu Rasulullah SAW selalu berdoa kepada-Nya atas ujian di hatinya itu, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hani, bahwa dia mendengar Abu Abdurrahman Al Hubuliy, bahwa dia mendengar Abdullah bin Amer bin Al Ash, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Sesungguhnya hati seluruh manusia itu berada dalam genggaman jemari Allah Yang Maha Pengasih seperti songgok hati saja. Dia mampu membolak-balikannya menurut mauNya. Kemudian Rasulullah SAW berdoa: Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepadaMu. (HR Muslim)

 

Dengan demikian, Allah SWT membiarkan syaitan menggoda hati manusia dengan janji-janji manisnya itu bukan saja untuk mengetahui keimanan dan kekafiran seseorang, tapi juga untuk membersihkan hatinya atau meningkatkan keimanannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji kamu apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (Ali ‘Imran 154)

 

Tilmidzi: “Apakah syaitan dapat menguasai hati manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT akan menutup hati orang-orang yang selalu menuruti bisikan syaitan dan menuruti hawa nafsunya, dari menerima petunjuk-Nya; Dia tidak akan menunjuki orang-orang itu kepada jalan-Nya lurus. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Al Baqarah 6-7)

 

Hal itu diketahui oleh syaitan, dan karena itulah syaitan selalu berusaha membuat manusia menuruti hawa nafsunya dengan janji-janji manis (syaitan). Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)

 

Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). (Ar Ra’d 33)

 

Orang-orang tersebut di atas diketahui oleh syaitan, sehingga mereka lalu disesatkan oleh syaitan. Syaitan menguasai hati mereka (karena hati mereka ditutup-Nya dari menerima petunjuk-Nya), sehingga syaitan melalui bisikannya lalu memerintahkan mereka dan mereka akan menjalankan perintah syaitan tersebut. Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka merubahnya.(An Nisaa’ 118-119)

 

Mereka melakukan perintah syaitan tersebut karena mereka mengira perintah itu dari tuhan pelindungnya. Bagi mereka perintah itu merupakan petunjuk tuhan, padahal itu petunjuk syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 39)

 

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

 

Dengan mereka mengikuti petunjuk syaitan (yang dianggapnya petunjuk tuhan), maka mereka sebenarnya menyembah syaitan sebagai tuhannya. Allah SWT berfirman:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Dengan demikian, syaitan dapat menguasai hati manusia dan dapat memerintahkannya untuk menyembah tuhan selain Dia atau menyekutukan-Nya dengan tuhan lain.”

 

Tilmidzi: “Apakah syaitan-syaitan dari golongan jin dan manusia tersebut saling tolong menolong dalam menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Syaitan-syaitan dari golongan jin dan golongan manusia adalah pengikut-pengikut Iblis. Sebagai pengikut Iblis, maka syaiatn-syaitan itu menjadi tidak berbeda dengan Iblis yaitu ingin menyesatkan manusia. Mereka saling bekerja sama dalam menyesatkan manusia tanpa henti-hentinya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)

 

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memperingatkan manusia atas keinginan dan perbuatan syaitan itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan peringatan-Nya itu sebagai berikut:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang Bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong Bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Luqman 33)

 

Bahkan Allah SWT memperingatkan manusia ketika mereka menjalani keseharian hidupnya, sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah 100)

 

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah 216)

 

Sesuatu yang menarik hati seseorang hingga disukainya atau dibencinya itu terjadi ketika dia melihat atau mendengar sesuatu itu (dalam menjalani keseharian hidupnya) hingga sampai ke hatinya. Syaitan yang mengetahui gerak gerik orang tersebut lalu menggodanya hingga hatinya menyukai atau membenci sesuatu itu dan lalu diyakininya dan dikerjakannya. Demikian itu cara-cara syaitan menyesatkan manusia, yaitu melalui bisikan-bisikan yang berupa janji-janji manis (indah) yang tanpa bukti. Berbeda dengan janji Allah yang memiliki bukti nyata yang jelas, yaitu ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan melalui Rasul-Rasul-Nya.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply