Dialog Seri 19: 7
Tilmidzi: “Kapan terjadi kiamat yang membinasakan langit dan bumi dan semua apa yang ada di langit dan di bumi?”
Mudariszi: “Hanya Allah SWT yang mengetahui waktu kiamat dan Dia menjelaskan hal itu dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman 34)
Tilmidzi: “Jika langit dan bumi sudah binasa dan tidak ada lagi kehidupan dunia, lalu untuk apa Allah SWT menciptakan langit, bumi, semua makhluk dan kehidupan dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa setelah kiamat yang membinasakan kehidupan dunia dengan langit dan bumi dan makhluk-makhluk di langit dan di bumi, maka Dia akan mengulang penciptaan langit dan bumi untuk kali yang kedua dan itu sesuai dengan takdir yang Dia telah tetapkan dan tulis dalam kitab induk Lauh Mahfuzh. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (Al Anbiyaa’ 104)
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT akan mengulangi penciptaan langit dan bumi yang lain setelah kiamat. Kehidupan di pengulangan penciptaan langit dan bumi yang lain itu bukan lagi kehidupan dunia, tapi kehidupan akhirat bagi semua ciptaan-Nya termasuk semua makhluk ciptaan-Nya.”
Tilmidzi: “Untuk apakah Allah SWT mengulang kembali penciptaan langit dan bumi yang lain dengan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi yang lain itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan perkara di atas itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali.” (Yunus 34)
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam 93)
Setelah semua makhluk dibangkitkan (dihidupkan) kembali, mereka lalu dikumpulkan-Nya di padang Mahsyar yaitu di bumi yang baru, agar mereka menyaksikan Allah SWT meminta pertanggungan jawaban manusia dengan Dia menghisab (mengadili) manusia atas perbuatannya ketika di dunia, hingga Dia lalu membalasnya. Allah SWT berfirman:
Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Huud 103)
Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu. (Yunus 30)
Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). (An Nuur 25)
Tilmidzi: “Pertanggungan jawaban manusia apakah yang diminta oleh Allah SWT itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al Qiyaamah 36)
Dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 44)
Adapun pertanggungan jawaban manusia yang diminta-Nya yaitu pertanggungan jawaban atas amanah yang telah bersedia dipikulnya ketika di dunia, sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Tilmidzi: “Apakah balasan Allah SWT bagi manusia atas perbuatannya di dunia itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan balasan-Nya itu sebagai berikut:
(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At Taghaabun 9-10)
Orang-orang yang selama di dunia berbuat kebaikan (beramal saleh) dengan mengikuti ayat-ayat-Nya atau peraturan (syariat) agama-Nya, maka mereka dibalas-Nya dengan ditempatkan di surga. Sedangkan orang-orang yang berdosa yaitu yang berbuat kejahatan karena mengingkari ayat-ayat-Nya (termasuk mengingkari syariat agama-Nya), maka mereka dibalas-Nya dengan ditempatkan di neraka. Allah SWT berfirman:
(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, maka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 81-82)
Kehidupan mereka yang kekal di surga dan di neraka itu adalah di kehidupan akhirat.”
Tilmidzi: “Apakah kekal tinggal di surga atau neraka dalam firman-Nya di atas itu berarti mereka tidak akan mati-mati lagi?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar. (Ad Dukhaan 51-57)
Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (Al A’laa 11-13)
Rasulullah SAW menjelaskan pula hal tersebut dalam sunnah beliau ini:
Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat maut didatangkan berupa seperti kambing gibas yang belang (Abu Kuraib dalam periwayatannya menambahkan: lalu dihentikan di antara surga dan neraka) kemudian diserukan: “Hai ahli surga, apakah kalian mengenali ini?” Mereka mendongak dan memandang lalu berkata: “Ya, itu adalah maut.” Kemudian diserukan: “Hai ahli neraka, apakah kalian mengenali ini?” Mereka mendongak dan melihat lalu berkata: “Ya, itu maut.” Lantas diperintahkan agar maut itu disembelih, lalu diserukan: “Hai ahli surga, kalian tetap kekal, tidak akan mati; dan hai ahli neraka, kalianpun kekal, tidak akan mati.” Kemudian Rasulullah SAW membaca: “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, yaitu ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak pula beriman.” (surat Maryam ayat 39). Kemudian beliau menunjuk dunia dengan tangan beliau.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.