Dialog Seri 5: 2
Tilmidzi: “Apakah Nabi Adam menjalani hidupnya seorang diri?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjadikan Nabi Adam hidup seorang diri. Pada waktunya, Allah SWT lalu menciptakan manusia kedua berupa perempuan. Allah SWT berfirman:
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya. (Az Zumar 6)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Adam berupa laki-laki, karena manusia kedua berupa perempuan yang dijadikan sebagai isteri beliau.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan manusia kedua itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. (Al A’raaf 189)
Diri yang satu dalam firman-Nya di atas yaitu Nabi Adam. Dengan demikian, manusia kedua diciptakan-Nya dari diri Nabi Adam, yaitu dari tulang rusuknya, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Wasiatilah wanita, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.” (HR Muslim)
Manusia kedua yang diciptakan-Nya dari tulang rusuk Nabi Adam menunjukkan bahwa tulang rusuk Nabi Adam mengandung saripati tanah. Dan dari saripati tanah itulah Allah SWT lalu menciptakan manusia kedua. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (Al Mu’minuun 12)
Allah SWT lalu membentuk manusia kedua itu, menyempurnakannya dan meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya seperti Dia menciptakan Nabi Adam, hingga manusia kedua itu hidup atau bernyawa. Dengan demikian, manusia kedua diciptakan oleh Allah SWT dari Bapak tanpa Ibu.”
Tilmidzi: “Bagaimana sepasang suami isteri itu menjalani kehidupannya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (Al A’raaf 19)
Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (Thaahaa 117-119)
Dengan demikian, Nabi Adam dan isterinya ditempatkan di surga dengan diberikan-Nya beberapa perintah dan larangan ketika menjalani hidupnya.”
Tilmidzi: “Bagaimana orang tua manusia (Nabi Adam dan isterinya) hidup di surga tapi anak cucunya hidup di dunia?”
Mudariszi: “Pada waktunya, Iblis (syaitan) berhasil membuat Nabi Adam dan isterinya memakan buah terlarang. Perbuatan mereka itu menjadikan mereka durhaka kepada Allah SWT karena mendurhakai perintah-Nya. Allah SWT berfirman:
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (Thaahaa 121)
Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al A’raaf 22)
Allah SWT lalu menghukum mereka dengan menurunkan keduanya ke bumi. Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (Al A’raaf 24)
Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (Al A’raaf 25)
Hukuman-Nya itu menjadikan ketetapan-Nya berlaku, yaitu menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengampuni Nabi Adam dan isterinya setelah diturunkan ke bumi?”
Mudariszi: “Nabi Adam dan isterinya menyesal telah mendurhakai perintah-Nya, keduanya lalu bertaubat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al A’raaf 23)
Allah SWT mengampuni keduanya dan memberikan ayat-ayat-Nya (kalimat-kalimat-Nya) sebagai petunjuk bagi mereka ketika menjalani hidupnya di bumi (di dunia). Allah SWT berfirman:
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. (Al Baqarah 37)
Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. (Thaahaa 122)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Adam dan isterinya menurunkan keturunannya di bumi?”
Mudariszi: “Selain untuk membuat Nabi Adam senang, isteri yang diciptakan oleh Allah SWT untuk beliau itu bertujuan agar keduanya melakukan perkawinan supaya menurunkan keturunannya. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah ia merasa ringan (beberapa waktu). (Al A’raaf 189)
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (An Nisaa’ 1)
Nabi Adam dan isterinya lalu melahirkan anak-anaknya di bumi, contohnya dua anaknya yang berselisih. Allah SWT berfirman:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh bila kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang zalim.” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 27-30)
Wallahu a’lam.