Dialog Seri 8: 5
Tilmidzi: “Apakah syaitan membuat manusia menyukai kesenangan (kehidupan) dunia agar manusia tidak mengetahui (mengenal) Allah SWT?”
Mudariszi: “Syaitan (termasuk Iblis) menyesatkan manusia dengan kehidupan dunia yang memiliki berbagai kesenangan agar manusia menjadi lalai dengan kesenangan dunia itu. Syaitan menghalang-halangi manusia dari Allah SWT dengan membuatnya lalai dengan kesenangan (kehidupan) dunia, sehingga cepat atau lambat manusia akan melupakan Allah SWT. Dan jika seseorang telah melupakan Allah SWT, maka dia berarti telah dikuasai oleh syaitan. Allah SWT berfirman:
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al Mujaadilah 19)
Melupakan Allah SWT berarti melupakan pula yang berkaitan dengan Dia, yaitu ayat-ayat-Nya dan agama-Nya. Dengan meninggalkan ayat-ayat-Nya, orang itu makin tidak mengetahui Allah SWT dan agama-Nya, sehingga dia menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti jalan-Nya yang lurus dan menjadi tersesat. Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia dengan firman-Nya ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)
Tilmidzi: “Apakah setiap orang tidak lepas dari Allah SWT Tuhannya?”
Mudariszi: “Manusia adalah jiwa yang bertubuh, dan jiwa itu telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum dilahirkan ke dunia. Ketika akan dilahirkan ke dunia, setiap jiwa diambil kesaksiannya oleh Allah SWT Tuhannya sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)
Dengan demikian, manusia yang lahir ke dunia, yaitu jiwa yang bertubuh, menjadi tidak lepas dari Allah SWT Tuhannya atau tidak dapat melupakan Tuhannya. Kesaksian manusia kepada Allah SWT menjadi fitrah manusia yang membuatnya selalu mencari Tuhannya. Allah SWT mengetahui manusia tidak mengetahui-Nya dengan benar ketika hidup di dunia, karena itu Dia menurunkan ayat-ayat-Nya untuk manusia agar manusia mengetahui Tuhannya yang tidak dapat dilihatnya dan tidak dikenalnya dengan benar. Allah SWT berfirman:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. (Al An’aam 103)
Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. (Al Hajj 74)
Tapi syaitan yang ingin menyesatkan manusia, lalu menghalang-halangi manusia dari mengetahui Tuhannya yang benar. Syaitan berusaha membuat manusia tidak mengenal Tuhannya yang benar dengan melalaikannya dalam kehidupan dunia hingga manusia mempercayai dan menyembah tuhan selain Allah SWT dan menjadi tersesat.”
Tilmidzi: “Jika manusia tidak lepas dari Tuhan, lalu mengapa ada orang yang tidak percaya kepada Tuhan?”
Mudariszi: “Orang yang mengatakan tidak percaya kepada Tuhan (karena menurutnya Tuhan itu tidak ada) justru membuktikan dia mencari Tuhannya tapi selalu gagal diketahuinya. Ucapannya tidak percaya kepada Tuhan hanyalah ungkapan rasa putus asanya dan kegelisahannya karena gagal mengetahui Tuhannya. Itu terjadi karena dia dihalang-halangi oleh syaitan ketika mencari dan memikirkan Tuhannya. Jika dia membaca dan memikirkan ayat-ayat-Nya, maka dia akan mengetahui Allah SWT Tuhannya. Tapi jika hanya membaca kitab-kitab selain kitab-Nya (ayat-ayat-Nya), maka dia tidak akan dapat mengetahui Tuhannya yang benar. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya. (Al Hajj 8)
Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka. (Al Hajj 3-4)
Kebanyakan orang yang tidak percaya kepada Tuhan adalah orang-orang yang menyukai kehidupan dunia. Syaitan membuat mereka selalu menuruti hawa nafsunya terhadap kesenangan (kehidupan) dunia hingga hawa nafsunya itu menguasai dirinya. Syaitan mengetahui orang-orang yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya termasuk orang-orang yang sedang mencari Tuhannya. Syaitan lalu menghalang-halangi mereka dengan bisikan-bisikan jahatnya agar mereka selalu gagal mengetahui Tuhannya dan menjadi putus asa. Kemudian syaitan menghasut mereka dengan janji-janji manis agar hawa nafsunya timbul dan menyuruhnya untuk mengatakan tidak percaya kepada Tuhan (karena tidak diketahuinya). Bahkan di antara orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan itu ada yang mengatakan dirinyalah tuhan, contoh Fir’aun, seperti firman-Nya ini:
Maka dia (Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (An Naazi’aat 23-24)
Ucapan Fir’aun dalam firman-Nya di atas menunjukkan dia tidak lepas dari Tuhan. Ada benarnya Fir’aun mengatakan dia tuhan, karena hawa nafsunya itulah tuhannya yang selalu dia turuti, tapi tidak disadarinya (tidak diketahuinya). Allah SWT berfirman:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya? (Al Jaatsiyah 23)
Pada waktu hawa nafsu Fir’aun telah menguasai dirinya, Fir’aun tidak dapat menguasai dirinya lagi, sehingga dia akan mengatakan atau berbuat menurut yang disuruh oleh hawa nafsunya. Allah SWT berfirman:
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Al Furqaan 43)
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 30)
Syaitan menjadikan Fir’aun mengucapkan itu, karena syaitan ingin agar Fir’aun tersesat dan bersama-sama di neraka. Allah SWT berfirman:
Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. (Al Anbiyaa’ 29)
Tilmidzi: “Jika hawa nafsu seseorang menjadi tuhannya, apakah itu berarti syaitan menjadi tuhannya, karena syaitan yang telah membuatnya menuruti hawa nafsunya?”
Mudariszi: “Seseorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, maka dia telah mengadakan tuhan selain Allah SWT atau telah menyekutukan-Nya dengan tuhan lain (yaitu hawa nafsunya). Tuhan yang selain Allah SWT itulah tuhan berhala yang tidak harus selalu dapat dilihat. Tuhan (hawa nafsu) orang itu terjadi karena syaitan, sehingga itu berarti tuhannya adalah syaitan. Hal itu dibuktikannya dengan dia selalu menuruti hawa nafsunya, yang berarti dia menuruti syaitan. Dan dengan dia menuruti syaitan, maka itu berarti dia menyembah syaitan sebagai tuhannya. Hawa nafsunya menjadi thaghut, yaitu syaitan atau lain-lain selain Allah SWT yang disembahnya (diikutinya). Allah SWT berfirman:
Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 116-118)
Padahal Allah SWT telah memperingatkannya melalui Rasul-Rasul-Nya ketika mereka menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu.” (An Nahl 36)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang selalu menuruti hawa nafsunya itu mudah disesatkan oleh syaitan?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan dapat mengetahui orang-orang yang selalu menuruti hawa nafsunya atau yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Mereka, bagi syaitan, merupakan orang-orang yang mudah untuk disesatkannya. Janji-janji manis syaitan dalam kehidupan (kesenangan) dunia yang masuk ke hati mereka dan berhasil dicapainya itu lalu dibelokkan oleh syaitan bahwa itu dari pelindung atau tuhan mereka. Mereka tidak menyadari jika pembisik hatinya itu syaitan karena mereka telah memperoleh janji-janji yang masuk ke hatinya tersebut. Sehingga mereka lalu beranggapan bahwa pembisik hatinya itu adalah pelindungnya dan tuhannya. Syaitan yang mengetahui hal itu, lalu memerintahkan mereka untuk berbuat keji dan jahat, dan mereka menjalankan perintah syaitan itu dengan patuh. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)
Dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya.” Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (An Nisaa’ 118-119)
Contoh orang-orang dalam firman-Nya di atas, yaitu orang-orang musyrik atau orang-orang yang menyembah patung berhala atau menyembah thaghut. Mereka mengetahui patung yang dianggapnya sebagai tuhan itu tidak dapat berbuat apapun karena hanya benda mati buatan manusia. Tapi mereka tidak dapat menolak perintah syaitan, karena mereka telah menjadikan syaitan itu sebagai pelindungnya dan tuhannya, mereka telah dikuasai oleh syaitan. Allah SWT berfirman:
Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (Al A’raaf 191)
Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? (Al A’raaf 195)
Demikian pula dengan contoh dalam firman-Nya ini:
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan oleh Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka. (Al An’aam 136)
Mereka berbuat seperti dalam firman-Nya di atas karena menuruti perintah tuhannya yaitu syaitan, padahal mereka mengetahui makanan itu tidak akan sampai kepada Allah SWT, tapi mereka tetap melakukannya karena telah dikuasai oleh syaitan.”
Tilmidzi: “Apakah alasan orang-orang musyrik menyembah tuhan yang berupa patung hingga memberikan makanan kepada tuhannya itu?”
Mudariszi: “Orang-orang musyrik sulit menolak perintah syaitan (yang berupa bisikan-bisikan) karena pembisik hatinya, yaitu syaitan, dianggapnya sebagai pelindungnya dan tuhannya dalam kehidupan dunia. Bahkan perintah (bisikan) syaitan itu dianggapnya sebagai petunjuk tuhan. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 39)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)
Mereka membuat patung menurut bentuk khayalannya dari bisikan syaitan, karena itu tidak ada satupun patung-patung (tuhan-tuhan) orang-orang musyrik tersebut yang sama bentuknya. Bahkan kebanyakan bentuk patung-patung tersebut menyeramkan (menakutkan) bagi orang-orang yang melihatnya. Jika ditanya tujuan membuat dan menyembah patung itu, maka mereka akan menjawab sebagai berikut:
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar 3)
Jawaban mereka seperti firman-Nya di atas itu mustahil terjadi, karena patung itu hanya benda mati yang tidak dapat berbuat apapun. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu(-Nya), sekali-kali tidak mungkin.” (Saba’ 27)
Mereka mengetahui hal itu tapi tetap juga melakukannya karena perintah tuhannya, yaitu syaitan. Syaitan pula memerintahkan mereka untuk membuat dan menyembah patung itu, karena syaitan mengetahui mereka tidak mengetahui Tuhannya yang benar. Itu menunjukkan mereka hanyalah mengada-ada dalam menyembah tuhan patung, karena mengikuti hawa nafsunya atau mengikuti bisikan syaitan. Mereka bahkan mengada-ada dengan menjadikan makhluk-Nya (malaikat dan jin) sebagai tuhan atau bagian daripada-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. (Az Zukhruf 15)
Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (Ash Shaaffaat 150-152)
Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menjadikan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. (Al An’aam 100)
Dengan mereka mengatakan Tuhan mempunyai anak, maka mereka telah menjadikan makhluk ciptaan-Nya atau hamba-hamba-Nya sebagai bagian daripada-Nya, itu berarti pula mereka telah menyekutukan-Nya dengan tuhan (makhluk ciptaan-Nya). Semua itu terjadi karena mereka tidak mengetahui (mengenal) Tuhannya yang benar dan tidak pula membaca ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) akibat dari selalu mengikuti bisikan (hasutan) syaitan atau menuruti hawa nafsunya yang terjadi karena syaitan.”
Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang menyembah berhala itu berfikir dan memutuskan tuhannya hanya berdasarkan anggapannya (persangkaannya) saja?”
Mudariszi: “Ya! Orang-orang yang menyembah berhala atau yang menyekutukan-Nya itu menetapkan tuhannya hanya berdasarkan anggapannya saja. Anggapannya itu sendiri berasal dari bisikan-bisikan syaitan yang tanpa bukti nyata. Mereka memikirkan dan menetapkan tuhannya bukan berdasarkan bukti dari Tuhannya yang jelas dan nyata yaitu dari kitab-Nya atau ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan mereka menyembah selain Allah apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. (Al Hajj 71)
Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Muhammad 14)
Padahal persangkaan (anggapan) itu tidak akan membawanya kepada kebenaran, seperti firman-Nya ini:
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)
Di samping itu, karena kebiasaan mereka yang selalu menuruti hawa nafsunya, maka hawa nafsunya lalu menyuruh mereka untuk meyakini kebenaran anggapannya itu. Dan karena hawa nafsunya dan anggapannya itu terjadi karena bisikan-bisikan syaitan, maka syaitan itu yang membuat mereka memandang baik (benar) anggapannya yang buruk (salah) tersebut. Allah SWT berfirman:
Dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu prasangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. (Al Fath 12)
Dan karena mereka dijadikan oleh syaitan selalu memandang baik anggapannya yang buruk, maka mudah pula bagi syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatannya yang buruk. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus 12)
Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia melalui firman-Nya ini:
Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (ke-Esa–an) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman 20)
Tilmidzi: “Bagaimana pandangan (pendapat) orang-orang musyrik terhadap ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Karena orang-orang musyrik telah dikuasai oleh syaitan, maka mereka akan menolak seruan-Nya yang ada dalam ayat-ayat-Nya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al Maa-idah 104)
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti Bapak-Bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Luqman 21)
Mereka justru akan mengatakan tuhannya atau agamanya (sembahannya) itulah yang benar. Mereka menjadi seperti Iblis, yaitu menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh Bapak-Bapakmu.” (Saba’ 43)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang musyrik mengajarkan keluarganya agar mengikuti agama menyembah patung (tuhan) berhala?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan menyesatkan semua orang, yaitu orang tua dan anak-anak. Syaitan menghasut orang tua agar mengajarkan anaknya untuk menyembah tuhan (patung) berhala. Syaitan pula menghasut anaknya agar mengikuti orang tuanya dalam menyembah tuhan karena harus menghormati orang tua. Kasih sayang dalam keluarga digunakan oleh syaitan dalam menipu keluarga agar menyembah tuhan berhala. Karena itu, jika semua anggauta keluarga menyembah tuhan berhala, maka itu terjadi karena perasaan kasih sayang di antara keluarga dan bukan karena ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan untuk manusia. Allah SWT berfirman:
Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (Al ‘Ankabuut 25)
Rasa kasih sayang di antara keluarga itu terjadi di dunia saja, sedangkan di akhirat tidak ada lagi hubungan kekeluargaan. Dan itu diperingatkan-Nya melalui firman-Nya ini:
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang Bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong Bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Luqman 33)
Tilmidzi: “Apakah syaitan menipu manusia dari Allah SWT Tuhannya melalui bisikan ke hatinya saja?”
Mudariszi: “Selain membisikan janji-janji manis ke dalam hati manusia, syaitan menipu manusia tentang Tuhannya dengan sihir. Tujuannya agar manusia mempercayai sihir syaitan itu sebagai mu’jizat dari Tuhan. Sihir syaitan itu dapat terjadi jika diizinkan-Nya, sehingga sihir syaitan itu tidak akan selalu terjadi (berhasil). Allah SWT berfirman:
Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. (Al Baqarah 102)
Allah SWT, selain menurunkan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) kepada Rasul-Rasul-Nya, juga memberikan mu’jizat-Nya kepada Rasul-Rasul-Nya. Mu’jizat-Nya adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada makhluk ciptaan-Nya di semesta alam. Mu’jizat-Nya berbeda dengan sunnatullah (ketetapan Allah) yang merupakan hukum (ketetapan) Allah atas segala ciptaan-Nya di semesta alam. Allah SWT berfirman:
Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya). (Al Fath 23)
Sehingga jika terjadi suatu keadaan atau kejadian pada makhluk ciptaan-Nya yang tidak sesuai dengan ketetapan-Nya (sunnatullah), maka itu adalah mu’jizat-Nya. Mu’jizat-Nya dapat terjadi karena Allah SWT yang menciptakan dan menetapkan segala sesuatu di semesta alam ini, sehingga hanya Dia saja yang dapat merubah ketetapan-Nya. Tujuan Allah SWT memberikan mu’jizat-Nya kepada Rasul-Rasul-Nya, yaitu agar manusia (umat Rasul) meyakini keberadaan-Nya dan kekuasaan-Nya di semesta alam hingga mereka beriman kepada-Nya. Rasul memperlihatkan mu’jizat-Nya tersebut kepada umat Rasul ketika Rasul menyampaikan ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat itu terserah kepada Allah.” (Al ‘Ankabuut 50)
Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mu’jizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). (Ar Ra’d 38)
Syaitan yang mengetahui hal itu, lalu menggunakan sihir untuk menipu manusia tentang Tuhannya. Jin dijadikan oleh Allah SWT dengan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia. Contoh jin Ifrit dapat memindahkan bangunan dalam waktu yang singkat, atau jin dapat menduduki beberapa tempat di langit, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (An Naml 39)
Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). (Al Jin 9)
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan itu melakukan sihir guna menipu manusia dari Allah SWT Tuhannya?”
Mudariszi: “Syaitan dari golongan jin melakukannya dengan mengajarkan sihir kepada orang-orang yang mengikutinya atau yang berlindung kepadanya. Allah SWT berfirman:
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al Jin 6)
Hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia. (Al Baqarah 102)
Syaitan mengajarkan sihir kepada tukang sihir atau dukun, yaitu orang-orang yang berlindung kepadanya, melalui bisikannya, contoh seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Az Zuhri dari Yahya bin Urwah, sesungguhnya dia mendengar Urwah pernah mengatakan: “Aisyah berkata: “Beberapa orang manusia bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai para dukun. Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: “Mereka itu bukan apa-apa.” Mereka menyahut: “Wahai Rasulullah, tetapi kadang-kadang mereka menceritakan sesuatu yang ternyata benar.” Rasulullah SAW bersabda: “Itu adalah kalimat dari jin yang direkam oleh jin lain lalu diperdengarkan ke telinga pembantunya seperti suara ayam jantan. Kemudian mereka mencampurinya dengan lebih dari seratus macam kedustaan.” (HR Muslim)
Melalui syaitan dari golongan manusia atau penyihir-penyihir itulah syaitan melakukan sihir hingga sihir itu dianggap atau dipercayai oleh sebagian orang sebagai mu’jizat dari tuhan. Contoh seperti firman-Nya ini:
Ahli-ahli sihir berkata: “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?” Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (Al A’raaf 115-116)
Jika orang-orang yang menyaksikan sihir syaitan itu mempercayainya sebagai mu’jizat, maka mereka akan menjadi pengikut syaitan. Sedangkan mu’jizat-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya akan dikatakan oleh pengikut syaitan itu sebagai sihir agar mu’jizat-Nya tersebut tidak dipercayai oleh orang lain sehingga Allah SWT dan Rasul-Nya tidak diikuti oleh orang itu. Allah SWT berfirman:
Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash Shaff 6)
Orang-orang yang tidak membaca ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) akan mudah terpengaruh dan tertipu oleh syaitan-syaitan itu. Tidak seharusnya orang-orang mempercayai sihir syaitan itu sebagai mu’jizat, karena mu’jizat-Nya hanya turun kepada Rasul dan tidak dapat dipelajari oleh manusia seperti sihir yang dapat dipelajari oleh manusia (dari syaitan). Karena itu, jika ada orang yang mengatakan dia membawa mu’jizat, maka dia itu pembohong dan apa yang diperlihatkannya adalah sihir dari syaitan. Allah SWT berfirman:
Apakah akan Aku beritakan kepadamu kepada siapakah syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. (Asy Syu’araa’ 221-223)
Bahkan ucapan para pembohong yang manis dan lancar hingga disukai untuk didengar oleh pendengarnya itu ada unsur sihirnya, dan hal tersebut dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Sesungguhnya ada dua orang laki–laki dari Timur datang. Mereka berpidato dan membuat orang-orang merasa kagum akan ucapan mereka yang fasih. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pada ucapan yang fasih itu ada unsur sihir. Atau sesungguhnya sebagian daripada ucapan fasih itu adalah sihir.” (HR Bukhari)
Wallahu a’lam.