Bagaimana Kisah Nabi Musa Dan Qarun Dari Bani Israil?

Dialog Seri 10: 23

 

Tilmidzi: “Bagaimana Bani Israil dapat tinggal menetap di negeri Mesir?”

 

Mudariszi: “Bani Israil merupakan anak cucu Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub juga dipanggil Israil dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil. (Maryam 58)

 

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. (Ali ‘Imran 93)

 

Allah SWT mengaruniakan Nabi Ya’qub dengan dua belas anak laki-laki, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. (Yusuf 4)

 

Sebelas bintang bersujud kepadaku dalam firman-Nya di atas adalah saudara-saudara Nabi Yusuf yang sujud kepada Nabi Yusuf, sehingga jumlah anak Nabi Ya’qub yaitu dua belas dengan Nabi Yusuf. Nabi Ya’qub dan keluarganya ketika itu tinggal di negeri Mesir, bahkan Nabi Yusuf diangkat oleh Raja negeri Mesir sebagai Bendahara negeri. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf 54-56)

 

Anak-anak Nabi Ya’qub itu berjanji kepada Nabi Ya’qub akan tetap memeluk agama-Nya dengan menyembah Allah SWT ketika menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (Al Baqarah 133)

 

Ke dua belas anak Nabi Ya’qub itu lalu melahirkan anak cucunya di negeri Mesir hingga mereka dipanggil Bani Israil, dan mereka menjalani hidupnya dengan tetap mengikuti agama-Nya yang menyembah Allah SWT saja. Tidak diketahui berapa banyak keturunan Bani Israil di negeri Mesir dari sejak anak-anak Nabi Ya’qub yang hidup di masa Raja Negeri Mesir ketika itu hingga ke masa Fir’aun berkuasa di negeri Mesir, karena Allah SWT tidak menjelaskan jangka waktu di antara kedua masa tersebut.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Bani Israil ditindas oleh Fir’aun ketika dia berkuasa?”

 

Mudariszi: “Syaitan yang mengetahui Bani Israil dan kebanyakan rakyat Mesir telah mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf, lalu berusaha menghalang-halangi penguasa dan rakyat Mesir dari menjalankan agama-Nya dengan benar atau dari mengikuti jalan-Nya yang lurus, agar mereka kembali sesat. Syaitan berbuat demikian karena telah berjanji kepada-Nya, yaitu sebagai berikut:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Syaitan menyesatkan penguasa dan rakyat Mesir dari setiap generasi (masa) Raja-Raja dengan tanpa henti-hentinya hingga sampai ke masa (generasi) Raja yaitu Fir’aun. Di masa Fir’aun itu syaitan telah berhasil menyesatkan kebanyakan rakyat Mesir termasuk para pembesar negeri Mesir, sehingga mereka tidak lagi ditunjuki oleh Allah SWT. Hal itu dijelaskan oleh orang beriman dari kaum Fir’aun, sebagai berikut:

 

Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang; tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah; dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (Rasulpun) sesudahnya.” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu, (yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Al Mu’min 32-35)

 

Di antara rakyat Mesir yang disesatkan oleh syaitan itu termasuk Bani Israil (anak cucu Nabi Ya’qub). Syaitan kesulitan menyesatkan Bani Israil karena mereka memegang teguh agama nenek moyangnya, yaitu agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Ya’qub yang menyembah Allah SWT saja. Ketika syaitan berhasil menjadikan Fir’aun menganggap dirinya adalah tuhan dan memerintahkan rakyatnya untuk menyembahnya, Bani Israil termasuk yang ditindas, karena mereka harus menyembah Fir’aun dan tidak lagi menyembah Allah SWT dengan ancaman hukuman berat jika tidak mematuhi perintah Fir’aun tersebut.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Bani Israil sudah ditindas oleh Fir’aun sebelum kedatangan Nabi Musa?”

 

Mudariszi: “Salah satu tugas Nabi Musa (yang dari Bani Israil) sebagai Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada Fir’aun adalah membantu kaumnya dari kezaliman Fir’aun. Bani Israil di masa Fir’aun itu menjelaskan kepada Nabi Musa, sebagai berikut:

 

Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. (Al A’raaf 128)

 

Bani Israil dalam firman-Nya di atas adalah Bani Israil yang tetap beriman dengan mengikuti Nabi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Yunus 83)

 

Allah SWT SWT mengetahui rasa takut para pemuda Bani Israil itu, sehingga Dia lalu mewahyukan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, sebagai berikut:

 

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman. (Yunus 87)

 

Nabi Musa lalu menenangkan hati pemuda-pemuda itu sebagai berikut:

 

Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al A’raaf 129)

 

Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu. (Al A’raaf 128)

 

Dan Nabi Musa meminta mereka agar berdoa kepada-Nya, sebagai berikut:

 

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” Lalu mereka berkata: “Kepada Allah-lah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. (Yunus 84-86)

 

Tilmidzi: “Apakah  di antara Bani Israil itu ada yang patuh mengikuti Fir’aun?”

 

Mudariszi: “Di antara Bani Israil ada yang patuh mengikuti Fir’aun, yaitu Qarun. Qarun diangkat oleh Fir’aun sebagai salah satu pembesar negeri Mesir karena dia memiliki banyak harta. Dengan mengikuti Fir’aun, maka Qarun menjadi tidak berbeda dengan Fir’aun, yaitu bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat Mesir dengan harta dan kekuasaannya. Hartanya semakin bertambah setelah menjadi pembesar negeri. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Al Qashash 76)

 

Qarun termasuk tidak sabar atas penindasan Fir’aun, sehingga dia dengan keahlian yang diberikan-Nya dalam mencari karunia-Nya di bumi, lalu memilih mengikuti Fir’aun. Bani Israil atau siapapun yang menyukai kehidupan (kesenangan) dunia cenderung akan berharap dapat menjadi seperti Qarun yang kaya raya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. (Al Qashash 79)

 

Tilmidzi: “Apakah tidak ada Bani Israil yang mengingatkan Qarun?”

 

Mudariszi: “Di antara Bani Israil itu ada yang berilmu tapi dia menyembunyikan keimanannya. Bani Israil itu mengatakan kepada kaumnya yang berangan-angan dapat menjadi seperti Qarun, sebagai berikut:

 

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar. (Al Qashash 80)

 

Bani Israil yang berilmu itu juga mengingatkan Qarun, sebagai berikut:

 

(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 76-77)

 

Tapi Qarun yang sombong karena hartanya, lalu menjawab Bani Israil yang berilmu itu, sebagai berikut:

 

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (Al Qashash 78)

 

Jawaban Qarun dalam firman-Nya di atas menunjukkan kesombongannya karena imannya telah lenyap. Qarun yang sebelumnya beriman dan mengetahui ayat-ayat-Nya, telah melupakan ayat-ayat-Nya yang menjelaskan tentang kaum-kaum terdahulu yang lebih kaya daripadanya yang telah dihancurkan oleh Allah SWT karena kesombongannya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al Qashash 78)

 

Qarun melupakan harta yang diperolehnya itu karena Allah SWT yang telah menjadikannya pandai dalam mencari karunia-Nya di bumi. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. (Al An’aam 165)

 

Dari Thawus, sesungguhnya dia berkata: Aku men­dapati beberapa orang dari sahabat Rasulullah pernah mengata­kan: Segala sesuatu itu karena takdir. Aku juga pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Segala sesuatu itu karena takdir, termasuk juga ketidak mampuan dan kecer­dikan, atau kecerdikan dan ketidak mampuan.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT membiarkan Qarun terus dengan kesombongannya tersebut?”

 

Mudariszi: “Karena kesombongannya dan kezalimannya kepada kaumnya sendiri, maka pada waktu yang Dia tetapkan, Allah SWT kemudian membenamkan Qarun dan hartanya ke dalam tanah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Al Qashash 81)

 

Bani Israil yang berangan-angan menjadi seperti Qarun, lalu menyesali keinginannya itu setelah mengetahui Qarun dan hartanya dibenamkan-Nya ke dalam tanah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah). (Al Qashash 82)

 

Terbenamnya Qarun dan hartanya ke dalam tanah membuat Fir’aun kehilangan seorang pembantunya dan hartanya yang membantu Fir’aun berkuasa dengan sewenang-wenang.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply