Dialog Seri 5: 4
Tilmidzi: “Jika manusia diciptakan-Nya tanpa laki-laki dan perempuan, dari laki-laki saja, dari laki-laki dan perempuan, apakah Dia menciptakan manusia dari perempuan saja?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menciptakan manusia dari tanah tanpa laki dan perempuan, yaitu Nabi Adam; kemudian menciptakan manusia dari laki-laki tanpa perempuan, yaitu isteri Nabi Adam; lalu menciptakan manusia dari perkawinan laki-laki dan perempuan; dan Dia juga menciptakan manusia dari perempuan saja tanpa laki-laki, yaitu Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.” Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (Ali ‘Imran 45-47)
Jibril mengabarkan kepada Maryam akan melahirkan Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak dalam firman-Nya di atas itu karena perintah dari Allah SWT.”
Tilmidzi: “Bagaimana Maryam dapat mengetahui malaikat Jibril yang mendatanginya, padahal malaikat itu tidak terlihat oleh manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa Jibril mendatangi Maryam dalam bentuk manusia yang sempurna. Allah SWT berfirman:
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (Maryam 16-17)
Karena berupa manusia, Jibril lalu diketahui oleh Maryam, sehingga keduanya membicarakan tentang kelahiran Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak. Allah SWT berfirman:
Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.“ (Maryam 18-21)
Tilmidzi: “Jika tanpa Bapak, bagaimana terjadi pembuahan dalam rahim Maryam karena tidak ada air mani masuk ke dalam tubuh Maryam?”
Mudariszi: “Sudah merupakan ketetapan-Nya yaitu pembuahan terjadi karena adanya air mani laki-laki dalam rahim perempuan. Maryam tidak pernah kawin, sehingga tidak ada air mani laki-laki masuk ke dalam rahimnya. Tapi manusia dijadikan oleh Allah SWT dari tanah, itu berarti setiap orang (laki-laki dan perempuan) mengandung partikel-partikel tanah atau saripati tanah. Air mani dijadikan oleh Allah SWT dari saripati tanah atau partikel-partikel tanah dalam jumlah yang sangat banyak. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani. (Al Mu’minuun 12-13)
Karena itu, agar terjadi pembuahan di rahim Maryam, partikel atau saripati tanah yang ada di tubuh Maryam harus dipindahkan ke rahimnya. Pemindahan saripati tanah itu bukan perkara yang sulit bagi Allah SWT. Dengan Allah SWT mengatakan kalimat-Nya: “Jadilah”, maka berpindah saripati tanah tersebut ke rahim Maryam, sehingga lalu terjadi pembuahan. Pembuahan dalam rahim Maryam lalu menjadi janin manusia dan janin itu kemudian menjadi Nabi ‘Isa yang dikandung oleh Maryam. Allah SWT berfirman:
Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (Maryam 22)
Tilmidzi: “Apakah penciptaan Nabi ‘Isa dalam kandungan Maryam itu seperti penciptaan Nabi Adam?”
Mudariszi: “Ya! Karena penciptaan Nabi Adam tanpa melalui air mani dan pembuahan, penciptaan Nabi Adam hanya melalui saripati tanah, dan Allah SWT lalu mengatakan kalimat-Nya: “Jadilah”, maka Nabi Adam lalu tercipta. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah ia. (Ali ‘Imran 59)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi ‘Isa dalam rahim Maryam seperti Dia meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi Adam?”
Mudariszi: “Ya! Setelah Allah SWT membentuk dan menyempurnakan Nabi ‘Isa dalam rahim Maryam, Dia lalu meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi ‘Isa dalam rahim Maryam (melalui malaikat utusan-Nya). Peniupan itu seperti Dia meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi Adam atau seperti Dia meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh manusia dalam rahim Ibu hasil dari perkawinan laki-laki dan perempuan. Allah SWT berfirman:
Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami. (At Tahriim 12)
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku–sempurnakan kejadiaannya dan Ku–tiupkan kepadanya roh (ciptaan)–Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Shaad 71-72)
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya. (As Sajdah 7-9)
Tilmidzi: “Apakah Maryam juga melahirkan Nabi ‘Isa sebagai bayi seperti seorang Ibu yang bersuami melahirkan bayinya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT lalu mengeluarkan (melahirkan) Nabi ‘Isa dari perut Maryam ke dunia sebagai bayi seperti Dia melahirkan bayi dari perut Ibu hasil dari perkawinan laki-laki dan perempuan. Allah SWT berfirman:
Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” (Maryam 23-26)
Dengan demikian, Nabi ‘Isa itu tidak ubahnya manusia biasa sekalipun beliau dilahirkan tanpa Bapak. Yang membedakan Nabi ‘Isa dengan manusia lainnya, yaitu beliau seorang Rasul yang diciptakan-Nya tanpa Bapak tapi dengan kalimat-Nya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putra Maryam itu adalah utusan (Rasul) Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An Nisaa’ 171)
Kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dalam firman-Nya di atas, yaitu kalimat-Nya: “Jadilah”, dan kalimat-Nya itu disampaikan melalui Jibril kepada Maryam.”
Tilmidzi: “Jika sebagai manusia biasa, apakah Nabi ‘Isa menjalani hidupnya juga seperti manusia lainnya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan telah Kami jadikan (‘Isa) putera Maryam beserta Ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Al Mu’minuun 50)
Al masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan Ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. (Al Maa-idah 75)
Nabi ‘Isa diajarkan oleh Allah SWT tentang ayat-ayat-Nya (kitab-kitab-Nya) seperti Nabi Adam diajarkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (Ali ‘Imran 48)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. (Al Baqarah 31)
Tilmidzi: ”Bukankah Nabi ‘Isa dapat berbicara dari sejak bayi dan dapat menghidupkan orang mati, dan bukankah itu menunjukkan beliau berbeda dengan manusia lain?”
Mudariszi: “Nabi ‘Isa memang dapat berbicara dari sejak lahir dan dapat menghidupkan orang mati, tapi itu bagian dari mu’jizat-mu’jizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada beliau sebagai Rasul. Dalam melaksanakan mu’jizat-mu’jizat-Nya itu, Nabi ‘Isa dibantu oleh Jibril, yaitu Jibril menguatkan beliau dalam melaksanakan mu’jizat-mujizat-Nya. Dengan demikian Nabi ‘Isa dapat berbicara dari sejak lahir atau menghidupkan orang mati adalah karena Jibril yang melaksanakan mu’jizat-Nya yang diberikan kepada Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:
Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. (Al Baqarah 87)
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai ‘Isa putera Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada Ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan Ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al Maa-idah 110)
Ruhul Qudus dalam firman-Nya di atas adalah malaikat Jibril, yaitu Ruhul Qudus (jibril) yang menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (An Nahl 102)
Nabi ‘Isa tidak dapat melaksanakan mu’jizat-mu’jizat-Nya jika tanpa Jibril, karena beliau hanyalah hamba-Nya yang tidak berbeda dengan manusia lain. Allah SWT berfirman:
(Tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar Ruum 30)
Wallahu a’lam.