Apakah Semua Jin Itu Syaitan Dan Kafir?

Dialog Seri 4: 4

 

Tilmidzi: “Apakah perbedaan antara jin dengan manusia?”

 

Mudariszi: “Perbedaannya, jin dijadikan oleh Allah SWT tidak terlihat oleh manusia, tapi jin dapat melihat manusia. Contoh, ketika Rasulullah SAW shalat di mesjid, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. (Al Jin 18-20)

 

Jin-jin bedesak-desakan mengerumuni Rasulullah SAW ketika beliau shalat di mesjid (seperti firman-Nya di atas), tetapi beliau tidak mengetahuinya. Hal itu menunjukkan bahwa jin dapat melihat Rasulullah SAW (manusia), sedangkan beliau tidak dapat melihat jin-jin. Rasulullah SAW mengetahui dikerumuni oleh jin-jin setelah dijelaskan oleh wahyu-Nya dari Jibril. Tetapi, meskipun jin ghaib bagi manusia, bukan berarti jin mengetahui semua yang ghaib. Jin juga tidak mengetahui yang ghaib, contohnya jin tidak mengetahui wafatnya Nabi Sulaiman dan tidak mengetahui adanya rayap dalam tongkat Nabi Sulaiman. Allah SWT berfirman:

 

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksaan yang menghinakan. (Saba’ 14)

 

Perbedaan lain yaitu, Allah SWT menjadikan beberapa jin dengan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia. Contoh kelebihan jin-jin itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). (Saba’ 13)

 

Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya. (An Naml 39)

 

Tilmidzi: ”Apakah Allah SWT menjadikan jin itu berbentuk laki-laki dan perempuan dan juga menurunkan keturunannya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya berikut ini:

 

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al Jin 6)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa bukan tidak mungkin jin-jin itu diciptakan-Nya berbentuk laki-laki dan perempuan. Tapi karena itu hanya kemungkinan saja, maka tidak ada gunanya membahas bentuk jin-jin termasuk membahas bagaimana jin-jin menurunkan keturunannya (berkembang biak).”

 

Tilmidzi: “Apakah jin-jin itu bertempat tinggal di bumi seperti manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. (Ar Rahmaan 33)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa bukan tidak mungkin jin-jin dijadikan-Nya bertempat tinggal di bumi. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan tentang makanan jin sebagai berikut:

 

Dari Amir, ia berkata: Aku bertanya kepada Al­qamah, apakah Ibnu Masud bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Masud, demikian: “Apakah ada seseorang dari kamu yang bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia (Ibnu Mas’ud) menjawab: Tidak ada. Tetapi pada suatu malam kami pernah bersama Rasulullah SAW lalu kami kehilangan beliau. Beliau bersabda: Aku didatangi jin yang mengajakku pergi, maka aku pergi bersamanya, kemudian aku membacakan Al Quran kepada me­reka. Lalu beliau berangkat bersama kami. Beliau memperlihatkan ke­pada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka, dan mereka minta bekal kepada beliau. Beliau bersabda (kepada mereka): Bagimu setiap tulang yang disebut nama Allah padanya yang ada di tanganmu, menyempurnakan sesuatu yang asalnya daging. Dan setiap kotoran bina­tang adalah makanan bagi ternakmu. Kemudian beliau bersabda (kepada kami): Oleh sebab itu, janganlah kamu beristinja dengan kedua benda tadi, karena kedua-duanya adalah makanan saudaramu. (HR Muslim)

 

Tulang dan kotoran binatang sebagai makanan jin dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa makanan jin ada di bumi, sehingga bukan tidak mungkin jin-jin dijadikan-Nya bertempat tinggal di bumi.”

 

Tilmidzi: “Apakah jin-jin dapat melintasi langit?”

 

Mudariszi:”Dengan kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah SWT, sebagian jin-jin dapat melintasi langit, bahkan mereka dapat menduduki beberapa tempat di langit, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya), tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (Al Jin 9)

 

Tapi sejak diturunkan-Nya Al Qur’an kepada Rasulullah SAW, jin-jin itu tidak dapat lagi menduduki beberapa tempat di langit dan tidak dapat lagi mendengarkan berita-berita dari langit. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. (Al Jin 8)

 

Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (Al Jin 10)

 

Jin-jin tidak dapat lagi mendengar berita-berita dari langit setelah diturunkan-Nya Al Qur’an kepada Rasulullah SAW itu dijelaskan pula dalam sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: “Rasulullah SAW berangkat bersama sebagian sahabatnya dengan tujuan pasar Ukazh. Dan benar-benar antara syaitan dan khabar langit terhalang dan mereka (syaitan) karena dilempari oleh bintang-bintang meteor, sehingga syaitan-syaitan itu kembali pulang. Sebagian mereka bertanya: Mengapa kalian pulang? Mereka menjawab: Kami terhalang dari khabar langit dan kami dihantam oleh beberapa bintang meteor. Di antara mereka ada yang berkata: Tidaklah ada yang menghalangimu dari khabar langit kecuali ada sesuatu yang menghalangi. Oleh sebab itu pergilah ke bagian timur bumi dan bagian barat lalu lihatlah apa sesuatu yang telah terjadi ini. Maka mereka (golongan jin/syaitan) pergi melanglang ke bumi bagian timur dan bumi bagian barat melihat apa sebenarnya perkara yang sedang terjadi ini yang menyebab­kan mereka terhalang untuk mengintip khabar dari langit. Berangkatlah mereka yang ditugaskan menjelajah ke arah Tihamah tepatnya di Nakhlah dimana beliau hendak menuju ke pasar Ukazh. Rasulullah SAW sedang melakukan shalat bersama sahabat-sahabatnya shalat Shubuh (Fajar). Ke­tika mereka mendengar Al Quran, maka mereka saling memperhatikan pendengarannya kepada Rasul. Mereka berkata: Ini rupanya perkara yang menghalangi kalian dari pendengaran langit. Maka dari sanalah me­reka kembali kepada kaumnya, lalu berkata: Wahai kaumku, sesungguh­nya kami telah mendengarkan Al Quran yang mengagumkan dimana ia menunjukkan kepada kebenaran, oleh sebab itu kami beriman kepadanya dan tidak bakal menyekutukan Tuhan kami dengan seorangpun.” Dan Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat-Nya kepada Rasulullah SAW: Katakanlah (hai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar Al Quran yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami.” (surat Al Jin ayat 1-2). Sesungguhnya yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan jin.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Jika jin-jin beriman kepada Al Qur’an (dari sunnah Rasulullah di atas), apakah jin-jin diwajibkan oleh Allah SWT untuk beriman kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Menyembah Allah SWT dalam firman-Nya di atas yaitu beribadah (shalat) menyembah-Nya dengan mengikuti agama-Nya. Dengan demikian, jin-jin sudah menyembah-Nya atau mengikuti agama-Nya sebelum Dia menciptakan manusia. Sementara itu, Allah SWT menjelaskan tentang Al Qur’an dan Rasulullah SAW melalui firman-Nya ini:

 

Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Shaad 87)

 

Dan Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (Al Qalam 52)

 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Abiyaa’ 107)

 

Semesta alam atau seluruh umat dalam firman-Nya di atas yaitu seluruh umat dari semua makhluk; sehingga Al Qur’an itu juga menjadi peringatan bagi umat (makhluk) jin. Karena itu Rasulullah SAW wajib menyampaikan Al Qur’an tersebut kepada jin-jin. Dan Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an kepada jin-jin itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Amir, ia berkata: Aku bertanya kepada Al­qamah, apakah Ibnu Masud bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Masud, demikian: “Apakah ada seseorang dari kamu yang bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia (Ibnu Mas’ud) menjawab: Tidak ada. Tetapi pada suatu malam kami pernah bersama Rasulullah SAW, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan jalan-jalan setapak. Akhirnya kami berpendapat beliau telah dibawa terbang oleh jin atau telah dibunuh secara mendadak. Kami bermalam dengan seburuk­-buruknya malam yang pernah dialami oleh kaum. Ketika kami bangun pada keesokan harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira. Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami telah men­cari tetapi kami tidak menemukan anda, maka kami bermalam dengan seburuk-buruknya malam yang pernah dialami oleh kaum. Beliau bersabda: Aku didatangi jin yang mengajakku pergi, maka aku pergi bersamanya, kemudian aku membacakan Al Quran kepada me­reka. Lalu beliau berangkat bersama kami. Beliau memperlihatkan ke­pada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW dapat mengetahui didatangi oleh jin-jin (dari sunnah Rasulullah di atas) padahal jin itu tidak terlihat?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Man, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku pernah bertanya kepada Masruq, siapakah yang mem­beritahu Rasulullah SAW tentang kedatangan jin pada malam mereka men­dengarkan Al Quran? Ia berkata: Ayahmu (yakni Ibnu Masud) bercerita kepadaku, bahwa yang memberitahu beliau adalah sebuah pohon.” (HR Muslim)

 

Selain itu, Rasulullah SAW adalah Rasul yang diridhai-Nya, sehingga beliau diizinkan-Nya untuk melihat jin yang ghaib. Allah SWT berfirman:

 

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah di antara jin-jin ada yang beriman kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Dengan jin-jin tersebut beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka mereka berarti beriman kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Al Jin 2-3)

 

Jin-jin yang beriman itu takut kepada Allah SWT karena mereka mengetahui kekuasaan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari. (Al Jin 12)

 

Jin-jin yang beriman mengetahui bahwa mereka diuji dengan kehidupan dunia. Mereka mengetahui bahwa Allah SWT menghendaki jin-jin mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidup di dunia. Mereka mengetahui bahwa perbuatannya di dunia akan menentukan tempatnya di surga atau di neraka. Allah SWT berfirman:

 

Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Al Jin 16)

 

Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al Jin 17)

 

Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (Al Jin 15)

 

Karena itu jin-jin yang beriman lalu menyeru kepada jin-jin yang lain agar beriman seperti mereka, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahqaaf 29-32)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan demikian jin-jin itu berarti memeluk agama Islam dan menjadi jin-jin Islam (muslim)?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Mas’ud tentang ayat: “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)” (surat Al Israa’ ayat 57), ia berkata: “Ada sekelompok jin yang masuk Islam, sedang sebelum itu mereka disembah oleh manusia, maka orang-orang yang menyembah itu tetap saja menyembah mereka, sementara mereka (jin) sendiri telah masuk Islam.” (HR Muslim)

 

Dengan demikian, jin tidak berbeda dengan manusia, yaitu sama-sama menerima ayat-ayat-Nya dari Rasul-Nya yang menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya, dan mereka wajib mengikutinya ketika menjalani hidupnya di dunia. Dan Allah SWT berfirman:

 

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. (Ar Rahmaan 31)

 

Tilmidzi: “Apakah kebanyakan jin-jin itu kafir kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Bukan tidak mungkin kebanyakan dari jin-jin itu kafir kepada Allah SWT. Dan kafirnya jin-jin itu karena Iblis, yaitu karena Iblis ingin agar jin-jin kafir itu membantunya dalam menyesatkan manusia dan bersama-sama Iblis di neraka. Contoh jin-jin kafir itu dijelaskan oleh jin-jin beriman dalam firman-Nya ini:

 

Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. (Al Jin 4)

 

Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekkah) bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (Rasul)pun. (Al Jin 7)

 

Ucapan jin-jin kafir terhadap Allah SWT (dalam firman-Nya di atas) berbeda dengan ucapan jin-jin beriman terhadap-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. (Al Jin 5)

 

Karena itu, di antara jin-jin itu ada jin-jin yang beriman dan ada jin-jin yang kafir kepada Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (Al Jin 14)

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al Jin 11)

 

Tilmidzi: “Apakah karena kekafiran jin dan manusia itu lalu mereka diputuskan-Nya menjadi penghuni neraka dalam kehidupan di akhirat?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah menetapkan keputusan-Nya untuk jin-jin yang kafir dan orang-orang yang kafir kepada-Nya, yaitu keputusan-Nya berikut ini:

 

Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Huud 119)

 

Keputusan-Nya itu berdasarkan perbuatan mereka sendiri (jin-jin kafir dan orang-orang kafir) ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 179)

 

Sehingga Iblis yang mendurhakai perintah-Nya (yaitu tidak mau sujud kepada Nabi Adam) karena merasa lebih baik dari manusia (Nabi Adam) itu hanya berlaku bagi orang-orang kafir. Sedangkan orang-orang beriman itu jauh lebih baik daripada Iblis, padahal mereka tidak dapat melihat Iblis (syaitan) dan tidak memiliki kelebihan seperti Iblis.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply