Apakah Hak Dan Kewajiban Manusia Sebagai Khalifah?

Dialog Seri 5: 9

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjadikan setiap orang itu sebagai khalifah di muka bumi?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan ketika Dia hendak menciptakan manusia, sebagai berikut:

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (Al Baqarah 30)

 

Seorang khalifah dalam firman-Nya di atas adalah Nabi Adam manusia pertama. Khalifah itu bukan hanya bagi Nabi Adam saja, tapi bagi seluruh manusia (semua orang) yang diciptakan-Nya dan hidup di dunia (di muka bumi). Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir 39)

 

Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(-Nya). (An Naml 62)

 

Tilmidzi: “Apakah kewajiban manusia sebagai khalifah di muka bumi?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah karena kesediaan manusia memikul amanah daripada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)

 

Dengan demikian, Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah untuk melaksanakan amanah. Adapun amanah yang dipikul oleh manusia itu adalah memakmurkan (memelihara) bumi. Allah SWT berfirman:

 

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)

 

Memakmurkan bumi dalam firman-Nya di atas termasuk memelihara penghuni bumi, yaitu makhluk-makhluk yang hidup di bumi.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana manusia sebagai khalifah melaksanakan amanah memakmurkan bumi itu?”

 

Mudariszi: “Bumi dan semua makhluk di bumi merupakan ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. (Al Hajj 64)

 

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)

 

Semua kepunyaan-Nya di semesta alam termasuk semua makhluk di langit dan di bumi itu, diurus dan dipelihara dan oleh Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)

 

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 3)

 

Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. (Al Baqarah 255)

 

Allah SWT memelihara semua makhluk di langit dan di bumi dengan peraturan agama-Nya yang Dia tetapkan bagi setiap makhluk, dan Dia memerintahkan semua makhluk agar mengikuti peraturan agama-Nya tersebut ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:

 

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. (Al A’raaf 54)

 

Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)

 

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)

 

Karena manusia memakmurkan bumi kepunyaan-Nya, maka Allah SWT menetapkan peraturan (syariat) agama-Nya bagi manusia dan Dia memerintahkan manusia untuk mengikuti peraturan agama-Nya tersebut ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

Allah SWT melarang manusia mengikuti agama selain dari agama-Nya ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? (Al Qalam 37-38)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT melarang manusia mengikuti agama selain agama-Nya ketika menjalani hidupnya (melaksanakan amanah)?”

 

Mudariszi: “Karena agama selain agama-Nya tersebut dibuat oleh manusia atau pihak selain Allah SWT. Agama itu tidak akan memiliki peraturan yang benar, karena pembuat agama itu tidak mengetahui sifat-sifat semua makhluk yang ada di bumi (termasuk manusia). Agama selain agama-Nya itu dibuat berdasarkan anggapan (persangkaan) pembuatnya. Orang-orang yang menjalani hidupnya dengan mengikuti agama itu, cepat atau lambat, akan merusak semua makhluk di bumi dengan melanggar hak-hak hidup setiap makhluk. Dan perbuatan itu dilarang oleh Allah SWT dalam agama-Nya, sebagai berikut:

 

Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al A’raaf 74)

 

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya. (Asy Syu’araa’ 183)

 

Dengan demikian, kewajiban manusia ketika melaksanakan amanah di bumi, yaitu memakmurkan (memelihara) bumi dan semua makhluk di bumi dengan mengikuti agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya yang Dia tetapkan untuk manusia.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana manusia dapat mengikuti agama-Nya tersebut?”

 

Mudariszi: “Agama-Nya itu dijelaskan dalam ayat-ayat-Nya (keterangan-keterangan-Nya) yang Allah SWT turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya untuk manusia. Dalam ayat-ayat-Nya itu ada penjelasan tentang agama-Nya, peraturan agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus yang dijelaskan oleh Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al A’raaf 35)

 

Bertakwa dalam firman-Nya di atas yaitu taat mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya; itu berarti taat mengikuti agama-Nya, peraturan agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidup (melaksanakan amanah). Allah SWT berfirman:

 

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. (Ar Ruum 30)

 

Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. (Al An’aam 126)

 

Tilmidzi: “Apakah jalan yang lurus?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan jalan yang lurus itu sebagai berikut:

 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 6-7)

 

Jalan yang lurus adalah jalan Allah untuk orang-orang yang mengikuti-Nya (agama-Nya), yaitu orang-orang yang mengikuti peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan jalan-Nya yang lurus kepada manusia, karena adanya jalan-jalan (agama-agama) yang diada-adakan oleh Iblis dan pengikutnya yaitu syaitan-syaitan dari golongan jin dan manusia. Allah SWT berfirman:

 

Yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)

 

Jalan-jalan yang diada-adakan oleh syaitan-syaitan itu bertujuan agar manusia menjadi sesat jika diikutinya. Karena itu, Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya agar selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (An Nahl 9)

 

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. (Al An’aam 153)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang yang mengikuti agama (jalan) yang dibuat oleh manusia atau oleh pihak selain Allah SWT itu dapat menjadi sesat?”

 

Mudariszi: “Iblis telah bersumpah akan menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan-Nya (agama-Nya) yang lurus agar tersesat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Jin dan manusia yang tersesat akan menjadi syaitan-syaitan pengikut Iblis. Dengan menjadi pengikut Iblis, syaitan-syaitan itu menjadi seperti Iblis, yaitu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus agar tersesat. Syaitan-syaitan itu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus dengan mengadakan jalan-jalan (agama-agama) yang bengkok. Allah SWT berfirman:

 

Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)

 

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 167)

 

Orang-orang yang mengikuti agama selain agama-Nya (jalan-Nya) adalah orang-orang yang mengikuti jalan (agama) yang diada-adakan oleh syaitan. Allah SWT telah peringatkan manusia dengan firman-Nya ini:

 

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)

 

Dengan mengikuti jalan (agama) selain jalan-Nya (agama-Nya), maka mereka berarti telah mengingkari (mendustakan) ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya, atau mengingkari agama-Nya atau mendurhakai Allah SWT, sehingga mereka menjadi sesat.”

 

Tilmidzi: “Apakah manusia berkewajiban untuk mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia?”

 

Mudariszi: “Agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus itu dijelaskan oleh Allah SWT melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Mengikuti ayat-ayat-Nya berarti mengikuti Allah SWT karena ayat-ayat-Nya itu daripada-Nya. Mengikuti Rasul-Nya berarti mengikuti Allah SWT, karena Dia berfirman:

 

Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An Nisaa’ 80)

 

Tetapi orang yang mengikuti agama-Nya bukan berarti dia telah mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sehingga orang yang mengikuti agama-Nya bukan berarti dia telah mengikuti Allah SWT. Peraturaan (syariat) agama-Nya juga dijelaskan oleh ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Dalam peraturan agama-Nya terdapat hukum-hukum agama-Nya yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bagi manusia. Karena manusia diperintahkan-Nya untuk mengikuti agama-Nya dan peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya, maka manusia berkewajiban mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Allah SWT menetapkan balasan bagi manusia yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya atau tidak mengikuti peraturan dan hukum-hukum agama-Nya yang Dia dan Rasul-Nya telah tetapkan. Allah SWT berfirman:

 

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasul-Nya mempunyai kewajiban tersendiri yang ditetapkan oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menetapkan kewajiban bagi Rasul-Nya sebagai berikut:

 

Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul selain daripada menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An Nahl 35)

 

Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)

 

Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. (An Nuur 54)

 

Demikian pula Allah SWT menetapkan kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang beriman yang taat mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Kewajiban orang-orang bertakwa itu adalah sebagai berikut:

 

Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa. (Al An’aam 69)

 

Tilmidzi: “Apakah manusia memiliki kewajiban atas Allah SWT saja?”

 

Mudariszi: “Sebelum manusia dilahirkan ke dunia, manusia telah diambil kesaksiannya (perjanjiannya) oleh Allah SWT, sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Al A’raaf 172-173)

 

Kesaksian (perjanjian) manusia dalam firman-Nya di atas menjadi bagian dari pelaksanaan amanah, sehingga manusia berkewajiban untuk tidak menyekutukan Allah SWT dengan tuhan lain ketika menjalani hidupnya.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah agama-Nya itu agama yang tidak mempersekutukan-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan agama-Nya itu sebagai berikut:

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Agama-Nya yang bersih dari syirik itu untuk manusia, yaitu agama yang hanya menyembah Allah SWT saja. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus. (Yusuf 40)

 

Karena agama-Nya hanya menyembah Allah SWT saja dan manusia telah bersaksi (berjanji) kepada-Nya sebelum dilahirkan ke dunia, maka manusia berkewajiban beribadah hanya kepada-Nya dengan ikhlas dan taat ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:

 

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al Hijr 98-99)

 

Dia-lah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. (Al Mu’min 65)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku. Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku. (Az Zumar 13-14)

 

Allah SWT melarang manusia menyekutukan-Nya dengan tuhan lain ketika beribadah kepada-Nya selama hidup di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (An Nisaa’ 36)

 

Allah SWT tidak mengampuni dosa orang-orang yang menyekutukan-Nya dengan tuhan lain (berbuat syirik) dalam beribadah ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Tilmidzi: “Apakah hak manusia jika telah melaksanakan kewajibannya?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Muadz bin Jabal, dia berkata: Pernah aku membonceng Rasulullah SAW. Yang memisahkan antara aku dan beliau hanya­lah bagian belakang pelana. Beliau bersabda: Hai Muadz bin Jabal! Aku menyahut: Ya, wahai Utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sesaat berjalan, baru kemudian beliau bersabda: Hai Muadz bin Jabal! Aku menyahut: Ya, wahai Utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sesaat berjalan, kemudian beliau kembali memanggil: Hai Muadz bin Jabal! Akupun menyahut: Ya, wahai Utusan Allah, aku siap menerima pe­rintah. Beliau bersabda: Tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba? Aku menjawab: Allah dan RasulNya tentu lebih tahu. Beliau bersabda: Hak Allah atas para hamba, yaitu mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan sesuatupun denganNya. Setelah berjalan sesaat, beliau memanggil lagi: Hai Muadz bin Jabal! Aku menjawab: Ya, wahai Utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah SAW bertanya: Tahukah engkau apa hak para hamba atas Allah bila mereka telah memenuhi hak Allah? Aku menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu. Rasulullah SAW bersabda: Yaitu Allah tidak menyiksa mereka. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memiliki kewajiban atas manusia selain tidak menyiksanya setelah manusia melaksanakan kewajibannya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT memiliki kewajiban atas manusia, yaitu menjaga (melindungi) orang-orang yang taat mengikuti-Nya (mengikuti agama-Nya) ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Kewajiban Allah itu karena janji-Nya akan menjaga (melindungi) orang-orang yang mengikuti-Nya dari Iblis (syaitan). Tapi Allah SWT hanya menjaga (melindungi) orang-orang yang mengikuti-Nya saja. Allah SWT tidak menjaga orang-orang yang tidak mengikuti-Nya, karena mereka sendiri yang tidak mau dijaga oleh-Nya, mereka telah menjadikan Iblis (syaitan) yang diikutinya itu sebagai pelindung mereka. Allah SWT lalu berkewajiban memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti-Nya termasuk petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. (Al Lail 12)

 

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)

 

Orang-orang yang tidak dikehendaki-Nya untuk ditunjuki-Nya ke jalan lurus itu adalah orang-orang yang mengikuti Iblis (syaitan).”

 

Tilmidzi: “Apakah ada kewajiban Allah yang lainnya terhadap manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT berjanji akan memberikan balasan kepada manusia atas perbuatannya di dunia, yaitu perbuatan ketika melaksanakan amanah di bumi. Karena itu pada hari kiamat Allah SWT berkewajiban menghisab perbuatan manusia di dunia dan membalasnya dengan janji yang Dia telah tetapkan dan jelaskan melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (Al Ghaasyiyah 25-26)

 

Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang).” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga dimana saja yang kami kehendaki.Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (Az Zumar 70-74)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply