Apakah Allah SWT Ciptakan Manusia Dari Bapak & Ibu?

Dialog Seri 5: 3

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menciptakan sepasang manusia laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk menciptakan manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (An Nisaa’ 1)

 

Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah ia merasa ringan (beberapa waktu). (Al A’raaf 189)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia pertama dan kedua yang berupa laki-laki dan perempuan itu diciptakan-Nya agar keduanya melakukan perkawinan supaya melahirkan manusia-manusia keturunannya. Hal itu ditegaskan pula dalam firman-Nya ini:

 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. (Al Hujuraat 13)

 

Karena itulah Allah SWT menjadikan perempuan sebagai pasangan laki-laki dari manusia sendiri (Nabi Adam) agar keduanya saling menyenangi, mengasihi, menyayangi hingga menuju kepada perkawinan. Allah SWT berfirman:

 

Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan. (Asy Syuura 11)

 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (Ar Ruum 21)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah manusia yang hidup di bumi hingga sekarang ini karena bermula dari perkawinan Nabi Adam dan isterinya?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (Ar Ruum 20)

 

Dan Dia-lah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini. (Al Mu’minuun 79)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan manusia dari perkawinan?”

 

Mudariszi: “Tanah yang merupakan asal penciptaan manusia (Nabi Adam), membuat manusia mengandung partikel (saripati) tanah di tubuhnya. Saripati tanah itu lalu diciptakan oleh Allah SWT menjadi air mani. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani. (Al Mu’minuun 12-13)

 

Ketika laki-laki dan perempuan melakukan perkawinan, air mani itu dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan; dari air mani, apabila dipancarkan. (An Najm 45-46)

 

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath Thaariq 5-7)

 

Air mani laki-laki yang jatuh ke dalam tubuh perempuan itu tersimpan dalam rahimnya. Allah SWT berfirman:

 

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). (Al Qiyaamah 37)

 

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (Al Mu’minuun 13)

 

Jika terjadi pembuahan dalam rahim karena adanya air mani, maka itu berarti Allah SWT berkehendak untuk menciptakan manusia dalam rahim yang ditandai dengan kehamilan perempuan tersebut.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah manusia yang terjadi karena perkawinan laki-laki dan perempuan itu berasal dari air mani?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. (Al Insaan 2)

 

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani). (Yaasiin 77)

 

Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). (Al Ma’aarij 39)

 

Sekalipun diciptakan dari air mani karena perkawinan laki-laki dan perempuan, manusia tetap diciptakan dari tanah karena air mani itu dari saripati tanah. Allah SWT berfirman:

 

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (As Sajdah 7-8)

 

Sehingga, manusia yang lahir ke dunia melalui perut Ibu hasil dari perkawinan itu, bukan terjadi karena Ibu atau Bapak atau Ibu dan Bapak, tapi terjadi karena Allah SWT. Manusia terjadi karena pembuahan air mani laki-laki dalam rahim perempuan dan air mani itu merupakan ciptaan-Nya yang berasal dari tanah. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). (Faathir 11)

 

Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya atau Kami-kah yang menciptakannya? (Al Waaqi’ah 58-59)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT membentuk manusia dari perkawinan itu dalam rahim?”

 

Mudariszi: “Allah SWT membentuk manusia dari perkawinan Bapak dan Ibu itu dalam rahim Ibu; manusia itu dibentuk menurut ketetapan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Bukankah Kami telah menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. (Al Mursalaat 20-23)

 

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. (Ali ‘Imran 6)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menyempurnakan manusia itu juga dalam rahim?”

 

Muadariszi: “Allah SWT bukan saja membentuk manusia dalam rahim, tapi juga menyempurnakannya, termasuk membentuk dan menyempunakan manusia itu laki-laki atau perempuan. Allah SWT berfirman:

 

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. (Al Qiyaamah 37-39)

 

Dalam rahim itulah Allah SWT membentuk janin hasil pembuahan hingga menjadi manusia lengkap dengan sel-sel dan organ-organ dalam tubuhnya serta organ-organ luar tubuhnya seperti kepala, badan, kaki, tangan. Allah SWT membentuk manusia dalam rahim dengan sempurna atau tidak sempurna, tergantung ketetapan-Nya, dalam waktu yang Dia tetapkan. Dalam tubuh Ibu menjadi terdapat dua detak jantung, yaitu detak jantung Ibu dan detak jantung anak, tapi keadaan itu tidak membahayakan nyawa keduanya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. (Al Mu’minuun 12-14)

 

Maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. (Al Hajj 5)

 

Allah SWT membentuk dan menyempurnakan manusia dalam rahim termasuk menumbuhkannya (membesarkannya) menurut tahapan (tingkatan) yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:

 

Dia menjadikan kamu dalam perut Ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu. (Az Zumar 6)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Ibu yang mandul atau yang melahirkan anak laki-laki atau anak perempuan atau anak-anak yang kembar itu terjadi karena Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Itu karena Allah SWT (ketetapan-Nya). Allah SWT berfirman:

 

Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Asy Syuura 49-50)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh manusia dalam rahim setelah dibentuk dan disempurnakan-Nya?”

 

Mudariszi: “Tidak berbeda dengan Nabi Adam, manusia dalam rahim yang Dia telah bentuk dan sempurnakan, akan ditiupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya pada waktu yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:

 

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (As Sajdah 7-9)

 

Pembentukan dan penyempurnaan manusia dalam rahim dan peniupan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya itu bukan dilakukan oleh Allah SWT, tapi oleh malaikat utusan-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Hudzaifah bin Asid Al Ghiffari, dia berkata: Aku mendengar dengan kedua telingaku sendiri Rasulullah SAW ber­sabda: Sesungguhnya air mani (nuthfah) itu bersemayam di dalam rahim selama empat puluh malam. Kemudian malaikat lah yang mem­bentuknya. (Menurut versi Zuhair: “Yang menciptakannya). Sang malaikat berkata: Ya Tuhan, diciptakan laki-laki atau perempuan?” Allahlah yang lalu menciptakannya laki-laki atau perempuan. Kmudian sang malaikat berkata: Ya Tuhan, ia diciptakan cacat atau tidak cacat?” Allahlah yang lalu menciptakannya cacat atau tidak cacat. Kemudian sang malaikat berkata: Ya Tuhan, bagaimana dengan rizkinya, ajalnya dan akhlaknya (amalnya)? Kemudian Allahlah yang menjadikannya sebagai orang yang celaka atau orang yang bahagia. (HR Muslim)

 

Dari Abdullah (ibnu Masud), dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya seorang dari kamu penciptaannya dikumpulkan dalam perut Ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu empat puluh hari. Kemudian menjadi sepotong daging seperti itu empat puluh hari. Kemudian (sesudah membentuk), Allah mengutus malaikat dan diperintahkan dengan empat kalimat dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalnya, rezkinya, ajalnya dan celaka atau bahagia, kemudian ditiupkan roh kepadanya. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengetahui pertumbuhan manusia dalam rahim?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengetahui pertumbuhan dan keadaan manusia dalam rahim termasuk yang bertambah sempurna, kurang sempurna, telah sempurna dan tidak sempurna. Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut Ibumu. (An Najm 32)

 

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. (Ar Ra’d 8)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengeluarkan manusia dari rahim Ibu ke dunia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengeluarkan (melahirkan) manusia dalam rahim Ibu ke dunia sebagai bayi pada waktu yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. (An Nahl 78)

 

Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi. (Al Hajj 5)

 

Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. (Faathir 11)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT masih memelihara manusia (bayi) yang lahir ke dunia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT memelihara manusia atau bayi yang telah lahir ke dunia, yaitu dengan menjadikan Ibunya mengeluarkan air susu untuk bayi tersebut. Allah SWT berfirman:

 

Ibu-ibumu yang menyusui kamu (An Nisaa’ 23)

 

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia. (Al Qashash 7)

 

Hanya Allah SWT saja yang mengetahui proses terjadinya air susu Ibu, dan air susu Ibu itu akan terus keluar hingga ke waktu yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:

 

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al Baqarah 233)

 

Dengan demikian, Allah SWT masih tetap memelihara manusia (bayi) yang telah lahir ke dunia dari perut Ibunya hingga ke waktu yang Dia tetapkan.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bukankah penciptaan manusia dari perkawinan itu melibatkan Ibu (perempuan)?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT melibatkan Ibu (perempuan) ketika menciptakan manusia dari perkawinan, karena Dia menggunakan rahim Ibu sebagai tempat pembuahan air mani hingga menjadi janin, lalu membentuknya, menyempurnakannya, meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuhnya dan memeliharanya. Allah SWT kemudian mengeluarkannya (melahirkannya) dari perut Ibu dan memeliharanya dengan air susu Ibu. Semua itu menunjukkan bahwa Allah SWT menjadikan Ibu ikut terlibat dalam penciptaan manusia dari perkawinan laki-laki dan perempuan, karena itu Dia berfirman:

 

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang Ibu Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (Luqman 14)

 

Allah SWT mendahului Ibu daripada Bapak (dalam firman-Nya di atas) untuk disyukuri setelah bersyukur kepada-Nya, menunjukkan bahwa Dia mengutamakan Ibu daripada Bapak, karena Ibu ikut terlibat dengan susah payah dalam penciptaan manusia. Ibu pula harus bersyukur kepada-Nya karena telah dilibatkan-Nya dalam penciptaan manusia.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply