Dialog Seri 10: 25
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Bani Israil setelah Allah SWT tenggelamkan Fir’aun dan kaumnya di laut?”
Mudariszi: “Bani Israil diwariskan negeri Mesir oleh Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al A’raaf 137)
Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. (Asy Syu’araa’ 57-59)
Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. (Ad Dukhaan 25-28)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Musa, apakah tugas beliau selesai?”
Mudariszi: “Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Musa untuk meninggalkan kota Mesir pergi ke negeri di seberang laut. Nabi Musa beserta sejumlah pengikutnya lalu melaksanakan perintah-Nya tersebut. Dalam perjalanan Nabi Musa dibuat terkejut oleh permintaan kaumnya, yaitu sebagai berikut:
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Al A’raaf 138)
Terkejutnya Nabi Musa dengan permintaan kaumnya (dalam firman-Nya di atas), karena mereka (kaum Nabi Musa) telah ditolong oleh Allah SWT, Tuhan mereka, dari kekejaman Fir’aun terhadap mereka, dan mereka menyaksikan sendiri ketika Dia menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya di laut demi untuk menyelamatkan mereka, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (Al Baqarah 49-50)
Tapi mereka tiba-tiba meminta kepada Nabi Musa untuk dibuatkan tuhan patung (berhala) selain Allah SWT. Itu menunjukkan bahwa mereka tidak memahami Allah SWT Tuhan mereka sendiri. Dan hal tersebut dijelaskan oleh Nabi Musa, sebagai berikut:
Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al A’raaf 138-139)
Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” (Al A’raaf 140)
Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan kaum Nabi Musa itu tiba-tiba meminta dibuatkan tuhan patung (berhala)?”
Mudariszi: “Tidak pahamnya kaum Nabi Musa tentang Allah SWT sehingga mereka meminta dibuatkan tuhan patung (berhala), adalah disebabkan oleh syaitan, karena syaitan selalu memperdaya (menipu) manusia tentang Allah SWT. Dan hal itu telah diperingatkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:
Dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)
Syaitan menggoda (menipu) kaum Nabi Musa (Bani Israil), karena Fir’aun dan kaumnya yang kafir telah musnah. Syaitan beralih menggoda Bani Israil agar mereka tidak mengikuti Nabi Musa dan tidak beriman kepada Allah SWT hingga mereka menjadi sesat. Syaitan menggoda Bani Israil dengan mengingatkan mereka tentang tuhan-tuhan berhala yang disembah oleh kaum Fir’aun yang kafir agar mereka melupakan pertolongan-Nya yang berupa mu’jizat-mu’jizat-Nya yang mereka saksikan sendiri. Syaitan dapat membuat manusia menjadi lupa, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan. (Al Kahfi 63)
Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. (Yusuf 42)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memerintah Nabi Musa untuk menyeberangi laut ke suatu negeri?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT menghendaki untuk memberikan kitab Taurat kepada Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. (Al A’raaf 142)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa menghadap Allah SWT di waktu yang dijanjikan dalam firman-Nya di atas?”
Mudariszi: “Ya! Nabi Musa mematuhi perintah-Nya tersebut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (Al A’raaf 142)
Ketika Nabi Musa telah di tempat yang dijanjikan, Allah SWT lalu bertanya kepada beliau sebagai berikut:
“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?” (Thaahaa 83)
Dan Nabi Musa lalu memberikan alasannya sebagai berikut:
Berkata Musa: “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” (Thaahaa 84)
Tilmidzi: “Bukankah Nabi Musa menghadap Allah SWT tersebut untuk yang kedua kalinya?”
Mudariszi: “Ya! Nabi Musa sebelumnya telah menghadap Allah SWT di bukit Thuwa guna menerima perintah-Nya untuk disampaikan kepada Fir’aun dan kaumnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). (Thaahaa 11-13)
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa: “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (An Naazi’aat 16-19)
Dengan demikian, Nabi Musa menghadap Allah SWT di bukit Thur itu untuk yang kedua kalinya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). (Maryam 52)
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Musa setelah menjelaskan kehadirannya?”
Mudariszi: “Karena mungkin rasa senang telah berhasil menjalankan tugas terhadap Fir’aun hingga kemudian Allah SWT memanggilnya kembali, maka timbul di hati Nabi Musa ingin melihat Allah SWT. Nabi Musa mengutarakan keinginannya itu kepada Allah SWT, sebagai berikut:
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” (Al A’raaf 143)
Allah SWT kemudian menjelaskan kepada Nabi Musa sebagai berikut:
Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.” (Al A’raaf 143)
Ketika Nabi Musa mengikuti perintah-Nya melihat gunung tersebut, beliau jatuh pingsan karena tidak dapat melihatnya. Ketika sadar, Nabi Musa langsung bertaubat kepada-Nya karena menyadari kesalahannya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (Al A’raaf 143)
Jika Nabi Musa melihat gunung saja langsung jatuh pingsan tidak dapat melihatnya, apalagi beliau melihat Allah SWT. Allah SWT telah menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 103)
Tilmidzi: “Apakah setelah itu Allah SWT lalu menurunkan (memberikan) kitab Taurat kepada Nabi Musa?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al A’raaf 144)
Risalah Allah atau ayat-ayat-Nya yang dibawa oleh Nabi Musa (dalam firman-Nya di atas) dari Allah SWT itu tertulis dalam kitab-Nya yaitu Taurat. Penurunan risalah-Nya itu merupakan penurunan pertama risalah-Nya atau ayat-ayat Taurat. Taurat itu dijelaskan oleh Allah SWT, sebagai berikut:
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. (Al A’raaf 145)
Tilmidzi: “Apakah dengan Allah SWT melebihkan Nabi Musa dari manusia lain (seperti dalam firman-Nya di atas), maka Bani Israil juga menjadi dilebihkan dari bangsa-bangsa lain?”
Mudariszi: “Dengan Allah SWT melebihkan Nabi Musa dari manusia karena diberikan kitab Taurat, maka Bani Israil yang merupakan kaum Nabi Musa dengan sendirinya menjadi dilebihkan-Nya dari bangsa-bangsa lain di masanya. Karena Taurat yang diberikan kepada Nabi Musa itu ada petunjuk dan nikmat daripada-Nya untuk manusia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa. Dan Kami telah memberikan kepada mereka di antara tanda-tanda kekuasaan (Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata. (Ad Dukhaan 32-33)
Karena itu Allah SWT kemudian menjelaskan kepada Nabi Musa sebagai berikut:
Maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintah-Nya) dengan sebaik-baiknya; nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(–Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Al A’raaf 145-147)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa kitab Taurat adalah kitab yang berisikan ayat-ayat-Nya atau keterangan (penjelasan) daripada-Nya untuk manusia dan yang menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidupnya di dunia agar selamat hidup di dunia dan di akhirat. Tapi jika Taurat tersebut tidak diikuti atau diingkari oleh manusia ketika menjalani hidupnya di dunia, maka dia akan menjadi orang yang rugi ketika di akhirat. Dan Allah SWT menjelaskan pula kepada Nabi Musa dalam firman-Nya di atas bahwa beliau akan melihat orang-orang beriman yang memegang teguh Taurat hingga mereka ditunjuki-Nya, dan melihat orang-orang fasik dan kafir yang mendustakan (mengingkari) Taurat (ayat-ayat-Nya) hingga tersesat.”
Wallahu a’lam.