Dialog Seri 19: 8
Tilmidzi: “Jika manusia hidup kekal di surga atau di neraka, maka bukankah tujuan hidup bagi manusia adalan kehidupan di akhirat dan bukan kehidupan di dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan perkara di atas itu dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Tilmidzi: “Apakah surga dan neraka tersebut sudah diciptakan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan surga dan neraka tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, maka mengutus malaikat Jibril ke surga, Dia berfirman: “Lihatlah ke surga dan apa yang telah Aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu malaikat Jibril berangkat ke surga dan melihatnya dan apa yang telah di persiapkan oleh Allah bagi penghuninya.” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Jibril pulang menghadap Allah dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorang pun mendengarnya melainkan ia ingin memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan surga lalu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan Dia berfirman: “Kembalilah ke surga lalu lihatlah ia dan apa yang telah aku persiapkan bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Jibril kembali ke surga ternyata telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, lalu ia kembali kepada–Nya, dan berkata: “Demi keagungan–Mu sungguh aku khawatir tidak seorangpun memasukinya.” Allah berfirman: “Pergilah ke neraka lalu lihatlah ia dan apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya.” Ternyata sebagiannya menaiki bagian yang lain, lalu ia kembali kepada–Nya dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorangpun mendengarnya lalu ia memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan neraka, lalu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan dan Dia berfirman: “Kembalilah ke neraka!” Lalu ia kembali kepadanya, kemudian dia berkata: “Demi keagungan–Mu, benar-benar aku kawatir tidak seorangpun selamat darinya melainkan ia memasukinya.” (HR Tirmidzi)
Surga dan nereka yang belum berpenghuni yang dilihat oleh Jibril dalam sunnah Rasulullah di atas, menunjukkan bahwa surga dan neraka tersebut telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dan menciptakan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Selain itu, sunnah Rasulullah berikut ini menjelaskan pula surga dan neraka dan penghuni-penghuninya telah diciptakan-Nya sebelum penciptaan langit dan bumi:
Dari Aisyah, Ibu orang-orang mukmin, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan juga menciptakan neraka. Masing-masing Allah telah menciptakan penghuninya.” (HR Muslim)
Allah SWT telah menciptakan penghuni surga dan neraka dalam sunnah Rasulullah di atas, yaitu jumlah manusia laki-laki dan perempuan yang Dia telah takdirkan (tetapkan) dalam kitab induk Lauh Mahfuzh, tetapi ketika itu langit dan bumi serta semua makhluk di langit dan di bumi termasuk manusia belum lagi diciptakan-Nya.”
Tilmidzi: “Jika demikian, dimanakah surga tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan luas surga sebagai berikut:
Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al Hadiid 21)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa surga itu berada di luar langit, dan itu berarti surga itu di luar bumi karena bumi berada dalam ruang langit. Ketika Rasulullah SAW melakukan Israa’ Mi’raj, beliau dibawa ke Sidratul Muntaha yang berada di atas langit ke tujuh, seperti yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Anas bin Malik menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Ka’bah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku dibawa naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kamipun dibukakan. Ternyata disana aku menemukan Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur (Ka’bah). Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur itu dan mereka tidak kembali lagi kesana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul Muntaha. Ternyata dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul Muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskannya, karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj dengan Jibril hingga beliau dibawa ke Sidratul Muntaha melihat surga itu dibenarkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (An Najm 13-15)
Firman-Nya dan sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa surga berada di luar langit, yaitu di atas langit (ke tujuh).”
Tilmidzi: “Lalu dimanakah neraka tersebut?”
Mudariszi: “Orang-orang yang telah dihisab-Nya di padang Mahsyar, maka mereka akan melalui jembatan (sirath) untuk menuju ke surga. Jembatan tersebut seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya dan beliau bersabda: “Kemudian dibentangkan jembatan (sirath) di atas neraka Jahannam dan syafa’at diperbolehkan. Mereka mengucap: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.” Ada yang menanyakan: “Ya Rasulullah, apakah jembatan itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Tempat berpijak yang licin (menggelincirkan). Padanya terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najed ada tumbuhan berduri yang disebut Sakdan. Seperti itulah besi-besi berkait itu. Orang-orang mukmin melewati jembatan tersebut ada yang bagai kejapan mata, ada yang seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda atau unta yang kencang larinya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok: selamat tidak kurang suatu apa, terkoyak-koyak tapi bisa bebas, dan terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” (HR Muslim)
Orang-orang berdosa (munafik) akan jatuh ke bawah, yaitu ke neraka, ketika mereka melalui jembatan. Sebagian orang yang akan memasuki surga tertahan di atas A’raaf, dan selama tertahan, mereka melihat neraka di bawahnya, seperti firman-Nya ini:
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun‘alaikum.” Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu.” (Al A’raaf 46-47)
Firman-Nya di atas, menunjukkan bahwa A’raaf merupakan pembatas antara penghuni surga dan penghuni nereka, sehingga neraka itu berada di bawah surga. Dengan demikian, neraka itu dapat dikatakan di langit (yang berlapis tujuh langit) dan bumi. Dengan berada di langit dan bumi, berarti neraka itu berada dalam kehidupan dunia, tetapi tidak terlihat oleh manusia karena telah diubah oleh Allah SWT dengan menjadikannya dikelilingi oleh perkara-perkara yang menyenangkan, seperti yang telah dijelaskan oleh Jibril dalam sunnah Rasulullah di atas. Beberapa sunnah Rasulullah berikut (di bawah) ini makin menguatkan bahwa neraka itu berada di langit (yang berlapis tujuh langit) dan bumi:
Dari Abu Sa’id, dia berkata: “Bersabda Rasulullah SAW: “Akhirkanlah shalat Zhuhur (hingga sengatan panas di siang hari telah menghilang), sesungguhnya sengatan panas itu adalah dari uap Jahanam.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kami sedang bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau mendengar suara benda jatuh, maka beliau bertanya: “Tahukah kamu, apakah yang jatuh itu?” Kami berkata: “Allah dan Rasul–Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuh puluh musim, ia meluncur turun di neraka, sekarang sampai di dasarnya.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.