Dialog Seri 5: 8
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menciptakan manusia di bumi?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT melaksanakan janji manusia yang telah bersedia memikul amanah dari-Nya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Tilmidzi: “Amanah apakah yang bersedia dipikul oleh manusia itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Karena itu, Allah SWT lalu menjadikan manusia sebagai khalifah atau pengganti-Nya dalam memimpin memakmurkan (memelihara) bumi. Allah SWT berfirman:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menetapkan manusia sebagai khalifah atau pengganti-Nya?”
Mudariszi: “Karena langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi merupakan kepunyaan-Nya, dan Dia memelihara semua kepunyaan-Nya tersebut, termasuk memelihara bumi dan apa yang ada di bumi. Allah SWT berfirman:
Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. (Al Hajj 64)
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)
Dengan manusia bersedia memikul amanah dari Allah SWT, maka manusia menjadi pengganti-Nya dalam memelihara (memakmurkan) bumi kepunyaan-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah manusia memakmurkan bumi termasuk memakmurkan penghuni bumi?”
Mudariszi: “Manusia dalam memakmurkan bumi termasuk memakmurkan penghuni-penghuni bumi, dan termasuk pula memakmurkan manusia yang juga penghuni bumi. Penghuni-penghuni bumi itu merupakan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang memelihara dirinya dengan memakan makanan yang ada di bumi, yaitu sebagian penghuni bumi. Manusia pula memelihara dirinya dengan memakan makanan yang ada di bumi, yaitu sebagian penghuni bumi atau makhluk-makhluk itu. Allah SWT berfirman:
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. (Al Baqarah 168)
Dengan demikian, manusia memakmurkan bumi itu termasuk memelihara penghuni-penghuni bumi. Karena jika tidak dipelihara, maka dapat menimbulkan kerusakan pada makhluk-makhluk tersebut dan kerusakan itu akan berakibat buruk bagi manusia ketika menjalani hidupnya (melaksanakan amanah). Karena itu Allah SWT menetapkan dalam peraturan agama-Nya agar manusia tidak membuat kerusakan di bumi (dengan tidak memelihara makhluk-makhluk di bumi) ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al A’raaf 56)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan peraturan bagi manusia ketika melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Allah SWT memelihara semua ciptaan-Nya di langit dan di bumi dengan peraturan (syariat) agama-Nya. Semua makhluk ciptaan-Nya di langit dan di bumi menjalani hidupnya dengan mengikuti peraturan agama-Nya yang Dia tetapkan. Karena itu Allah SWT menetapkan peraturan agama-Nya bagi manusia ketika melaksanakan amanah dan Dia mewajibkan manusia untuk mengikuti peraturan agama-Nya itu ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Tilmidzi: “Apakah dengan demikian Allah SWT tidak mengizinkan manusia mengikuti peraturan selain dari peraturan agama-Nya ketika menjalankan amanah?”
Mudariszi: “Allah SWT melarang manusia mengikuti peraturan selain peraturan agama-Nya ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Allah SWT telah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada Rasul-Rasul-Nya untuk manusia yang wajib diikutinya ketika melaksanakan amanah agar selamat menjalani hidupnya di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Dalam ayat-ayat-Nya itu dijelaskan tentang agama-Nya dan peraturan agama-Nya, dan dijelaskan pula jalan yang baik dan yang buruk atau jalan yang benar dan yang salah bagi manusia ketika melaksanakan amanah (atau menjalani hidupnya). Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)
Dan Allah SWT tidak membenarkan manusia mengikuti keterangan dari kitab selain dari kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) karena keterangan itu bukan dari-Nya tapi dari manusia atau dari pihak selain Dia. Allah SWT berfirman:
Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? (Al Qalam 37-38)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memberikan perkara yang lain kepada manusia ketika melaksanakan amanah selain ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Selain memberikan ayat-ayat-Nya kepada manusia, Allah SWT memberikan organ-organ atau semua apa yang ada pada tubuhnya untuk tumbuh, berfikir, berkeinginan dan berbuat ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. (Nuh 17)
Selain itu, Allah SWT menundukkan semua yang ada di langit dan di bumi untuk manusia. Allah SWT berfirman:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Dan Allah SWT menjadikan sebagian dari apa yang ada di bumi sebagai kebutuhan hidup manusia ketika menjalankan amanah. Allah SWT berfirman:
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)
Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Tilmidzi: “Bagaimana sampai ada keterangan dari manusia atau dari pihak selain Allah SWT bagi manusia ketika melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Karena adanya Iblis yang ingin menyesatkan manusia dari agama-Nya atau jalan-Nya yang lurus ketika manusia melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al A’raaf 16-17)
Tilmidzi: “Mengapa Iblis ingin menyesatkan manusia?”
Mudariszi: “Karena Iblis menganggap manusia sebagai penyebab dia dihukum sesat hingga dikutuk oleh Allah SWT dan akan ditempatkan di neraka ketika di akhirat. Allah SWT berfirman:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Padahal bukan manusia yang menyebabkan Iblis dikutuk-Nya dan akan ditempatkan di neraka, tapi karena Iblis sendiri yang sombong dan mendurhakai perintah-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)
Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (Shaad 73-74)
Meskipun demikian, Allah SWT tetap mengabulkan permintaan Iblis agar kematiannya ditangguhkan, yaitu pada waktu yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (Al Hijr 37-38)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT mengetahui di antara manusia yang lahir ke dunia itu ada orang-orang yang seperti Iblis, yaitu sombong kepada-Nya atau kepada ayat-ayat-Nya hingga mendurhakai-Nya atau mendurhakai perintah-Nya. Tapi Alah SWT tidak menjelaskan orang-orang tersebut seperti Dia tidak menjelaskan kepada para malaikat jika Iblis akan mendurhakai perintah-Nya. Orang-orang yang seperti Iblis itu akan diketahui ketika mereka melaksanakan amanah (atau menjalani hidupnya). Dalam menjalani hidupnya, mereka akan mengikuti Iblis dan bukan mengikuti Allah SWT dan ayat-ayat-Nya. Mereka akan mengikuti jalan-jalan yang diada-adakan oleh Iblis (syaitan) dan bukan mengikuti jalan-Nya yang lurus. Mereka tidak beriman kepada Allah SWT dan tidak beriman kepada kehidupan akhirat yaitu kehidupan yang akan menghisab perbuatan mereka di dunia dan akan menempatkan mereka di neraka. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba’ 20-21)
Orang-orang yang seperti Iblis itu akan diketahui dari keingkaran dan kesombongan mereka terhadap ayat-ayat-Nya dan agama-Nya ketika melaksanakan amanah.”
Tilmidzi: “Jika demikian, bukankah manusia mendapat rintangan ketika melaksanakan amanah sebagai khalifah?”
Mudariszi: “Ya! Keinginan Iblis itu menjadi rintangan bagi manusia ketika melaksanakan amanah. Keinginan Iblis itu menjadi cobaan (tantangan) bagi manusia dalam melaksanakan amanah dengan benar. Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis yang membisikan kejahatannya ke hati manusia menjadi cobaan bagi manusia. Allah SWT berfirman:
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (An Naas 4-5)
Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. (Al Hajj 53)
Tilmidzi: “Apakah mengikuti peraturan agama-Nya ketika melaksanakan amanah juga menjadi cobaan bagi manusia?”
Mudariszi: “Ya! Karena Iblis menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika melaksanakan amanah. Jalan yang lurus adalah jalan-Nya dalam agama-Nya. Sehingga mengikuti peraturan agama-Nya dan jalan-Nya yang dihalang-halangi oleh Iblis itu menjadi cobaan bagi manusia ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). (Al Insaan 2)
Tilmidzi: “Apakah karunia-Nya di bumi menjadi cobaan bagi manusia ketika melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Karunia-Nya di bumi menghasilkan berbagai kenikmatan bagi manusia. Hal itu diketahui oleh Iblis, sehingga Iblis menyesatkan manusia dengan jalan seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.” (Al Hijr 39-40)
Iblis menjadikan manusia memandang baik perbuatan maksiat di dunia (dalam firman-Nya di atas) karena Iblis mengetahui manusia memiliki beberapa kelemahan, yaitu sebagai berikut:
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (Al Ma’aarij 19-21)
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. (Ali ‘Imran 14)
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan–Nya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu.” (HR Muslim)
Iblis menggunakan kelemahan-kelemahan manusia itu ketika manusia mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya agar tidak mengikuti peraturan agama-Nya, tapi menuruti hawa nafsunya. Menuruti hawa nafsu membuat manusia cenderung akan berbuat keburukan (kejahatan), karena nafsu itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)
Orang yang biasa berbuat keburukan, cepat atau lambat, akan menganggap perbuatan buruknya itu sebagai perbuatan yang baik. Dan akibat dari perbuatannya itu, maka dia tidak akan berada di jalan-Nya yang lurus atau tidak mengikuti peraturan agama-Nya. Karena itu karunia-Nya di bumi itu menjadi cobaan bagi manusia ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 7)
Tilmidzi: “Apakah harta yang diperoleh dari karunia-Nya di bumi menjadi cobaan bagi manusia ketika melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Ya! Karena karunia-Nya di bumi itu dapat membuat manusia menjadi kaya atau miskin. Itu terjadi karena Allah SWT menjadikan manusia dengan berbeda-beda keahlian, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Thawus, sesungguhnya dia berkata: “Aku mendapati beberapa orang dari sahabat Rasulullah pernah mengatakan: “Segala sesuatu itu karena takdir.” Aku juga pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Segala sesuatu itu karena takdir, termasuk juga ketidak mampuan dan kecerdikan, atau kecerdikan dan ketidak mampuan.” (HR Muslim)
Banyak atau sedikit harta yang diperoleh dari karunia-Nya di bumi itu berakibat kepada perbuatan manusia ketika melaksanakan amanah dengan mengikuti peraturan agama-Nya. Sehingga harta menjadi cobaan bagi manusia ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. (Al Baqarah 155)
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan. (Al Anfaal 28)
Karena hanya cobaan, maka manusia tidak akan selalunya kaya dan tidak pula akan selalunya miskin. Allah SWT menguji manusia dengan cobaan itu dengan tujuan sebagai berikut:
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (Ali ‘Imran 140)
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al Hadiid 23)
Tilmidzi: “Jika harta menjadi cobaan bagi manusia, apakah manusia yang mengusahakan harta itu menjadi cobaan bagi manusia lainnya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia di dunia ini berbeda-beda, yaitu ada yang normal atau cacat, yang bagus rupanya atau buruk, yang pandai atau bodoh, yang kaya atau miskin, pemimpin atau yang dipimpin. Tujuan Allah SWT menjadikan manusia berbeda-beda itu dijelaskan sebagai berikut:
Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. (Al An’aam 165)
Perbedaan manusia itu membuat terjadinya perbedaan pendapat dan perbedaan perbuatan di antara manusia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat. (Adz Dzaariyaat 8)
Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. (Al Lail 4)
Perbedaan manusia dalam berpendapat dan berusaha itu dapat membuat manusia lain mengikutinya atau menentangnya karena sesuai atau tidak sesuai dengan peraturan agama-Nya. Sehingga manusia itu menjadi cobaan bagi manusia lain ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. (Al Furqaan 20)
Tilmidzi: “Jika karunia-Nya dan manusia telah menimbulkan kebaikan dan keburukan, apakah kebaikan dan keburukan itu menjadi cobaan bagi manusia ketika melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia dan karunia-Nya di bumi tanpa ada keburukan. Tapi orang-orang yang mengikuti Allah SWT (mengikuti ayat-ayat-Nya) dan yang mengikuti Iblis ketika mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya itu yang menimbulkan kebaikan dan keburukan bagi dirinya dan bagi orang lain. Maksud kebaikan dan keburukan yang terjadi itu adalah kebaikan dan keburukan yang menurut agama-Nya. Sehingga kebaikan dan keburukan itu menjadi cobaan bagi manusia ketika melaksanakan amanah, karena manusia harus berhati-hati ketika mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). (Al Anbiyaa’ 35)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah semua cobaan dari Allah SWT di atas bertujuan untuk menguji manusia agar diketahui perbuatannya ketika melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al Mulk 2)
Perbuatan manusia yang baik dan buruk ketika melaksanakan amanah di dunia itu akan diketahui pada hari kiamat setelah Allah SWT menghisab perbuatan mereka masing-masing.”
Tilmidzi: “Apakah perbuatan manusia yang dihisab-Nya di hari kiamat itu merupakan pertanggungan jawaban manusia atas pelaksanaan amanah di bumi (di dunia)?”
Mudariszi: “Ya! Karena manusia sebagai pemikul amanah harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Allah SWT pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al Qiyaamah 36)
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (Al Muddatstsir 38)
Pada hari kiamat itu akan diketahui baik atau buruknya perbuatan manusia ketika melaksanakan amanah di dunia. Allah SWT akan memberikan balasan kepada manusia atas perbuatannya itu, dan balasan-Nya itu sebagai berikut:
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Az Zalzalah 6-8)
(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, maka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 81-82)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghendaki manusia berhasil dalam melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Ya! Karena itulah Allah SWT menjelaskan kepada manusia bahwa kehidupan dunia itu tidal kekal, tapi kehidupan akhirat itulah yang kekal. Allah SWT berfirman:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)
Karena itu pula Allah SWT menyeru manusia dengan firman-Nya ini:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)
Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Qashash 83)
Untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat, maka Allah SWT menyeru manusia agar mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, supaya Dia menunjuki dan melindunginya hingga mencapai kemenangan dan surga. Allah SWT berfirman:
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 126-127)
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Dan Allah SWT memperingatkan manusia terhadap Iblis dan syaitan-syaitan pengikutnya yang ingin agar manusia menjadi penghuni neraka bersama-sama dengan mereka, melalui firman-Nya ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Wallahu a’lam.